Banyak orang mengira bahwa hari-hari selama bekerja pada sebuah misi peacekeeping (pemulihan perdamaian) itu selalu berkutat didalam bunker pertahanan berlindung dari desingan peluru sebagai menu sehari-hari, memang benar dan juga tidak selalu benar adanya. Harus diakui bahwa pada saat misi baru digelar, kebanyakan dari kita menyebutnya dengan istilah ‘mission start-up‘, kondisi gawat darurat itu memang ada, dimana letupan dan kontak senjata bisa jadi menu keseharian. Namun seiring dengan ekspansi pengerahan pasukan perdamaian dari para personil anggota kontingen PBB masuk ke berbagai daerah pedalaman dan membuka pos-pos pengamat dan program rutin patroli oleh para personil bersenjata PBB, situasi makin membaik dan terbilang stabil.
Si kampret ini masih ingat benar dikala dia pertama kali mendarat di Mornvia, saat disapa oleh petugas penghubung di airport (Airport Liaison Officer), sapaan pertama adalah:
“Welcome to Monrovia, and please wear this ballistic vest and proceed this way..”
Tanpa basa-basi, lho!. Ya, sebuah rompi tahan balistik berwarna biru, sayang saja waktu itu si kampret ini tidak kebagian jatah memakai si helm biru, melainkan topi baseball cap biasa berwarna biru dan bertuliskan: “UN – United Nations”, entah keman itu si topi tersebut sekarang.
Nah situasi di Monrovia makin membaik dan pekerjaanpun mulai beragam dari yang sbeelumnya hanya dikantor saja, tuntutan pekerjaan mengharuskannya untuk pergi ke pedalaman, mengunjungi kantor wilayah di sektor-sektor itu. Selain kunjungan lapangan, para staff misi juga diwajibkan untuk senantiasa memperdalam keandalan profesionalnya, dengan secara rutin mengikuti berbagai pelatihan yang berhubungan serta mendukung pengembangan karir dan kapabilitas. Jadi, kita pun menghadiri, serta wajib dalam setahun mengikuti berbagai menu training yang disuguhkan oleh IMTC (Integrated Mission Training Center).
Para konsultan penyedia jasa pelatihan, serta staff senior dari Markas Besar PBB di New York, dan juga para staff ahli yang datang dari misi peacekeeping lainnya pun acapkali didatangkan untuk memberi pelatihan atau menyampaikan program-program pembekalan bagi staff di misi PBB di Liberia. Meski saat ditengah sesi pelatihan, terdengar gemuruh suara helikopter yang terbang cukup rendah, atau bahkan gemeretak suara tapak kendaraan berlapis baja yang lalu-lalang didepan gedung kantor ini.
Melihat para trainer itu kerjaan-nya merunduk-merunduk terus, kita pun peserta training melihatnya senewen juga dan tidak sedikit dari kita yang juga malah latah ikut merunduk, ada yang sengaja ingin mengejek “Orang Kota-an” itu yang notabene penakut akan suara gemuruh atau malah kita-kita yang sudah kebal dan tidak begitu perduli lagi, karena sudah terbiasa. Seru-lah rasanya.. ditambah suara generator pembangkit listrik yang tidak pernah cape menggetarkan dinding gedung dimana tempat training itu berlangsung. Belajar sambil berisik, mungkin itulah persisnya.
Dengan ijin sang trainier/fasilitator, si kampret ini secara berkala mengambil beberapa jepretan lepas dari sesi training yang diikuti, terutama ekspresi para kolega staff misi yang tentunya sama-sama ngantuk, sama-sama budek mendengarkan suara gemuruh kendaraan perang itu melintas dan lain sebagainya.
Acara pelatihan pun juga diwarnai oleh permainan seru. Lihat saja para canda tawa kita semua.. meski yakin masing-masing dari kita tentu merasa cukup stress dengan aktivitas operasi militer peacekeeping yang ramai ini.
Diakhir sesi training yang notabene memakan waktu seminggu itu, kita semua lega karena sudah sukses menjalani pelatihan, menambah ilmu dan tentunya bisa meluangkan waktu seru bersama-sama. Jadi, meski kondisi gawat-darurat, proses menimba ilmu terus berjalan meski harus sempat genset padam beberapa kali atau sang trainer berhenti mengajar barang 3-5 menit sambil menunggu iring-iringan kendaraan lapis baja itu kelar melintas, atau yang lucu-nya, ia ikut merunduk kebawah meja berlindung saat suara gemuruh helikopter PBB itu terdengar makin keras dan mendekat.
Saat sertifikat training dibagikan, nampaknya wajah-wajah itu tersenyum lebar, dan sang trainer yang notabene datang dari New York, dan belum pernah mengajar staff di daerah misi sudah maklum bila genset itu padam dan tidak terkaget-kaget dan merunduk dibawah meja lagi. Ini dia beberapa jepretan saat hari terakhir perlatihan itu rampung:
Beginilah keseharian kita di mission, bagaimana dengan cerita training di mission seberang ya?. Salam hangat dari afrika barat!.











Salut dan bangga rasanya mendengar berita yg dikirim mas luigi dan teman2 dinegara konflik, slmat bertugas putra bangsa, salam damai dari kami sekeluarga.
Nuju ngalatih kang di cipatats, kango 23D… ari saya teh ku kang sandy sering di beritakeun di situs akang, keur masih ngagabung di 23B, kaleresan harita ngaganti agus as Plan Operation Offr 23b, wilujeung tepang didieu kang…. mohon infona ti tempat Misi.
Hatur nuhun!
Gawatnya medan pertempuran dan konflik yg Bpk hadapi di sana dgn gawat serta gentingnya situasi di ruang gawat darurat dan kamar operasi yg saya hadapi…..Adrenalin terpacu, otak dan otot bekerja, mulut dan lengan serta kaki sibuk. Begitu kegentingan dan kegawatan itu terlewati……………tarikan nafas lega dan kibasan apa saja untuk menyejukkan badan, terasa sebagai suatu kenikmatan yang benar2 berharga.
Makanya Kang!!! Seharusnya sambil kegiatan dan foto2 di kelas, jangan lupa standar keamanan yang paling utama di daerah Misi! SI ROMPI BAJA DAN HELM BIRU GAK BOLEH DILEPAS! coba bayangin kalo foto2nya pake barang2 itu, Ganteng kan!!! hik.. hik.. hik..
Luar biasa ceritanya boss…, bener2 memperkaya info tentang peacekeeper buat kita…
Makasih ya..!! and keep writing…
ohh..this story jumping me back to about 9 years ago..when I have to stay in dormitory for a year in class training and field practice. New environment, tight schedule for module in class, presentation, debriefing, stressing..collide with ambition, intrigue, competition, friendship, love story, brotherhood, and even tears when one of us had to leave after failed to pass the exam and ‘judging’…with many characters of people interacted every day…somehow found them as own family..At the end, there so many unique people with their own personality..we just need to customize it. Thanks for the story.