Correspondent Czi Rendra
Total 4 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 94 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Perdamaian: Sebuah janji (yang sulit) diwujudkan
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Penulis tergerak untuk mengetukkan sepuluh jari di atas papan ketik ketika membaca beberapa komentar kawan2 pralangga terhadap minimnya info tentang KONTINGEN GARUDA XX-E yang tengah menjalankan tugas pemeliharaan perdamaian di Republik Demokratik Kongo, Afrika. Sebagian komentar itu bahkan terdengar setengah ’meragukan’ eksistensi kami.
Tapi tak mengapa, penulis sadar sepenuhnya mungkin itu juga sebagian dari kesalahan kami yang kurang nyaring ketika berteriak untuk menyapa teman2 se-tanah air yang tersebar di seluruh dunia.
Sebagai pengantar kami informasikan bahwa KONTINGEN GARUDA (KONGA) XX sejak dari A sampai E merupakan satu Kompi Zeni (engineer) TNI-AD yang tergabung di dalam misi PBB bertajuk MONUC, as mentioned above, di Republik Demokratik Kongo (DRC).
Khususnya KONGA XX-E, dipimpin oleh Komandan Satgas Letkol Czi T. Yoga Pranoto, telah berada di Kongo ini sejak Oktober 2007. Tugas pokok kami adalah memberikan bantuan teknis Zeni kepada Eastern Division, dan memberikan bantuan taktis Zeni kepada North Kivu Brigade yang merupakan satuan2 bawah dari MONUC Force Headquarter. Di Kongo ini KONGA XX-E terdistribusi dalam 3 detasemen di tiga kota berbeda, yaitu Beni, Bunia, dan Dungu.
Sementara cukup itu pengantar tentang KONGA XX-E. Sekarang penulis akan mencoba mengupas judul artikel ini.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan keberadaan MONUC di Kongo ini adalah dengan berupaya menarik sebanyak mungkin kelompok-kelompok milisi bersenjata agar menyerahkan diri dan bergabung dengan pemerintahan resmi DRC. Di antara sekian banyak kelompok milisi yang ada di DRC ini, LRA merupakan salah satu yang masih aktif bergerak dan beraktifitas. Kelompok ini sebenarnya merupakan milisi bersenjata dari Uganda yang menyeberang perbatasan dan beroperasi di sekitar Dungu Teritory, di bagian utara Kongo.
Demi menarik mereka agar mau menyerahkan diri, maka Eastern Division menempatkan satu Mobile Operation Base (MOB) dari Morroccan Battallion dilengkapi dengan dua detasemen Zeni Indonesia dan Uruguay di daerah Dungu untuk membangun infrastruktur transportasi udara berupa airstrip, beberapa helipads, dan beberapa pekerjaan tambahan seperti perbaikan jalan dan jembatan.
Proyek ini telah dimulai sejak bulan Juli 2007 (waktu itu masih KONGA XX-D) dan dilanjutkan oleh KONGA XX-E hingga sekarang. Dalam waktu kurang lebih hanya 6 bulan, dengan segala kemampuan dan batas kemampuan yang dimiliki, KONGA XX-D dan E berhasil menyulap daerah Dungu yang tadinya bisa dikatakan sebagai jungle menjadi suatu airport semi permanen yang cukup kokoh untuk dilandasi oleh pesawat fixed wing C-130, atau sering kita sebut Hercules. Perlu diketahui bahwa untuk menyiapkan areal yang cukup bagi fasilitas tersebut, KONGA XX-D yang kemudian dilanjutkan oleh KONGA XX-E telah membuka hutan belantara seluas lebih dari 30 Ha dengan menggunakan Dozer D-65.
Spesifikasi airstrip yang dibuat oleh kompi Zeni Indonesia ini adalah sepanjang 2,2 km dengan lebar 30 m, dilengkapi dengan apron seluas 150.000 m2 dan service road mengeliling sepanjang hampir 5km. Finishing pada airstrip adalah compacted limonite setebal 50-80cm yang merupakan standar tertinggi untuk pekerjaan infrastruktur transportasi oleh military engineer pada misi ini.

Kondisi awal Runway

Kondisi Runway saat ini
Airstrip tersebut hingga sekarang masih dalam tahap penyelesaian, namun pada tanggal 31 Januari 2008 lalu, telah dilaksanakan uji coba pendaratan pesawat Hercules, dan hasilnya luar biasa. Pesawat Hercules dengan beban kotor 34 ton tersebut berhasil mendarat mulus tanpa meninggalkan jejak roda sedikitpun di atas permukaan airstrip yang baru selesai lapisan pertama pada waktu itu.

Kondisi awal Runway

Kondisi Runway saat ini
Dan kini, walaupun belum selesai sepenuhnya, airstrip Dungu tersebut telah digunakan untuk regular flight bagi pesawat Antonov-240 yang merupakan pesawat kargo. Dengan pengoperasian pesawat kargo reguler ini telah mampu membantu MONUC memotong cost untuk transportasi kargo lewat udara hingga menjadi kurang dari seperlima dibanding sebelumnya ketika menggunakan helicopter MI-26. Dari informasi yang didengar penulis, MONUC harus merogoh pundi uangnya sebanyak US$ 16,000 untuk membayar sewa MI-26 selama satu jam. Sedangkan untuk menyewa Antonov-240 dengan durasi yang sama, cukup dengan US$3,000,000.
Percobaan pendaratan Pesawat C-130 (Hercules)


First of all, I would like to greet you, … welcome and join the club to Major Czi Rendra :) (This time I know what´s that mean hehehe). Posting pertama dan semoga akan menyusul posting2 berikutnya yang menceritakan ttg KONGA kita di Kongo,…
Thumbs up untuk KONGA XX-D & XX-E,… yang telah bekerja keras untuk “menyulap” hutan belantara menjadi airport semi permanent.
Keep up the good work and we are proud of you!
Maaf, ralat, angka terakhir adalah US$ 3,000 bukan US$ 3 juta.
Artikel yang menarik dan menggugah rasa bangga. Selamat buat Team Konga Indonesia.
Foto-fotonya juga begitu mengesankan, tentu membuat run way adalah pekerjaan yang tidak segampang membalikan telapak tangan.
Selamat atas prestasi gemilang Konga XXE, terutama dalam sumbangsihnya mendukung proses perdamaian di DR Congo. Sebuah cerita pengalaman yang bernilai saat pensiun nanti diceritakan pada anak cucu.. dan kebanggan bangsa terhadap kontribusi perdamaian dunia. Keep it up! :-)
« Perdamaian: Sebuah janji (yang sulit) diwujudkan Kebangkitan Nasional 2008 »