Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Manajemen Konflik untuk Peacekeepers: Sebuah pelatihan penting

19 May 2010, 05:18 , by Luigi Pralangga

 

Konflik, sepertinya kata itu makin kemari makin sering terdengar, baik di media massa sampai ke obrolan kita sehari-hari. Sebenarnya apa sih ‘konflik’ itu sendiri?. Merujuk definisi resmi, Konflik adalah ketidak-cocokan alamiah yang berasal antara perorangan, atau kelompok yang membedakan mereka satu sama lainnya berdasarkan sikap, kepercayaan, tatanan nilai dan/atau kebutuhan/kepentingan. Nah, dari penjelasan diatas, kemudian kita pastinya faham lebih baik, bahwa faktanya – konflik itu sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bisa dikatakan konflik itu sudah mulai menyapa kita sejak awal memulai hari, saat bunyi alarm itu menjerit guna membangunkan kita, bersiap-siap ke kantor dan selama perjalanan menuju tempat aktivitas.. singgungan-singgungan elemen konflik sudah pasti ada menghampiri.

Sebagai staff misi PBB yang bekerja pada lingkungan pasca-konflik, tekanan psikis dari situasi dan kondisi sudah menjadi resiko pekerjaan. Tidak sedikit dari rekan kerja yang kadang menjadi temparamen dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri baik terhadap sesama kolega dan terhadap lingkungan daerah misi yang notabene sarat dengan kondisi darurat, mempengaruhi efektivitas kerja, semangat juang dan yang paling memprihatinkan adalah keseimbangan psikologis staff yang bersangkutan itu sendiri. Pihak misi PBB di Liberia, selain menganjurkan staff-nya agar rajin cuti mudik dan memanfaatkan kegiatan refreshing (RnR – Rest and Recupperation) yaitu 1 minggu jatah libur keluar daerah misi untuk setiap 8 minggu bekerja di lapangan, serta berbagai program pelesir yang diprakarsai oleh UNMIL-SWRC (UNMIL Staff Welfare & Recreation Committee), juga menganjurkan segenap staff baik sipil dan elemen militer untuk mengikuti program pelatihan “Conflict Management for UN Peacekeepers”.

Melalui program pelatihan yang dilaksanakan 1 kali sesi per minggu-nya untuk 4 minggu periode, segenap staff misi PBB di Liberia ikut serta dalam program pelatihan ini. Materi perihal pemahaman, akar masalah, pencegahan, negosiasi, mediasi dan resolusi konflik diajarkan secara mendetail melalui kegiatan kelompok, studi kasus, sesi diplomasi aktif dan sederet penjelasan oleh mentor yang berpengalaman dari UNMILIMTC (Integrated Mission Training Center) yang memandu dan menjadi fasilitator pelatihan ini.

Si kampret ini memang mengajukan diri secara suka-rela sebagai wakil dari Procurement Section untuk hadir dan menjadi peserta dalam pelatihan yang sudah berjalan sampai angkatan (kelulusan ke-7) semenjak digelarnya program ini tahun lalu. Jadi, setiap hari Kamis sehari penuh di Bulan April tempo hari, si kampret ini mesti pamit dari urusan kantor untuk hadir di kelas. Peserta pelatihan yang kebetulan menjadi kawan sekelas si kampret ini adalah sederet personil perwira berpangkat Kapten hingga Letnan Kolonel dari beberapa battalion military peacekeepers di UNMIL, lalu para UNPOL (United Nations Police) Advisor, dan tidak sedikit wakil-wakil dan kepala seksi dibawah naungan Mission Support pun ikut menjadi peserta aktif di kelas ini.

IMG_9750 IMG_9756
IMG_9614 IMG_9740

Secara pribadi, kesan yang didapat setelah menjalani pelatihan selama 1 bulan, sebenarnya tidak bisa dihitung dengan jari, sebab banyak sekali. Selain membangun tingkat kefahaman yang lebih baik akan bagaimana menyikapi sebuah konflik yang baru saja dimulai, sedang berjalan, dan memuncak, serta bagaimana menengahi sebuah mediasi perjanjian damai (melalui simulasi dan contoh kasus), belum lagi pemahaman yang mendalam akan teknik penyelesaian serta manajeman konflik dari sisi ‘security elements’ yang selama ini bagi kalangan sipil masih dirasa kurang terekspose – kini menjadi jelas dan ‘familiar’.

IMG_9789

Konflik adalah bagian dari hidup dan konflik akan selalu ada dalam perjalanan kehidupan manusia. Apalagi pribadi yang bertugas di medan pasca-konflik seperti para staff misi inilah yang penting untuk memastikan bahwa kehadiran dirinya, dan misi pemulihan perdamaian PBB di sebuah negara dapan menjadi sebuah solusi dari konflik itu ketimbang malah menjadi bagian dari akar konflik itu sendiri. Nah, ini semua didukung dari pemahaman dan kapabilitas individu yang bekerja/berada dilingkup penugasan misi itu sendiri, apakah mereka cukup piawai untuk membawa perubahan positif dan memastikan bahwa misi PBB tersebut mampu mengemban mandatnya.

Terlepas dari seragam militer dan baju dinas kepolisian dan atribut pangkat dan bintang yang disandang para rekan perwira peacekeepers itu, si kampret ini melihat dan merasakan bahwa sekelas dengan mereka selama 4 minggu adlaah sebuah pengalaman belajar yang seru dan membuka wawasan. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi yang piawai dalam berkelakar dan menyanyi dikelas. Berikut beberapa jepretan yang menggambarkan suasana di kelas:

IMG_9434 IMG_9726
IMG_9361

IMG_9527 IMG_9539
IMG_9548 IMG_9556

Pada saat sesi minggu ke-3, kita semua berkesempatan untuk berfoto bersama dimana selepas pelatihan ini, masing-masing peserta akan kembali ke kantor Unit atau pos penugasan semula yang belum tentu berada di Monrovia bahkan ada yang datang dari batallion di pedalaman dan dekat perbatasan.

IMG_3629

Di akhir program pelatihan, penyerahan sertifikat tanda kelulusan diselenggarakan secara meriah dengan mengundang Kepala Bagian Pelayanan Administrasi (Chief Administrative Services), kepala IMTC dan segenap tokoh masyarakat Monrovia. Acara inagurasi dan penyerahan sertifikat juga diakhiri dengan makan siang bersama.

IMG_4880 IMG_4891
IMG_4911 IMG_5023
IMG_5029 IMG_5045

Bekerja di misi perdamaian PBB yang notabene berada di daerah pasca-konflik, bukan berarti menghalangi kesempatan para staff-nya untuk menggali ilmu dan menjadikan diri mereka piawai dalam menghadapi konflik, baik skala pribadi maupun tantangan operasional terhadap organisasi dimana para peacekeepers ini bernaung. Setidaknya, selepas pelatihan ini, para peacekeepers memiliki cukup bekal agar saat menjadi pemimpin kelak dapat mampu menyiasati tantangan kedepan.

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

4  Comments

by fauzy syahyan j. at 19 May 2010, 05:44

• setelah baca catatan aktifitas “si kampret” ini saya semakin percaya dan yakin bahwa hasrat utk terus belajar dan belajar (secara akademik, workshop/lokakarya, program pelatihan, belajar apapun dlm hidup) itu tdk mengenal batas & teramat efektif memperkaya wawasan serta cara pandang kita terhadap beragam hal.

saya jg sedikit banyak tahu bagaiman cara mengatasi konflik dr apa yg sy ambil melalui definisi diatas kang. personally, konflik terberat dlm diri saya adalah yaa dg diri saya sendiri. namun catatan ini membuka mata saya bahwa konflik yg terjadi di sana, yg dirasakan langsung oleh para peacekeepers jauh jauh lebih berat ketimbang konflik personal saya/org yg tinggal di wilayah yg aman aman saja.

terima kasih kang :)

by Tanty Surya Thamrin at 20 May 2010, 04:59

Menarik sekali ulasannya, kang…kebetulan basic ilmu saya conflict and disaster NRM – sekarang di Indonesia yang ke pake cuma “disaster” nya doang ;p…management konflik di terapkan dalam misi perdamaian tentunya lebih complicated daripada di NRM ;p

by Erfan Ahmad Piliang at 23 May 2010, 15:13

Gegini mas sharing sedikit,saya pernah juga mendapat training dari dale carnegie tentang hal tsb diatas,pd intinya kembali juga kemasing individual,tdk semua orang memiliki muatan kapasitas yang sama dlm menghadapi situasi penugasannya,dulu di company saya kami mengirim orang dengan standart S2 dan kemampuan bhs inggris yang luar biasa,tp satu demi satu gugur dlm hitungan bulan bahkan ada yg lari malam hanya seminggu saja,saya setuju betapa pentingnya sebuah pelatihan management konflik,achir nya digenerasi saya kami dikirim ke SECAPA TNI Bandung selama 2 mingguan,pesertanya nyaris tak mampu berbahasa Inggeris tp kaya dengan pengalaman disituasi yg sll konflik,achirnya beginilah jadinya,kita mampu lebih lama dari generasi sebelumnya,peace Mas…..

by Muhammad Joe Sekigawa at 9 June 2010, 23:18

Assalamu’alaikum wr.wb

Mas Luigi,, afwan, saya izin ngopy artikel ini ya, mau saya print he he he,, Menarik untuk berulang kali dibaca dan bisa menambah semangat,, Apalagi saya juga nantinya akan diajari Conflict Management,, tapi sekarang belum dapat he he he,,

Salam semangat selalu
MJS
Student of Bandung College of Social Welfare

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

798 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Nely Indraningrum Major Nely Indraningrum, SE, MM, presently serving at Mabes TNI AL (Indonesia’s Navy Headquarters) as Staff Officer at the Planning & Budgetary Section. Graduated from the Economics Faculty at the State University of Jember and further obtained her Master’s Degree...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 7 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 14 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 17 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 17 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 18 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago