Good Morning, Afternoon, Evening…
This is United Nations’ Warship operating in support of United Nation Security Council Resolution 1701 and 1832 .
I request your cooperation in answering following questions. I do not intend to impede or delay your passage, over.
What is your ship name, Flag, IMO Number, and…..
Thank you for your cooperation sir. Have a safe journey. This is United Nations Warship out.
Demikianlah percakapan yang sudah tidak asing lagi terdengar setiap hari ketika kita berada di anjungan kapal dan menemukan Perwira Jaga (Paga) sedang dilaksanakannya hailing terhadap kapal-kapal yang melintas di AMO (Area Maritime Operation) yang menjadi tugas dan tanggungjawab KRI Diponegoro-365
Kalau kita melihat kata Hailing di kamus sama dengan “berteriak”. Berteriak disini bukan sembarangan teriak tetapi melaksanakan komunikasi melalui voice/radio dengan kontak yang kita jumpai baik yang mencurigakan ataupun yang tidak yang melewati AMO yang dilaksanakan selama 24 jam. Inilah yang menjadi tugas utama KRI Diponegoro-365 yang akan dilaksanakan hingga pertengahan oktober mendatang dalam keikutsertaannya sebagai Satuan Tugas Maritime Task Force (MTF) Kontingen Garuda XXVIII A-UNIFIL dalam rangka melaksanakan blokade laut untuk mencegah penyelundupan senjata dan material yang berhubungan dengan senjata dari, ke dan lewat laut Libanon, disamping memberikan pelatihan kepada LAF-N untuk meningkatkan kemampuannya sehingga mereka bisa menjaga keamanan perairannya secara mandiri.
KRI Diponegoro-365 dengan komandan Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah yang diawaki oleh 100 orang personel terdiri dari 29 Perwira, 41 Bintara dan 30 Tamtama telah bergabung dengan unsur-unsur MTF dari negara lain seperti Jerman, Italy, Turky, Belgia, Yunani, Perancis, Portugal sejak 19 April 2009 setelah melewati perjalanan dari Indonesia selama 1 bulan dengan route Surabaya-Jakarta-Belawan-Cochin-Salalah-Port Said-Beirut dengan menempuh jarak 6555 Nm.

Kehadiran KRI jenis Sigma Class buatan Vlisingen Belanda ini adalah merupakan suatu kebanggaan dan kepercayaan bagi Bangsa Indonesia karena untuk pertama kalinya sejak MTF berdiri tahun 2006, Indonesia satu-satunya Negara di Asia yang diminta untuk ikut berpartisipasi memperkuat unsur-unsur MTF yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh kapal-kapal dari Benua Eropa, Tentunya hal ini tidak terlepas dari prestasi yang ditorehkan oleh satgas-satgas darat yang telah lebih dahulu bertugas.
Setelah hampir 2 minggu bertugas di AMO, saat ini KRI yang mulai bertugas di TNI AL sejak 2 Juli 2007 lalu telah berhasil menghailing 45 kapal yang sebagian besar adalah kapal jenis kargo dan tanker. Hasil hailing dan bukti berupa foto kemuudian dilaporkan ke kapal MIO Comander yang saat ini dijabat oleh BNS Leopold (Kapal Perang Belgia) yang kemudian diteruskan ke Commander Task Force (CTF).

Kapal BNS Leopold I – dijaga oleh prajurit LAF
Dalam melaksanakan tugasnya KRI Diponegoro-365 berada di bawah CTF 448. Komandan MTF adalah Rear Admiral Jean Thiery Pinooy (Paling Kanan).

Dari 4 zone yang ada KRI Diponegoro mendapat AMO di zone 1 bersama kapal-kapal yang memiliki ukuran besar seperti Kapal perang Belgia. Namun kemudian karena keterbatasan unsur-unsur MTF sehingga menyesuaikan dengan jadwal yang diberikan, termasuk jadwal sandar dan layar. Sampai saat ini untuk sandar 2 hingga 3 hari sedangkan beroperasi/layar selama 1 minggu.
Yang tidak kalah pentingnya adalah keterlibatan helikopter yang juga onboard di KRI Diponegoro, BO 105 NV-414 yang melaksanakan tugas pengamatan AMO dari udara sebagai mata dan telinga dari KRI. Kombinasi kapal permukaan dan aset udara merupakan hal yang sangat vital guna mewujudkan tugas pokok. Dua kali dalam sehari, NV-414 melaksanakan operasi udara di zona yang ditentukan oleh MIO Cdr (Maritime Interdiction Operation Commander) untuk mengidentifikasi secara visual kontak yang terdeteksi radar dan mendokumentasikannya dalam bentuk foto dan video serta melaksanakan komunikasi radio (hailing) dengan kapal tersebut untuk mendapatkan informasi penting yang dibutuhkan untuk dicocokkan dengan data AIS (Automatic Information System) dan data intel yang telah diterima. Sejauh ini baik KRI maupun Helikopter telah dapat melaksanakan tugas dengan baik.



Disela-sela melaksanakan tugasnya di daerah operasi, dilaksanakan pula berbagai latihan internal baik individu maupun kelompok dengan unsur-unsur MTF lainnya dan juga dengan angkatan laut Libanon (LAF-Navy) (GIE).
bangga dengan TNI (rock)
selamat bertugas dan semoga selalu lindungan-Nya
Selamat dan sukses buat seluruh Prajurit KRI Diponegoro-365 sebagai pengawak KRI pertama yang mengawali tugas misi pemeliharaan perdamaian dunia. kita yakin bahwa keberadaan kapal TNI AL saat ini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia internasional. “JALES VEVA JAYA MAHE, JUSTRU DI LAUT BANGSA INDONESIA JAYA”
Keberhasilan misi perdamaian yang di emban TNI disejumlah mandala operasi PBB saat ini, merupakan bukti bahwa TNI semakin profesional menghadapi tantangan pasca perang dingin.
Kehadiran KRI Diponegoro-365 di perairan Lebanon dalam mengemban misi pemeliharaan perdamaian menunjukkan bahwa eksistensi TNI AL dalam melaksanakan Operasi Pemeliharaan Perdamaian saat ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh dunia internasional.
Kita patut berbangga kepada seluruh Parjurit Pengawak KRI Diponegoro-365 sebagai duta bangsa pengawak KRI yang pertama kali mengawali Operasi Perdamaian Dunia.
“JALESVEVA JAYA MAHE – JUSTRU DI LAUT BANGSA INDONESIA JAYA”
Saya bangga Indonesia bisa mengirimkan KRI Diponegoro 365 dalam misi perdamaian,semoga berhasil dan kembali dengan selamat, “Jalesveva Jaya Mahe”