Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kondisi gawat-darurat, pelatihan staff PBB tetap lewat

24 November 2009, 19:41 , by Luigi Pralangga

 

Banyak orang mengira bahwa hari-hari selama bekerja pada sebuah misi peacekeeping (pemulihan perdamaian) itu selalu berkutat didalam bunker pertahanan berlindung dari desingan peluru sebagai menu sehari-hari, memang benar dan juga tidak selalu benar adanya. Harus diakui bahwa pada saat misi baru digelar, kebanyakan dari kita menyebutnya dengan istilah ‘mission start-up‘, kondisi gawat darurat itu memang ada, dimana letupan dan kontak senjata bisa jadi menu keseharian. Namun seiring dengan ekspansi pengerahan pasukan perdamaian dari para personil anggota kontingen PBB masuk ke berbagai daerah pedalaman dan membuka pos-pos pengamat dan program rutin patroli oleh para personil bersenjata PBB, situasi makin membaik dan terbilang stabil.

Si kampret ini masih ingat benar dikala dia pertama kali mendarat di Mornvia, saat disapa oleh petugas penghubung di airport (Airport Liaison Officer), sapaan pertama adalah:

Welcome to Monrovia, and please wear this ballistic vest and proceed this way..”

Tanpa basa-basi, lho!. Ya, sebuah rompi tahan balistik berwarna biru, sayang saja waktu itu si kampret ini tidak kebagian jatah memakai si helm biru, melainkan topi baseball cap biasa berwarna biru dan bertuliskan: “UN – United Nations”, entah keman itu si topi tersebut sekarang.

Nah situasi di Monrovia makin membaik dan pekerjaanpun mulai beragam dari yang sbeelumnya hanya dikantor saja, tuntutan pekerjaan mengharuskannya untuk pergi ke pedalaman, mengunjungi kantor wilayah di sektor-sektor itu. Selain kunjungan lapangan, para staff misi juga diwajibkan untuk senantiasa memperdalam keandalan profesionalnya, dengan secara rutin mengikuti berbagai pelatihan yang berhubungan serta mendukung pengembangan karir dan kapabilitas. Jadi, kita pun menghadiri, serta wajib dalam setahun mengikuti berbagai menu training yang disuguhkan oleh IMTC (Integrated Mission Training Center).

Para konsultan penyedia jasa pelatihan, serta staff senior dari Markas Besar PBB di New York, dan juga para staff ahli yang datang dari misi peacekeeping lainnya pun acapkali didatangkan untuk memberi pelatihan atau menyampaikan program-program pembekalan bagi staff di misi PBB di Liberia. Meski saat ditengah sesi pelatihan, terdengar gemuruh suara helikopter yang terbang cukup rendah, atau bahkan gemeretak suara tapak kendaraan berlapis baja yang lalu-lalang didepan gedung kantor ini.

Mi-26 Chopper

Mi-26 doing Air Patrol

Melihat para trainer itu kerjaan-nya merunduk-merunduk terus, kita pun peserta training melihatnya senewen juga dan tidak sedikit dari kita yang juga malah latah ikut merunduk, ada yang sengaja ingin mengejek “Orang Kota-an” itu yang notabene penakut akan suara gemuruh atau malah kita-kita yang sudah kebal dan tidak begitu perduli lagi, karena sudah terbiasa. Seru-lah rasanya.. ditambah suara generator pembangkit listrik yang tidak pernah cape menggetarkan dinding gedung dimana tempat training itu berlangsung. Belajar sambil berisik, mungkin itulah persisnya.

_MG_9900

Dengan ijin sang trainier/fasilitator, si kampret ini secara berkala mengambil beberapa jepretan lepas dari sesi training yang diikuti, terutama ekspresi para kolega staff misi yang tentunya sama-sama ngantuk, sama-sama budek mendengarkan suara gemuruh kendaraan perang itu melintas dan lain sebagainya.

IMG_9812

_MG_9798a (29)

Acara pelatihan pun juga diwarnai oleh permainan seru. Lihat saja para canda tawa kita semua.. meski yakin masing-masing dari kita tentu merasa cukup stress dengan aktivitas operasi militer peacekeeping yang ramai ini.

IMG_0075

_MG_9910

IMG_0148

_MG_9798a (64)

Diakhir sesi training yang notabene memakan waktu seminggu itu, kita semua lega karena sudah sukses menjalani pelatihan, menambah ilmu dan tentunya bisa meluangkan waktu seru bersama-sama. Jadi, meski kondisi gawat-darurat, proses menimba ilmu terus berjalan meski harus sempat genset padam beberapa kali atau sang trainer berhenti mengajar barang 3-5 menit sambil menunggu iring-iringan kendaraan lapis baja itu kelar melintas, atau yang lucu-nya, ia ikut merunduk kebawah meja berlindung saat suara gemuruh helikopter PBB itu terdengar makin keras dan mendekat.

IMG_0223

Saat sertifikat training dibagikan, nampaknya wajah-wajah itu tersenyum lebar, dan sang trainer yang notabene datang dari New York, dan belum pernah mengajar staff di daerah misi sudah maklum bila genset itu padam dan tidak terkaget-kaget dan merunduk dibawah meja lagi. Ini dia beberapa jepretan saat hari terakhir perlatihan itu rampung:

IMG_0225

Beginilah keseharian kita di mission, bagaimana dengan cerita training di mission seberang ya?. Salam hangat dari afrika barat!.

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

6  Comments

by Ria Oktarini at 25 November 2009, 02:30

Salut dan bangga rasanya mendengar berita yg dikirim mas luigi dan teman2 dinegara konflik, slmat bertugas putra bangsa, salam damai dari kami sekeluarga.

by Ohaniks at 25 November 2009, 02:32

Nuju ngalatih kang di cipatats, kango 23D… ari saya teh ku kang sandy sering di beritakeun di situs akang, keur masih ngagabung di 23B, kaleresan harita ngaganti agus as Plan Operation Offr 23b, wilujeung tepang didieu kang…. mohon infona ti tempat Misi.

Hatur nuhun!

by Dana Lara at 25 November 2009, 02:34

Gawatnya medan pertempuran dan konflik yg Bpk hadapi di sana dgn gawat serta gentingnya situasi di ruang gawat darurat dan kamar operasi yg saya hadapi…..Adrenalin terpacu, otak dan otot bekerja, mulut dan lengan serta kaki sibuk. Begitu kegentingan dan kegawatan itu terlewati……………tarikan nafas lega dan kibasan apa saja untuk menyejukkan badan, terasa sebagai suatu kenikmatan yang benar2 berharga.

by Ehabel at 25 November 2009, 11:28

Makanya Kang!!! Seharusnya sambil kegiatan dan foto2 di kelas, jangan lupa standar keamanan yang paling utama di daerah Misi! SI ROMPI BAJA DAN HELM BIRU GAK BOLEH DILEPAS! coba bayangin kalo foto2nya pake barang2 itu, Ganteng kan!!! hik.. hik.. hik..

by Dandy Eugene at 25 November 2009, 11:43

Luar biasa ceritanya boss…, bener2 memperkaya info tentang peacekeeper buat kita…

Makasih ya..!! and keep writing…

by arik at 25 November 2009, 12:09

ohh..this story jumping me back to about 9 years ago..when I have to stay in dormitory for a year in class training and field practice. New environment, tight schedule for module in class, presentation, debriefing, stressing..collide with ambition, intrigue, competition, friendship, love story, brotherhood, and even tears when one of us had to leave after failed to pass the exam and ‘judging’…with many characters of people interacted every day…somehow found them as own family..At the end, there so many unique people with their own personality..we just need to customize it. Thanks for the story.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Hendra Gunawan Mayor Hendra Gunawan, currently serving as Indonesia’s Military Observer under the United Nations Stabilization Mission for the D.R. Congo (MONUSCO) based in Ituri. He was born in Jakarta on 27 March 1976. Following his graduation from Indonesia’s Military Academy in...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago