Perkara lambung tengah memang tidak bisa di anggap enteng…saya dan Mas Yogi plus saudara2 yang dari Timor Leste yang notabene harus puas dengan ransum ala tentara akhirnya nyerah juga…,ransum yang memang tidak kalah dengan T2…(Ransum ala TNI kita..)..sudah menjadi makanan kami dan staff lainnya selama hampir 2 minggu ini pasca gempa bumi yang melanda Haiti 12 Januari lalu..…dalam ransum ini sebenarnya sudah lengkap semua…ada daging campur plus nasi,ada sayur kaleng, ransum ini juga dilengkapi dengan kompor parafin kecil…dan jangan salah…di dalam paket ransum ini juga ada sebatang coklat kecil yang selalu menjadi buruan semua teman-teman, maklum mencari sebatang coklat atau gula-gula dalam keadaan darurat seperti ini susahnya minta ampun!
Tapi tolonglah…jangan tanya masalah rasa ya… soalnya ransum ini memang di “desain” tanpa rasa…jadi yang ada cuman rasa hambar…(ngga bisa memilih sih…yang ada cuman ini doang…)
Untuk mendapatkan jatah ransum ini juga tidak mudah…kadang dengan setengah “tidur” karena capek saya harus berdiri dan mengantri…, paling tidak 1 jam berdiri untuk mendapatkan jatah makan siang…kadang juga kami terlambat datang…kalau terlambat datang itu tandanya kami harus “puasa” lagi…masalahnya…kami yang rata-rata semua bekerja di lapangan, Mas Yogi yang lagi berada di Camp Delta dan saya yang mobile (baca: Mondar-mandir) kemana-mana,kadang-kadang terlambat untuk datang ke Logistic Base dan ikut mengantri……jadilah…kalau ada teman yang mau antri kami pasti menitip ID kami, soalnya tanpa ada ID pasti yang membagi jatah antrian cuek saja…alias ngga bakalan memberi jatah makan siang kami.
Beberapa hari setelah gempa.. akhirnya saya bisa pulang ke apartemen, tujuan saya tentu saja bukan untuk tinggal dan tidur di apartemen tapi lebih untuk mengaduk-aduk sisa-sisa persediaan makanan di dapur yang bisa di bawa ke kantor:”lumayanlah..saya masih punya persediaan beberapa bungkus mie instant, oatmeal dan beberapa bungkus biskuit….” saya berkata dalam hati.
Memang dalam keadaan darurat seperti kami tidak bisa _Complaint_…,yah karena memang sudah begini keadaannya…secara langsung kami juga ikut menjadi _’refugees’_… apartement kami memang tidak roboh tapi tetap tidak bisa dihuni lagi, maka tidak ada tempat lain yang menjadi tempat kami untuk tidur selain kantor di Logistic Base..boleh dikatakan: kerja-makan-tidur-dan-kerja-lagi dsbnya…yah di Kantor.
Masalah mandi dan sebagainya menjadi tantangan tersendiri, toilet yang hanya beberapa buah tiba-tiba di ‘serbu’ oleh ratusan orang, jadilah saya harus bangun pagi – pagi buta saingan dengan ayam jago itu, jauh lebih awal dari biasanya untuk antri mandi dan sebagainya…(lagi..lagi antri…),dan maaf kadang-kadang kalau telat…jadilah yang namanya Mandi ala “Pas Photo 2×3”, artinya cuman sikat gigi plus cuci muka dan sedikit membasahi rambut dan cuci-kelek…(untung saja tidak tercium bau-bau yang memabukkan..baca: bau kelek..hehehhe)
Kembali ke soal lambung tengah (baca:makanan), sebenarnya mendengar berita kedatangan teman-teman dari Team Reaksi Cepat yang di kirim Pemerintah kita cukup membuat saya dan rekan-rekan yang lain gembira, bukan saja karena Pemerintah kita juga ikut berpartisipasi membantu Haiti tetapi juga berharap-harap semoga rekan-rekan yang ikut dalam team Reaksi cepat membawa bekal makanan yang notabene bisa dibagikan ke kami-kami ini…
Dalam bayangan kami sudah terbayang paling tidak, ada ikan kaleng beserta Indomie goreng di dalam ransel teman-teman..….
Aduhhh sedapppnya…..pikiran-pikiran tentang makanan ini makin menjadi-jadi kala kami berkumpul menyantap hidangan express kami. Paling tidak dengan menghayal tentang makanan-makanan itu, rasa hambar di ransum kami tidak terasa..
Walaupun team kita tidak jadi mendarat di Haiti Paling tidak Mbak Laxmi Karma yang di tugaskan sementara di Haiti sudah berbaik hati (thanks berat ya mbak Waty…), datang dengan bekal sekantong plastik besar yang isinya indomie goreng dan teman-temannya….
Bayangkan akhirnya impian untuk menyantap indomie akhirnya tercapai…malam itu saya melahap langsung 2 bungkus indomie goreng dengan sukses….paling tidak makan Indomie Goreng ini bisa jadi pelepasan khayalan kami sebelum pulang ke Indonesia nanti.






haahaha…(ketawa miris) tapi sudah “terbalaskan” kan kemaren waktu pulang ke tanah air?….bakso 2 porsi didalam 1 mangkuk, hebat…hahaha…
Dear Luigi, Dear Yogi dan Dear Mba Endang,
Senang sekali dapat kabar dari teman² di “tanah seberang” ;sorry barusan sempat email; sayangnya saya sudah pulang di WHO Jenewa, dan belum jelas apabila akan kembali ke sana…
Masalahnya kemaren tentunya adalah karena emergency, jadi susah kirim / terima emails. Kalau memang ada kesempatan, saya beritahu juga terlebih dahulu. Sampai kapan bertugas di Haiti ? Lalu bagaimana kehidupan di sana, saya dengar bahwa Minustah cukup sibuk juga dgn gangs dan “konco²“nya ?
Pada waktu di sana, saya sempat lihat di tepi jalan, siang hari, dekat pelabuhan, ada orang dibunuh, tangan terikat di belakang dan mukanya diarahkan ke got… Cukup ganas mafia sana ?!
Salut untuk kerja MINUSTAH dan selamat bertugas di sana,
keep in touch !
Dominique
==============
Dominique Maison
Public Health Engineer
Water, Sanitation, Hygiene and Health
Department for Public Health and Environment
World Health Organization
20 Avenue Appia
CH-1211, Geneva 27, Switzerland
wah selamat bertugas mbak …padahal disini kmrn saya barusan diare gara gara kebanyakan makan indomie haha~