Penat rasanya hari itu, kombinasi antara bosan stadium akut, dan rasa rindu kampung campur aduk menjadi satu. Kumaha sih kalau rasa hati kararesel teu pararuguh bari teu jelas keheul ka saha!?. Nah persis begitu! (Coba tolong diterjemahkan yang faham Sunda, please!). Bekerja di misi PBB yang notabene lokasi kerjanya itu di negara pasca-konflik, kalau giliran akhir pekan kadang suka bingung sendiri, kemana ada apa ya acaranya?. Mungkin kalau di tanah air, urusan kegiatan akhir pekan punya segudang pilihan. Mau pelesir ke Mal?, hayu!, mau jalan ke bioskop nonton bareng si do’?, bisa!. Mau main bowling, bilyard, dan segala macam, ada!. Mau ikut arisan keluarga?, banyak jadwalnya.. Nah, bagaimana dengan kita di Monrovia?. Buat para staff expatriates, termasuk kita para expat Indonesia, acara akhir pekan adalah – makan bersama!.
Alhamdulillah kemaren baru saja terima sangu tunjangan misi, jadi isi dompet itu sudah tidak memalukan lagi. Yang tadinya hanya berisikan selembar atau dua, dollar nominasi pecahan 20, kini terisi tebal banyak sekali lembaran Oom Benjamin Franklin dan beberapa lembar Oom Grant.
Maka, sepertinya mungkin untuk mengundang kawan kerabat staff Indonesia untuk kumpul acara makan siang bersama. Pada misi PBB di Liberia, staff Indonesia masih bisa terhitung dengan jari, selain Bang Dicky, ada Kang Luigi, lalu Bang Donasion, kemudian ada Mbak Vonny, Mbak Aisyah, dan Mbak Lika. Itulah keluarga besar Merah Putih di Liberia ini. Dalam upaya mempererat silaturahim keluarga besar ini, maka setelah koordinasi, akhirnya setujulah untuk mengadakan kumpul makan siang dadakan.
Makan siang bersama, nah bicara selera dan pilihan restoran yang cukup representative di Monrovia adalah bukan perkara gampang. Ibukota Liberia, saat ini hanya memiliki beberapa lokasi santap bersama yang dirasa enak dan harganya lumayan terjangkau serta bersih. Sisanya wah, kita-kita belum cukup percaya diri untuk bisa seenaknya makan sembarangan. Terjangkit typhus dan gangguan pencernaan adalah salah satu resikonya.
Setelah pilih-pilih dan berunding, akhirnya sepakat untuk memilih restoran Great Wall, restoran masakan china yang rasanya sudah bersahabat dengan lidah ini, dan pasukan kapal keruk ini bisa dijamu kenyang dengan harga yang nggak bakalan bikin bangkrut.. pertimbangan lain memilih restoran ini adalah, tersedianya fasilitas karaoke, sabodo amat kalau nanti para tamu restoran lain itu terpaksa mengungsi karena pekak telinga mereka dengan suara kacau-balau kita semua.
“Oke, para mbakyu.. silahkan pilih menu masakan apa yang kalian idam-idamkan, tenang saja, jangan liat harganya.. kali ini semua ditanggung!..”
Maka seriuslah mereka semua membaca buku menu yang besarnya hampir selebar bentangan koran kompas itu. yakin sayah, mah kalau mereka hanya melihat gambar masakan yang ada di buku menu, sebab sisanya hanya tulisan dengan huruf china, yang si horeng ini pun nggak ngerti baca/bunyinya nama masakan itu.
Setelah para mbakyu itu berdiskusi, akhirnya pesanan sudah rampung ditentukan. Memanggil pelayan restoran untuk mencatat pesanan. “Mbak..mbak, kita pesan ini, yang gambarnya seperti ini tapi jangan ada Babi-nya ya!, bilang sama si engkoh tukang masak dibelakang, jangan pake babi sedikitpun”.
Memang pesan masakan di Liberia ini mesti benar-benar dijelaskan, kalau tidak bisa jadi piring saji itu menggunakan daging babi didalamnya.
Menjadi juragan acara makan siang waktu itu nampaknya terasa ngeunah pisan, euy!.
Obrolan santai mengalir dengan sendirinya, lupa urang teh ngobrolin apa aja, yang jelas mah kita keketawaan saja mendengar cerita – cerita masing-masing dan khususnya mengulang cerita saat masing-masing dari kita pertama kali tiba di negeri ini. Rasa waswas, kaget akanbudaya dan situasi orang-orang setempat dan perjuangan saat berada di penempatan jauh di pedalaman. Walah, nggak habislah diceritakan 7 hari-7malam…!.
Santap makan bersama dengan kawan-kawan seperjuangan, memang salah satu upaya membuat hari-hari selama penugasan berjalan sangat cepat dan berlalu dengan riang. Itulah salah satu kunci sukses lepas dari stress bekerja di misi. Kumaha cerita pengalaman rekan-rekan lainnya?. Sok atuh, cerita yah..









waaaah, jadi gambar gambar di buku menu sudah mewakili rasa ya
selamat bertugas akang, sukses merah putih berkibar
salam hangat dari kampung halaman
Terjemahannya… harareudang, atau harerea, mungkin.
Senang liatnya. Makan dengan kolega sebangsa, mungkin seperti berada di tanah-air. Insya Allah, kalo saya dapet setumpukan oom Benyamin begitu, bolehlah saya traktir kang Lukman, dan semua berlima. Kalo kang Luigi ta’ suruh bayar sendiri ajah ya.
makan ga makan sing penting kumpul
wuah…bener atuh Kang…asli..palagi kolega tu sebangsa n setanah air plus sso yg scr tak terduga adl kawan balita qt….hew hew hew….
Kang…how R U there Kang..?
Ya sing sbr aja ya kang pkokx ttp smangat ..! Hidup kang lui…hahaha
Ya sing sbr aja ya kang pkokx ttp smangat ..! Hidup kang Deden…hahaha
Wah kang Deden hebat msh ingat basa wewengkon padahal keur lieur tugas diluar nageri,bisa nyempetkeun kumpul makan bareng ama rekan. smoga kang Deden saparakanca sing aya tina panangtayungan Allah SWT.
Dimanapun, apapun itu acaranya kalau rame-rame bersama kawan atau kolega memang terasa menyenangkan plus ada acara makan bersamanya. apalagi jika sedang jauh dari perantauan, bisa mengobati rindu keluarga dan kampung halaman.
Haiyaa…jadi woleh juga tuh, ada fled lais spesial pake telol juga enggak pak di menunya..? hehehe
Salam dan Selamat bertugas ya pak.