Ini adalah pengalaman di alami oleh setiap prajurit TNI yang bertugas sebagai peacekeepers di Lebanon, seperti hal nya yang terjadi pada diriku dan beberapa rekan prajurit dari Satgas Kontingen Garuda XXIII-C lainnya. “Kopi Super Pahit”, begitu kami biasa menyebutnya, ada yang menyebutnya dengan nama kopi arab dan ada juga yang menyebutnya dengan nama “Kopi Lebanon”, apapun itu namanya, tetap saja luar biasa pahit rasanya.
Kejadian yang pertama kira-kira 11 bulan yang lalu, yaitu awal bulan Desember 2008. Saat itu aku sedang berkunjung ke rumah salah seorang warga di desa Deir Siriane, Sesampainya disana tuan rumah langsung menawarkan minuman kepada kami dan bertanya ingin minum teh atau kopi (semua percakapan tentunya dilaksanakan dalam berbahasa arab dengan bantuan interpreter lokal), lalu dengan sigap aku langsung menjawab “Kopi”, karena ku pikir dalam keadaan dingin (suhu siang hari di bulan Desember berkisar antara 9 sampai 11 derajat celcius). Beberapa saat kemudian sang empunya rumah datang dengan membawa kopi pembawa bencana yang sedang kita bahas ini, lalu dengan entengnya aku menyeruput kopi itu (dengan asumsi di kepala, rasanya sama dengan kopi yang ada di tanah air. Ternyata, “BUSYEEET, KURANG ASEM, PAHIIIIIIIIIITTT!!!!” dalam hati aku berujar.
Sedetik kemudian langsung melirik ke rekan-rekan prajurit yang lain, spontan aku langung tertawa keras, ternyata aku tidak sendirian, semuanya merasakan hal yang sama, dan yang lebih lucu lagi, mimik wajah mereka aneh-aneh, sesaat kemudian kami semua tertawa terbahak-bahak. Si tuan rumah pun heran dan bertanya ada apa, lalu aku jelaskan bahwa kopinya pahit sekali tidak seperti di Indonesia dimana biasanya kopi selalu ditambahkan dengan gula. Barulah si tuan rumah mengerti dan sambil tertawa dia berlalu mengambilkan gula dari dalam rumahnya.
Beberapa minggu setelah kejadian yang pertama, aku kembali berkunjung ke rumah warga, kali ini di desa Al Qusayr. Kunjungan kali ini aku datang bersama rekan-rekan prajurit yang berbeda. Seperti biasa, tuan rumah menawarkan mau minum apa, lalu aku menjawab kopi (karena ada sedikit rasa usil agar rekan-rekan yang lain ikut merasakan pahitnya Kopi Lebanon ini). Setelah 5 menit menunggu tuan rumah datang menyuguhkan kopi super pahit ini, aku sengaja menunggu rekan-rekan prajurit yang lain untuk minum terlebih dahulu. Yang terjadi sudah dapat di duga, dengan ekspresi wajah yang beraneka-ragam mereka serentak mengeluarkan suara “PUUUIIIIIIHHHHHHH!!!!!!!!, Pahit banget!!”. Hehehehehe, aku tersenyum lebar sekali, kemudian aku sampaikan kepada mereka bahwa kopi ini harus dihabiskan, karena kalau tidak habis maka tuan rumah akan merasa tersinggung sehingga mau tidak mau mereka terpaksa harus menghabiskannya (“sukses besar” dalam hatiku berujar). Tidak cukup sampai disini, dengan maksud hanya basa-basi aku sampaikan kepada tuan rumah bahwa mereka sangat menyukai kopi buatannya, maka spontan tuan rumah menambahkan kopi itu ke dalam cangkir rekan-rekan prajurit yang ada disana.
Barulah kemudian aku meminta gula kepada tuan rumah untuk mengurangi rasa pahit yang sudah terlanjut mereka rasakan. Sepulang dari sana aku langsung menjadi sasaran gerutuan mereka, hahahahaha.
Sebenarnya ada banyak kejadian serupa yang kami dialami oleh para prajurit TNI yang bertugas di Lebanon, namun aku rasa dua contoh ini sudah cukup menggambarkan betapa pahitnya kopi made in Lebanon ini, buat rekan-rekan di tanah air, jangan kira kopi ini pahitnya hanya gitu-gitu aja, percayalah, lebih pahit 10 kali disbanding kopi Indonesia yang paling pahit. Untuk rekan-rekan suatu saat akan menjalani penugasan di Lebanon, siapkanlah mental anda-anda semua dengan makanan dan minuman yang rasanya aneh-aneh, cenderung pahit dan asem dibanding makanan dan minuman di Indonesia.
Ini bukan cerita isapan jempol belaka, kalau tidak percaya silahkan tanyakan kepada yang sudah pernah merasakannya.
Demikian dulu kabar dari kami para peacekepeers yang bertugas di UNIFIL, semoga walaupun sedikit akan menambah pengetahuan rekan-rekan sekalian tentang kekonyolan yang kami alami di negeri orang ini. Sampai bertemu lagi di cerita yang lainnya. Wassalam.

kira2 itu karena apa ya kang? apa karena perbedaan suhu dengan negara tropis kita?
nice story. jd penasaran; sepahit apa ya?
Jangan dijadiin oleh2 kalo pulang ke indo yah!! Bisa turun pangkat loh nanti!
hmmmmhhh…penasaran?…kalau kopi itu tanaman tropis, pahitnya sering kita rasakan. Kalau terasa 10 x lebih pahit pasti ada bumbu tambahan oleh warga Lebanon?
Mungkin terasa pahit karena keamanan disana sangat “pahit”?
Seenak-enaknya d negeri orang masih enak d negeri sendiri! Kangen Indonesia tuh…!
Bisa ‘kejam’ juga yah terhadap rekan-rekan… hahaha…