Untuk mengawali kegiatan saya di Kisangani, pada pagi hari saya bangun, dan langsung mandi serta mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melanjutkan proses check in. Sambil menunggu waktu untuk berangkat ke kantor saya ke dapur untuk sarapan. Rupanya pembantu belum datang jadi sarapan saya siapkan sendiri. Untuk kali ini saya sarapan roti ala Kongo yang rasanya tidak enak dan keras pula.. rotinya mirip roti tawar jaman Indonesia belum merdeka deh.. Jadi makan roti keras ini harus dicelupin ke dalam teh manis mirip di warung kopi aja.
Sambil mempersiapkan diri mau berangkat , rupanya ada stand by radio check dari kantor. Waduh saya kaget menerima radio check dari kantor..sempat juga salah untuk menjawabnya. Memang sebelumnya belum dikasihtau oleh rekan saya bahwa ada stand by radio check.
Pukul 08.00 saya dan rekan milobs lainnya yang semuanya kaum pria berangkat ke kantor sector 2. Rekan saya adalah tetangga yang tinggal didekat rumah. Mereka ada yang dari China, Nigeria, Uruguay.. Setibanya di kantor saya langsung memperkenalkan diri dengan rekan-rekan milobs yang lain beserta para Staff Officer dari Sektor 2.
Saya benar-benar merasa asing berada ditengah rekan-rekan Milobs, Staf Officer serta Staff Civilian di Sector-2, mungkin karena sebagian besar yang saya jumpai orang berkulit hitam, sementara di Indonesia saya jarang melihat orang berkulit hitam.. Melihat gurauan mereka saya kaget karena tidak ada bedanya antara bercanda dan serius dua-duanya seperti mau berantem.
Suasana di Team Site juga memang jauh berbeda dengan di Indonesia. saya melihat beragam orang dari beberapa negara, dan beragam karakter, sifat, kebiasaan serta latar belakang dan pendidikannya. Perbedaan yang kontras ini manjadi nuansa baru bagi saya untuk memperkaya wawasan agar dapat menerima perbedaaan antar budaya.
Saya berusaha agar cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang yang ada dilingkungan saya supaya saya dapat melaksanakan tugas dengan baik. Saya pikir hal ini sangat penting mengingat saya akan bertugas setahun dan bergaul dengan beragam orang termasuk penduduk lokal.
Berhubung Sector Commander dan Chief of Staff sedang dinas luar, saya diarahkan untuk menghadap kepada seorang Perwira dari Bangladesh yang menjabat sebagai Staff Operasi (G3). Saya mendapatkan briefing tentang tugas-tugas dari G3 serta dijelaskan juga kondisi terakhir di Kisangani terutama di Sektor 2. Lama juga perwira Bangladesh ini menyampaikan briefingnya.. sampai saya bosan mendengarnya karena terlalu panjang tapi karena saya Milobs baru saya hanya manut-manut saja tidak menunjukan bahwa saya sudah bosan.
Selanjutnya saya berkeliling ke meja-meja yang mengharuskan saya untuk minta tanda tangan sebagai rangkaian proses check in.
Sambil menunggu check in berikutnya saya laporan kepada Team Leader TS-204 . Untuk sementara saya ditempatkan di TS 204 yang dipimpin oleh seorang pamen berpangkat Letkol berasal dari Senegal. Dan anggota team berasal dari Bangladesh, Mesir, Malawi dan saya sendiri dari Indonesia. Saya senang bergabung dengan anggota team karena ada seorang Kapten Kowad dari Negara Malawi namanya Mada Malata yang posturnya mirip Ratmi B-29.
Kapten Kowad ini sangat ramah kepada saya.. Rupanya Kapten tersebut hanya sebulan lagi bertugas dan akan checkout, meninggalkan saya namun hal itu tidak membuat hati saya ciut walau nantinya saya sendirian Kowad di Team Site.
Hari berikutnya saya laporan kepada Chief of Staff yang berasal dari Canada. Saya mendapatkan pengarahan dari beliau tentang tugas-tugas yang akan saya kerjakan di Sektor-2. Beliau ini seorang Perwira yang Low Profile dan sangat ramah dan sopan kepada siapapun.
Setelah check in prosess selesai, saya mulai settle di TS-204 dan mulai resmi bertugas sebagai Milobs bergabung dengan rekan-rekan saya.
Pada minggu berikutnya saya ikut briefing yang dilaksanakan setiap sabtu oleh Sector Commander yang berasal dari Senegal yaitu Colonel PAPA MALICK DIAW. Komandan saya ini tinggi besar dan sangat ramah kepada semua orang dan orangnya santun sekali.
Pada kesempatan ini saya diminta untuk memperkenalkan diri sebgai Milobs yang baru. Kemudian saya menghadap beilau untuk mendapatkan petunjuk selanjutnya untuk melaksanakan tugas saya selama berada di Kisangani.
Sebelum melaksanakan tugas saya mendapatkan briefing dari Team Leader atau Dantim bagaimana seorang Milobs untuk melaksanakan tugas patroli dan membuat Daily Situation Report atau DSR. Mungkin lumrah bagi siapa pun apabila untuk pertama kalinya melaksanakan tugas yang belum pernah dialaminya akan merasa cangung termasuk saya.
Untuk pertama kalinya, saya ditugaskan untuk patroli kota yaitu ke kantor FARDC atau kantor Angkatan Darat Congo. Untuk sementara saya hanya memperhatikan bagaimana cara rekan-milobs berinteraksi atau melaksanakan interview dengan personil FARDC. Rupanya tugasnya sama saja dengan tugas seorang intelijen atau reporter..yaitu mencari info sebanyak-banyaknya. Saya diperkenalkan sebagai Milobs baru kepada seorang Kolonel dari FARDC namanya Kinene. Beliau ini adalah mitra kerja kami atas nama MONUC di Sektor 2 Saat interview berlangsung Team Leader dan Kolonel Kinene menggunakan bahsa Perancis. Kolonel Kinenea bertanya kepada saya apakah saya mengerti yang dibicarakan dan saya jawab tidak. Semua ketawa termasuk interpreter saya. Diajak juga saya bicara dengan bahasa lokal saya tambah bingung karena tidak mengerti jadi saya minta bantuan interpreter.
Di Kongo penduduk lokal menggunakan bahasa Perancis dan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari. Saya tidak memiliki kendala masalah bahasa karena komunikasi di kantor dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris. Jika saya ingin berkomunikasi dengan penduduk lokal, saya dibantu oleh penterjemah saya yang asli orang Kongo. Kadang saya belajar bahasa perancis dan bahasa lokal dengan interpreter saya..begitu saya praktekan semua tertawa karena dialek bahasa Perancis saya kurang pas..masih dialek bahasa inggris. Walaupun masih kurang lancar saya berusaha mempelajari beberapa kata yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari agar saya lebih mudah berinteraksi dengan penduduk lokal. Memang susah kalau kita tidak dapat berkomunikasi dengan penduduk lokal karena mereka tidak bisa berbahasa inggris.
Sembari interview berlangsung saya memperhatikan kondisi kantor FARDC dan terkejut melihat kondisinya yang sangat sederhana mirip kantor LURAH di Indonesia. Personilnya kurang pantas menjadi anggota militer karena dari posturnya yang kurus kecil dan kumel.
Idealnya postur anggota militer itu tinggi, tegap dan berwibawa. Kowadnya juga aneh karena menggunakan rambut palsu ala rambut STEVIE WONDER yang terurai di bahunya dan ada juga rambut palsu mirip sanggul yang lebih tepat digunakan untuk ke pesta. Selain itu Kowadnya menggunakan celana panjang yang mirip seragam pria ditambah lagi dengan menggunakan perhiasan emas yang besar-besar dan penampilannya sangat tidak rapi, terkesan jorok dan tidak mandi. Mereka tidak ramah kepada tamu kecuali ramah kepada sesamanya yang berkulit hitam terutama kepada team leader saya yang berasal dari Senegal dan kepada Kapten Mada yang bersal dari Malawi, karena sama-sama berkulit hitam.. sedangkan kepada saya kurang ramah karena saya berkulit putih dan bukan satu ras dengan mereka. Walaupun mereka kurang ramah kepada saya karena perbedaan kulit.. tapi saya tetap menunjukan sikap yang sangat sopan dan tulus mau bersahabat tanpa membedakan warna kulit. Saya tunjukan bahwa orang Indonesia terkenal ramah dan sopan kepada siapa saja..
Saya bengong aja melihat penampilan Kowad Kongo yang dimata saya sangat aneh. Sebaliknya mereka kagum dengan penampilan saya yang rapi dan wangi sampe-sampe nih mereka minta berfoto dengan saya. Saya kabulkan permintaannya walau mereka kurang ramah kepada saya. Tidak ketinggalan pula anggota militer pria turut juga minta berfoto dengan saya. Mereka pikir saya tentara dari China..karena waktu saya tiba di kantor FARDC mereka menyapa saya dengan bahasa China.
Maaf..nih saat interview selesai saya berjabat tangan dengan Anggota FARDC dan Kowadnya. Aduh mak..rasanya gak sanggup mencium aroma badannya dan baju yang dipake dan tangannya yang berminyak serta lengket keringatnya saat berjabat tangan. Dalam hati saya..moga-moga tidak tertular penyakit HIV. Di dalam dalam mobil saya langsung cuci tangan menggunakan Antis dan Tissu basah, kedua pencuci tangan ini menjadi sahabat saya dan saya bawa kemana pun saya pergi untuk menghindari penyakit.
Team Leader dan rekan saya termasuk kapten Mada heran melihat saya menggunakan Antis dan Mitu Tissue basah..Mereka bilang bagus juga ide saya untuk menghindari penyakit .
Saya perhatikan memang orang di Kongo malas mandi dan kesannya jorok.. apakah hal ini menjadi budaya atau karena memang mereka tidak cukup air bersih untuk mandi padahal Congo River luas sekali..dan airnya melimpah-limpah tapi kenapa orang Kongo kekurangan air. Termasuk juga penduduk lokal yang bekerja sebagai interpreter, cleaning service dan sebagai civilian MONUC di Sektor 2 kelihatannya memang seperti tidak mandi dan maaf saja nih kalau mereka lewat apalagi masuk ke ruangan yang ber AC.. aduh nyengat banget tuh aromanya. Belum lagi aroma rambutnya yang jarang dicuci karena memang rambut palsu mungkin memang tidak pernah dikeramas ditambah lagi aroma nafasnya kalau sedang berbicara aduh rasanya mirip NANO-NANO pusing deh.
Tapi saya tidak pernah menunjukan secara langsung bahwa saya sangat terganggu dengan aroma tidak sedap itu khawatir mereka akan marah atau tersinggung. Yang anehnya nih kalau meraka menggunakan PARFUM nyengat banget aromanya mirip minyak SINYONGNYONG…karena bercampur antrara keringat dan parfum jadi sudah dapat dibayangkan aromanya seperti apa.
Kontras sekali dengan penampilan saya, kalau saya pergi ke kantor saya pasti berpenampilan rapi dan menggunakan parfum yang soft. Karena saya wanita sehingga memang dituntut harus rapi dan wangi. Disamping itu saya menjaga nama baik TNI AD dan negara Indonesia . Kan aneh kalau ada Lady Officer dari Indonesia ke kantor kondisinya kumel, jorok dan bau pesing. Oleh karena itu saya harus tetap rapi kemana pun saya pergi sehingga setiap orang yang saya temui pasti respek kepada saya. Siapa lagi yang akan menghormati diri kita kalau bukan kita sendiri.
Hari berikutnya saya sudah familiar bagaimana untuk melakukan interview dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Hal ini dapat saya kerjakan berkat adanya dukungan dari rekan Milobs di Team Site 204. Dukungan yang paling banyak adalah dari Kapten Mada. Kapten Mada adalah teman saya yang akrab baik dalam pergaulan sehari –hari di kantor atau dalam kegiatan diluar kantor. Saya banyak belajar dari pengalaman Mada bagaimana menghadapi penduduk lokal terutama pada saat patroli. Sebelum Mada meninggalakan Kisangani kami sering patroil bersama dan bergantian untuk mengemudi.
Saya salut dengan teman yang satu ini. dia pemberani dan tidak takut menghadapi penduduk lokal yang kasar..tapi saya pikir karena sama-sama orang hitam jadi mungkin tidak ada masalah.
Kami berdua sangat kontras terutama dari warna kulit, budaya, perilaku dan latar belakang pendidikan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi saya karena saya menghormati perbedaan itu dan sebaliknya dia pun menghormati budaya Indonesia. Yang membuat saya agak kaget karena Kapten Mada memanggil saya dengan menyebut nama (Nita). Padahal pangkat saya Mayor sementara di Indonesia hal itu tidak dibenarkan. Kalau saya memanggil nama senior saya yang jauh di atas saya apalagi yang saya panggil berpangkat Kolonel hal itu sangat tidak sopan dan tidak dibenarkan. Sebulan kemudian saya naik pangkat menjadi Letkol ..tapi tetap saja Mada memanggil saya dengan menyebut nama saya. Rupanya budaya untuk memanggil nama ini merupakan budaya asing karena sopir Komandan saya yang berpangkat Kopral pun memanggil saya dengan sebutan NITA.







Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago