Semenjak surat keputusan itu mendarat di tangan ini, dan mengetahui daerah tujuan tugas bernama: Liberia – dalam hati ini kemudian berujar: Alamak jedak jeduk jantung ini bergetar….., neng endi iki reeeek…. persisnya?. Kebanyakan dari kita lebih sering menganggap bahwa Liberia itu tidak jauh dari kawasan dingin membeku wilayah Russia – Siberia.
Setelah memeriksa dipeta dan bahan informasi di Internet, Liberia jelaslah kemudian, sebuah Negara kecil di afrika barat.
“Mah, bagaimana ini.. saya tugas ke Liberia dulu ya.. kamu jaga gawang dan jaga anak-anak ya..”
Senyum tipis dan anggukan samar itu, cukup sudah menandakan ridho-nya, meski yakin saya bahwa berat juga baginya untuk harus berpisah selama satu tahun kedepan. Namun demikian, panggilan tugas adalah wajib hukumnya.
Persiapan keberangkatan, termasuk itu pengurusan dokumen perjalanan serta bagasi untuk jenis tugas kali ini, nampaknya cukup ribet dan panjang, tidak seperti tugas-tugas domestic nusantara selama ini selain ada instasi yang menangani yaitu : Sops TNI (OPP), Spers TNI dan PMPP, kita mesti proaktif untuk berkoordinasi dengan instansi di luar negeri yang terkait…yaitu PENMIL disana ada perwira kita dari AU Letkol Joko Yochanan dan Staff UN yang bisa menjadi LO bagi kita Si Juragan Luigi Pralangga.
Bisa dikatakan untuk penugasan sebelumnya, persiapan bisa dilakukan dengan mata “merem” istilahnya terima beres-lah…. Namun, hey..! tidak untuk yang satu ini. Alhamdulillah, berkat dukungan moril keluarga, dan rekan-rekan di Peacekeeping Center (PMPP-TNI) dan sahabat dari Indonesia yang sudah berada di daerah misi semua berjalan lancar.
“Bapak yang ada di lembah Gunung Wilis n mamah, doakan smoga Syang Yang Widhi, Alloh SWT senantiasa memberikan keselamatan di perjalanan, sehat selalu dan sukses mengemban misi ini.. saya akan selalu merindukan kalian..”
“Insyallah, papaku chayang..” – Wong ndeso yang sudah terbiasa tinggal di deso Mendak Gunung Wilis kemudian dibubuhkannya sebuah senyum seraya kedua tangan itu memeluk erat sebelum beranjak mesti meninggalkan rumah tanggal 14 Maret 2009 jam 10.30 dan tinggal Di Cottage Gerbang Nusantara Cibubur sesuai pesen dari Hindhuism yang sudah membesarkan kami dari lahir hingga skarang… berpesan “ Le…. ojo budal tanggal 15 Maret aku ora relo…, sebabe dino iku Rampas lan ringkel tegese ilang nyowo lan arto“ maksudnya Pak Tony Soehartono tidak mengizinkan berangkat tanggal 15 karena bisa hilang nyawa dan harta…
15 Maret 2009, adalah saat terakhir kedua kaki ini meninggalkan tanah air, dibenak ini deras sekali untaian imaji kombinasi antara wajah anak-anak , istri dan Orang Tua dipadu silih berganti dengan gambar-gambar wong ireng, padang gurun sahara, dan wajah tanah nan asing itu.. wah rancu sekali pokoknya seiring diri ini berjalan mendekat badan pesawat.
“Ladies and gentlemen.. this is your captain speaking…” – suara salam sang kapten pilot yang menerbangkan penerbangan EK-354 tujuan Dubai, Uni Emirat Arab. Segeralah SMS untuk sang komandan: “Komandan – saya ijin berangkat tugas dulu – mohon doanya…” ini dikirimkan sebelum tetangkap basah oleh awak kabin karena pesawat akan memasuki landas pacu.
Ya, ini adalah penugasan luar negeri perdana, mungkin dirasa cukup wajarlah bilamana tidak sedikit jumlah mereka yang harus dipamitin dan dimintakan ridho serta doanya masing-masing. Seiring deru mesin-mesin jet itu menggemuruh, dan pesawat menanjak diudara, kedua mata ini hanya bisa menyaksikan gemerlap lampu-lampu gedung indah kota Jakarta dan kendaraan yang melintas seraya berpikir, dimana ya kendaraan yang dikemudikan anak istri saya dibawah itu?.
8 jam penerbangan tidaklah begitu terasa, mengingat kantuk, stress, sedih , senang, bingung, dan deg-degan ini sudah langsung menyapa. Kutengok pemandangan diluar jendela, gemerlap cahaya terang dalam untaian titik-titik bercahaya itu kemudian terlihat jelas dan membesar.
Kota Dubai, seperti banyak diceritakan rekan-rekan yang pernah transit disini adalah pusat keramaian regional jazirah arab, baik dari sisi bisnis dan kunjungan wisata. Tidaklah mengherankan bila salut diberikan kepada bandara internasionalnya.




Mendarat di Terminal 3 – Dubai International Airport pukul 5AM, berbaurlah diri ini dengan ratusan penumpang menuju terminal utama semakin bingunglah diri ini…. setelah ini kemana lagi? di bandara tersebut ada sekitar 30 gerbang keberangkatan dengan nomor 100 – 300an, sementara pada tiket sama skeali nggak tertera nomor gatenya.. ke pintu berapa yang harus kami tuju: Waduuuh gimana ini yah…..
Alhamdullilah …Disinilah awal pertemuan saya dengan rekan seperjuangan, beliau adalah staff PBB yang sudah bertugas cukup lama di Negara tujuan tugas saya; Liberia.
Senangnya bukan main, mengetahui bahwa saya tidak sendirian menuju negeri asing ini, dan disinilah saya percaya bahwa petunjuk dari Alloh itu pasti ada jikala kita selalu berdoa kepadaNYA….

“Hello Mas Dicky, akhirnya kita ketemu juga ya… Lapar? Haus? … Mas, ayo kita ngopi dulu..sekalian saya juga rasanya ingin mandi dulu” begitulah tukasnya mengajak bergabung ke lantai atas terminal 3 dimana lounge Business Class itu berada, dalam hati saya; “Lapar… haus… gak mandi gak ngaruh bang…yang penting aku bisa ktemu kamu kayak udah makan, minum n mandi… suegerrrr pokoke reeek “.
Meski nomor gerbang keberangkatan penerbangan selanjutnya tertera jelas pada tiket, namun cukup membingungkan juga kemana arah yang mesti diambil krena pintu Gate belum tertera….akhirnya di lounge Business Class ditulislah ma petugas gate keberangkatannya: Pintu 118… wah tambah bingung ajah gimana nyarinya pintu sebayak itu…waduh modyar nih …!, dengan segitu bejibun-nya orang ramai melintas di badara terminal 3 di Dubai itu.
Untunglah sudah bertemu kawan yang sudah faham akan seluk-beluk di bandara ini bagaikan minum Es Dugan di padang pasir yang gak ada air.., maka mengekor sajalah saya ini diajak kemana saja berada dibelakang derap langkahnya.
Melihat antrian yang cukup panjang saat kita mendekat Business Lounge, terbetik sebuah pertanyaan dan kemudian dilontarkannya saja: “Bang, ini kok pake antri seperti ini, dan kelas tiket saya berbeda dengan sampeyan, apa harus ada biaya lagi dalam hati saya berdiri diluar n nungguin abang wis gak popo rek,… gak masalah…?” – alhamdulilah yah..namanya rejeki tuh yah seperti ini dengan senyum ia menjawab: “Tenang saja, saya sudah member lama disini dan biasa mengundang tamu kedalam lounge.. – baguslah kalau begitu ujar hati ini kapan lagi kayak gini, sepanjang hidup dari tahun 1973 bahkan keluarga kami belum pernah mengalami hal seperti ini bang…ha..ha..ha..”
“Mas, kalau mau bersantap, hidangan disajikan disebelah sana.. untuk cek email dan bermain internet ada di pojok sebelah sana.. sementara saya mau mandi dulu ya..” – bergegaslah ia meninggalkan saya sendiri, menduduki sofa ditengah-tengah business lounge itu. Berada di lantai paling atas terminal 3, sebuah atap kubah melengkung yang sangat luas dengan lampu-lampu yang benderang itu, sebuah pengalaman pertama transit dibadara kelas dunia ini, tidak pula melepaskan ingatan dibenak ini kepada mereka yang ditinggal dirumah.

Sembari sibuk mengetik SMS, sesekali pandangan ini dilayangkan ke kanan – ke kiri, kemudian melirik tanda waktu, sementara sang rekan perjalanan itu entah menghilang kemana dia.
Entah mengapa, rasa lapar itu tidaklah terasa atau mungkin cukup digubris, saya hanya sibuk mencoba kirim sms ke kampong halaman member khabar kalau sudah selamat mendarat di Dubai, dimana setengah perjalanan masih akan ditempuh sesaat lagi, dan mencari tahu apakah ada pesan sms baru dari tanah air, karena saat kita mendarat, waktu di Jakarta sudah pukul 10 pagi.
Ohya, inilah dia beberapa jepretan saat di terminal 3 – Dubai International Airport.



Ohya, nampaknya perlu dicamkan bahwa bagi mereka yang transit di Dubai, mendarat di terminal 3, sementara penerbangan selanjutnya berada di gerbang terminal 1, paling tidak 15 menit berjalan cepat adalah syarat utama kalau tidak ingin ditinggal penerbangan selanjutnya.
Untung saja, berbekal jalan kilat speed mars ala marinir ini cukup waktu untuk mengejar pesawat berikutnya.

Sepertinya Terminal bandara di Dubai ini benar-benar menghanyutkan penumpang untuk berlama-lama sembari berbelanja sampai-sampai hampir lupa kalau penerbangan ini masih setengah jalan.


“Attention to all passengers, final call… EK787 is ready for boarding at Gate…” – kira-kira begitulah panggilan itu berbunyi, namun terlalu halus dan lembut suaranya bagi telinga seorang Marinir yang sudah terbiasa dengan suara lantang teriak komandan pasukan, jadilah tidak begitu digubris pengumuman boarding itu. (Nampaknya, saya harus lebih sering lagi nih terbang ke LN begini agar bisa lebih sensitive lagi si pendengaran ini…)
Akhirnya, setelah cukup ngos-ngosan berjalan ngebut diantara ratusan calon penumpang di bandara yang melintas itu, sampai dan duduk juga di kursi penerbangan berikutnya. Alhamdulillah.. memang terasa benar aura dan aroma-nya penerbangan yang satu ini bila dibanding penerbangan dari Jakarta – Dubai sebelumnya. Mengapa?
Ditengok ke kanan, maka tersenyumlah dia, dua baris gigi dengan putih cemerlang warna putih persis odol yang biasa saya pakai ini. Hanya saja perbedaannya, terletak pada rambut, keriting ikal kecil-kecil dengan warna kulit coklat gelap yang tidaklah begitu kentara dengan warna kulit ini. Kulongok ke lorong, melihat sudut pemandangan lainya ini: Penumpangnya lebih banyak wong ireng kabeh, rek!..
Akhirnya saya pun kemudian berguman didalam hati: Ya, nampaknya saya memang benar-benar mau terbang ke afrika…!!. Kisah Marinir Indonesia menjelajah Afrika Barat, inilah dia.. Eng..ing..eng…!.
Saking stresnya aku tidur ajah di pesawat sepanjang perjalanan gak terasa akirnya tiba mendarat di Accra ibukotanya Republik Ghana…. wah baru kali ini saya merasa keder datang di suatu tempat…. akomodasi.. untuk urusan transportasi, pokoknya ngikut juragan ajah deh… setelah ambil bagasi kemudian kenal ama temennya juragan dari Philippines, namanya Theresa Jumawan (Tj).. dengan rute penerbangan yang sama ke Monrovia…

Karena penerbangan mesti transit 1 hari di Accra, Frankie’s Hotel adalah salah satu hotel yang paling representatif di Accra..dengan biaya menginap yang nggak terlalu mahal. Kisah berikutnya? – nantikan update minggu depan ya..!
Hi., ceritanya asyik dan lucu..juga bagus..tolong – Dicky..jangan ilmunya hanya Karang Teko dan Selogiri satu lagi Purboyo…
Jangan2 Dicky lupa bawa jimat lagi, makanya ktemu om luigi.. he..he..he..yang bagus kayanya kamera n lensanya deh..
Orang nya sih biasa aja.. he..he..he…, keren abis.!, selamat bertugas lagi ya..take care dalam penugasan….
Sorry kemaren tdk sempat ketemu tgl 15 March malam di Airport.. kita ke Lebanon, skrg udah on air lagi di Cilangkap.
Okay sucsess ya.. GBU all.. wass
Regards.,
Ltk. Rudy Andi Hamzah
ga..salah deh….dinamain Pralangga,seperi elang garuda..yang terbang…kemanapun untuk menujukan kemampuannya….dengan…sayap perkasanya..menempuh keinginan dan tugas yang dibebankan kepadannya…Prajurit Elang Garuda…maju terus…tugas mu adalah cermin dari karir mu…
mantap kumendan! tentara, cita-cita masa kecil yang ndak kesampean, lha wong badan ringkih gini :D
manteb sampeyan pak, bisa liat dubai secara langsung, saya cuma bisa liat lewat internet aja, ngiri liat mewahnya yang jor-joran itu.
semoga sukses ya pak, bergembiralah karena sampeyan pasti paling putih di liberia. huahaha!
cakep banget ya terminalnya, coba indonesia di bikin gitu bandaranya…. terasa nyaman banget pastinya kayak di singapur
Sumpah! Awalnya saya menitikkan airmata haru, membaca tulisanmu“wong deso ikut berjuang, orang tua di desa berdoa, istrinya yang wong deso juga mendoakan, nguntabno nganti bandara,“aduh betapa beraninya orang deso ini ..kataku dalam hati.
Tapi lama kelamaan ke bawah,
“dimana ya kendaraan yang dikemudikan anak istri saya dibawah itu?.”—> ah, istrinya bisa nyetir, jangan-jangan itu mobil sendiri.
Terus baca ke bawaaah, lagi. Eh, ceritanya koq happy-happy saja, yaaah, rugi deh terharu di ujung awal cerita tadi. :P
Kamu bakal baik2 saja koq nak. Selamat bertugas, ya. Enjoy it as a challenge and an adventure. God bless you and Allahu Akbar!!! Life is Jihad
Good,,Good,,,,,,,,