Kawan, aku punya cerita tentang Kongo…negara yang dulunya bernama Zaire dan presidennya Mobutu Sese Seko. Kisah ini bukan untuk menjelek-jelekkan atau bahkan mendiskriminasikan masyarakat disana. Sama sekali bukan… Cerita ini kukisahkan agar suatu saat siapa saja yang akan pergi ke Afrika, khususnya Kongo dapat memetik pengalaman berharga ini..
Tanggal 14 Januari, hari Rabu malam, dua orang teman kita yang sedang menjadi peacekeeper (Yudhi dan Beni) mengantar seorang military observer (Milobs) asal Malaysia (Kapten Azila) yang baru berkunjung ke camp mereka menuju Bunia airport menggunakan defender double cabin dengan bak belakang terbuka.
Selepas mengantar kowad manis asal Malaysia itu ke bandara, mereka pulang ke camp yang hanya berjarak + 10 km dari bandara. Dalam perjalanan pulang ke compound, seorang mutoto (anak Kongo) berusia sekitar 15 tahun melompat ke atas bak mobil tanpa sepengetahuan mereka. Kondisi jalan yang buruk (jalan tanah bergelombang tak beraspal) dan suasana gelap karena kurangnya penerangan jalan menyebabkan kedua teman kita tidak menyadari adanya tamu tak di undang di bak belakang Land Rover Defender mereka. Dengan leluasa sang maling kecil mempreteli baut yang mengikat ban cadangan Defender beserta peleknya. Tak berapa lama, akhirnya ban cadangan bisa dipreteli untuk kemudian dilempar keluar bak mobil dalam keadaan mobil masih berjalan. Namun karena kecepatan mobil masih cukup tinggi, si mutoto yang belakangan diketahui bernama Eri harus menunggu beberapa ratus meter sampai kendaraan melambat karena jalan menanjak, kemudian baru dia menyusul hasil jarahannya loncat keluar bak.
Keesokan paginya, kawan-kawan kita yang hanya berjumlah 7 orang sebagai tim yang mengurusi logistik bagi teman-teman lainnya di Dungu (+ 200 km dari lokasi) sadar kalau bannya dicuri orang. Kemudian mereka minta bantuan Kongole (inlander) yang sehari-hari membantu mereka bersih-bersih di camp untuk mencari pelaku pencurian. Dengan berbekal uang $1 US, sang kongole berangkat mencari si pencuri ban. Dan hal itu bukan pekerjaan yang sulit karena maling ban itu tak lain dan tak bukan adalah anak-anak yang sering nongkrong dijalan depan camp. Singkat cerita, pelaku ditangkap tanpa perlawanan untuk “ditanyai” oleh kedua kawan kita itu. Dari hasil interogasi diketahui bahwa ban serep mobil mereka telah diambil oleh orang lain saat dilempar keluar oleh si pencuri. Saat ditunjukkan kediaman sang penadah yang ternyata bukan satu gerombolan dengan si pencuri, sang penadah hanya “mengangkat bahu” sambil acuh tak acuh mengatakan tidak tahu-menahu soal ban defender ini.
Akhirnya tim “buser” dadakan itu melaporkan kejadian ke Polresta Bunia sebagai pihak berwenang yang memiliki yurisdiksi di wilayah tersebut. Sebetulnya ada terbersit keraguan saat melihat kantor Polres yang dindingnya terbuat dari tanah ditempelkan ke kayu-kayu yang disusun menyerupai tulangan kawat dan atapnya yang terbuat dari ilalang.

Foto POLRESTA Bunia – D. R. Congo
Namun demi tegaknya keadilan dan kembalinya ban yang susah dicari gantinya di negara yang kaya mineral namun miskin ekonomi itu, maka mereka meneruskan tekad melaporkan kejadian pencurian tersebut. Tak berapa lama, polisi dan tim buser dadakan pergi menjemput sang pencuri dan penadah menggunakan truk polisi dan bensin dari peacekeeper??. Kenapa bensin dari peacekeeper? Karena aparat kepolisian di Kongo tidak mampu membeli bensin untuk operasional kendaraannya…Atau mereka sengaja… who knows..?
Sampai ditempat, sang pencuri tidak menunjukkan rasa ketakutan ataupun berusaha untuk melarikan diri. Setelah menciduk si Pencuri kecil, polisi kemudian bergerak ke tempat sang penadah yang ternyata sudah lari tunggang-langgang duluan.

Polisi di D.R. Congo
Hasil penyelidikan di kantor polisi menetapkan tersangka akan dituntut 6 bulan penjara dan hasil sidang akan diumumkan pada hari Senin. Menurut aparat penegak hukum Bunia tentang peraturan yang ada di Bunia dan mungkin di seluruh Kongo; pihak pemerintah hanya akan memberikan makan kepada terpidana di penjara 2 kali seminggu. Bayangkan! – Seorang manusia diberi makan hanya 2 kali seminggu. Dan di penjara Bunia dan penjara-penjara lain di Kongo, selain jatah makan dari pemerintah, terpidana harus diberi makan oleh keluarga atau kerabatnya.

Gedung Penjara di Bunia

Penjara Bunia: Jauh dari nyaman
Dan yang lebih parah, apabila sang terpidana tidak memiliki saudara, maka yang wajib bertanggung jawab memberi makan adalah orang yang menuntut atau yang melaporkan mereka ke polisi. Nah lho…?
Setelah menimbang dan memikirkan ulang, akhirnya kawan-kawan kita terpaksa harus mencabut tuntutannya daripada harus mengantar makanan setiap hari selama 6 bulan ke orang tak dikenal yang sudah berupaya mencuri property mereka. Hari Sabtunya, kawan-kawan kita mendatangi Kantor polisi yang seperti mau roboh itu dan menyatakan niat mereka untuk mencabut tuntutannya.

Kantor POLSEK di D.R. Congo
Dan lagi-lagi mereka harus terkejut karena ternyata selama 4 hari investigasi di kantor polisi, sang maling tidak diberi makan oleh aparat. Saat ditemui, sang maling sudah meringkuk gemetaran di pojok kantor polisi karena 4 hari tidak diberi makan. Anehnya lagi, saat diberi biskuit oleh kawan-kawan kita malah langsung direbut oleh polisi. Alasannya belum waktunya makan, padahal biskuit itu untuk mereka habisi sendiri.

Ini dia tampang si pencuri itu.
Atas dasar itu pulalah akhirnya kawan-kawan kita rela mencabut tuntutannya. Pihak Polresta Bunia setuju tuntutan dicabut dengan beberapa syarat, salah satunya pihak penuntut harus membayar $50 US.
Kaget campur heran dan takut menghadapi kenyataan bahwa mereka harus memberi makan ke orang tak dikenal selama 6 bulan penuh, akhirnya mereka nego soal tuntutan yang akhirnya disepakati angka $20 US plus biskuit setengah karung….
Kongo… oh… Kongo..
Mas, rangkuman dari cerita ini adalah : Ban, nggak ketemu (tetep hilang) dan mesti mbayar ‘nego’ sebesar US$20.00 yah? – Report pisan, euy jadinya.
Nggak ada sama sekali perikemanusiaan-nya itu tahanan gak di kasih makan sampai 4 hari, syukur masih gemeteran, coba kalau udah gak bergetar lagi (Baca: Mampus), bisa runyam urusan-nya ya?
Ck..ck..ck..! pantes kalau gitu judulnya: Kongo.. Oh.. Kongo!
alhamdulillah, ternyata negara kita ternyata jauh lebih baik dari kehidupan kongo di cerita tadi (walo modus minta “uang bensin” di temen2 polisi juga masih belon ilang). kita patut bersyukur punya Republik Indonesia yang relatif sudah lebih baik daripada masa-masa sebelumnya. wita~penebar~aura~positif
Lhaaa….? seru amat yah peraturannya….
Btw, saya terkesan dengan gambar ‘Kantor POLSEK di D.R. Congo’…
met pagi kpada kawan2 yg lg tugas nan jauh di negri orang.wau kacian bgt ya khidupan di D.R. Congo,kantor polisinya aj seperti itu,apa lgi tempt mereka tinggal, intinya kita harus bangga mjadi orang INDONESIA, semoga hukum di indonesia tidak akan meniru seperti contoh hukum di kongo.i lv u.
…ceritanya itu…maju kena mundur pun kena… alhamdulillah kita dilahirkan di negara yg lebih “beradab”….dengan banyaknya orang kita yg “merantau dan belajar” dari luar seharusnya negara kita itu cepat keluar dari krisis bangsa ya mas ?!…