Pada pukul 08.00 saya boarding bersama penumpang lainnya menaiki tangga pesawat. Inilah untuk pertama kalinya saya terbang ke Kisangani menggunakan pesawat PBB sejenis pesawat Antonov dengan baling-baling dengan suaranya yang sangat bising. Setelah berada di pesawat saya perhatikan ternyata penumpangnya sebagian besar kaum laki-laki yang akan menuju tempat posnya yang baru. Saya heran selama penerbangan kenapa tidak disajikan makanan seperti penerbangan komersial. Penumpang hanya disuguhi air mineral segelas kecil. Jadi saya mengerti ternyata kalau naik pesawat MONUC berbeda dengan naik pesawat komersial. Saya menyesal juga kenapa tidak membawa makanan kecil sebelumnya Pengalaman ini saya jadikan sebagai pelajaran untuk penerbangan berikutnya.
Ada yang lucu saat penerbangan berlangsung, persis di depan saya ada seorang pria tidak jelas asalnya dari negara mana, Dia makan roti dengan malu-malu kucing dan tidak menawarkan kepada rekan yang duduk disebelanya. Tiba-tiba rotinya jatuh menggelinding di bawah kursi.. Semua yang melihat peristiwa roti menggelinding ini senyum senyum..dan tahukan apa yang dilakukannya kemudian?. Pria itu dengan cueknya memungut kembali roti yang jatuh dan disimpan kembali di dalam tasnya.. Dalam hati saya..kalau orang Indonesia jika ingin makan sesuatu pasti mau menawarkan kepada rekan yang disebelahnya walaupun itu mungkin hanya basa-basi. Lantas saya pikir oh inilah budaya orang asing kontras dengan budaya Indonesia yang penuh ramah tamah kepada siapa saja yang dijumpainya.
Penerbangan ke Kisangani berlangsung sekitar 4 jam. Sebuah pengalaman yang menyenangkan terbang di atas pesawat sembari menikmati pemandangan kota Congo dari atas pesawat. Kadangkala saya sport-jantung saat pesawat tiba-tiba menukik seperti mau landing mungkin karena faktor cuaca sehingga kadangkala pesawat kurang stabil.
Pukul 12.00 waktu setempat saya tiba di Kisangani di Bandara Bangoka dan merasa lega karena tiba dengan selamat. Saya dijemput oleh rekan milobs dari Indonesia; Mayor Tumpal Silitonga dan Mayor Tontje Samadara. Sejenak saya membisu membayangkan akan memulai kegiatan yang baru di Kisangan seperti rekan saya Mayor Tumpal dan Mayor Tontje . Saya membayangkan akan bergaul dengan orang baru di lingkungan rumah dan di kantor semua masih serba baru dan saya bertekad harus cepat menyesuaikan diri.
Setelah mengambil bagasi, saya dan Mayor Tontje meninggalkan bandara menuju pulang ke rumah. Mayor Tumpal tidak ikut karena harus melanjutkan tugas Patroli kota. Disepanjang jalan dari bandara saya perhatikan jalan agak sepi dan ada hutan yang masih dilindungi oleh pemerintah setempat. Kota Kisangani identik dengan perkampungan atau desa yang alamnya sangat indah. Berbeda dengan Kinshasa yang ramai dan lalu lintasnya yang sangat tidak teratur. Sebagian besar penduduk di Kisangani menggunakan TOLEKA (Sepeda Ontel). sebagai alat transportasi. Jalan-jalan masih banyak yang belum di aspal alias masih jalan tanah merah dan berbatu-batu. Di Kisangani terdapat Sungai Kongo (Congo River). Saya jadi ingat kampung opung saya di Balige Tapanuli Utara dengan pemandangannya yang indah serta Danau Toba yang sama besar dengan Congo River.
Saya perhatikan sebagian besar penduduk di Kisangani sangat miskin dan terbelakang. Hal ini terlihat dari rumah pendududuk yang sangat sederhana dan banyak anak-anak usia tanggung yang tidak bersekolah. Disepanjang jalan banyak anak tanggung tadi bersepeda membawa hasil ladang yang akan dijual di pasar tradisional. Ada yang berjualan di gubuk, di pinggir jalan menjual beberapa tandan sejenis pisang ambon, nenas, papaya, jagung, kacang tanah yang sudah disangrai. Selain itu ada juga pasar tradisional dipinggir jalan, persis seperti pasar di Indonesia.
Sebelum tiba di rumah, saya dan rekan Tontje berhenti dipinggir jalan untuk membeli pisang ambon dan kacang tanah. Saya lihat Tontje makan pisang dan kacang tanah, saya agak risih melihatnya karena saya lihat kacang tanah yang disangari itu kurang higenis. Ibu-ibu yang menjual kacang tanah menawarkan kepada saya untuk mencobanya dan saya terima namun hati saya menolak karena kacang ini kurang bersih cara memasaknya tapi akhirnya saya makan juga walau sebutir untuk menyenangkan ibu si penjual tadi.
Saya perhatikan Tontje sangat akrab dengan yang ibu yang jualan, saya kagum dengan rekan saya ini karena dapat berinteraksi dengan penduduk lokal. Hal positif ini menjadi motivasi bagi saya bahwa saya pun harus dapat seperti Tontje.
Saya dan Mayor Tonjte tiba di rumah pukul 14,00. Saya senang sekali melihat rumah di Kisangani karena rumahnya besar dan halamannya luas. Dihalaman rumah banyak pohon-pohonan seperti pohon kelapa, mangga, jambu jeruk purut dan singkong . Suasana di rumah cukup sejuk berbeda dengan rumah di Kinsasha yang panas dan berisik.
Tidak terasa perut saya mulai keroncongan dan saya lihat di meja makan yang ada hanya ikan asin, nasi putih dan sayur kol yang ditumis. Saya dipersilahkan makan oleh Tontje dan seorang pembantu asli orang Congo yang melayani saya di meja makan. Saya jadi teringat Indonesia saat menikmati makan siang yang sederhana ini.. karena di Indonesia menu makan siang tentu banyak pilihannya.. Tapi saya bersyukur karena masih bisa menikmati makan siang walau dengan menu yang sederhana.
Setelah selesa makan saya merasa lelah dan masih meggunakan seragam saya merasa ngantuk dan teritidur di kursi selama 15 menit. Tepat pukul 15.30 rekan saya Mayor Tumpal tiba di rumah menjemput saya untuk berangkat ke kantor Sektor 2 untuk melaporkan diri sebagai milobs yang baru. Setelah laporan dilanjutkan dengan proses Check in tetapi karena hari sudah petang dan sebagian personil yang akan saya minta petunjuknya tidak berada di tempat, akhirnya saya pamit pulang dan akan melanjutkan Check in esok harinya.. Kemudian kami langsung menuju pelabuhan untuk menjemput rekan milobs dari Indonesia yang kebetulan sedang berlayar ke Kisangani. Pada malam hari kami berkumpul di rumah dan makan malam bersama sambil sharing tentang tugas-tugas yang akan dilaksanakan kelak.






Well, Mbak Nita, untuk urusan sepotong roti yang jatuh itu.. selama masih jatih di karpet dalam pesawat pikir si orangtersebut masih lebih bersih ketimbang jatuh di tempat lain-nya…
Nah soal pelayanan kabin pada pesawat/penerbangan UN di misi manapun adalah persis seperti ‘angkot’ – jadi sedia sarapan kenyang dulu sebelum terbang :D
Seru pisan ceritanya nih!… bagaimana dengan pengalaman penerabangan pesawat UN mission lainnya?
Namboru Nita,
Kalau di Indonesia ada istilah “belum lima menit”, kayaknya berlaku universal juga, roti jatuh belum lima menit, masih layak diambil kembali…he..he..he..
Nice Stories…
Salam,
Nofaldi