Correspondent Luigi PRALANGGA
Total 8 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 286 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< KONGA XXIII-A Menyiapkan Induction Training
Berminat dagang sayur-mayur di Malakal? >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mamadou, kita sebutlah saja lengkap namanya: Mamadou Phoeklamphu. Dia adalah salah satu orang penting bagi kehidupan si kampret ini selama tinggal dan bekerja di Liberia, apalagi untuk urusan rusuh di pagi hari. Mengapa ia terbilang orang penting? Karena dia punya kendali dan mengerti sekali bagaimana mengoperasikan Generating Set (Genset) diesel yang memberi tenaga listrik yang menerangi rumah kontrakan dimana si kampret ini tinggal.
Lepas pukul 5 pagi, sudah menjadi kebiasaan untuk kembali tidur lagi dari bangun untuk sholat subuh. Nampaknya rasa kantuk itu masih diberi kesempatan berlanjut. Pukul 7 pagi – alarm ponsel itu berbunyi kembali..
Semenit hingga tiga menitpun berlalu. Jeritan bunyi alarm itu nampaknya berhasil berlalu tanpa badan ini beranjak dari ranjang. Memang pikiran manusia diberi kemampuan oleh sang Maha Kuasa untuk menciptakan imaji, imaji yang sangat nyata hingga mampu menggambarkan bahwa diri ini sudah bangkit dari kantuk, beranjak dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi, meski pada kenyataannya ia masih terlentang nyenyak, mungkin sambil sedap ngiler itu meleleh kemana-mana dan dengan mata keduanya terpejam rapat.
Jeritan alarm pada ponsel itu pun berlanjut tanpa mendapatkan perhatian tangan ini untuk meraih dan mematikan-nya. Meraba kekanan dan kiri sementara mata masih merem rapet, tangan ini kemudian menyelusup dibawah tumpukan bantal yang masih terasa nyaman dan sejuknya helai kain sprei pembalut kasur yang dirasa amat menyenangkan kulit pagi itu.
Ah, akhirnya dapat juga.. dipencetlah tombol merah pada pad tombol ponsel itu dan bungkamlah alarm itu dari menjerit.
Melirik dengan sebelah mata, dipicingkanlah pandangan guna mengijinkan digit penunjuk waktu yang tertera pada display ponsel supaya bisa terlihat, dengan sebelah mata, akhirnya mengertilah kalau waktu sudah menjelaskan pukul 7.30.
Ouh, shoot! – it’s seven thirty!, The power is gonna be shut! – teriak pikir ini.
Diambilnya ponsel itu, membuka menu SMS dan mengetiklah pesan singkat dengan mata yang boleh dikatakan keduanya masih sebagian besar terpejam.
Mamadou, please wait.. I am gonna need the power for another 15 minutes.
Send? – Yes! Enter number: 0770-123456 – Sending… – Message sent!
Kira-kira begitulah, salah satu ritual pagi yang harus dilakukan bila si Kampret ini terlambat bangun pagi.

Mamadou, kita sebutlah saja lengkap namanya: Mamadou Phoeklamphu. Dia adalah salah satu orang penting bagi kehidupan si kampret ini selama tinggal dan bekerja di Liberia, apalagi untuk urusan rusuh di pagi hari. Mengapa ia terbilang orang penting? Karena dia punya kendali dan mengerti sekali bagaimana mengoperasikan Generating Set (Genset) diesel yang memberi tenaga listrik yang menerangi rumah kontrakan dimana si kampret ini tinggal.
Bila saja, terlambat berkirim SMS dan generator diesel dirumah sudah dijadwalkan untuk ‘mampus’ tepat jam 8 pagi, meski cahaya matahari sudah benderang diluar, ruang dapur kembali menjadi gulita dan yang paling menyebalkan adalah: Saya harus mandi dengan air dingin! dan dengan semprotan air [dingin] shower yang sumpah loyonya setengah mampus, membuat badan ini jadi terkejut karena dingin air yang membuat kulit badan ini mengkerut, sompret!
Mengapa kok masih pake generator diesel? – sebuah pertanyaan yang bagus!
Buat mereka yang hidup di lingkungan normal pada banyak negara beradab umumnya, ketersediaan listrik selama 24 jam sudah menjadi jaminan dan ketentraman hati yang sudah tidak perlu dipusingkan lagi. Singkatnya: 24 hours electricity is taken for granted!
Lain Indonesia, lain pula Liberia. Perang dan konflik kekerasan/bersenjata yang telah memakanwaktu kurang lebih 14 tahun ini telah banyak membawa kehancuran multi-dimensi, termasuk itu infrastruktur jaringan listrik umum. Bagi penduduk Liberia, hidup didalam kegelapan yang berkepanjangan telah menjadi realita hidup selama 14 tahun silam. Tak di elakkan lagi kalau generator diesel adalah perangkat yang menjadi andalan untuk menghadirkan cahaya lampu pada ribuan rumah dan jutaan pasang mata di negeri di barat pantai afrika ini.
Teknisi dan operator generator diesel seperti Mas Mamadou Phoeklamphu ini adalah dan sudah menjadi profesi yang dirasa penting dan strategis bagi mereka yang mempunyai generator diesel ukuran menengah dan besar, apalagi bagi compound/kompleks perumahan yang disewa oleh para staff UN yang bekerja dan tinggal di Liberia ini.
Bertugas mengoperasikan dan mengurus generator agar senantiasa bisa sehat dan dijauhkan dari “batuk-pilek” yang bisa mengakibatkan kita dirundung kegelapan sepanjang malam. Sudah mah cape kerja seharian di kantor dan pulang ke rumah mendapati listrik di rumah tidak bisa menyala sementara hari sudah gelap – adalah sebuah kejengkelan luar biasa.
Berikut beberapa jepretan saat sang truk solar itu masuk kedalam pekarangan rumah untuk mengisi tangki solar:



Dedikasinya mekanik Genset macam Mamadou, memegang peranan penting bagi banyak hunian dan juga toko-toko, atau lahan usaha besar macam supermarket, hotel dan lain sebagainya – karena memang jaringan listrik umum telah hancur porak-poranda karena perang. Meski generator besar milik pemerintah yang dioperasikan oleh LEC (Liberian Electric Company) baru dapat memberikan pasukan listrik untuk rumah kediapan presiden dan lampu penerangan jalan disekitarnya dan pada sebagian ruas jalan Tubman Boulevard, serta beberapa rumah yang berada tidak jauh dari sang presiden Liberia ini tinggal, sedangkan sisanya masih harus bersabar untuk membeli solar seharga US$3,24 per gallon-nya guna menyalakan listrik bagi rumahnya masing-masing.
Kediaman tempat kita tinggal, sebuah rumah duplex dengan satu generator kekuatan 45 KVa, rata-rata sebulan-nya untuk 10-11 jam ‘nyala’ perhari-nya (dari jam 7PM hingga 8AM ke-esokan harinya), menghabiskan minyak solar sebanyak US$ 1200 per bulan-nya, jadi kebayangkan betapa mahalnya harga-harga barang dan jasa disini, hal ini dikarenakan pembebanan “fuel cost” pada komoditi dagang yang berlaku. It’s a fuel- based/generated economy!
Selain Genset Operator, Genset Mekanik adalah profesi yang bisa dikatakan laku keras dan selalu ramai akan orderan reparasi genset.

Meski namamu Mamadou Phoeklamphu, dedikasimu secemerlang senyum-mu dan mampu menerangi malam-malam kami selama bertugas di Liberia. Terima kasih Mamadou!.
Hehehe… Lucu juga! Kalo masalah ‘genset’ this reminds me to perjuangan hidup di Kabul, Afghanistan jaman tahun 2003-2004. Konon pada saat itu (gak tau apa sekarang masih dengan trend yg sama) listrik di Kabul juga ‘merem-melek’ alias 24 jam hidup 48 jam mati! Kebayang kan?…
Aku & 7 orang kolega lain (pada saat itu kita sama-sama bertugas dengan UNAMA Voter Registration & Elections Support Project) rame-rame ngontrak rumah besar dengan 8 kamar di daerah Qallaifatullah yg kemudian ‘mansion’ kita terkenal dengan nama Guest House No. 34. Kita sepakat untuk patungan membeli sebuah genset tanggung untuk menyuport penerangan di ‘mansion’ kita. Karena harga bahan bakar genset yg gila2an (sebulan rata2 kita menghabiskan $500+) jadi kita sepakat genset on mulai jam 7 sampe max 12 malam aja trus selebihnya gelap-gelapan. During weekend baru deh antara 10-12 jam karena kita berada dirumah masak, nonton TV, dsb.
Nah, kalo musim semi, panas & gugur (Afghanistan kan negara 4 musim) tuh genset aman sentosa alias gak batuk-pilek. Tapi kalo udah mulai musim dingin atau salju udah mulai turun bergunduk-gunduk wah… genset was becoming real problem for the entire house! Selain untuk penerangan, kita juga butuh listrik untuk heater di kamar mandi karena mandi dengan air dingin (terutama pagi hari) di musim dingin/salju adalah penyiksaan berat bagi kita serumah yg rata2 orang Afrika & Asia Tenggara (tau kan, kita kan dari negara yg super panas!).
Pernah suatu akhir minggu kita kebetulan tidak bisa keluyuran kemana-mana karena hujan salju & jalan-jalan licin jadi kita pada memutuskan untuk ngumpul dirumah biar hangat. Listrik kota mati & otomatis genset-lah yang menjadi harapan kita satu-satunya untuk nonton TV, nyalain heater, dll. Keluarlah salah satu teman serumah (dia ‘tenaga ahli’ kita di bidang genset ceritanya…) untuk menyalakan genset &… “Guys, I’m afraid our genset is not working because it is completely frozen!!!” Ooopss!!!! Lemas lah kita… Jadi malam itu kita hanya bisa mendengungkan lagu ‘Silent night holy night’ (karena udah dekat-dekat natal maksudnya jadi sekalian aja, hehehe…) sambil menebarkan lilin-lilin disekitar ruangan tamu.
Setelah pengalaman ‘genset beku’ itu kita sepakat patungan lagi untuk membeli tungku pemanas air manual alias pake kayu bakar karena hasil survei membuktikan tungku tersebut bisa mutifungsi karena selain jadi pemanas air untuk mandi pagi kita juga bisa gunakan untuk menghangatkan ruangan sekalian!!! So kita harus urunan lagi untuk membeli kayu bakar yg rata-rata $200+/bulan. Yeah ujung-ujungnya duit lagi euy!
Cheers,
Imelda
sepertinya si mamadou ini orang sunda yah?
Mamadou Poek lampu, dari namanya ngga heran kalo ngga ada mamadou bakal poek lampu.
Good morning Luigi……eeh disini morning, gak tau deh di tempatmu apa he he he
Critanya Mamadou lucu yach! Kabar baik aku dan keluarga, smoga kamu juga, gak sering “batuk pilek” karena sering pindah negara kan?
Seperti biasa, aku lagi sibuk preparation Christmas & NY celebration di hotel. Ah cerinya panjang dan selalu ber-ulang. Selalu mepet alias last minutes untuk sebuah rencana yang pengennya sukses. Itulah salah satu “capeknya dan stress-nya” kerja sama bule di Shangri-La Jakarta. Gak tau kalo di Shangri-La yang lain….
Udah ya, aku mau kerja dulu, mo morning briefing nih ;-p
Cheers,
Ratna Sjamsiar, Director of Communications
Shangri-La Jakarta, Kota BNI. Jl. Jend. Sudirman Kav.1, Jakarta, 10220, Indonesia , ((62-21) 5707440 7(62-21)2511258
Kang Luigi emang paling bisa …
Mengolah elegi pagi menjadi sesuatu yang enak di baca…. (trims ya…), Pikiran jadi jauh menerawang, bahwa kita pernah mengalami hal yang serupa.
Meyadarkan diri, bahwa komponen penyusun diri kita adalah sama, Walaupun kulit berbeda, diri jasmani berbeda, tapi…
Masing2 dari kita mempunyai diri nafsani dan diri ruhani yang awalnya sama.
Keengganan untuk bangkit dari tempat tidur, karena diri nafsani masih minta jatahnya he he he
Untungnya sudah shalat… Sehingga masih tercermin sebagai diri nafsani yang terpimpin… Masih untung diri nafsani tidak minta hal2 lain yang tidak dibenarkan…. Kalo ndak… Niscaya hanya akan menjadi diri yang menjerumuskan… Save our ‘diri ruhani’ by manage ‘diri nafsani’ and don’t too much focus on ‘diri jasmani’.
Salam,
daw
Hi Luigi,
Nice to hear from you.
I am sorry I cannot send you any pics now: all my pictures are on my video camera. I hope to be able to send you some in the future.
The Mission here is very small: between 400 and 500 staff members only, nationals and international included.
However, Georgia is a very beautiful country with a lot of historical sites. For a “photo-enthusiasts”, this is the place to visit.
Enjoy your training and have fun.
Ciao
Musambi Mayele Nso (Mr.)
Procurement Section
United Nations Mission in Georgia (UNOMIG)
Sukhumi, Georgia
Phone: + 1 212 963 9562 Ext. 6050
VSAT: 161 6050
Kang Lui, ada acara aksi bajak membajak kendaraan pengangkut bahan bakar ga di Liberia (dulu sempet denger sekilas cerita ini dari beberapa temen yang tugas di Cóte D’ivoire)?
Atau para pembajaknya nggak berani, karena ada tulisan UN segede gaban di truk? Hehehe
Apa khabarnya nih AA Luigi ?
Kok lama tidak ada beritanya ?
gimana perkembangan situasi yang bertugas ?
Smoga selalu aman dan terkendali
oh ya sekarang saya pindah tugas di kota BUKAVU
Mayor Inf. M. Sigit Saksono
Military Coordinator COE Inspector
Regiaon 3 BUKAVU
MONUC -DRC
cell +243811800493
Ext 195 4420
Email sigiet94@yahoo.co.id or sigit23@hotmail.com
Dear Luigi,
Great pictures!!! But tell me, do you have opportunity of getting much involved with the local people? Are they friendly? Write on your blog in English, please… :-)
When you have a chance write back to tell us how are you experiencing this mission. What are the needs of the people, how are they being addressed and so on. More regarding solutions to those needs. I am very interested in that since I believe UN has a “mission” in every place.
Take care and say hello to everyone at PS-UNMIL.
Majo Gentile
United Nations
Procurement Division
Phone: +1(212)963-7601
Fax: +1(917)367-0465
« KONGA XXIII-A Menyiapkan Induction Training Berminat dagang sayur-mayur di Malakal? »