Awalnya saya sedikit pesimis dengan kemungkinan berhasilnya program kursus MS Office Basic yang kami siapkan khusus untuk ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan “ Ibu-ibu rumah tangga gitu looh ” seloroh istri saya setiap kali stuck dengan tombol navigasi. Saya semula juga tidak banyak berharap dengan sumber daya manusia yang kita tahu telah, selalu, dan akan banyak menghasilkan jutaan sumber daya manusia berkualitas yang berpuluh-puluh kali lebih potensial dari diri mereka sendiri. Buktinya, secara teologis Alloh perintahkan untuk selalu menghormati ibu-ibu kita; bahwa surga terletak dibawah kaki ibu, dan seterusnya. Namun demikian, kehebatan ibu-ibu ini jarang di ekplorasi ketika mereka harus mengikuti pelatihan dengan materi yang jarang bersangkut-paut dengan “dunia” mereka yaitu komputer. Apa yang kira-kira akan terjadi di kelas jika ini memang dilaksanakan. Boommm…hipotesis saya salah besar tenyata teknologi komputer bertekuk lutut dibawah kaki para ibu juga…
Maret 2010 ini CIMIC Indobatt XXIII-D/ UNIFIL melaksanakan program pelatihan komputer MS Basic bagi Ibu-Ibu rumah tangga di wilayah Dier Siriane South Lebanon. Saya tidak perlu menceritakan lagi betapa daerah ini sangat kurang beruntung secara ekonomi. Kerusakan parah akibat hantaman mortar, bom cluster, peluru caliber 12,5 mm masih “manis” menghiasi tembok-tembok rumah dilingkungan ini. Setiap kali melintas saya membayangkan lubang-lubang menganga sebagai graffiti kematian pada perang 2006. Karakter dasar bentukan perang berkepanjangan di daerah ini juga menjadi pertimbangan penting; keras, bandel, kasar, masih menganggap orang asing musuh, kurang menghargai orang lain, dan sebagainya. Sebuah tantangan tersendiri bagi tim CIMIC Indobatt yang dikenal ulet, ramah, murah senyum, sopan dan santun.
Hari pertama, saya agak kagok. Bukan karena grogi melihat 15 orang ibu-ibu berkerudung hitam yang rata-rata berusia 27-45 tahun menatap dengan penuh “harap-harap cemas”. Tetapi lebih dari itu karena saya dan tim hanya menguasai Bahasa Inggris. Padahal tidak satupun dari ibu-ibu ini yang berbahasa Inggris. Saya beruntung karena ternyata Language Assistance Indobatt MS Salma Daabous yang sebenarnya juga “gatek” dapat menyampaikan pesan-pesan teknis materi kursus dengan sangat baik dalam Bahasa Arab Lebanon, Alhamdulilah.
Hari kedua, baru saya sadari bahwa secara umum kemampuan ibu-ibu ini kurang lebih sama dengan istri saya dan mungkin ibu-ibu lain di kampung saya yang masih takut memencet tombol laptop. Ada yang masih bingung ini komputer koq bisa di lipat. Ada yang kehilangan screen page karena salah pencet – maksudnya tadi pencet tombol apa -. Ada yang anaknya mulai menarik-narik kerudung dan rok ibunya karena sudah tidak sabar pingin main di luar….Aduh…saya hampir …tetapi saya akhirnya ingat dan tidak kaget lagi karena ternyata keadaanya hampir sama dengan suasana pengajian malam Jumat di rumah saya. Tidak lama setelah suasana “terkendali” Saya mulai merasakan rasa percaya diri karena mereka adalah ibu-ibu rumah tangga “normal” yang termotivasi dan mempunyai keinginan untuk belajar. Ternyata mereka – meskipun terlihat introvert – benar-benar Highly motivated , memiliki rasa ingin tahu yang saya bilang justru lebih baik dari yang saya bayangkan. Mereka berani dan berusaha bertanya meskipun tidak tahu bahasa apa yang harus dipakai…yang penting angkat tangan dengan senyum malu-malu khas ibu-ibu…LUAR BIASA saya bilang ini LUAR BIASA.
Hari Ketiga, saya dan tim akhirnya menyadari ada banyak kendala yang dialami oleh ibu-ibu dalam mengikuti pelatihan ini; pertama, karena program MS Office Word menggunakan Bahasa Inggris; kedua, karena ini kali pertama mereka melihat laptop dengan segala sensitivitasnya; ketiga, karena mereka jarang bahkan sama sekali tidak pernah menulis dengan abjad latin…ooops…. Saya dan tim IT segera membuat “langkah-langkah strategis”. Masalah pertama dan kedua dapat di kelarkan dengan mempersiapan bahan tambahan yang lebih “ crunchy ” dengan metode asistensi ketat dari staff yang terus “menempel” ibu-ibu ini jika ada kesulitan. Permasalahan ketiga agak lain pendekatanya. Inilah tantangan akademik yang paling saya suka. Bagaimana membuat peserta kursus ini tidak stress melihat huruf-huruf alphabet latin? Bagaimana membuat mereka berani menggunakan 11 jari dan bukan 1 jari untuk mengetik? Bagaimana membuat peserta kursus akhirnya nyaman dengan teknologi dan bahasa asing sekaligus? Saya sangat-sangat bersyukur karena motivasi, keingintahuan, semangat ibu-ibu ini bukan lagi menjadi tantangan kami.
Hari Keempat, Saya sungguh-sungguh terkesan dari 15 peserta hanya tiga orang yang perlu mendapat perhatian khusus. Pada pertemuan ketiga ini para peserta sudah bisa menyusun Curiculum Vitae meskipun mereka tidak tahu dan tidak dapat mengisi kolom hobby (apa itu? Tanya mereka…rupanya konsep hobby ini masih asing bagi mereka). Bahkan mereka sudah dapat meng-insert photo mereka kedalam lembar kerja…WOW…mereka girang dan…tentu saja kami juga excited . Ibu-ibu ini dalam empat kali pertemuan suduh bisa membuat lembar kerja Curiculum Vitae. Selanjutnya tugas saya fokuskan ke pengetikan. Saya berikan materi dikte ( dictation ) bacaan dengan konsep modifikasi karena tidak saya bacakan tetapi dengan cara saya dispay di LCD. Para peserta mengetik ulang; Sebuah paragraph 230 kata petikan Encarta Encyclopedia 2009 berjudul “ Women’s Rights ”. Terdengar mudah, tetapi tidak karena mereka harus sudah mengeksplorasi fungsi-fungsi tombol: TAB, CAPITAL, jenis huruf, ukuran huruf, simbol, dll. Setelah lebih dari 20 menit bekerja mereka merasa “Capek” luar biasa. Saya melihat keringat mulai mengembun di dahi mereka, tanda mereka bekerja keras dan dalam 20 menit itu tidak ada satupun yang bicara bahkan berbisikpun. Saya bilang ke kawan-kawan; ayo…kita minum kopi diluar nih…mereka baru “tidak mau di ganggu”.
Kursus MS Office Basic untuk ibu-ibu rumah tanggga ini akan berlangsung selama delapan kali pertemuan dan dilaksanakan selama sebulan. Pertemuan dua kali seminggu, setiap pertemuan 90 menit. Dengan melihat hasil perkembangan sementara para peserta, saya dan tim merasa sangat senang, sungguh diluar dugaan, para ibu yang tidak memahami konsep hobby ternyata mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan asing; teknologi dan bahasa, budaya, dengan sangat cepat. Motivasi apa yang mendorong mereka sehingga mereka dapat dengan tekunnya belajar. Sungguh saya akhirnya percaya bahwa jikalau Surga saja berada di bawah telapak kaki ibu, maka tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak akan bertekuk lutut dibawahnya. Wallohuallam .




Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago