Delapan bulan berlalu sejak saya menginjakan kaki pertama kali di bandara Internasional Tribuvan Kathmandu untuk bergabung dengan misi perdamaian untuk pertama kalinya. Saat itu hati bertanya-tanya apakah saya bisa melewati semua kendala dan tantangan yang akan saya hadapi selama bertugas. Saya masih ingat briefing singkat sebelum saya berangkat dengan salah satu staff UNDP Jakarta yang sudah berpengalaman di misi perdamaian, dia bilang; “take it easy, you can handle it, three things that you have to do the moment you reach Nepal” – katanya, dan 3 hal itu adalah;
1. Settle down and find right place to stay;
2. Find right friend circle and;
3. Keep balance between office life and personal life
Setelah dijalani dan menerapkan 3 nasehat sederhana tapi cukup bermanfaat, tidak terasa waktu berlalu dengan cepat dan saya berhasil melewatinya dengan baik. Ternyata tidak seberat dan sesusah yang saya bayangkan. Dalam waktu 3 hari saya berhasil menemukan tempat kost di lokasi yang cukup strategis dan aman, teman-teman satu kost juga punya kebiasaan hidup yang baik dan sehat, tidak meminum minuman keras dan tidak merokok, malah ada yang vegetarian.

Teman, rekan kerja satu kantor di Kathmandu
Beberapa hal –hal yang menurut saya penting untuk dijaga selama bekerja di lapangan adalah berupaya untuk memakan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, food poisoning adalah salah satu penyakit yang paling sering terjadi, istirahat yang cukup dan punya kehidupan yang seimbang, beberapa teman cenderung menghabiskan waktu 24 jam bekerja dan berada dikantor bahkan sabtu minggu juga ngantor yang pada dasarnya merupakan kebiasaan yang tidak sehat, kalau memang tidak ada pekerjaan yang penting yang harus diselesaikan setelah jam kerja saya lebih memilih untuk pulang, belanja, memasak, menanam bunga, membaca buku, nonton tv, nonton bioskop pokoknya keluar dari rutinitas pekerjaan di kantor.
Satu lagi catatan penting, organisasi hanya mempekerjakan orang-orang dewasa diatas 21 tahun, sebagai manusia dewasa masalah kebutuhan biologis bukan masalah kecil yang bisa diabaikan begitu saja, selain harus berpuasa juga harus tahan terhadap godaan.
Sebagai seorang wanita dengan status menikah, awalnya saya optimis sekali bahwa tidak akan ada goda-an karena lazimnya tidak akan ada yang berani ganggu hak milik orang lain, jujur saja teori ini tidak berlaku dalam kehidupan di lapangan, karena semua staff dilapangan berubah status menjadi single alias bujangan jadi-jadian, tergantung kepada pribadi masing-masing bagaimana menyikapinya.
Secara statistik tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah staff pria dan wanita tidak seimbang, mungkin cuma 10-15% wanita. Pada awalnya saya kaget juga ketika mendadak saya menjadi makhluk tuhan paling sexy ;-) dan dihujani tawaran kencan, makan siang atau makan malam bersama, atau jalan-jalan bersama di akhir pekan dan serta jurus-jurus pdkt-gombal lainnya .
Sedikit banyak sebagai wanita saya juga harus belajar beberapa jurus-jurus diplomasi untuk menampik berbagai macam jurus pdkt yang dilancarkan para bujangan jadi-jadian itu.
Rasa rindu akan kampung halaman juga merupakan masalah yang sering menganggu, beberapa event penting dalam keluarga harus rela terlewatkan, puasa, lebaran, tahun baru, ulang tahun dan kenaikan kelas si buah hati, ulang tahun perkawinan.
Moment-moment yang dulu dirasakan sebagai rutinitas tahunan sekarang terasa sangat berarti dan sedih rasanya karena tidak bisa pulang dan harus berada jauh dari orang-orang yang kita cintai. Belajar bahasa dan budaya setempat, membangun relasi dengan masyarakat sekitar tempat tinggal serta berusaha untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari mereka merupakan salah cara untuk membunuh rasa kangen rumah.
Ohya, ini dia foto-foto kantor di Kathmandu dan bolehlah bergaya sedikit didepan pelataran parkir :-)


Setelah dijalani, semua bisa diatasi, ini hanyalah salah satu dari sekian banyak pilihan hidup dan sudah pasti untuk setiap pilihan ada baik dan buruk, ada manfaat dan resiko dan tantangan yang harus dihadapi. Jadi untuk teman-teman wanita lain yang masih ragu-ragu untuk terlibat dalam tugas mulia dimisi perdamaian, yakinlah semua pasti bisa diatur, pepatah bilang ini bukanlah gunung yang tidak bisa didaki, semua pasti biasa termasuk seorang wanita dan ibu.
Dear Nila,
Seneng bisa denger khabarnya, moga2 betah yah di Kathmandu dan kantornya mentereng sekali, sepertinya senang yah disana.. soal mission-life, ya memang begitulah adanya bahwa tidak sedikit jumlah kampret sontoloyo yang memang doyan tebar pesona danlain sebagainya - namun demikian semua tergantung dari si empunya diri ybs apakah responsive atau sebaliknya atas pendekatan sontoloyo macam begitu. Didoakeun lancar dan betah disana juga ditunggu cerita2 lain-nya. Salam hangat dari Monrovia.. (kapan ngelamar kesini?)
haha jd geli nih, soalnya kita punya pengalaman yg sama ttg tawaran kencan dll. Yg paling nyebelin nih di Congo kan dah biasa main cipika cipiki, peluk2…pengen nampar deh jadinya kl ada yg main selonong boy aja..yg penting semangat ya..salam dr Congo
Wah, saya tersenyum2 sendiri membaca artikel mbak’Nila :)
Memang dibutuhkan ketegaran hati & iman ya mbak untuk bekerja di field. Tetapi untuk tiba2 menjadi mahluk Tuhan paling sexy kan ego boosting sekali, double feeling hehehe…
Ini saya rasakan sendiri disini. Di Indo saya wajar2 saja, tetapi disini tiba2 juga menjadi mahluk Tuhan paling sexy karena the colour of my skin!!!! Hahahaha… di Indo dibilang si item, si dekil, eh…. disini malah banyak yg ngajak ini itu dgn alih2 “You are so Exotic!!! Goshhh…. Tetap semangat ya mbak, pertahankan iman, dekatkan diri dgn Tuhan & sukses dgn penugasannya.
Kalau dilihat dari cerita2 moe, memang apa sih yang didapat dari ikut misi ini? Seimbang apa tidak dengan godaan and jerih payah nya sampai2 ninggalin keluarga.
Regards,
Saiful
Assalamu alaikum, Saiful,
Trims buat komentar singkatnya… membantu menjawab untuk Nila, saya coba berbagi masukan dan saya mengerti sudut pandangmu, dimana hal ini adalah relatif bagi setiap orang.. mungkin Saiful memandangnya tidak sebanding dan insignifikan, namun demikian sudah banyak yang saya dapat selama ini, selain pengalaman untuk masuk ke jenjang karir berikutnya serta kompensasi moneter yang diberikan sebagai pengganti ‘hardship’ selama bertugas di lapangan.
Penugasan seperti ini, bagi kebanyakan dari kita, adalah sebagai wahana pemberdayaan, dari sisi kapabilitas, profesionalisme, dan pemahaman akan isu-isu global selain daripada keandalan individu dalam ketrampilan bidang substantifnya. Tidak sedikit dari anak bangsa yang berkecimpung dan sempat mengenyam pengalaman penugasan seperti ini kemudian menjadikan mereka menjadi bakal/calon pemimpin kedepan yang mengakar dan mampu bijak serta amanat saat menjadi komandan/pemimpin pada tingkat yang lebih tinggi dan luas. Setelah itu mungkin dari sisi kompensasi moneter yang bisa dikatakan lebih baik..
Menjadi peacekeepers, dan servicemen layaknya military officers dan mereka lain-nya yang mana jenis pofesi yang digeluti mengharuskan untuk suatu periode berada jauh dari keluarga dankampung halaman adalah bagian dari perjalanan hidup dan meminjam istilah mereka: “somebody has to do the job” – pastilah akan ada dari kita semua yang harus menjadi tentara dan harus menjadi dokter, harus ada yang bekerja di anjungan minyak itu dan lain sebagainya.
Meninggalkan keluarga – tidaklah bijak jika hanya dilihat dari sisi harafiahnya saja.. sudah tentu organisasi yang mempekerjakan personilnya pada banyak lokasi dan mereka yang sudah beroperasi pada mancanegara seperti PBB ini mempunyai mekanisme life & work balance, dimana bagi kita yang bertugas di UN mission mengambil dan mendapatkan cuti ekstra setiap 8 minggu untuk pulang bersama keluarga… selain berbagai allowance cuti rest & recupperation lain-nya yang diberikan pihak manajemen kepada personil/staff mission.
Bumi-nya Alloh itu luas, bila keberadaan saya yang notabene adalah jauh dari sanak family dan kemudahan beribadah seperti lancarnya ditanah air, adalah merupakan faktanya bekerja di lapangan, namun demikian ada banyak cara yang bisa mengkompensasikan keterbatasan serta menjulangnya jarak dan perbedaan waktu ini.. tidak sedikit pula saudara-saudara kita yang berada di negeri rantau atau karena penugasan seperti ini tetap bisa menetapi kelancaran beribadahnya sesuai qur’an dan hadits, tentunya dengan dukungan teknologi.. kalau ingin diperdebatkan untung-rugi-nya bekerja di LN dan lain sebagainya, tentu saja wacana ini tidak akan berujung :-). Selalu ada plus-minusnya..and nothing is entirely perfect in either side. I suppose..
Bekerja pada misi pemulihan perdamaian PBB, memang tidak cocok untuk semua orang.. dan memang periode penugasan seperti ini bukanlah jenis penugasan yang permanen, maksimum sebuah misi digelar itu (bergantung pada kondisi stabilitas keamanan) bisa berjangka 3-7 tahun. Ini bukanlah pembenaran, namun demikian saya melihat faktanya bahwa dari lingkup yang terbesar, bahwa setiap individu juga mempunyai “a shared responsibility” kepada lingkungan-nya, lingkungan ini bisa diartikan sebagai international community… bila dilihat pada sisi lain, keberadaan misi perdamaian PBB di Liberia, dan di berbagai negara yang sebelumnya dilanda konflik, amat memberikan perbaikan situasi yang berdampak pada bersatunya kembali anggota keluarga yang tercerai-berai karena konflik.. dari sisi lain-nya, bila kita lihat rekan-rekan TNI yang bertugas jauh dari keluarga mereka diperbatasan dan atau pada tugas militer lainnya adalah merupakan perwujudan sumbangsih mereka untuk memberikan ketentraman bagi rakyat/bangsa kita agar kita bisa hidup damai dan berada satu atap bersama keluarga kita.. so, someone has to do the job, to make others live well..
Melalui artikelnya Nila, mungkin sedikit banyak bisa faham akan penting dan mahalnya harga sebuah perdamaian bagi satu negara dan dampaknya pada lingkup terkecil dalam kehidupan berbangsa, yaitu: Keluarga
It is a fact that people need to struggle – for peace. It is a reality that if we want to live in peace, we need to be ready to go to war (to protect living in peace).
Bicara soal apa sih untungnya.. dan perihal keluarga, nampaknya perlu juga untuk melihat lingkup/konteks yang lebih besar lagi..
After all, we are all working with our respective occupation for the betterment of the family, right?.
Regards,
Luigi Pralangga
c/o. United Nations Mission in Liberia (UNMIL)
Tubman Boulevard & 3rd Street, Sinkor
Monrovia – Liberia (West Africa)
Saya sangat menghargai sekali pertanyaan mas syaiful.Sebelum saya lanjutkan mungkin saya memperkenalkan diri sedikit, saya salah seorang sahabat Kang Luigi yang kebetulan pernah sama-sama di Liberia dan saya sangat kenal dengan kang Luigi, dari motivasi, semangat, dedikasi dan integritasnya dalam misi UN, salah satu wujud kepedulian beliau dengan tetap adanya WEB ini.Selanjutnya menyimak pertanyaan Mas Syaiful, semoga pertanyaan tersebut suatu pertanyaan yang tulus dan beranjak dari ketidak tahuan.
Maka penjelasannya adalah sebagian besar apa yang telah di sampaikan kang Luigi. Namun saya sampaikan Mas Saiful, sebanding atau tidaknya yah..tergantung lagi dari motivasi kita. Selain itu Mas…harus diingat ”No Pain Without Gain”. Bukan semata-mata yang kita lihat selama ini kebanyakan pemuda kita sekarang, semuanya ingin instant, yang penting cepet dapet dan apabila tidak kesampaian, menyalahkan orang lain, entah itu orang tua, pendidik, pemerintah, sistem dan lingkungan tanpa pernah mau instropeksi dan yang lebih tragis lagi seolah tidak ada masa depan dengan mengkonsumsi narkoba, melakukan tindak kriminal dll.. Jadi hanya selalu melihat hasil dan melupakkan proses untuk mencapainya yang tentu memerlukan perjuangan, pengorbanan, keikhlasan dsb.
Demikianlah dengan rekan-rekan kita yang ada di misi baik cewek maupun cowoknya(Buat rekan-rekan yang di misi: saya salut pada kalian!), mereka bukan tipe orang yang hanya merengek – rengek, tetapi pejuang sejati, baik untuk kemaslahatan umat manusia di dunia, membawa nama Bangsa & Negara (pasti di Tanya dari Negara mana?), umtuk keluarga/pribadi(tentu sudah wajar sebagai konpensasi).
Selanjutnya kalau pertanyaan Mas Syaiful beranjak dari suatu kesinisan (susah sih mas cari kata yang tepat..) dan apalah namanya, tentu jawaban yang terbaik adalah Mas coba-coba gabung aja di suatu misi (itu juga kalau bisa memenuhi beberapa kriteria lho Mas, karena mereka itu tidak ujuk-ujuk saja lho bisa gabung di misi).
Maaf Mas Syaiful, ikutan nimbrung tentang pertanyaan yang dilontarkan, pokoknya peace aja deh mas…peace…peace…ok????. Kang Luigi terima kasih fasilitas Webnya, termasuk yang selalu aktif sebagai koresponden serta para admin “I admire you” dan bagi rekan di misi salam perdamaian, dan jangan lupa” Merah Putih tetap di dada”.
Setelah dijalani, semua bisa diatasi, ini hanyalah salah satu dari sekian banyak pilihan hidup dan sudah pasti untuk setiap pilihan ada baik dan buruk, ada manfaat dan resiko dan tantangan yang harus dihadapi. Jadi untuk
teman-teman wanita lain yang masih ragu-ragu untuk terlibat dalam tugas mulia pada misi perdamaian, yakinlah semua pasti bisa diatur, pepatah bilang: “.. ini bukanlah gunung yang tidak bisa didaki..”, semua pasti biasa termasuk seorang wanita dan ibu.
Pertanyaan Mas Saiful sama persis dengan pertanyaan saya tanyakan pada diri saya sendiri sebelum memutuskan untuk bergabung dengan UNMIN. Sebelum mengambil keputusan, saya duduk dan menuliskan hal-hal positif serta kendala-kendala yang akan dihadapi serta menghitung kesiapan saya untuk mengatasinya. Semua tergantung kepada visi dan misi pribadi kita. Waktu itu tujuan saya adalah untuk mendapatkan pengalaman bekerja di luar negeri, khususnya di misi perdamaian PBB. Setelah hampir dua tahun bekerja dengan INGO, kesana kemari dari desa ke desa di Indonesia, saya merasa sekarang saatnya untuk mencari pengalaman yang lebih luas lagi. Saya bergabung dengan UNMIN sebagai relawan yang artinya bekerja tampa pamrih, kalaupun ada kompensasi keuangan itu hanya sebagai pengganti biaya hidup dan kalau dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia beda-beda tipis kadang-kadang malah defisit. Tapi jika dihitung dari sisi pengembangan diri, ada banyak sekali hal-hal baru yang saya dapat, baik disisi kapasitas sebagai seorang HR Professional maupun sebagai manusia biasa yang mewakili Indonesia untuk berkontribusi dalam misi perdamaian dunia, bekerjasama dengan teman-teman dari berbagai penjuru dunia, mengasah kemampuan beradaptasi dengan mereka, menghargai perbedaan yang ada, menerima dan mengantisipasi semua keterbatasan hidup dilapangan adalah merupakan pengalaman yang berharga. Setidaknya saya diberi kesempatan untuk menyumbangkan keahlian dan kemampuan saya, dan mendapat banyak pengalaman baru yang bisa saya bagi dan ceritakan buat anak cucu saya nantinya. Semua ada baik dan buruk, yang penting dikaji adalah seberapa siap kita menjalaninya. Pertanyaan yang sering muncul malah sebaliknya, Apasih yang telah saya berikan untuk misi perdamaian ini? sepertinya kontribusi saya masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan dampak dan tujuan besar yang ingin dicapai oleh misi perdamaian dunia.
Hidup memang harus memilih….Tapi apapun itu, dimanapun, sampai kapanpun, dengan siapaun…all about“pun” semua tergantung pribadi kita..dan kita kembalikan ke aturan agamanya saja…Insya Allah kita selamat…Dan perlu kita sikapi dengan bijak semua hal ada resiko…
Akhirnya survey membuktikan apaun namanya “Perempuan” adalah memang Mahluk paling seksi….Setuju khan????? Terbukti lagunya aza Ngetop lho…..
Pak Saiful….yang di dapat banyak,pengalaman,teman,ilmu pengetahuan,ketabahan dan kesabaran kita meningkat, dan dolar tentunya he..he,,,lumayan lho kami kami ini rata rata dapat 5000 dolar Amerika tiap bulanya bukan lumayan lagi kan ..gitu aja kok repot………
mbak Nila, tetap semangat yahhh. klo aku masih disana terima aja undangan makannya mbak, tapi ngajak aku ama Heri, kan lumayan makan gratis,hehehe
Hello Sayang,
How are you? Its been a long time to hear from you. Please come back home soon. I miss you.
Yours,
Sameer
+91 9673003518