Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Alarikka

Membayar Mahal Tanah yang Terjual

23 November 2008, 22:22 , by Alarikka

 

KEPULAUAN RIAU – Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika pesawat Nomad P 832 milik TNI AL membuat manuver di atas Pulau Nipah. Dari ketinggian 300 meter di atas permukaan laut yang tampak adalah sebidang pulau yang masih gersang. Reklamasi yang menelan dana Rp 240 miliar tersebut hampir usai.

Dulunya pulau ini hampir tenggelam ketika pasir laut terus disedot untuk reklamasi pantai-pantai di Singapura. Reklamasi Nipah memang berbiaya mahal. Ratusan miliar itu digunakan untuk meluaskan Pulau Nipah menjadi 60 hektare dengan tembok laut setinggi 5,2 meter dengan batu dan 69.000 tetrapod.

Sementara untuk daratannya diisi 150.000 meter kubik pasir. Bila tidak direklamasi, luas Nipah tinggal 1,4 hektare saat pasang datang.

*“Itu harga yang harus kita bayar karena kerusakan permanen akibat penambangan. Pasir laut dan pasir darat memang sudah dilarang, tetapi kegiatan ilegal pemasok masih jalan.

Ini yang kita waspadai terus”*, kata Panglima Komando Armada Barat Laksamana Muda TNI Muryono kepada SH di Batam. Hingga minggu kedua Maret, sudah 18 tongkang ditangkap. Kurang lebih 54.000 metrik ton pasir darat dijadikan sebagai barang bukti.

Dermaga, monumen, pos terpadu TNI-Polri, gedung biota laut, shelter nelayan dan jalan penghubung akan menjadi kelengkapan di pulau ini. Reklamasi Pulau Nipah dibagi menjadi empat zona, yakni zona pasir utara seluas 11,7 ha, zona hutan bakau seluas 11,7 ha, zona timbunan selatan seluas 15,53 ha, dan zona laguna pantai seluas 21,7 ha.

Merugikan
Pasir dari Nipah ini pula yang antara lain digunakan untuk meluaskan daratan Singapura yang dilakukan sejak 20 tahun lalu. Proyek Singapura Tanpa Batas akan meluaskan negara tersebut dari 580 kilometer persegi menjadi berkisar 700 kilometer persegi, hingga 2030 nanti. Pasir yang dibutuhkan paling tidak mencapai 7,1 miliar meter kubik.

Kebijakan ini mengkhawatirkan, karena pasir untuk perluasan wilayah diambil dari Indonesia. Bukan hanya lingkungan yang rusak permanen, tetapi juga hutan lindung, ekosistem darat dan pantai yang rusak, erosi, dan abrasi yang hebat serta hancurnya terumbu karang. Tapal batas pun menjadi masalah serius karena hingga kini belum ada kata mufakat soal ini.
Ketika SH mengikuti pantauan udara bersama Komandan Pangkalan Utama AL IV Tanjung Pinang Laksamana Pertama Among Margono dan Asintel Pangarmabar Kolonel Yusrin Amin, di sebelah kanan dan kiri pesawat hanya ada pemandangan pulau-pulau yang rusak.

Tongkang-tongkang berisi pasir darat masih hilir mudik. Meskipun untuk keperluan antarpulau masih diperbolehkan, tetapi ini tak menyurutkan patroli laut dan udara terus digelar.

Pulau Moro, Sugi, dan Berawa di Kabupaten Karimun, Lobam, Trikora, Tenaga, Gesi, Madong, Cekolek dan Tembeling di Pulau Bintan, Pulau Citlim di Kabupaten Karimun, Sungai Kolak dan Kelong hanyalah sedikit pulau yang rusak parah.

Eksploitasi pasir besar-besaran juga berlangsung di Gunung Kijang, Trikora, Lobam (di Pulau Bintan), dan Senggarang. Penambangan ini juga berlangsung di pulau-pulau kecil yang belum bernama.

Apa yang akan tumbuh lagi di pulau-pulau rusak itu? Sementara laut di sekitarnya juga menjadi keruh, ikan pun enggan datang lagi. Masyarakat pula yang dirugikan nantinya,” tutur Among.

Di Pulau Penyengat, lima tongkang hasil tangkapan pertama disandarkan menunggu proses hukum. “Kami inginnya cepat selesai. Gaji belum juga dibayar,” ucap Jhony Pinu, Kapten Winstar Victory Singapore, kepada SH. Nasibnya memang sedang naas. Seharusnya tanggal 5 Februari lalu, kapal yang dinakhodainya melenggang ke Singapura. Sialnya, usai loading, justru tongkangnya karam.

Tidak hanya TNI yang peduli. Pemerintah daerah harus tegas juga,” kata Among Margono. Itu sebabnya, keinginan Jhony Pinu untuk mendapatkan toleransi karena manifesnya bertanggal 5 Februari, tidak bisa dipenuhi.

Penambangan Granit
Usai pantauan dari udara, kami pun berkendaraan darat menuju lokasi penambangan granit di Karimun. Di sini kondisinya setali tiga uang. Gunung yang tadinya menghijau, kini tampak terluka dengan sayatan-sayatan yang dilakukan dengan peralatan berat. Danau sedalam 88 meter menghunjam ke perut bumi.

Usai eksplorasi nanti, wilayah ini akan dijadikan tempat wisata air seperti di Malaysia,” kata GM PT Karimun Granite Arif Rahman. Wisata air ini akan dibangun dengan kelengkapan sarana pendukung. Tapi siapa yang ingat janji ini nanti? Izin eksplorasi baru akan usai 2013 dan masih bisa diperpanjang sepuluh tahun lagi.

Indonesia memang sangat dirugikan. Pemda hanya menerima fee-nya saja. Ini tidak sebanding dengan keuntungan yang dikeruk Singapura,” kata Panglima Komando Armada Barat Laksamana Muda TNI Muryono. Pasir darat dihargai 7 dolar Singapura per ton sebelum dikeluarkan larangan. Harga ini melambung 80 persen usai dikeluarkan Permendag No. 02/M-DAG/PER/1/2007, menjadi 31 dolar Singapura per ton.

Agar pembangunan properti tidak berhenti, Singapura mengimpor pasir dari China yang harganya mencapai 48 dolar Singapura per ton. Pengapalan pertama sudah tiba di Pelabuhan Jurong sebanyak 400.000 ton. Pemerintah Singapura juga dengan berat hati harus mengeluarkan stok pasir yang disimpan di beberapa pulau buatannya. Pemanfaatan stok ini untuk mengendalikan harga pasir dalam negeri yang naik cukup tajam sejak pasokan pasir Kepulauan Riau (Kepri) terhenti menjadi 40 dolar Singapura per ton.

Langkah ini diharapkan bisa menekan harga pasir menjadi 20-30 dilar Singapura per ton. “Kita silau dengan rupiah yang ditawarkan,” tutur Muryono. (Dimuat di Sinar Harapan, 15 Maret 2007)

Alarikka Alarikka Having spent over 11 years as news correspondent/journalist, specializing to cover politics and Indonesian Military, Alarikka would then prefer to write more on travel and humanitarian featured topics. There are abundant wisdom in life to learn from the under previlleged...

Detail Profile »

1  Comment

by Erfan Ahmad at 24 November 2008, 17:00

Inilah salah satu kelemahan para pengambil keputusan Indonesia, ada saja para pejabat yg selalu silau dengan muluknya undertable USD…kalau saja RI dengan para AHLI nya benar benar ahli dan pintar memahami dampak negatif dari penjualan pasir tsb, pasti apa yg terjadi di pulau Nipah saat ini tdk akan terjadi separah ini.Dana sebesar Rp 240 M tentu akan bisa kt pergunakan buat kepentingan lainnya.
Sesungguhnya kita memang mahluk yang tidak pernah selesai dalam khodrati kemanusiaan nya … bodoh & selalu berbuat bodoh.
salam EA

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

796 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Arief Rahman Hakim Major Arief Rahman Hakim, married to Sully Dewi Triono, with two children. Deployed by the Indonesian Navy to represent the country serving as the Indonesian Military Observer under the mandate of United Nations Stabilization Mission in Nepal (UNMIN) based in...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 5 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 12 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 15 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 15 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 16 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago