About This Post

Tri Ambar NUGROHO

Correspondent Tri Ambar NUGROHO

Total 6 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 118 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.7/10(3 votes cast)

Articles

Nama saya bukan habibi..!

Meski masih terbilang cukup lama berselang, saya masih ingat saat kedua kaki ini datang menginjakkan kaki di Liberia, banyak sudah yang telah saya pelajari dari ragam kehidupan disini. Dari karakter orang setempat, makanan-nya, para expatriates yang tinggal dan bekerja di Liberia, termasuk mereka yang tergabung sebagai staff misi dan yang tidak luput dari pengamatan kedua mata ini adalah: Juragan kos-kosan dan lagu-lagu Lebanese itu.

Mengapa yang terakhir disebut diatas menjadi dirasa cukup spesial? karena selain saya sudah pasti bertemu dengannya setiap akhir bulan, yaitu memberi uang sewa rumah kontrakan, yang sepertinya masih lebih mending/keren ruangan jaman masih pendidikan dasar di AKMIL dulu deh ketimbang kontrakan di Liberia ini… selain itu bertatap-muka untuk komplain saat listrik dikontrakan itu padam atau air pada keran kamar mandi atau dapur yang berhenti mengucur!
Nah itulah yang membuatnya menjadi spesial..

Ohya, satu lagi… musik arab, dengan ketepak-ketepuk rebana macam irama gambus atau qasidah-an, serta alunan penyanyi berbahasa arab yang melengking persis seperti orang meraung-raung sakit gigi – itu terdengar jelas hingga masuk ke kamar tidur ini. Kacau deh!

Rumah kontrakan kami, persis berada diatas sebuah restauran khas Lebanon, yang menyediakan berbagai macam masakan ala Lebanon, entah nama-namanya apa saja. Bisalah diterima perut ini, meski adalah bukan favorit makanan buat kita-kita dari tanah air ini. Namun untuk ukuran Monrovia, Liberia – si restoran ini adalah termasuk papan atas dan ramai dikunjungi banyak orang untuk makan siang dan malam, selain orang lokal, dan staff UNMIL, juga terlihat banyak bule-bule personil LSM asing yang beroperasi di Liberia bersantap lahap disana.

“*Ya.. habibi.. ya Habibi…. oweeee..oweeek….
Sya..lalala…lalaaaaa… ya habibi… ya habibi.. *”

Hampir semua lagu yang terdengar di restoran itu mesti ada tersebut namanya (Habibi… Habibi..), siapakah konon Habibi ini sebenarnya di Lebanon itu?

Begitulah saban malam, lagu-lagu lebanese itu menjerit, ngerti sih kalau alunan musik khas itu bertujuan untuk menambah atmosfir yang kondusif menemani santap, namun tidaklah semua telinga cocok untuk dijejali musik ‘ngak-ngek-ngok’, apalagi disaat hati ini sedang merindu akan sang terkasih di kampung halaman… wah spaneng bener nih, perpaduan antara rindu-membiru dengan dentuman rebana dan tarikan suara biduan pilu itu..

Turunlah akhirnya diri ini dari kamar menuju restoran bergegas untuk menemui sang manajer restoran. Dengan masih terdengar lantangnya si musik, pekak kuping ini dibuatnya, berikut skrip percakapan yang sudah diterjemahkan, berikut :

Mba.. mba, coba tolong panggil manager-mu, saya mau bicara.
Ehe? Wha’.. (si waiter orang Liberia itu sambil ternganga-memble)
(Bercakap lebih perlahan dengan mata bolotot) – Aku.. mau.. ketemu.. ama .. managermu..

Bergegaslah dia mencari sang manager.. yang tidak lain dan tidak bukan adalah kerabat dari sang juragan kontrakan kita. Dari dapur terlihat ia berjalan keluar, dengan serbet dapur yang bertengger dipundaknya dan keringat bercucur dari dahinya.

Habibi,.. hey, what’s up.. want to order Lebanese pizza? – katanya lantang sambil senyumnya menyeringai.
No, not right now.. BUT – please lower the volume, it is too loud!
What? I can’t hear you (sambil tangannya memanjangkan daun telinganya)
Number one, my name is not Habibi, and two – please… lower.. the.. volume.. of.. the.. music.. – it’s too loud!
Oouw!, Sorry Habibi… Sorry! Too loud, hee?
Yes, too loud… and My name is Ambar, not Habibi…
Of course, Habibi.. nice tyo meet you – disalaminyalah tangan saya dan ia kemudian melengos kembali ke dapurnya.

Keesokan harinya, saya baru mengerti kalau habibi itu dalam bahasa arabnya berarti : My dear friend atau sebangsanyalah…

Meski keesokan harinya lagu habibi itu terus mengalun, namun tidaklah terlalu nyaring macam tempo hari. Terlepas dari sekilas _musik si habibi _(Maksudnya: lagu2 arab) itu hampir mirip seperti suara orang yang meraung karena sakit gigi – kalau ditilik lebih dalam, enak juga kok… :D

Apalagi kalau sedang pelesir berakhir pekan dengan kawan-kawan seperti pantai gini..gak papalah musik-musik lebanese si habibi itu dipasang keras-keras. :-)

by baldi at 10 March 2008, 01:42

Ya habibi (owee..owee..). Kapan lagi beli korma di Dubai?

by Nanny (Canada) at 10 March 2008, 04:50

Mas Ambar Apa kabar nih, sejak pulang ke tanah air dah ngak ada kabar nya lagi, sibuk mulu ya. Btw, foto nya keren lho…

by venus at 10 March 2008, 13:25

hyahahaha…habibi? semua orang di sana mungkin namanya habibi ya, mas? hihihi…

by Donasion at 10 March 2008, 18:34

Waktu pulkam kemaren saya bawalah kaset irama Padang Pasir yg saya beli di toko kaset kepunyaan seorang Lebanese di Harper, sebuah kota di perbatasan Liberia-Pantai Gading - tempat saya bertugas. Orang tua tua bilang bagaimana kalau kita putar di Surau kaset irama Qasidah tersebut. Saya bilang gak usahlah, Masak kaset yang isinya cinta cintaan, sayang sayangan mau diputar di Surau kata saya dalam hati. Habibiiii habibiii

by Romi Satria Wahono at 16 March 2008, 18:05

Kok aku kayaknya kenal sama cah ndeso dan katrok satu ini yo … hihihi. Piye om kabare?

by Suhardi Ms at 17 March 2008, 19:20

Sama seperti Romi, Sepertinya saya juga kenal dg peacekeeper yg satu ini.