Sejak dirimu lahir, persis 30 July 2002 – saya tahu persis bahwa kehadiranmu melengkapi kebahagiaan dalam hidup kita. Memang, harus diakui bahwa dirimu sekarang telah tumbuh besar dan alhamdulillah, Allah SWT memberikanmu kesehatan, keriangan dan menjadi pencerahan buat kita, adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi saya khususnya.
Ikal rambutmu, kerling alis dan bulu matamu, dan kuat-nyaringnya tangismu – kesemuanya itu – meski penat dan lelah seharian bekerja, tiada perduli dan dirimu hanya mau terlelap hanya dalam pangkuan dan peluk hangat kedua tangan ini.. meski udah kesemutan sangat kedua tangan ini memeluk-gendong berat tubuhmu.
Sejak dirimu lahir, hari-hari diri ini menjadi sangat berbeda dari sebelumnya. .. musim panas, berganti gugurnya dedaunan, kemudian salju pun menjenguk dan disusul bersemi-nya bunga tulip didepan rumah kita di Secaucus, New Jersey, kita lalui bersama masa-masa indah itu.. dimana kemudian tugas memanggil saya untuk berangkat ke negeri seribu satu malam.
Demi panggilan tugas dan masa depan kita semua – ku harus relakan berjauhan denganmu.. dan kalian bertiga.
Tiada hari dan malam kulalui tanpa teringat akan dirimu, dan bagaimana dirimu tumbuh dan besar dari hari ke selanjutnya. Saat pecah perang meletus di Iraq, diungsikannya saya ke Larnaka, Cyprus – setiap melihat berita tentang perang yang berkecamuk disana, tayangan bergambar yang melukiskan korban anak perempuan kecil, teringat angan ini akan dirimu, tidak sedikit genangan air mata ini kemudian meluncur seiring ciut rasa hati ini membayangkan bilamana itu terjadi pada dirimu.
Satu dari sekian ratus pertanyaan yang terucap saat bertelepon dengan kampung halaman, satu pertanyaan yang tak pernah terlewatkan:
..bagaimana dengan Abigail hari ini?



Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago