Ini cerita di tahun 2007. Sebelum saya meninggalkan Banda Aceh untuk sementara waktu dan berpindah tugas ke Wamena, saya sempatkan diri untuk mengunjungi beberapa tempat di Banda Aceh yang dulu belum pernah saya kunjungi atau perhatikan dengan baik.
Hari Sabtu, 11 Agustus 2007, saya dan teman saya mulai perjalanan keliling Banda Aceh dengan naik sepeda motor. Setelah mampir mengambil tiket untuk perjalanan liburan kami tanggal 17 Agustus, kami lalu mencari sarapan… sarapan a la Jawa kali ini… Mie Ayam… Selepas kenyang dengan sarapan, kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di Lapangan Blang Padang. Di Lapangan Blang Padang ini terdapat replika pesawat Dakota RI-001 Seulawah, cikal bakal pesawat angkut pertama yang dimiliki oleh Indonesia.
Rakyat Aceh dulu dengan sukarela memberikan sumbangan untuk membeli pesawat ini pada tahun 1948. Pesawat ini kemudian digunakan untuk membantu perjuangan Indonesia. Seulawah, nama yang diberikan kepada pesawat ini mempunyai arti Gunung Emas. Yup, karena sumbangan rakyat Aceh yang diberikan untuk membeli pesawat ini, menurut sejarahnya, adalah berupa emas.

Tidak jauh dari Lapangan Blang Padang, tepatnya di seberang pekuburan Belanda, terdapat sebuah bangunan indah berwarna putih bersih dalam sebuah kompleks. Bangunan itu adalah Tamansari.
Memasuki areal Tamansari itu kami ditemani oleh seorang pemandu yang menceritakan sejarah Tamansari. Dalam kompleks Tamansari terdapat tiga bangunan penting, yang pertama adalah tempat untuk mencuci rambut, kemudian Gunongan, dan terakhir adalah bangunan makam.
Menurut keterangan yang ada di depan kompleks Tamansari, Tamansari didirikan sebagai tempat bersenang-senang bagi Putri Pahang, Putri Sultan Johor yang kemudian menjadi Permaisuri Sultan Iskandar Muda. Ada bangunan yang menjulang tinggi dengan bentuk seperti kelopak bunga, bangunan itu disebut sebagai Gunongan. Dari bagian atas Gunongan, kita bisa melihat areal sekeliling dengan leluasa.
Bangunan ketiga yang dinamakan Kandang adalah sebuah bangunan seperti benteng berbentuk seiempat yang didalamnya terdapat sebuah makam, yaitu makam Sultan Iskandar Tsani, menantu Sultan Iskandar Muda.


Selesai berpanas-panas di kompleks Tamansari, kami menuju Museum Aceh yang letaknya juga tidak begitu jauh dari kompleks Tamansari. Ketika kami masuk ke halaman Museum Aceh, saat itu jam menunjukkan pukul 12 siang, dan kami membaca keterangan bahwa Museum tutup di saat istirahat selama satu jam.
Sebelum meninggalkan Museum untuk kemudian kembali lagi, kami sempat melihat replika Rumah Aceh dari luar dan juga Lonceng Cakra Donya.


Lonceng Cakra Donya menurut sejarahnya merupakan hadiah dari Kerajaan Cina untuk Sultan Aceh. Lonceng ini dibawa oleh Laksamana Ceng Ho, laksamana yang namanya juga sering kita dengar dalam sejarah Klenteng Sam Poo Kong di Semarang. Nama Cakra Donya sendiri sebenarnya adalah nama kapal milik Kerajaan Aceh, dan di kapal inilah lonceng itu ditempatkan. Lonceng Cakra Donya kemudian juga ditempatkan di dalam kompleks istana Sultan dan dibunyikan untuk mengumpulkan penghuni istana ketika Sultan ingin menyampaikan pengumuman.
Setelah lewat jam istirahat, kami kembali ke Museum Aceh untuk melihat-lihat apa saja sih isi Museum Aceh. Ketika kami pergi ke bagian informasi dan mau bertanya ini itu, sang penjaganya berkata bahwa Museum Aceh tutup.
Oh… ternyata hari itu hari libur nasional merayakan Isra Miraj, dan kami lupa itu…
(.dodie.)
bagus , ternyata di Atjeh banyak juga tempat yang menarik untuk di kunjungi :)
buanyakkk cak… :D
makanya, maen2lah kemari… :D