Bunda, hari pertama puasa saya disini.. seperti memang terasa berat, terutama bangun lebih awal dari subuh dan masih harus masak makanan untuk sarapan sahur. Dengan mata yang sebelah masih tertutup rapat, maka jadilah telor ceplok itu.. si nasi memang sudah matang karena dimasak sejak semalam sebelumnya. Menu sahur perdana adalah: nasi hangat ditemani telur ceplok mata sapi, dan sambel botol ala beijing.
Iya, bun.. sambel botol yang diberikan kawan serumah saya, Wang, namanya.. asli dari Beijing, begitu pula sambal goreng yang diberikannya pada saya, ada tulisan dengan huruf latin yang bisa terbaca oleh saya, tersebut disana “beijing” sisanya huruf cacing-cina itu nggak ngerti bacanya gimana, namun rasanya persis sambel goreng terasi khas Indonesia dimana didalamnya ramai ada terdapat kacang hitam lunak, sebesar butiran tai kambing bundar-bundar begitulah.
Black Beans sebesar tai kambing itu ada didalam sambal toples ini
Bunda, sedih memang melalui bulan puasa tanpa kehadiran kamu dan anak-anak.. dimana Ramadhan ini adalah kali kedua saya menjalaninya di Liberia. Suap demi-suap maka habislah sepiring nasi hangat dengan telor ceplok dan sambal beijing itu.. pada suapan terakhir, mendadak lidah ini kok mengecap rasa kecut entah darimana.. sepertinya ada biji asam pada sambal beijing itu tergigit, runyam sudah rasanya.. buru-burulah saya reguk jus apel itu langsung dari kemasan-nya.. ya, benar dari kemasannya tanpa basa-basi dituang dulu kedalam gelas. Hilang memang table-manner saya saat sahur itu, lagipula kalau ada kamera yang memotretnya sudah pasti orang akan tertawa.. makan sahur sembari sebelah mata masih terutup. Andaikan saya ada disana bersama kamu dan anak-anak, pasti kedua mata ini terbuka lebar dan lebih bahagia menyantap sahur didampingi orang-orang terkasih.
Namun demikian, esensi dari menjalankan ibadah puasa bukanlah terletak pada apa yang menjadi hidangan santap sahur dan berbuka, melainkan keihklasan kita menjalankannya – disitulah pahala ramadhan berlimpah diberikan Alloh SWT.
Bagaimana dengan kawan-kawan serumah mu itu?
Siapa?.. Oh, si Wang ini.. jelaslah masih terlelap, dia pulang malam sekali dari kantor.. saya hanya mendengar derap langkah sepatunya saat memasuki rumah. tidaklah dia berpuasa.. apalagi untuk bangun sahur di pagi buta dan deras sekali hujan malam hingga subuh itu, dimana cocok sudah buat banyak kampret untuk berlindung dibalik selimut, dan bisa jadi deras iler itu meleleh dibantal.
Lepas kelar sarapan sahur, maka bergegaslah saya pergi cuci-muka, menyambut adzan subuh.
Mas, udah sahur belom? – Sudah jawabnya. Dia adalah kawan sejawat dan setanah air, Mas tusih panggilannya.
Hanya kita berdua yang tinggal di Monrovia, meski saya berada di ujung barat, sedangkan dia diujung timur ibukota Liberia ini.
Imsaknya jam 5.25 ya.., begitu katanya. Memang saya waktu itu tidak dibekali dengan jadwal imsakiyah ramadhan, itulah mengapa ponsel ini memanggilnya.
Sejak kelar sholat Subuh, mata ini terpejam sejenak dan kemudian ponsel itu menjerit pas pukul 7, alarm standard yang setiap pagi berkicau dan memang sengaja ditaruh jauh dari tempat tidur, lalu dimana?
Ya, saya taruh di atas lemari pakaian agar si alarm tidak mudah untuk di jangkau tangan ini kemudian mematikan jeritannya lalu kembali kepala ini menghilang dibawah bantal. Jadi mau nggak mau ya harus bangun dan bersiap siap untuk berangkat kerja.
Bun, harus diakui bahwa hati pertama puasa, selama jam kerja di kantor, saya ngantuuuk sekali.. sepertinya kurang instirahat.
Ah, bukan itu.. sepertinya cape karena banyak energi psikis ini tercurah karena rindu sekali akan kalian.. apalagi saat badan ini tidak bekerja dan hari menjelang senja, otomatis pikiran ini kembali terbayang akan kalian.
Hari ini, sibuk sekali dengan berbagai urusan sakit kepala, yang benar-benar penat sekali dibuatnya, ditambah rasa kantuk yang bukan kepalang..andai kalian berada disini.. mungkin saya bisa lebih besemangat.
Beberapa hal muncul saat jam terakhir, yang kemudian menyebabkan diri mesti tinggal di kantor barang sejam lebih lama, walhasil saat berkendara pulang sedikit terburu, berupaya mencari supermarket yang masih buka. Mereka biasanya tutup persis pukul 7. Seingat pagi tadi, tidaklah tersisa masakan sahur itu, jadi setibanya dirumah bila mendekati waktu berbuka puasa.. nihil-lah makanan tersaji hangat, mungkin yang ada hanya sekarton susu dingin dan makanan beku itu. jauhlah rasa nikmatnya dengan hidangan dirumah dimana kalian berada..
Bun, hingga akhir Oktober, Monrovia masih terus dilanda hujan gludug, kamu masih ingat bukan saat tahun lalu berkunjung kesini… terbayang khan betapa derasnya saat hujan turun di Liberia ini. Nah, begitulah adanya saat saya berkendara pulang dari kantor, dengan perut yang terasa benar keroncong-nya, kibasan wiper jendela mobil ini tidak cukupkuasa menepis derasnya air hujan. Kurang dari 10 menit saya tiba di sebuah supermarket, disana terlihat memang beberapa orang yang berbelanja, namun sang penjaga toko serta kasihnya sudah seperti panas bujur gelisah karena ingin segera pulang.
Tiadalah barang yang cukup berarti mengisi keranjang belanjaan saya saat itu, bun.. entah kenapa, kok rasanya nggak ada semangat nih.. beberapa karton jus buah, susu cair, serta sayuran beku dan sepenggal roti perancis. Mereka menyebutnya roti baguette, roti khas orang perancis yang panjangnya hampir 1 meter. Supermarket itu sudah berada di ambang tutup, dan hanya 1 roti baguette tersisa, dan gosong pula, bun!. Terpaksalah saya ambil saja, mengingat waktu berbuka puasa sudah kurang dari 15 menit lagi.. nampaknya roti keras ala perancis itulah yang akan berhadapan dengan saya saat waktu berbuka puasa tiba.
Lepas membayar belanjaan dan membawanya kedalam kendaraan.. perlahan kemudian memasuki jalan utama, UN Drive – jalanutama di Monrovia yang panjang membentang dari pelabuhan laut hingga terus mendekati UNMIL Logistics Base. Derasnya hujanhanya membiaskan cahaya lampu belakang kendaraan yang macet mengantri didepan. Melirik jam dimobil menujukkan waktu 2 menit lagi saatnya maghrib. Sembari menyetir, tangan sebelah kiripun kemudian meraba tas plastik belanjaan yang ditaruh dibelakang jok kursi dan akhirnya dapat juga. Persis pukul 7:00 waktu berbuka tiba, mereguk beberapa kali air mineral yang duduk dibangku penumpang depan itu, kemudian membaca doa berbuka puasa, akhirnya dibukalah kertas pembungkus roti baguette itu.
Dia memang panjang, bun!..
Sepanjang ujung jemari ini hingga terus ke bahu, ukuran si roti perancis ini… dimana jenis roti ini adalah bukan kesukaan saya sejak dulu. katakanlah saya tidak romantis lantaran membenci roti makam yang begini. Hanya satu alasannya, roti macam begini itu keras. mengucap: “bismillah” maka disantaplah potongan roti ini, dan memang benar, keras sekali kulit luar-nya, yang saat itu pikiran ini berseru:
Roti macam begini mestinya yang gigit itu kuda!
Karena rahang dan gigi-giginya lebih besar dan lebih kuat, namun apa daya, jarak kemacetan sore dengan rumah masihlah terlampau jauh, belum lagi kendaraan itu berjalan amat perlahan sekali karena tidak terlihat lubang2 dijalan tertutup air hujan yang menggenang.
Pegal sekali rasanya rahang ini mengunyah roti perancis itu.. meski harus diakui saat itu bahwa bagian tengah/dalamnya terasa nikmat sekali. Ya!, roti baguette gosong yang kerasnya luar biasa, yang akhirnya saya memutuskan untuk membuka jendela sedikit agar potongan roti keras ini bisa tersiram air hujan agar dia melunak sedikit saat masuk mulut. Dan memang benar, bunda.. saat si roti itu basah terkena air hujan, dia sedikit lebih besahabat saat di kunyah, dimana tangan kanan ini sibuk bergantian memegangi setir dan tongkat perseneling, kemudian mengoyak roti yang tersiram air hujan itu untuk dikunyah.
Itulah menu pembuka puasa saya hari pertama ini, bun.. tidaklah se-enak hidangan yang ada dimeja makan kalian. Namun saya tidak menyesalinya.. semoga Alloh melimpahkan pahala puasa kita semua.
Ini dia sisa roti baguette gosong itu.. gigi saya sudah bosan mengunyahnya.. saya tunjukkan kepadamu, bunda.. semisal dirimu ingin mencoba rasanya.. Saya rindu sekali akan kalian bertiga dan senantiasa mendoakan agar kita bisa segera bersama-sama dalam satu atap, dan saya akan tunjukkan bagaimana rasanya .. roti perancis dengan sedikit rasa air hujan.


Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago