Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Kopi super pahit - "Made in Lebanon"

11 November 2009, 03:53 , by Abe Bastian Sanusi

 

Ini adalah pengalaman di alami oleh setiap prajurit TNI yang bertugas sebagai peacekeepers di Lebanon, seperti hal nya yang terjadi pada diriku dan beberapa rekan prajurit dari Satgas Kontingen Garuda XXIII-C lainnya. “Kopi Super Pahit”, begitu kami biasa menyebutnya, ada yang menyebutnya dengan nama kopi arab dan ada juga yang menyebutnya dengan nama “Kopi Lebanon”, apapun itu namanya, tetap saja luar biasa pahit rasanya.

Kejadian yang pertama kira-kira 11 bulan yang lalu, yaitu awal bulan Desember 2008. Saat itu aku sedang berkunjung ke rumah salah seorang warga di desa Deir Siriane, Sesampainya disana tuan rumah langsung menawarkan minuman kepada kami dan bertanya ingin minum teh atau kopi (semua percakapan tentunya dilaksanakan dalam berbahasa arab dengan bantuan interpreter lokal), lalu dengan sigap aku langsung menjawab “Kopi”, karena ku pikir dalam keadaan dingin (suhu siang hari di bulan Desember berkisar antara 9 sampai 11 derajat celcius). Beberapa saat kemudian sang empunya rumah datang dengan membawa kopi pembawa bencana yang sedang kita bahas ini, lalu dengan entengnya aku menyeruput kopi itu (dengan asumsi di kepala, rasanya sama dengan kopi yang ada di tanah air. Ternyata, “BUSYEEET, KURANG ASEM, PAHIIIIIIIIIITTT!!!!” dalam hati aku berujar.

Anjangsana

Sedetik kemudian langsung melirik ke rekan-rekan prajurit yang lain, spontan aku langung tertawa keras, ternyata aku tidak sendirian, semuanya merasakan hal yang sama, dan yang lebih lucu lagi, mimik wajah mereka aneh-aneh, sesaat kemudian kami semua tertawa terbahak-bahak. Si tuan rumah pun heran dan bertanya ada apa, lalu aku jelaskan bahwa kopinya pahit sekali tidak seperti di Indonesia dimana biasanya kopi selalu ditambahkan dengan gula. Barulah si tuan rumah mengerti dan sambil tertawa dia berlalu mengambilkan gula dari dalam rumahnya.

Beberapa minggu setelah kejadian yang pertama, aku kembali berkunjung ke rumah warga, kali ini di desa Al Qusayr. Kunjungan kali ini aku datang bersama rekan-rekan prajurit yang berbeda. Seperti biasa, tuan rumah menawarkan mau minum apa, lalu aku menjawab kopi (karena ada sedikit rasa usil agar rekan-rekan yang lain ikut merasakan pahitnya Kopi Lebanon ini). Setelah 5 menit menunggu tuan rumah datang menyuguhkan kopi super pahit ini, aku sengaja menunggu rekan-rekan prajurit yang lain untuk minum terlebih dahulu. Yang terjadi sudah dapat di duga, dengan ekspresi wajah yang beraneka-ragam mereka serentak mengeluarkan suara “PUUUIIIIIIHHHHHHH!!!!!!!!, Pahit banget!!”. Hehehehehe, aku tersenyum lebar sekali, kemudian aku sampaikan kepada mereka bahwa kopi ini harus dihabiskan, karena kalau tidak habis maka tuan rumah akan merasa tersinggung sehingga mau tidak mau mereka terpaksa harus menghabiskannya (“sukses besar” dalam hatiku berujar). Tidak cukup sampai disini, dengan maksud hanya basa-basi aku sampaikan kepada tuan rumah bahwa mereka sangat menyukai kopi buatannya, maka spontan tuan rumah menambahkan kopi itu ke dalam cangkir rekan-rekan prajurit yang ada disana.

Barulah kemudian aku meminta gula kepada tuan rumah untuk mengurangi rasa pahit yang sudah terlanjut mereka rasakan. Sepulang dari sana aku langsung menjadi sasaran gerutuan mereka, hahahahaha.

Sebenarnya ada banyak kejadian serupa yang kami dialami oleh para prajurit TNI yang bertugas di Lebanon, namun aku rasa dua contoh ini sudah cukup menggambarkan betapa pahitnya kopi made in Lebanon ini, buat rekan-rekan di tanah air, jangan kira kopi ini pahitnya hanya gitu-gitu aja, percayalah, lebih pahit 10 kali disbanding kopi Indonesia yang paling pahit. Untuk rekan-rekan suatu saat akan menjalani penugasan di Lebanon, siapkanlah mental anda-anda semua dengan makanan dan minuman yang rasanya aneh-aneh, cenderung pahit dan asem dibanding makanan dan minuman di Indonesia.

Ini bukan cerita isapan jempol belaka, kalau tidak percaya silahkan tanyakan kepada yang sudah pernah merasakannya.

Demikian dulu kabar dari kami para peacekepeers yang bertugas di UNIFIL, semoga walaupun sedikit akan menambah pengetahuan rekan-rekan sekalian tentang kekonyolan yang kami alami di negeri orang ini. Sampai bertemu lagi di cerita yang lainnya. Wassalam.

Arief Bastian Sanusi Arief Bastian Sanusi, 1st Lieutenant Marine Corps, was born in December 1983 in Pangkalan Susu, North Sumatera. After conclusion of formal education at SMUN 1 Padang in 2001, He drafted hiimself at the Indonesian Naval Academy and later became the...

Detail Profile »

6  Comments

by LieZMaya at 11 November 2009, 05:05

kira2 itu karena apa ya kang? apa karena perbedaan suhu dengan negara tropis kita?

by ical at 11 November 2009, 10:03

nice story. jd penasaran; sepahit apa ya?

by Ehabel at 11 November 2009, 14:07

Jangan dijadiin oleh2 kalo pulang ke indo yah!! Bisa turun pangkat loh nanti!

by Nofaldi at 1 December 2009, 21:53

hmmmmhhh…penasaran?…kalau kopi itu tanaman tropis, pahitnya sering kita rasakan. Kalau terasa 10 x lebih pahit pasti ada bumbu tambahan oleh warga Lebanon?
Mungkin terasa pahit karena keamanan disana sangat “pahit”?

by sri desmayuli at 11 August 2010, 22:00

Seenak-enaknya d negeri orang masih enak d negeri sendiri! Kangen Indonesia tuh…!

by wni dibloom at 17 August 2011, 19:59

Bisa ‘kejam’ juga yah terhadap rekan-rekan… hahaha…

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Eva MULYANDARI Eva MULYANDARI Evalina has started her career in shipping industries initially in 2001,combined with export-import, warehousing and logistics experiences in East Timor later in 2004. With her extensive professional exposure in those fileds, it has made her profile became attractive to the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago