About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 20 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 275 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 6.7/10(3 votes cast)

Articles

My friend is already on board.. [inside the cargo bay]

Bekerja di daerah pasca-konflik seperti misi pemulihan perdamaian di Liberia, dan lokasi lain-nya, mission hardships/hazardous elements selain dari ancaman keamanan bagi para personil peacekeepers, ancaman dari serangan penyakit dan ancaman kesehatan lainnya adalah faktor mortalitas yang menghantui semua personil.

Pagi itu, hari minggu, saya lupa persisnya tanggal berapa. Yang jelas adalah hari minggu pagi, hari dimana apabila si kampret ini berada di Bandara Internasional Roberts pada hari minggu pagi, biasanya hati sudah berbunga riang gembira. Mengapa? Karena dia tahu bahwa dalam hitungan kurang dari 2 jam sudah akan meninggalkan Liberia, biasanya untuk cuti mudik atau pelesir berlibur entah kemana selama seminggu atau lebih.

Namun pagi itu suasana-nya cukup berbeda, terlepas dari memang wajah-wajah kampret lainya (maksudnya calon penumpang lain-nya) terlihat biasa-biasa saja, namun suasana udara dan iklim yang dirasa hati ini kok seperti ada yang aneh. I had a funny feeling about this morning – begitulah ujar hati ini..

Lepas kelar check-in dan proses timbang bagasi, cap paspor keberangkatan di meja petugas imigrasi tidak jauh dari mesin baggage scanner, kemudian bergegas ke halaman terminal dimana pemandangan bandar udara internasional Roberts menjulang terbuka, pepohonan dari hutan karet disekitarnya menyelimuti hijau memadukan manis deretan helicopter UNMIL dari kontingen aviasi Ukraina, beberapa pesawat UN agencies lainya, serta pesawat langganan para staff UNMIL, si Boeing B727-200 dengan megahnya parkir tidak jauh dari pelataran terminal dimana si Kampret ini berdiri.

Sembari mengabadikan dalam jepretan foto, si burung besi B727-200 ini, terlihat disana seorang peacekeeper, berdiri termenung dengan wajah muram. Dalam hati ini, wajah cemberut yang persis sama dengan kain pel butek menempel jelas terlihat pada wajahnya. Berjalan mendekati sembari mengabadikan sisi ekor pesawat, si Kampret ini mau tidak mau mesti Melintas melewatinya. Melambaikan senyum sapa, ia hanya membalas dengan sedikit anggukan tanpa bergaris sedikitpun senyum itu nampak di wajahnya.

Dilihat dari seragam dan badgesnya, si Kampret ini mengenali bahwa sang peacekeeper itu berasal dari Opsir Polisi UNMIL dari kontingen Nigeria. Ia berdiri persis di sisi sudut pengambilan yang cukup menghalangi, dimana saat itu terpaksalah si kampret ini bersaha menyapanya agar ia mau nggeserkan sedikit posisi berdirinya agar jepretan ini bisa diambil, seraya berkata:

I bet you really wanted to be home as soon as possible.. sahut diri ini, dengan senyum.

Yes.. begitulah jawabnya dengan nada amat dingin-datar-tanpa-rasa.
Alih-alih kok diri ini waktu itu malah muncul pertanyaan berikutnya, dimana mungkin benak itu merasa tidak terima kok sapaan akrab tersebut merasa dijawab tidak sepadan.

_Well, then go ahead proceed on board.. the plane is waiting, you could get the best row of seat before everyone else.. _ ucapan itu terlontar dengan harap bisa membuatnya sedikit tersenyum.

That’s OK, my friend is already on board.. I am going to wait here till they close the bay. Begitulah jawabnya kalem dengan tanpa senyum sedikitpun.

Kalimat pertama memang kedua telinga ini masih jelas menangkap apa yang dimaksudnya, kalau kawan-nya sudah berada di atau masuk dalam pesawat.

Tanpa ba-bi-bu, benak ini pun kemudian mengijinkan untuk berucap selanjutnya:

Ouw, your friend must be a VIP, then..

I guess you are right, he is already inside the cargo bay..

_What do you mean by “Cargo Bay”?? _

Istilah itu benar-benar mengusik rasio ini, masak sih VIP kok masuk atau duduk di ruang cargo pesawat.

Pertanyaan itu ternyata membuatnya butuh hampir satu menit jeda untuk menjawab, diantara momen itu, terlihat kedua bola-matanya seperti berputar melihat langit, persis seperti upaya sesorang menahan genangan air mata yang mulai terasa berat dan siap berlinang. Melihat itu, si Kampret ini mulai agak merasa nggak enak dengan pertanyaan yang sudah dilontarkan, apakah pertanyaan tersebut dirasa kurang pantaskah?

_He is inside a coffin, and the ground handling guys just finished loading him on board, securing the position firmly before any of you guys’ luggage will be loaded next.
_
Bibir ini hanya bisa setengah terbuka, diturunkannya-lah kedua tangan ini dari posisi sigap menjepret foto berikutnya, bercampur antara malu karena bertanya terlalu banyak, sedih dan terkejut bahwa penerbangan pagi itu adalah juga penerbangan mengantar jenazah, salah satu rekan seperjuangan yang gugur dalam tugas. Sebenernya kalau boleh jujur, pada saat itu juga, si Kampret ini membayangkan dibenak ini sembari tatapan kedua mata ini tertuju pada flap-pintu cargo si B727-200 yang masih terbuka itu sambil berkata dalam hati:

Bagaimana apabila saya yang berada dalam peti jenazah dan ditaruh di ruang cargo itu?

Wah berjuta anggapan dan pikiranpun melayang akan bagaimana selanjutnya yang terjadi, bagaimana-kapan-dan-siapa yang mengantarkan jenazah ini ke tanah air, siapa yang akan memberitahukan sanak-famili?

Tidak kuat dengan pikiran-pikiran seperti itu, diri ini saat itu hanya menarik nafas panjang, seraya melafazkan asma Alloh dan berkata balik pada si kawan:

_My friend, I am terribly sorry to hear the news and feel your great deal of loss, allow me to express my condolence.
_

Kujabat kuat tangan kanan-nya, kemudian entah kenapa, apakah itu adalah refleks pribadi, kupeluk si kawan ini erat dengan satu tangan, karena tangan satu lagi masih sibuk nyekeli kamera supaya nggak jatuh.

Sebutlah si kawan ini namanya: Adeeko Oraneko-neko, Opsir polisi Nigeria berpangkat Major, masuk bertugas ke Liberia dalam naungan UNMIL hampir rampung setahun lamanya dan bulan depan sedianyalah ia mencapai purna-tugas, begitu pula “si kawan” seperjuangan-nya yang berada di ruang cargo itu. Mereka berada dalam jadwal deployment yang sama.

*I don’t know how to tell the family back home as I am escorting the remains home.. *
Sekilas obrol-obrol itu, si Mas Oraneko-neko ini kemudian bercerita bahwa “si kawan” ini gugur karena serangan Malaria ganas saat menjalankan tugas di salah satu pedalaman Liberia, dimana menurut ceritanya – ia terlambat untuk bisa ditolong lagi. Pada saat mencapai klinik, stadium serangan malaria itu sudah parah dan menyerang sel-sel otak, begitulah ujarnya. Selain itu, lokasi pos pengamatan sang almarhum itu bertugas berada cukup jauh dari markas battalion UNMIL terdekat. Mungkin ada yang belum tahu kalau malaria yang menyerang dan beredar di Liberia adalah jenis varian yang paling ganas, kedua setelah jenis malaria di Democratic Republic of Congo (DR Congo). Meski memang malaria ini jenis penyakit yang bisa disembuhkan/diobati, namun bila penanganan-nya terlambat bisa fatal.

Selain menjaga kesehatan dengan berolahraga, menerapkan pola makan yang sehat, menjaga tubuh agar tidak terkena malaria adalah wajib. Untuk Mas Sulung Purwoko dan Mbak Imelda Tjahja di Malakal, Sudan.. melihat foto-foto medan di Malakal, saya sudah kebayang seperti apa rentan-nya para staff dari serangan nyamuk malaria di Sudan sana.

Buat Mas Sigit Saksono di MONUC, misi peacekeeping PBB di DR Congo, serta kawan-kawan Milobs lainya yang bertugas di berbagai medan, saya doakan agar senantiasa sehat dan bisa menjaga diri, serta berhasil mengemban tugas misi dan kembali ke tanah air tanpa kurang sesuatu apapun.

Bekerja di daerah pasca-konflik seperti misi pemulihan perdamaian di Liberia, dan lokasi lain-nya, mission hardships/hazardous elements selain dari ancaman keamanan bagi para personil peacekeepers, ancaman dari serangan penyakit dan ancaman kesehatan lainnya adalah faktor mortalitas yang menghantui semua personil.

Gugur dalam tugas, disukai atau tidak bisa jadi adalah sebuah suratan takdir. Terlepas dari itu semua, perlu kita sadari kalau rejeki, jodoh dan umur adalah rahasia Illahi, senantiasalah kita semua mempersungguh ibadahnya agar bisa terlindung dari mara bahaya dan penyakit. Amin.

Who says being a peacekeeper is easy?

Anyone care to share of your emergency-critical-life-threatening-event experienced while on duty?

And how did you guys overcome them? Your responses may be very useful for us to learn in dealing with difficult times.

I await your experience-sharing, until then take a good care of yourself and each other.

by Didut at 20 November 2007, 20:41

My mother passed away when I was in Japan on 2004, it’s the hardest moment on my life even until now.
Sharing with friends made me stronger to life there.
Friends indeed gave us more power against difficulties.

by Juanita Christina at 20 November 2007, 20:57

Dasyatnya Malaria… bisa merenggut nyawa…

Tips utk kawan2 di lapangan:

1. kalo tugas harus ngecek dulu apakah daerah tugas anda rentan terhadap malaria. Kalo di MSF ada 2 obat yg disarankan utk diminum, Kalo emang cocok dng Malaron maka hrs diminum 2 mgg sblm keberangkatan dan obat ini hrs diminum setiap hari.
nah Obat yg kedua Akyu lupa namanya, tp obat ini cukup diminum seminggu sekali. namun berdsrkan testimoni kawan2 yg mnm obat ini, ternyt obat ini bs memberikan halusinasi tinggi. jd saya sarankan utk kawan yg br pertama kali tugas ke afrika, jng mnm obat ini, krn akan tambah stress ;).. tp kalo cocok ya ndak apa2..

2. Jng lp selalu tidur dng mosquito net, tp hrs pake mosquito net yg udah ditreatment! dan kalo ada bolong dikit aja jng dipake!

3. Pastikan ada paracheck = utk mengetest apakah anda positif malaria atw tidak, dan kudu hrs ada obat malaria.

Ini hny tips dr saya yg plg sering ke daerah afrika yg rentan malaria, saya sendiri sering ‘ignore’ dng hal2 yg diatas, tp bersama tmn2 yg lain kita saling mengingatkan.

Bahaya laten bossss…. ;)

Liberia memang sgt rentan dng malaria…. puji Tuhan selama saya disana tdk terjangkit penyakit ini..

Mas luigi, masih betah di liberia nih… he..he..

Tersenyum,
C

by kus at 21 November 2007, 08:12

gak kebanyang deh Afrika….

jadi takut, untung gak ikut misi ke Aljazair …. 18 bulan .. waaa.

Saya turut berduka cita.

by Bardan Dalimunthe at 21 November 2007, 14:13

Dear Luigi Pralangga,

It’s really nice for me when you share to us (in Indonesia) how difficult lives in there. Unfortunately, I don’t have anything to share with you how to overcome emergency-critical-life-threatening-event since I don’t have experience with it.

Saya hanya bisa share bahwa kita, mau tidak mau, serahkan hidup kita pada Allah (agama). Tentunya setelah kita berusaha menghindar/mengatasi dari situasi tersebut semampu kita. Ya kan, pak Luigi?

Thanks for sharing,

Salam,
Bardan Dalimunthe
ex-finance/adm UNWFP Nias FO

by Yohan Kurniawan at 21 November 2007, 14:27

Wah kata2 yang terakhir yg sebenarnya membuat saya bikin komentar ini. Jujur saja, kondisi saya sekarang ini mungkin bisa dibilang enak, dari segi lingkungan dan suasana kerja.

Saya kerja di salah satu perusahaan LG Group yaitu LG Innotek yang memproduksi Tuner TV, hanya tuner TV.

Posisi saya adalah sebagai Internal Trainer untuk bidang motivasi, mind-set dan 5S/R. Ruangan saya pun sangat berbeda dengan karyawan lain, di ruangan saya , selain tertutup (ini satu2nya ruangan kerja yg tertutup di LG Innotek, selain ruang meeting dan ruang presdir), ada kulkas, kasur, kamar mandi dan internet (hanya 60% karyawan staff yg dapat internet).

Namun tetap saja masih ada ganjalan bagi saya untuk bisa tetep terus disini. Salah satunya adalah kesempatan untuk bekerja di LN, yang tidak mungkin saya dapatkan bila selamanya saya disini.

Akhir2 ini saya sedang mengincar perush shipping company MAERSK, yang sepengetahuan saya rajanya dalam bidang logistic, yang merupakan posisi yg byk sekali dibutuhkan oleh LSM2 di LN

Selain ingin belajar lsg dari “biang“nya, saya juga berencana menjadi Trainer di bidang SCM nantinya. Yg pasti itu membutuhkan extra pikiran dan tenaga yg tidak sedikit.

Menurut Kang Lui gimana nih? sebagai profesional di UN , saya yakin mas Lui memahami kondisi saya ini, dan kira2 sebaiknya saya harus mengambil langkah apa?

Segitu aja ya, mohon pencerahannya…

AJKH

Yohan Kurniawan

NB : AJKH udah jadi inspirasi yang baik buat saya dalam hal berkarir, jujur cerita2 Kang Lui sangat saya butuhkan dalam memberikan gambaran seperti apa sebenarnya bekerja di LN apalgi di negara2 konflik.

Mungkin kalo ditanya apa motivasi saya : ada 2 : 1.Ingin menjadi bagian dari dunia dalam membantu sodara kita yg terkena musibah 2. Ingin memberikan yang terbaik untuk ORTU dan keluarga saya (nantinya , karena saya masih joko tingting (baca tingak-tinguk)

by NoFi at 21 November 2007, 15:03

Turut berduka cita ya kang….du no what to say…tp mungkin inilah resiko dari sebuah pilihan…untuk memberikan yg terbaik…ternyata tetep ada perjuangan dan pengorbanan…terus pinter2 jaga diri di negeri orang…apalagi yg suasana nya gak kondusif…mungkin lebih baik juga cari2 info obat tradisional di wilayah setempat…buat jaga2….sory, gak tau musti komen apa lagi nih….yg kuat ya kang…..di negeri orang…:) n keep smile…

by hERNa at 21 November 2007, 16:46

Aduhh, bikin trenyuh deh ngeliat ekspresinya Mas Adeeko Oraneko-neko… Saya bisa merasakan kehilangan seorang sahabat, karena di lingkungan kerja yang sekarang, saya sudah mengalami “kehilangan” 2 kali…

Satu di antaranya, betapa ketika jasadnya dibawa ke tanah kelahiran [di Ambon] nun jauh di sana dengan cargo juga, saya berpikir, bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkannya…

Merantau ke Surabaya sejak lama yang tentunya tidak setiap saat bisa bertemu dengan keluarga, menjadi tulang punggung dan sandaran keluarga, tapi begitu pulang hanya tinggal jasadnya untuk dikuburkan… Saya jadi teringat kejadian 2 tahun silam itu…

Mungkin juga perasaan Om Luigi juga seperti itu…

by Kobal at 22 November 2007, 04:32

Wah trenyuh juga melihat hal seperti ini. Memang kondisi di sana seperti kondisi kita di daerah daerah dimana malaria adalah musuh utama yang tidak hanya menyerang masyarakat saja tetapi juga kalangan medis disana semoga Anda memperoleh kesuksesan dan rahmat Allah senantiasa tercurah pada anda dan teman-teman disana. Salam dari Surabaya

by Maorit Sepmarama at 22 November 2007, 15:51

My Condolence for all the Peacekeeper out there
The hardest task in this ever un-peaceful earth is peacekeeping
Aku juga pernah nganter temanku yang meninggal di Belanda sebelum menyelesaikan studinya umurnya masih 18 dan dia meninggal karena kanker hati. Ironis memang, meninggal karena kanker di negara dimana artis2 indonesia berobat dan sembuh dari kankernya but again, Netherland is the only country that allow euthanasia in its medical practice

nggak sempet sedih, soalnya jadi ribet ngurusin pemakaman, memandikan jenasah sesuai islam, mengatur kedatangan kelaurga, sampai pada mengurus kargo-nya….dan sebulan kemudian garuda indonesia kembali mengangkut kargo berisi jenasah, namun kali ini lebih santer diberitakan, karena berisikan aktivis HAM indonesia yang meninggal diracun; munir

by uncu syahrial at 22 November 2007, 20:59

Malaria? kayaknya di indonesia epidemi penyakit itu sudah lama berlalu. Jaman dulu kalimantan termasuk salah satu daerah yang paling ditakuti dengan malaria ini bahkan, sampais ekarang pada daerah tertentu di kalimantan masih ada penyakit ini. salah satunya di pulau temajo, menurut abangku yang telah pernah kesana, bila kita ke pulau temajo mesti persiapan pil kina buat menangkal penyakit malaria dan mesti berjaga jaga dengan situsi disana. Apakah nyamuk di afrika seganas kalimnatan juga bahkan lebih? wallahualam. aku nggak begitu mengerti tapi yang pasti bagi diriku setiap kita ke suatu tempat kita mesti tahu kondisi di sana, jangan kan di daerah konflik ataupun daerah yang jauh dr daerah kita. ke daerah tetangga aja kita mesti persiapkan hal-hal mengenai kesehatan, baik itu obat ataupn “ penangkal” untuk menghindari yang tidka diinginkan. Seperti sekarang ini, aku ke yogya untuk sekolah lagi, dari kalimnatan aku bawa obat-obat yang menurut aku mungkin agak susah aku temui nantinya di sini. meski masih di indonesia, kata sherina dalam filmnya “petualangan sherina” tidak ada salahnya tokh untuk menjaga segala kemugkinan yang akan terjadi. setidaknya kita telah mengantisipasi. Takdir itu bisa dikatakan demikian jika kita telah melakukan segala hal untuk mengantisipasinya. Jika kita telah berusaha hanya kekuatan doa yang yang kita tunggu lagi. apapun yang terjadi nantinya barulah itu yang dinamakan takdir….selamat bertugas kang….doa dan mawas diri !!

by uncu syahrial at 22 November 2007, 21:14

kang.. namanya asli gak sih. aku kira itu namanya emang nama org afrika ya yaitu adeeko oraneko-neko. Aku sempat kepikir juga apa namanya mirip bahasa jawa secara aku emang stay di jawa jadi sering banget dengar bahasa ini :)

by Zirhoni Nazir at 23 November 2007, 15:00

Hi Luigi,

I found your blog is very cool and very informative with a creative touch. Two thumbs up!

Do you have military background before? I have a friend working with UN also and it’s nice to hear his stories about nations in the world because he travels a lot using UN diplomatic passport, not ordinary Indonesian one.

About me, I am working in a shipyard in Batam Island. Where do you stay in Jakarta?

Warmest regards,
Zirhoni

by Donasion at 23 November 2007, 16:21

Mas Luigi, aku sangat terenyuh membaca tulisannya. Malaria memakan korban lagi. Waktu aku di Aceh, teman sekantor ku juga meninggal karena malaria. Waktu itu yang diserangnya otak korban. Memang riskan bekerja di daerah endemic malaria. Syukur waktu aku mau berangkat ke Liberia dulu,,, udah Mas ingat kan,,, sehingga aku membawa mosquioto net dari tanah air.
Eh ngomong ngomong nama kawan dari Nigeria itu adalah ORANEKO-NEKO ( Bearti dia gak pernah neko neko semasa hidupnya ya Mas????.
Wassalam
Donasion
Harper-Liberia.

by dodi at 24 November 2007, 22:40

cerita yg menyentuh..

Pak Oraneko-neko, kawan anda pulang dengan cara yang terhormat!
hormat senjata

by Yulia Widiati at 25 November 2007, 04:34

Sangat menyentuh. Saya pernah 3 kali terbang “bareng” coffin dan 2 kali bareng “pasien kritis yang mau dirujuk”. Kena malaria? Pernah juga. Benar sekali, kadang membuat saya“mempertanyakan” apa pilihan yang diambil benar atau tidak. But even if I can turn back the clock, definitely I will work in the field. Sudah ga sabar ingin kerja lagi. Ohya, how did people overcome them? You already did. Menulis :) Salam hangat dari anak tropis yang lagi kedinginan di negeri 4 musim :)

by Astri at 27 November 2007, 18:18

Hi Luigi,
I need to remind you that on the Eastern part of Indonesia and some of the Western part , malaria is still a life threatening disease. If we plan to visit those area, it’s strongly recommended to take some prophylactic doses of antimalarial drugs, always use insect repellent when working in the outside, and sleep with mosquito net.
Don’t forget about this threat back home :D

by ummil at 29 November 2007, 08:05

GiLaaa !!!!
merinding… sedih gw bacanya… ;(

by ET at 1 December 2007, 21:04

Gilingan… gak kebayang sedihnya keluarga menerima jasadnya, si Mas Oraneko-neko juga sedih pasti ya……. selama ini aku hanya berpikir ttg enaknya aja, ternyata bagian pahitnya juga ada yaaa…..

by ambar at 1 December 2007, 21:54

Syukur Alhamdulillah, selama di Liberia sampe saat ini blom pernah kena yg namanya demam apalagi malaria. Anyway, si boss ini saranin orang pake Mosquito net ….eh dia sendiri malah nggak pake ?? Dah sakti ya boss ? he he he … ;-))

by Lulu Flint at 3 December 2007, 23:43

Jadi ingat dulu jaman msh muda n msh tugas jd crew n dipesawat ada penumpang yg udh sekarat n ditaruh di strecher mau pulang kampung biar bs meninggal dikampung halamannya..(tp ended up mninggal dipesawat..)..
Plus bbrp kali tau pesawat kt bw coffin jg.
Ah.. bisa dibayangkan gmn sedihnya si bang Oraneko neko..(duh..! namanya…).

Buat semuanya, please take care ok..!