“Gimana rasanya?” – tanya Bli Putu Angga Suardika
“Enak.. enak sekali!, Bumbunya pas.. wah, Bli Putu ternyata jagoan sekali nih meracik bumbu ayam bakar..” – Jawab Mas Adhi Waskita. Lalu kemudian si kampret ini datang mendekat dan mencoba ikut mencicipi si ayam bakar itu – karena sedari jam 8pagi, ia melewatkan sarapan pagi untuk bisa memulai masak bersama keperluan makan siang ini.
Begitulah secuplik percakapan singkat, dibawah hawa panas “Dapur Nusantara”, yaitu sebuah bedeng beratapkan lembaran seng, persisnya jam 10 pagi pada 17 Agustus 2004. Ada 3 orang expat Indonesia yang sedang sibuk memasak, yaitu Let.Kol Putu Angga Suardika, Mayor Adhi Waskita dan si kampret ini. Benak ini waktu itu berangan-angan bahwa kita sedang melakukan demo memasak didepan kamera/siaran televisi, pada siaran langsung dari Monrovia – Liberia. Namun apa daya, pemirsa kita waktu itu adalah 2 orang Liberia, mereka adalah asisten bebersih rumah.. saya lupa nama mereka siapa saja. Sebutlah dia si Jim dan John.

Indonesian Expats: Pakar kuliner jadi-jadian!
Sebagai warga Indonesia dan sekaligus juga duta bangsa, bertepatan acara perayaan HUT Proklamasi waktu itu, kita bertiga memutuskan untuk mengadakan acara syukuran HUT Proklamasi dengan mengundang kerabat staff mission dari unit kantor masing-masing. Menu masakan waktu itu adalah ayam bakar, sate kambing dan lalapan segar dari ragam sayur-sayuran yang tersedia di supermarket lokal di Monrovia, Nasi, kerupuk, sayur asem jadi-jadian, mie goreng, dan tidak lupa beraneka sambal. Dari sambal botol Abese, hingga sambal ulek dari cabe rawit segar Liberia yang pedasnya persis menelan bara.
Seru memang, acara masak-memasak kita jauh berbeda dengan sajian program demo masak di televisi itu, dimana keringat memang mengucur deras, selain si dapur itu berada diseberang teras terpisah dari rumah, bukanlah kompor gas atau jenis kompor listrik yang kita gunakan, melainkan tungku dengan bara-arang sembari sibuk mengipasi agar panas arang itu tetap konstan. Sesekali si potongan ayam panggang atau penggorengan itu harus diturunkan jauh dari api karena sudah terlalu panas dan tidak sedikit ayam yang terbakar gosong persis sama dengan arang itu.. pasti memalukan rasanya kalau tersaji sebagai hidangan dan terlihat oleh tamu undangan, maka bertambahlah jatah makan si bleki jadinya.
Si kampret ini sudah lama tidak menjadi anggota pramuka yang terkenal pandai membuat api, dan setelah jadi bara, tidaklah piawai mengendalikan panas-nya, walhasil banyak jeda-rehat menunggu agar si minyak saat menggoreng kerupuk tidak terlalu panas. Ya, kita disini memasak dengan arang, sodara-sodara! Sasng juragan kontrakan yang menyewakan rumah tinggal waktu itu tidak menyediakan kompor gas, hanya rumah kosong saja berikut gembok dan kunci pagar. Itu saja. Sementara kita semua kerja sampai larut, mengandalkan hidangan santap malam yang dimasak-kan oleh si John dan Jim itu yang notabene mereka masak dengan tungku arang.

Memasak, berkeringat dan berbau asap: Khasiat tungku arang!
Situasi darurat seperti bekerja pada misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia, pada tahun pertama, adalah saat yang terberat, karena kondisi di lapangan masih sangat minim dari sisi ketersediaan perabot rumah tangga, seperti kompor dan lain sebagainya, belum lagi rumah-rumah makan umum yang cukup memenuhi standar higenis nyaris tidak ada, kecuali kalau mau resiko terkena diare jajan masakan setempat sembarangan. Walhasil, setiap individu yang bekerja di daerah pasca konflik idealnya harus mau dan harus bisa memasak sendiri, suka atau tidak, rasa ditanggung sendiri.. nah dari situlah masing-masing dari kita beranjak dari sekedar mahir memasak telur rebus, sampai terus ke nasi kukus dan masakan lauk-pauk lainya. Jika tidak, uang tunjangan harian itu bisa ludes sebelum akhir bulan jika harus makan pagi, siang, dan malam di hotel, dimana rasanyapun masih lebih enak masakan si bibi dikampung halaman.
Balik ke cerita santap siang HUT proklamasi 5 tahun lalu itu.. jerih payah sejak jam 9pagi, mulai dari mengiris bawang, menggoreng kerupuk, memanggang ayam dan sate akhirnya rampung.. para tamu pun sudah mulai berdatangan.
Rombongan lapar kemudian tiba, dimana lahan pekarangan rumah Indonesia mulai dipenuhi dengan kendaraan yang masuk parkir.

Sambutan kata kemudian tercetus disusul dengan menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya.. dimana rekan-rekan dari negara lain itu hening menyimak sementara si kampret ini mendapati banyak pasang mata yang kerap melirik hidangan di meja itu.

15 menit sejak dipersilahkan bersantap, terdengar diantrian paling depan:
“Ooh, this is sooo good – you better teach me how to cook this… hm,,, nyam..nyam..” celoteh seorang wanita muda asal Inggris itu dikala ia menikmati gigitan pertama sate kambing itu.

Sate Kambing: Saya habis 5 tusuk!
“It’s too spicy for me,.. but I kind of like it…” sembari mengamati potongnan ayam bakar bumbu saus bali, seorang perwira militer Bulgaria kolega dari Bli Putu Angga.. dan banyak lagi pujian atas sedapnya hidangan yang tersaji itu, sampai hampir tiada yang tersisa kecuali sambal ulek itu.

Tetamu ayu: Enak tapi pedas sekali..

Sudah kenyang pulang, namun sebelumnya foto2 dulu, dong!
Selain dari memang bumbu khas masakan nusantara kita adalah kunci ampuh menciptakan hidangan menjadi lezat, situasi lapangan-lah yang menjadikan kita kemudian fasih meramu dan menjadikan masakan sebagai citarasa berbuah pujian itu. Meski banyak ayam panggang dan sate yang gosong itu – tidak ada makanan yang terbuang. Dan harus diakui bahwa sebelum si kampret ini mulai pergi merantau sejak di New York, ia sama sekali jarang berurusan dengan perkakas dapur kecuali saat mendapat giliran mencuci piring. Sisanya selalu mengandalkan si bibi: “Bi, pengen nasi goreng.. bi, pengen sayur sop” dan bi… ini.. bi… itu!
Sebelum terjun pada penugasan field mission, si kampret ini tinggal dan bekerja di New York, dimana pada tahun 2000 hingga 2003, pada setiap musim panas-nya menjadi tenaga relawan pada sebuah kampus musim panas, dimana sekitar 80 anak remaja mengikuti summer camp, atau kemah musim panas. Selain membantu kelancaran program kemah musim panas tersebut, semenjak ia mencoba memperkenalkan masakan Indonesia kepada rekan staff program itu, maka direkomendasikan untuk menjadi koki khusus pada akhir pekan dimana acara hidangan internasional diperkenalkan. Tidak sedikit anak-anak remaja itu berebut untuk menjadi asisten, satu mereka bisa sering mencicip meski si masakan masih terbilang setengah matang, selalu mereka berceloteh: “This is good…already..”
Selain dibantu bumbu instan itu, kecap manis adalah salah satu rahasia-nya.

Kecap Manis: Rahasia kuliner si kampret ini
Maka tidaklah mengherankan kalau lepas acara santap malam itu, tidak sedikit mereka yang mendekap dan berkata: “Besok kamu masak ini lagi ya?”

Memasak hidangan untuk 80 orang itu amat melelahkan, dari jam 10 pagi sampai 4 sore, kaki ini kesemutan sekali dibuatnya dan belum lagi berat perkakas penggorengan itu yang besar dan lebarnya mirip antena parabola! – Mampus deh!.
Ini dia tim dapur yang rajin sekali mencicip makanan sebelum dihidangkan, meski demikian kita waktu itu masih punya banyak masakan tersedia buat semua orang;


Satu hal yang membuat si kampret ini cukup tersanjung adalah, saat salah satu tamu summer camp datang menemui, setelah mengatakan bahwa dia menikmati rendang dan perkedel jagung yang dihidangkan pada acara makan siang itu, diakhir obrolan-nya (entah dia bercanda atau mungkin rada serius) berkata: “.. You are a good cook,.. Oh, I love that fried-corn-dough… will you marry me?” – gubrak!.
Tahun berganti dan semenjak awal 2003, si kampret mulai bertugas di Baghdad, Iraq lalu pada April 2004 mendarat di Liberia, memasak sudah menjadi ritual yang beranjak dari sekedar memasak makanan untuk kebutuhan pemenuhan energi, kini sudah sampai pada taraf jurus diplomasi handal dan cara ampuh menebar pesona dikalangan para mbule-mbule itu.
Tapi, bun.. buat saya, kamu adalah juru masak terhebat di dunia, sumpah!
seru banget kang……
berarti kalo mau gabung minimal bisa masak yah.. hihi.. biar ada variasi dalam makanan :)
semangat kang, masak dan promosi masakan indonesia di sana… hehhe..
Dear Luigi,
Happy New Year. Thank you for your email, it is nice of you remembering me and sharing the pictures with me ofyour earlier days in UNMIL.
Wish you can join me here in UNAKRT, Cambodia.
Best regards,
Viboon Vongsantivanich
Travel Unit
UNAKRT
Tel.: +855 23219814 ext. 6278
Tel.: +855 (0)12488536
uuuhhhhhhhhh…. klepek2 mbaca kalimat terakhir
eh..eh… itu bukan buat saya ya?hihihi..
Wah, lama gak baca tulisan mas Luigi n ternyata tetep masih segar meskipun kejadiannya dah lama.
Btw di Indonesia sekarang tu la
gi ngetren Nasi Goreng Gila n berbagai penyetan mungkin bisa dicoba buat buka cabang di Liberia hehe
Dear Mas Luigi,
Syukurlah gak lagi ada di Palestine….parah banget ya di sana, kesian saudara-saudara kita.
Baca tentang ‘Dapur Nusantara’-nya, I wish I could deliver to you a big bowl of hot & spicy Coto Makassar plus ‘Ketupat’ (ketupat inggrisnya apa ya?….), or Grilled Konro with the dessert a plate of ‘oh my God’ Es Pisang Ijo from here….but it seems like it’s a mission impossible Part III Bro, sorry !
Tapi siapa tau Allah berbaik hati trus pas balik berkesempatan ke Makassar, just keeping my words to be the best guide :-)
Thanx 4 the story to share, Success always ya….
Rgrd,
Yessie
wew, sepertinya benar-benar menyenangkan… harus ada masak-masaknya ya? tambah menyenangkan… _
-Jogja_
Kecap manis andalan itu merk apa?
Bukan dr Indonesia deh kaya’nya …. botolnya gak lazim :p
tulisan baru tapi lama tapi tetep sip mak rusip – kutipan dari pak bondan – kalo tak salah
ternyata gak kalah sm pak Bondan winarno yah mas……good ….
GBU for you n family, jaga kesehatan dan jaga keimanan selama jauh dr keluarga….
Dear Luigi,
‘Makasih sekali ya udh share cerita ini…
Jd sadar juga loh ternyata perjuangan hidup sebagai Peace Keeper yg sering jauh dari keluarga bukan hanya stay survive saat ditempatkan di daerah/negara berkonflik yang rawan, dan lain lain, tapi juga harus berjuang sampai hal2 kecil yg jarang kita pikirkan.
Seperti perjuangan gimana caranya bikin masakan2 itu dgn bahan2 yg sering tdk komplit dan sarana yg sangat minim..:))
(Pdhal kalau di Indonesia sih bisa tinggal beli atau seperti yg Lui bilang, tinggal minta bikinin saja sama si bibi..:D)
Tapi kalau bukan karna hal2 ini kemungkinan masih si bibi dan si Bunda saja ya yang pinter masak..? :)
So..kapan nih kita2 mau dimasakin..? haha..
Waooow …. nggak cuman otaknya yang encer dari si juragan ini …. tangannya juga encer buat perut bikin keroncongan … he he he emang buener tuh … berat kita para peacekeeper Indonesia yg di Liberia pasti nambah setiap ada cuti ke Monrovia .. karena di manjain makanan terus sama si juragan warung nasgor Liberia ini .. ha ha ha …
<i>…dimana keringat memang mengucur deras, …</i>
kayaknya ini salah satu rahasianya deh … selain kecap itu
anywey, kadang emang gitu Kang, klo kepepet mah ide2 brilian suka muncul dengan indahnya :)
dan ttg makanan, saya jadi inget ketika bawa bule di sodorin <i>ulukutek leunca </i> (urang Garut mah hafal deh )
dan ketika sudah makan … komentarnya gitu .. this is nice .. guud Gitu katanya :))
kang ..piraku eta resep masakan Sunda saparakanca kamarana atuh heunteu di promosikeun?? balakutak , ulukuteuk leunca, pepes peda, gurame ,sambel goang serta hidangan penutup combro, es krim goyobod kombinasi sirup campolay and peuyeum-puan..geuning kan asyik :)
Halah, eta kompor mani super tradisional kitu..
Tapi hebat euy, dah bisa buka resto sunda meureun di Monrovia nya? _
wahhhh jadi pengen ke liberia icip2 makanan…ternyata duta2 bangsa kita tidak cuman encer di otak tapi juga hebat di dapur…aku dah ngerasain 2 kali di masakin ma mas2 pasukan garuda kita yg di Bunia, Congo RDC..terus ma mas2 yang di Indonesian house Kinshasa hebat euiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii masakannya….aku aja kalah hehehe…gimana kalo kita buka warung aja ya utk memperkenalkan makanan Indonesia..ayo mas-mas tetap semangat…
wahh slurp.. sate kambingnya.. sop kambingnya ga sekalian kang ?