Konflik, sepertinya kata itu makin kemari makin sering terdengar, baik di media massa sampai ke obrolan kita sehari-hari. Sebenarnya apa sih ‘konflik’ itu sendiri?. Merujuk definisi resmi, Konflik adalah ketidak-cocokan alamiah yang berasal antara perorangan, atau kelompok yang membedakan mereka satu sama lainnya berdasarkan sikap, kepercayaan, tatanan nilai dan/atau kebutuhan/kepentingan. Nah, dari penjelasan diatas, kemudian kita pastinya faham lebih baik, bahwa faktanya – konflik itu sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bisa dikatakan konflik itu sudah mulai menyapa kita sejak awal memulai hari, saat bunyi alarm itu menjerit guna membangunkan kita, bersiap-siap ke kantor dan selama perjalanan menuju tempat aktivitas.. singgungan-singgungan elemen konflik sudah pasti ada menghampiri.
Sebagai staff misi PBB yang bekerja pada lingkungan pasca-konflik, tekanan psikis dari situasi dan kondisi sudah menjadi resiko pekerjaan. Tidak sedikit dari rekan kerja yang kadang menjadi temparamen dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri baik terhadap sesama kolega dan terhadap lingkungan daerah misi yang notabene sarat dengan kondisi darurat, mempengaruhi efektivitas kerja, semangat juang dan yang paling memprihatinkan adalah keseimbangan psikologis staff yang bersangkutan itu sendiri. Pihak misi PBB di Liberia, selain menganjurkan staff-nya agar rajin cuti mudik dan memanfaatkan kegiatan refreshing (RnR – Rest and Recupperation) yaitu 1 minggu jatah libur keluar daerah misi untuk setiap 8 minggu bekerja di lapangan, serta berbagai program pelesir yang diprakarsai oleh UNMIL-SWRC (UNMIL Staff Welfare & Recreation Committee), juga menganjurkan segenap staff baik sipil dan elemen militer untuk mengikuti program pelatihan “Conflict Management for UN Peacekeepers”.
Melalui program pelatihan yang dilaksanakan 1 kali sesi per minggu-nya untuk 4 minggu periode, segenap staff misi PBB di Liberia ikut serta dalam program pelatihan ini. Materi perihal pemahaman, akar masalah, pencegahan, negosiasi, mediasi dan resolusi konflik diajarkan secara mendetail melalui kegiatan kelompok, studi kasus, sesi diplomasi aktif dan sederet penjelasan oleh mentor yang berpengalaman dari UNMIL – IMTC (Integrated Mission Training Center) yang memandu dan menjadi fasilitator pelatihan ini.
Si kampret ini memang mengajukan diri secara suka-rela sebagai wakil dari Procurement Section untuk hadir dan menjadi peserta dalam pelatihan yang sudah berjalan sampai angkatan (kelulusan ke-7) semenjak digelarnya program ini tahun lalu. Jadi, setiap hari Kamis sehari penuh di Bulan April tempo hari, si kampret ini mesti pamit dari urusan kantor untuk hadir di kelas. Peserta pelatihan yang kebetulan menjadi kawan sekelas si kampret ini adalah sederet personil perwira berpangkat Kapten hingga Letnan Kolonel dari beberapa battalion military peacekeepers di UNMIL, lalu para UNPOL (United Nations Police) Advisor, dan tidak sedikit wakil-wakil dan kepala seksi dibawah naungan Mission Support pun ikut menjadi peserta aktif di kelas ini.
Secara pribadi, kesan yang didapat setelah menjalani pelatihan selama 1 bulan, sebenarnya tidak bisa dihitung dengan jari, sebab banyak sekali. Selain membangun tingkat kefahaman yang lebih baik akan bagaimana menyikapi sebuah konflik yang baru saja dimulai, sedang berjalan, dan memuncak, serta bagaimana menengahi sebuah mediasi perjanjian damai (melalui simulasi dan contoh kasus), belum lagi pemahaman yang mendalam akan teknik penyelesaian serta manajeman konflik dari sisi ‘security elements’ yang selama ini bagi kalangan sipil masih dirasa kurang terekspose – kini menjadi jelas dan ‘familiar’.
Konflik adalah bagian dari hidup dan konflik akan selalu ada dalam perjalanan kehidupan manusia. Apalagi pribadi yang bertugas di medan pasca-konflik seperti para staff misi inilah yang penting untuk memastikan bahwa kehadiran dirinya, dan misi pemulihan perdamaian PBB di sebuah negara dapan menjadi sebuah solusi dari konflik itu ketimbang malah menjadi bagian dari akar konflik itu sendiri. Nah, ini semua didukung dari pemahaman dan kapabilitas individu yang bekerja/berada dilingkup penugasan misi itu sendiri, apakah mereka cukup piawai untuk membawa perubahan positif dan memastikan bahwa misi PBB tersebut mampu mengemban mandatnya.
Terlepas dari seragam militer dan baju dinas kepolisian dan atribut pangkat dan bintang yang disandang para rekan perwira peacekeepers itu, si kampret ini melihat dan merasakan bahwa sekelas dengan mereka selama 4 minggu adlaah sebuah pengalaman belajar yang seru dan membuka wawasan. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi yang piawai dalam berkelakar dan menyanyi dikelas. Berikut beberapa jepretan yang menggambarkan suasana di kelas:
Pada saat sesi minggu ke-3, kita semua berkesempatan untuk berfoto bersama dimana selepas pelatihan ini, masing-masing peserta akan kembali ke kantor Unit atau pos penugasan semula yang belum tentu berada di Monrovia bahkan ada yang datang dari batallion di pedalaman dan dekat perbatasan.
Di akhir program pelatihan, penyerahan sertifikat tanda kelulusan diselenggarakan secara meriah dengan mengundang Kepala Bagian Pelayanan Administrasi (Chief Administrative Services), kepala IMTC dan segenap tokoh masyarakat Monrovia. Acara inagurasi dan penyerahan sertifikat juga diakhiri dengan makan siang bersama.
Bekerja di misi perdamaian PBB yang notabene berada di daerah pasca-konflik, bukan berarti menghalangi kesempatan para staff-nya untuk menggali ilmu dan menjadikan diri mereka piawai dalam menghadapi konflik, baik skala pribadi maupun tantangan operasional terhadap organisasi dimana para peacekeepers ini bernaung. Setidaknya, selepas pelatihan ini, para peacekeepers memiliki cukup bekal agar saat menjadi pemimpin kelak dapat mampu menyiasati tantangan kedepan.



















• setelah baca catatan aktifitas “si kampret” ini saya semakin percaya dan yakin bahwa hasrat utk terus belajar dan belajar (secara akademik, workshop/lokakarya, program pelatihan, belajar apapun dlm hidup) itu tdk mengenal batas & teramat efektif memperkaya wawasan serta cara pandang kita terhadap beragam hal.
saya jg sedikit banyak tahu bagaiman cara mengatasi konflik dr apa yg sy ambil melalui definisi diatas kang. personally, konflik terberat dlm diri saya adalah yaa dg diri saya sendiri. namun catatan ini membuka mata saya bahwa konflik yg terjadi di sana, yg dirasakan langsung oleh para peacekeepers jauh jauh lebih berat ketimbang konflik personal saya/org yg tinggal di wilayah yg aman aman saja.
terima kasih kang :)
Menarik sekali ulasannya, kang…kebetulan basic ilmu saya conflict and disaster NRM – sekarang di Indonesia yang ke pake cuma “disaster” nya doang ;p…management konflik di terapkan dalam misi perdamaian tentunya lebih complicated daripada di NRM ;p
Gegini mas sharing sedikit,saya pernah juga mendapat training dari dale carnegie tentang hal tsb diatas,pd intinya kembali juga kemasing individual,tdk semua orang memiliki muatan kapasitas yang sama dlm menghadapi situasi penugasannya,dulu di company saya kami mengirim orang dengan standart S2 dan kemampuan bhs inggris yang luar biasa,tp satu demi satu gugur dlm hitungan bulan bahkan ada yg lari malam hanya seminggu saja,saya setuju betapa pentingnya sebuah pelatihan management konflik,achir nya digenerasi saya kami dikirim ke SECAPA TNI Bandung selama 2 mingguan,pesertanya nyaris tak mampu berbahasa Inggeris tp kaya dengan pengalaman disituasi yg sll konflik,achirnya beginilah jadinya,kita mampu lebih lama dari generasi sebelumnya,peace Mas…..
Assalamu’alaikum wr.wb
Mas Luigi,, afwan, saya izin ngopy artikel ini ya, mau saya print he he he,, Menarik untuk berulang kali dibaca dan bisa menambah semangat,, Apalagi saya juga nantinya akan diajari Conflict Management,, tapi sekarang belum dapat he he he,,
Salam semangat selalu
MJS
Student of Bandung College of Social Welfare