Correspondent Ossy DERMAWAN
Total 7 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 382 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Di tengah-tengah kesibukan kami dalam menjalankan tugas di Lebanon, pada tanggal 29 Juli 2007, kami semua merayakan hari ulang tahun Kapten Inf Yudha, Kasiops Satgas dan HUT Yon Mar 6 dengan acara makan malam yang cukup sederhana (Selamat ulang tahun kepada Kasiops dan Yon Marinir 6.red). Pada saat acara ramah tamah, kami pun disuguhi dengan film “Nagabonar Menjadi 2” yang diputar bak layar tancep ala kadarnya di Lebanon. Hal ini sangatlah menghibur dan dengan kondisi kami yang telah melaksanakan tugas selama 8 bulan, menyenangkan bisa melihat kembali kondisi Indonesia di dalam film tersebut walau pun tidak terekam secara lengkap.
Suasana yang hangat tergambarkan dari raut wajah seluruh personel yang hadir. Baik perwira, bintara maupun tamtama yang tidak melaksanakan dinas, ikut serta dalam acara makan malam tersebut. Komandan Satgas turut hadir dan meramaikan suasana sambil sesekali mengecek ke radio serta HPnya untuk selalu memonitor kegiatan patroli dari Indobatt. Dengan pakaian bebas rapih, sangat menyegarkan untuk melihat anggota Satgas tampil dengan pakaian sipil setelah setiap harinya selalu berkutat dengan pakaian dinas loreng yang menjadi pakaian kami sehari-hari. Kapten Cpm M. Rizal pada malam itu menggunakan kemeja hawaii berwarna biru dan tampak gagah pada malam itu. Kami pun sempat bersenda gurau dan menyatakan bahwa bang Rizal bukan mau mengikuti acara makan malam, akan tetapi mau malam mingguan (kebetulan malam itu adalah malam minggu).

Film ini sangatlah menarik bukan hanya karena bintang-bintang yang ada di film tersebut merupakan jaminan mutu tapi juga cerita serta skenario film tersebut sangat menggugah rasa nasionalisme kita. Teringat dalam adegan saat Nagabonar yang diperankan oleh Deddy Mizwar meminta-minta kepada patung Jenderal Soedirman untuk segera menurunkan tangannya dan tidak menghormat kepada semua orang yang lalu lalang di Jalan utama Jend. Sudirman tersebut. Nagabonar beralasan bahwa tidak semua orang yang lewat disini layak diberikan salam penghormatan. Maknanya akan menjadi semakin dalam bila kita melihat bahwa memang di dalam negara kita sudah terjadi degradasi nasionalisme yang cukup signifikan. Mungkin Nagabonar beranggapan bahwa banyak orang yang mengatasnamakan negara untuk kepentingannya sendiri atau kelompok sehingga tidak layak mendapatkan penghormatan dari seorang pahlawan besar seperti Jend. Soedirman.

Selain itu, terdapat pula adegan pada saat si Umar, sang supir bajaj yang memiliki ayah seorang pahlawan pejuang kemerdekaan namun hanya dimakamkan di pemakaman kampung biasa serta tidak memiliki pensiun yang layak untuk menghidupi keluarga. Betapa berdosanya kita sebagai generasi penerus yang sangat amat jarang menghargai jasa pahlawan bahkan cenderung menghancurkan idealisme yang telah ditanamkan. Bukankah bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya? Mungkin bagi sebagian kalangan akan menganggap pernyataan ini sebagai pernyataan klise yang tidak bermakna, tapi kalau kita mau berbesar hati, betapa sebenarnya kita sangat bersyukur telah diberikan kesempatan hidup di alam kemerdekaan seperti sekarang. Saya selalu teringat ucapan ibu saya yang menceritakan tentang perjalanan hidup kakek saya yang merupakan pejuang kemerdekaan tahun 1940an. Ibu saya berkata saat itu, beliau sekeluarga hanya makan nasi jagung pada saat penjajahan Jepang dan jarang keluar rumah karena rasa takut bertemu tentara Jepang yang terkenal sadis. Bukankah ini berarti bahwa memang alam kemerdekaan merupakan dambaan setiap orang?
Rasa nasionalisme yang semakin terkikis akan semakin menumpulkan kepedulian kita terhadap bangsa. Bangsa Indonesia akan semakin terpuruk sampai titik nadir terendah apabila kita tidak memulai untuk mengingat jasa pahlawan yang membawa kemerdekaan bagi kita. Percayalah bahwa banyak kalangan di berbagai negara di dunia ini yang tidak menginginkan kebesaran dan kejayaan negara kita. Ditilik dari nilai sejarah dan kesetiakawanan sosial, bangsa kita sangatlah terkenal tenggang rasa antara satu kelompok dengan kelompok lain dan hal inilah yang merupakan salah satu kekuatan kita dalam menghadapi tantangan. Namun hal ini telah pudar seiring zaman. Hal ini pula yang memicu penghambatan terhadap pembangunan negara kita yang dahulunya terbangun dari rasa persatuan dan kepercayaan antar agama, ras, golongan, suku, adat istiadat dan kelompok. Waspadalah dengan upaya memecah belah negara ini, karena kita terjajah selama 350 tahun oleh Belanda akibat politik seperti ini.
Sebentar lagi Indonesia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-62. Sudah sewajarnya sebagai bangsa yang sudah lama merdeka kita merindukan sebuah bangsa yang madani, tercukupi kesejahteraan moril maupun materiil serta persatuan yang kokoh. Hal ini akan tercipta bukan hanya dengan kerja keras Pemerintah sebagai pengatur jalannya manajemen negara. Namun seluruh komponen yang ada di dalamnya termasuk kita, merupakan orang-orang yang bertanggung jawab untuk menghantarkan kejayaan bangsa. Bukankah kita hanya hidup sekali? Merujuk pada kata-kata Aa Gym, marilah kita mulai dari diri sendiri dan jangan kita tunda lagi. Kita bisa menjadi pahlawan-pahlawan bangsa dengan atau tanpa senjata. Kita bisa menjadi pahlawan di berbagai bidang yang kita geluti sekarang ini dan jadilah pahlawan-pahlawan bagi diri sendiri. Hidup adalah perjuangan tanpa akhir dan perjuangan akan bernilai dan bermakna apabila dilaksanakan demi kebaikan banyak orang. Percayalah bahwa Indonesia akan dapat menjadi bangsa yang besar dan semua dimulai dari kita. Mulailah sekarang dan jangan kita tunda lagi!
Dear Ossy,
As lots of people say that improvement starts within. Saya percaya dengan bertambah banyaknya pribadi yang sadar dan senantiasa mawas akan situasi dan keinginan untuk berubah menuju perbaikan, bangsa Indonesia bisa berangsur-angsur berhasil membangun kapabilitas bangsa melalui para individunya.
Ossy, dan kita semua ini adalah ‘agent-of-change’ yang senantiasa terus membuat gelombang perbaikan kedalam tatanan grass-roots. keep making waves of positive change for betterment. I am seeing you as potential leading example. We can do it,.. and I know you are capable in doing so. :-)
hallo bapak yg sedang berada di Lebanon apa kabar? Melihat menu makanan nya jadi kangen Indonesia nih…… Selamat menjalankan tugas dan tetap semangat. Happy Birthday INDONESIA.
Salam hormat dr Canada
For all our soldier that have mission as peacekeeper at libanon , we’re proud of you ! … and hope get back soon to our country .. for Om Ossy , Bang Valian , Mas If…congratulation for all of your effort with this mission …and hope get back soon to Yonkav 7 ..He3..
Malu jika kita tidak bisa ikut-ikutan bilang dengan lantang, “APA KATA DUNIA…??” Iya nggak mas Ossy?
wah nasionalis sekali tulisan ini … karena yg nulis juga calon pahlawan :D. HOPE INDONESIA WILL BE EXACTLY FREEDOM :D
Kalau segala sesuatu yang ada disekitar kita selalu kita maknai sebagai pembelajaran, dan orang mau belajar dari itu akan timbul rasa intropeksi yang sangat dalam.karena yang utama bukan merubah dunia tetapi setiap individu harus merubah dirinya sendiri dan berbuat yang terbaik.Semoga media ini menjadi ajang tukar informasi dan menjadi tempat pembelajaran buat kita. thanks kang luigi sebagi inspirator dan kang viking serta yang lainnya dalam mewujudkan Website ini.
Film Nagabonar ini sedikit banyak memang turut menggugah rasa nasionalisme kita. Apalagi buat sepupu-sepupu saya yang udah ngga pernah lagi ngerasain gimana capeknya upacara bendera atau ngerasain gimana pusingnya menghafal pelajaran PSPB. Saya beruntung masih bisa sempat mendengarkan langsung cerita kakek saya yang juga pejuang, jadi tau benar gimana pergulatan hidup memperjuangkan kemerdekaan kita. Tapi gimana ya generasi sepupu-keponakan atau bahkan anak-anak kita? Semoga mereka tetap bisa menghormati jasa para pahlawan kita…
Buat semua peacekeepers dan para pasukan TNI yang sedang bertugas di sana, KAMI BANGGA..!! :-)