Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Mission Assignment in the D.R. Congo: Sebuah cakrawala baru

23 September 2008, 15:15 , by Ratih Pusparini

 

Tanggal 18 Januari 2008 menjadi hari bersejarah bagi kami, Mayor CAJ Nita Siahaan dan Mayor SUS Ratih Pusparini. Hari itu menjadi tonggak sejarah bagi Wan TNI pada khususnya dan TNI pada umumnya dengan memberangkatkan kami ke Republik Demokratik Kongo untuk bergabung dalam misi perdamaian PBB di DR Congo – MONUC (Mission De L’ONU en RD Congo). Karena belum mengetahui permasalahan-permasalahan apa yang dihadapi Wan TNI di daerah misi, kecuali dari berbagai pengalaman rekan-rekan pria yang pernah bergabung dalam berbagai misi damai PBB, kami bertekad melakukan yang terbaik dalam setiap tugas yang diberikan kepada kami.

Kesan pertama saat menjejakkan kaki di kota Kinshasa, ibukota Rep. Dem. Congo, selayaknya apa yang kami alami saat pertama kali berkunjung ke Papua. Alam, masyarakat dan vegetasi yang ada sejenis dengan yang ada di belahan timur negeri kita tercinta. Gak terlalu kaget-lah kecuali bahasa Perancis-nya aja nih yang jadi bahasa keseharian mereka yang membuat kami sering bengongnya kalo diajak ngomong, hehehehehe. . .

Meski banyak yang bilang kalau bahasa perancis itu terkesan sexy atau sensual, sepertinya tergantung orangnya dulu, kalau yang ngajak saya bicara bahasa perancis orangnya guanteng, meski nggak ngerti sama -sekali atau sedikitlah ngertinya, pastilah romansanya jadi sexy, kalau sebaliknya.. wah, yang ada pusing!

Terbiasa travelling tidak terlalu membuat kami kesulitan untuk beradaptasi. Setelah menjalani masa orientasi termasuk diantaranya mengemudi kendaraan setir kiri, akhirnya kami berdua diberangkatkan ke daerah yang berbeda. Mayor Nita mendapat penugasan di kota Kisangani dan kami lebih ke timur lagi yaitu di kota Bunia. The real life as Military Observer begins.

Kota Bunia sebagai tempat penugasan pertama memberi kesan mendalam (hehehehehe. . . . . gak sedalam sumur sih). Kota Bunia berudara seperti kota Bandung, sejuk dan terkadang diseling hawa panas yang cukup menyengat. Penduduknya juga lebih ramah dibandingkan mereka yang ada di Kinshasa. Angka kejahatan cukup tinggi terutama yang dilakukan oleh anak-anak jalanan (shegue) yang cukup bikin repot polisi Bunia. Yang paling disuka adalah suasana di MONUC BUNIA HQ, akrab dengan rasa kekeluargaan yang menyenangkan antara staf militer dan sipil.

Landscape kantornya yang tertata rapi dengan tanamannya yang terawat


Berpose di depan MONUC Headquarters.

Di lingkungan Team Site sendiri, Rainbow Policy yang diterapkan dalam satu team site membuat interaksi yang mengesankan dengan rekan-rekan Milob dari negara lain. Karena dengan aturan tersebut maka tidak akan pernah ada dua Perwira dari satu negara di satu tempat yang sama. Belajar mengenal kebiasaan dan tata cara kehidupan bangsa lain lewat rekan-rekan Milob memperkaya khasanah pengetahuan kita. Saat itu Bunia Team Site terdiri atas Milobs dari Pakistan, Romania, Nepal, Mesir, Uruguay, Jordania dan tentunya Indonesia.

(dan jadi sing paling ayu dhewe lho, hehehehehe. . . . . gak ada saingan !!!!!!!!). Berikut adalah kawan-kawan baru bertemu selepas mission’s induction course.

Ternyata kunci yang harus terus dipakai selama hidup bersama adalah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan (be adaptive and flexible katanya sih dan ini pun manjur untuk bisa survive di misi ini). Kegiatan yang dijalani selama menjadi UN Milobs diantaranya patroli, berinteraksi dengan masyarakat, menyampaikan informasi proses perdamaian yang tengah berlaku serta pemberdayaan masyarakat dalam mendukung stabilitas keamanan yang tengah diupayakan oleh misi PBB di D.R. Congo.


Lepas patroli di salah satu desa sekitar 30km Barat kota Bunia

Pejabat pemerintahan lokal, menjembatani permasalahan antara masyarakat dan MONUC serta LSM yang ada di Bunia, bahkan masih sempat lho jalan-jalan mengenal wilayah yang berada dalam kewenangan Bunia Team Site.


Mendampingi Komandan Brigade Ituri kunjungan ke salah satu daerah di bawah pengawasan Bunia Team Site, Nizi – daerah pegunungan sekitar 38km Utara kota Bunia.

Tidak lupa juga menghabiskan malam dengan acara pemutaran film pada Kamis dan Minggu malam dan ”Happy Hour” setiap Jumat malam di Jungle Bar yang ada di Bunia MONUC House

Di waktu-waktu tersebut lah kita melepas kejenuhan dari rutinitas serta sebagai ajang berbagi pengalaman dengan rekan-rekan dari kontingen militer maupun rekan sejawat UN baik staf nasional (Congolese) maupun internasional.

Selama di Bunia sempat juga merasakan tertahan di kantor seharian karena demo anti MONUC _ yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat Bunia sebagai ungkapan kemarahan atas kematian seorang mahasiswi yang jatuh dari sepeda motor _(Sejenis motor angkut ojek, tapi di Bunia disebutnya taksi lho) dan menabrak truk tanki air-nya Batalyon Pakistan.

Ngeri juga tapi karena kita semua ramai-ramai tertahannya di kantor, meski demikian dibawa santai aja-lah. Sempat kelaparan juga karena gak ada kantin yang beroperasi di MONUC Headquarters sampai akhirnya bisa pulang jam 11-an malam dan dengan dikawal tentara dari batalyon Pakistan sambil terus pantengin radio komunikasi untuk mengikuti perkembangan situasi kemananan Bunia. Bahkan keesokkan harinya tidak ada yang ngantor, karena semua jalan ke headquarters diblokir oleh kelompok mahasiswa itu.

Pada hari ketiga, barulah kami bisa beraktifitas kembali meskipun hanya setengah hari karena diminta segera kembali ke MONUC headquarters untuk mengamankan diri dari massa yang kembali mengelilingi areal diluar pagar headquarters.

Setelah 50 hari menikmati keindahan kota Bunia lengkap dengan sukanya (gak ada duka tuh), akhirnya waktunya untuk bergabung dengan Force Hq datang juga. G3 Ops Desk Officer S 7 & 8 adalah nama jabatan yang harus disandang _. Walhasil tetap jadi yang paling cantik diantara sekitar 15 pria baek-baek dari _Kanada, Senegal, Belgia, Perancis, Bangladesh, Uruguay, Maroko, Pakistan, India, Nepal dan Irlandia.

Ritme kehidupan yang berbeda dengan Team Site mulai dijalani. Kehidupan di Operations Branch dimulai jam 07.45an berakhir sekitar pukul 19.00an belum lagi kalau piket menyiapkan bahan-bahan briefing dan paparan Force Commander yang juga dikirimkan sampai ke New York bakalan tinggal lebih lama di malam harinya dan siap lebih pagi dibanding yang lainnya keesokkan harinya. Dari tempat inilah berbagai operasi yang dilaksanakan di D.R Congo disiapkan.

Kebayang khan serunya bisa mengetahui segala yang terjadi di seantero negeri. :-). Itu lah sisi positif yang bisa didapat. Negatifnya? Karena waktu banyak tersita di kantor jadi sering males keluar rumah buat menyenangkan diri termasuk olah raga deh . Apalagi apartemen kami tuh liftnya lebih sering mogoknya ketimbang berfungsinya, walhasil mesti naik-mendaki anak tangga sampai ke lantai 9 – semakin menambah rasa malas untuk keluar rumah, hehehehehehehehehe. . . . .

Sempat juga kami merayakan hari jadi kemerdekaan negeri tercinta di kota Beni, di mana Kontingen Garuda XX E bermarkas. Saat upacara peringatan detik-detik proklamasi (tepat pukul 10 pagi waktu Beni) hujan yang sejak malam sebelumnya turun deras sedikit mereda menjadi rintik-rintik.


Photonya diambil waktu kami merayakan HUT Proklamasi/17an di kota Beni.

Kami semua larut dalam keharuan saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Rasanya memang beda dengan berbagai upacara yang pernah kita jalani di negeri sendiri. Kebanggaan tersendiri melihat Merah Putih berkibar megah di negeri orang dan semakin bangga atas komentar para tamu undangan bahwa tentara Indonesia is very though. Karena katanya kalau di negara mereka tidak bakal ada upacara jika hujan meskipun hanya gerimis.

Anggota Konga XX-E juga menunjukkan kebolehan mereka dalam atraksi bongkar pasang senjata _, kolone senapan dengan latar belakang lagu berbahasa Swahili (biar tentara tetap luwes ngikuti irama lagu lho) dan Tari Saman dari Nanggroe Aceh Darussalam _(ini yang surprise bahkan untuk kami pun rasa bangga akan kepiawaian anggota Konga XXE dan tentunya juga rasa bangga bahwa salah satu khasanah budaya kita memberi kesan mendalam bagi undangan).


Photonya diambil waktu kami merayakan HUT Proklamasi/17an di kota Beni.


Sajian tari Saman oleh personil Kontingen Garuda, memukau para hadirin.

Sore harinya cuaca cerah dan kami melanjutkan perayaan dengan berbagai lomba seperti tarik tambang, enggrang, botol pinsil, dorong roda (rodanya gede banget apa karena mereka Kontingen Zeni ya?), balap bakiak dan lari kelereng khusus untuk masyarakat lokal. Seru dan lumayan jadi pengobat rindu akan berbagai kegiatan serupa di tanah air sana.

Malamnya pembagian hadiah kepada para juara lomba dan sekaligus bakar sate bersama. Terima kasih kami kepada Indonesian Senior National in MONUC, Letkol Laut (K) Dr. Achmad Syamsul Hadi dan Komandan Kontingen Garuda XXE Letkol CZI T. Yoga Pranoto atas kebersamaan dan penerimaannya yang penuh dengan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Kenangan di kota Beni akan tetap menghiasi cerita hidup kami yang pernah bertugas di D.R. Congo.

Tidak terasa lima bulan ke depan akan berakhir juga mandat kami di misi ini. Mudah-mudahan di sisa waktu yang ada kami bisa terus melakukan yang terbaik dalam bidang yang menjadi tanggung jawab kami. Kami bisa terus membawa nama baik Merah Putih yang setiap hari tersandang di lengan kiri kami.

Terlalu banyak manfaat yang didapat selama di misi ini untuk bisa dijelaskan satu persatunya. Kesemuanya itu selalu mengingatkan kami bahwa tanpaNYA tidak akan pernah ada cerita seperti di atas.

Ratih Pusparini Major Ratih Pusparini is serving in Indonesian Air Force since 1995. Presently she is posted as G3 Ops Desk Officer MONUC HQ, Kinshasa, DRC for one year as a part of her mandate in UN Mission in DRC ....

Detail Profile »

4  Comments

by erfan ahmad at 23 September 2008, 15:51

saya setuju bu Ratih…sepintar & sejago apapun kita kalau secara emotional tdk mampu beradaptasi dgn lingkungan kerja nggak ada apa apanya akan bengong sendiri.
Mas Luigy … achirnya bu Ratih menulis juga yaaa eeehhh saya kenal beliau di Indo House ( galak lho mas eeehhh,tapiiii baik )
selamat berkarya terus Bu Ratih , salam EA

by Luigi Pralangga at 23 September 2008, 17:03

Memang sebuah cakrawala baru! – D.R. Congo, mendengar namanya saja sudah ‘angker’ duluan.. semoga lancar dalam bertugas dan tetep menjadi yang paling ayu diantara semua yang ayu-ayu dari negara lain itu.

Ayo maju terus Srikandi Indonesia! :D

by Harriansyah at 28 September 2008, 08:57

Upacaranya pasti jauh lebih berkesan di daerah misi. Selamat bertugas

by guslin at 9 June 2010, 15:43

saya hanya ingin bertanya selama di Bunia apakah tinggal di Indo Coy Camp atau di rumah penduduk…? ( 2006 saya tinggal di rumah penddk yg disewa). kedua masya Allah selama di Kinshasa naik turun tangga dunk….lt 9 lo mana bau pesing lagi kan lewat parkiran kan?
tapi kan udah selesai tugas kan alhamdullillah…
saya alumnus XX-5 Monuc 2005-2006. my team site was in Kikwit, Tshela and Bunia
terima kasih Garuda !!

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Surya Aslim Surya Aslim has been working in the development field since April 2004. The Aceh Tsunami brought major change to his career. Within a fortnight, he was involved in the Tsunami humanitarian response operation at that time with British NGO Islamic...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago