Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kisahku dari negeri di kaki gunung

15 February 2009, 16:26 , by James Maramis

 

Hari itu, Kamis 24 Juli 2008, aku udah siap dengan tas-tas ku. Bawaan klo orang mo mudik kayaknya masih kalah dibanding apa yang aku bawa hari itu. 2 tas travel besar, 2 tas ransel backpack sedang, dan 1 tas ransel Eiger gede sisa perjuangan di SATGANA Unai dulu (jangan ditanya rinciannya apa aja, pliss dehh). Yup, hari itu aku diharuskan kembali ke Kathmandu untuk persiapan check out dari kerjaanku sekarang di UNMIN .

“Bro, pesawatnya jadi datang gak” tanyaku ke pegawai MOVCON-nya, “Well, di jadwalnya sih begitu. Tiba di Pokhara jam 08.00 hours. Tapi kamu harus ikut terbang dulu ke Nepalgunj dan Dhangadi, soalnya dari Dhangadi pesawatnya akan langsung terbang ke Kathmandu, gak mampir Pokhara lagi. Sekarang kamu tunggu aja di kantormu, nanti aku samperin klo udah mo berangkat ke airport” jawab MOVCON assistant-nya, seorang Nepali pekerja keras yang menjadi sahabatku juga.

“Oke deh…” balasku sambil berjalan kembali ke Klinik yang menjadi ruangan kerjaku selama 1 tahun 2 bulan ini.

Jam di sudut kanan bawah layar komputerku sudah menunjukkan angka 09.30, tapi koq blum ada tanda2 kendaraan UN menuju airport? Bergegas aku ke kantor MOVCON tadi sambil was-was jangan-jangan si Mr Ghan Shyam Pun sahabatku itu saking sibuknya ampe lupa klo ada orang yang udah ngebet balik ke Kathmandu buat ngurus check outnya, alias pulang ke tanah air, Indonesia.

“Mr Pun, any news…..?”
“James, barusan aku ditelp MOVCON Kathmandu, pesawatnya dari Kathmandu udah langsung ke Nepalgunj. Nanti dari Nepalgunj-Dhangadi baru mampir ke Pokhara dan ke Kathmandu. Jadi ETA di Pokhara sekitar jam 12.30. Sabar yahh”

Hmmm, aku mo bilang apa, di cuaca seperti ini, kadang-kadang mendung tak jelas, apalagi Pokhara adanya di seputaran lembah juga, yang notabene dikelilingi bukit-bukit (bukit??? ada saljunya kamu bilang bukit???hehehe), jadi mungkin faktor cuaca pikirku. Jadi ingat kejadian sebelumnya ketika helikopter UNMIN jatuh dan seorang Letkol asal Indonesia gugur bersama penumpang lainnya.

Akhirnya aku duduk manis kembali di ruanganku sambil sekali-sekali keluar sekedar ngilangin rasa kebas di pantat :). Ngecek email (sambil curi-curi akses buat chatting) udah selesai, obat-obat dan peralatan lain udah dipak dan dikirim ke kathmandu 2 hari sebelumnya, staffnya sehat walafiat semua alias gak ada yang sakit, palingan pegel linu abis muatin barang-barang ke kontainer, jadinya aku gak ada kerjaan :)

12.30
“Mr Pun, pesawatnya masih di Dhangadi?” tanyaku agak kesal.
“bro, rupanya dari Kathmandu ada petinggi2 yang lagi ke Nepalgunj, trus ada rotasi di MCS-4 dan MCS-5, jadinya pesawat lebih lama di Nepalgunj, mungkin jam 3 ato paling lama jam 4 sore baru tiba di Pokhara”

Halahhh, hari geneee, udah mo tutup misi masih sempat-sempatnya petinggi-petinggi itu ngecek ke region pikirku. Klo aku telat handover barang-barang di Kathmandu ntar check-out ku juga jadi mundur dong, ujung-ujungnya tiket pulang Kathmandu-Bangkok-Jakarta harus dirubah lagi. Mana tadi pagi gak sempat sarapan karena masih jam 6.30 udah ditelp Mr Pun suruh standby di kantor.

14.** (udah gak ingat jelasnya)
Karena capek nunggunya (dan ngantuk) akhirnya aku milih nunggu di kantor MOVCON aja, sambil dengerin lagu Tum Se Hi-nya Mohit Chauhan (sempat populer juga filmnya) yang keluar dari salah satu komputer di ruangan itu. Lumayan, meredakan sesak di dada karena kelamaan nunggu, tapi menambah rasa kantuknya J.

Tiba-tiba Mr Pun mendatangi meja tempatku duduk (sambil memandang iba…..kayaknya sihhh. ato mungkin karena wajahnya yang emang udah ter-set segitu??? auhh ahh).

“Bro, pesawat sudah berangkat dari Dhangadi sejak tadi, tapi tidak akan mampir Pokhara. mereka langsung terbang ke Kathmandu_”. Busettt, udah nunggu dari pagi sampe mo sore gini tapi hasilnya gak ada. Mana jadwal UN Flight berikutnya adanya di hari Senin, tgl 28 Juli. Jadi aku harus nunggu 4 hari lagi disini? walahhh, rumah kontrakan udah aku balikin kuncinya ke _Mr Bishnu, juragan kontrakan-ku yang baik hati. tapi dia rumahnya di seberang danau, gak enak manggil dia cuma buat pinjam kunci lagi (aku yakin dia pasti ngasih sih). Berarti jadwal kepulanganku ke Indonesia bisa mundur dongg? trus acaraku disana gmana ntar???

Hmmm….sabar sabar pikirku, “gmana klo naik mobil aja?” tanyaku ke Mr Pun.

“Iya, aku dengar dari MTO klo rencananya akan ada 2 mobil ke Kathmandu hari Sabtu tgl 26 Juli nanti. paling tidak itu lebih cepat 2 hari daripada harus nunggu UN Flight tgl 28 Juli itu, dan dengan kemungkinan yang sama juga, ditunda, ato tidak ada sama sekali” balasnya.

Bergegas aku hubungi si MTO dan langsung dapat jawabannya saat itu juga.

“OK, asal kamu siap nyetir mobilnya ke Kathmandu”

Sipp lah pikirku, 5-6 jam nyetir masih bolehlah, tapi drive di Kathmandu-nya itu yang bikin ngeri. Di negara dimana sapi berdiri bagai raja di tengah jalan, atau 2-3 motor berjalan beriringan di tengah jalan dengan cueknya dan tanpa rasa bersalah, bis-bis antar propinsi yang dikemudikan sopirnya bagai mainan anak-anak yang klo rusak atau nyenggol orang bisa beli baru lagi??? Hmm….gw jabanin dahhh, daripada terjebak disini.


Lautan domba memenuhi jalan – macet deh!


Ini dia: King of the road

15.**
Aku lagi ngobrol dengan seorang teman di ruangannya (Logistic) tentang rencanaku ke Kathmandu hari itu yang gagal ketika tiba-tiba Mr Pun mendatangi ruangan dan memotong pembicaraan kami.

“James, pesawat dari Dhangadi mendarat darurat di Nepalgunj. Ada asap tebal keluar di cabin ketika pesawat take off dari Dhangadi. Syukur kamu gak jadi naik tadi”

Diriku : Terdiam sambil berucap dalam hati, “Terima Kasih Tuhan, ternyata rancanganku bukan rancangan-Mu”.

Jamz!


Di airport Pokhara, sesaat sebelum berangkat dengan Commercial Flight (MOVCON-Ghan Syam Pun ; Logistic-Sao Sai Noi ; Nurse-James)


Akhirnya aku dikasi naik Commercial Flight ini, Jetstream-41, 29 seats


30 menit…… nyampe deh di Kathmandu. Wuihhhh………

Note:
Beberapa gambar diambil (copy) dari internet berhubung saat itu tidak sempat mengabadikannya. Hak cipta sepenuhnya ada pada pemilik gambar asli tersebut :)

James Maramis James Maramis spent his first 15 years in Papua, formerly known as IrianJaya, Indonesia. Completed his Bachelor of Nursing Science from Indonesia Adventist University (UNAI) Bandung on 17 August 2003. After 3 years serving under International SOS (ISOS) Freeport Tembagapura as...

Detail Profile »

3  Comments

by Luigi Pralangga at 15 February 2009, 16:30

Hi James,

Thanks for sharing and it is indeed a great experience and fastening your prayers is one key to survive mission assignment.

I understand that you are now in Kabul, Afghanistan – care to share more updates? :-)

by Angieee at 15 February 2009, 17:58

Terkadang kita marah dan kesal karena rencana kita batal atau tidak sesuai dengan yg kita harapkan…Tapi percaya dech semua kejadian pasti ada hikmahnya…Karena sang Pencipta lebih tau apa yang terbaik buat kita….

by Ahmad Sucipto at 16 February 2009, 00:51

Kalau kita tidak bisa mengubah keadaan cara terbaik adalah menerimanya…..

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Hilman Agung Born and spent most of his education in Bandung. His bachelor was in environmental engineering then he continued to pursue his master degree in Delft, the Netherlands, from 2004 to 2006. Starting his career at a water company in Jakarta....

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago