Correspondent Reinhard HUTAGAOL
Total 2 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 135 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Indonesia Turut Serta Latihan SHANTI DOOT-2 di Bangladesh
Reminiscence: Port Sudan dalam kenangan >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Tanggal 10 Mei nanti saya akan berangkat ke Darfur, Sudan sebagai anggota kontingen FPU Indonesia untuk UNAMID (United Nations/African Union Hybrid Mission in Darfur). Ini merupakan penugasan Internasional yang kedua, dan melalui tulisan ini juga sedikit ingin bernostalgia dengan penugasan misi sebelumnya,yaitu di Bosnia-Herzegovina, dimana mungkin ini bisa sebagai bahan pengetahuan bagi pembaca blog ini.
Karakter penugasan misi PBB saya sekarang sangat berbeda dengan misi pertama di Bosnia Hercegovina pada tahun ‘97 – ‘98. Dimana perbedaan itu meliputi:
1. Misi Peacekeeping di Bosnia-Herzegovina adalah penugasan misi dimana waktu itu mengemban tugas sebagai Police Monitor, bertugas secara perorangan yang bernaung dibawah komunitas polisi Internasional dalam International Police Task Force (IPTF) dalam UNMIBH (United Nations Mission in Bosnia-Herzegovina. Kami bertugas tersebar secara perorangan di seluruh daerah misi, sedangkan untuk penugasan misi di Darfur, tergabung dalam ikatan pasukan Formed Police Unit (FPU) yaitu kontingen polisi berseragam yang berjumlah 140 orang (1 SSK plus) dibawah bendera United Nations African Mission In Darfur (UNAMID) dalam satu AOR (Area Of Responspibility).
2. Misi di Bosnia Herzegovina adalah misi “Unarmed” yakni “tidak dipersenjatai”, lain halnya dengan misi di Darfur adalah misi “bersenjata“.
3. Penugasan pada misi PBB di UNMIBH adalah kerjasama antara United Nations dengan NATO yang mengerahkan pasukan SFOR (Stabilisation Force) dalam misi yang berbeda antara militer (NATO) dan sipil (UN), sedangkan pada UNAMID adalah misi Hybrid gabungan antara UN (United Nations) dan AU (African United) dalam satu lingkup.
4. Secara geografis mempunyai letak yang berbeda, Eropa dan berbanding Afrika, tentunya berbeda cuaca, di Eropa saya sempat merasakan 4 musim, sedangkan di Sudan bercuaca ‘sub- sahara” (cuaca di gurun)…. Namun yang paling penting berkaitan erat dengan infrastruktur… selama di Bosnia-Herzegoina, infrastruktur (walaupun sehabis perang) jalan, listrik, air masih bagus sekali…. Di Sudan sangat miskin infrastruktur.
AWAL MULA
Permasalahan di Bosnia Hercegovina berawal dari runtuhnya negara YUGOSLAVIA sepeninggal JOSEPH BORIS TITO (1892-1980), dahulu negara YUGOSLAVIA terbagi atas beberapa negara bagian antara lain Kroasia, Montenegro, Slovenia, Serbia, dan Bosnia, Masing-masing negara bagian ini mempunyai suku bangsa tersendiri dengan ciri-ciri budaya tersendiri juga… karena pemerintahan TITO yang keras, bibit perpecahan ini bisa diredam, namun tidak terbendung setelah meninggalnya Tito. Negara – negara bagian itu masing – masing memerdekakan diri, sebenarnya pada awalnya tidak ada masalah dengan kemerdekaan itu. Ketika misalnya ada minoritas masyarakat Serbia di Bosnia, atau masyarakat Kroasia di Serbia tentunya tidak serta merta mereka harus “diusir” dari tempatnya semula, namun itulah yang terjadi…
Terjadi konflik di negara baru Bosnia-Herzegovina antara penduduk Serbia dan Bosnia (di Utara) dan penduduk Kroasia dan Bosnia (di Selatan), tentunya konflik ini mendapat support dari negara induknya. Akibat konflik yang berkepanjangan tersebut, membuat UN turun tangan melalui UNMIBH. (1995-2001), digelar misi PBB serupa di Slovenia Timur (Kroasia) antara masyarakat Kroasia dan minoritas Serbia dan misi itu dinamakan UNTAES (United Natios Transitional Administration for Eastern Slovenia).
JEJAK LANGKAH
Pada bulan Mei 1997, ketika saya (masih berpangkat Letnan Satu) sedang mengikuti kursus Bahasa Inggris lanjutan di Sekolah Bahasa Polri, dan ada pengumuman : Bagi siswa yang tertarik mengikuti Misi ke Luar Negeri, bisa mendaftar, saya dan sekitar 20an siswa ikut mendaftar, ternyata 12 dari kami lulus test tersebut.
Bulan Juli 1997 saya dan 17 orang lainnya yang lulus test berangkat ke misi, Komandan kontingen kami adalah Letkol Pol T Ashikin Husein (sekarang berpangkat Irjen menjabat Gubernur Akpol), kami pertama mendarat di ZAGREB (Kroasia) untuk mendapat Induction Training selama 2 minggu.

Saya dan 2 orang rekan Polisi lainnya (Lettu Mardiaz dan Bripda Katamsi) di tempatkan di Region Mostar (bagian selatan BH) yang permasalahananya adalah konflik antara etnis mayoritas Bosnia dengan minoritas Kroasia.
Kami bertiga di tempatkan pada Police Station yang sama yaitu Mostar Police Station, pada awalnya kami semua adalah Police Monitor yang bertugas mengawasi Local Station Kroasia dan Bosnia. Dan mengawasi “Border entity” yang membatasi enis Kroasia dan Bosnia.

Komandan Kontingen Pak Ashikin di Pale Police Station dan kemudian mendapat jabatan bergengsi (dan paling tinggi sepanjang sejarah misi PBB di Bosnia) menjadi Kepala Polisi Sarajevo Region (sebanding dengan Kapolda). Pada bulan ke 4 saya di promosikan menjadi Admin Officer di Mostar Police Station, Mardiaz menjadi Team Leader dan Katamsi menjadi Investigation Officer.
Pada bulan ke 6, kami seluruh kontingen mendapat penganugerahan UN Medals yang disematkan oleh UN Police Commisioner.



Sampai akhir masa tugas kami Agustus 1998 (1 tahun 1 Bulan), kami bertiga tidak pernah pindah ke station lain, walaupun beberapa rekan kami pernah pindah tempat beberapa kali. Selama penugasan kami dikatakan aman – aman saja, kecuali saya ingat pada bulan Desember 1997 terjadi ledakan hebat di tengah kota Mostar akibat Bom Mobil di dekat kantor polisi etnis Kroasia, namun tidak ada korban jiwa.
Salah satu anggota kontingen kami sempat ada yang di “culik” oleh paramiliter Sebia yaitu Kapten Dedi, namun segera dibebaskan karena tahu ia berasal dari Indonesia. Nama SOEKARNO sangat harum bagi masyarakat eks-Yugoslavia, karena adalah sahabat kental Tito.
KENANGAN MOSTAR
Mostar adalah sebuah kota yang terletak di bagian selatan negara Bosnia-Herzegovina, kata Mostar berasal dari kata Stari Most artinya adalah “Jembatan (Most) Tua (Stari)” diatas sungai jernih Neretva. Jembatan tua ini dibangun ketika kekaisaran Ottoman mengusasai Eropa pada abad ke 15, Jembatan ini dirancang oleh seorang arsitek: Mimar Hayruddin dan memakan waktu 9 tahun untuk membuatnya dan selesai pada Tahun 1566.

Sayangnya Jembatan ini dihancurkan dalam perang saudara pada November 1993, dan di restorasi kembali setelah berakhirnya perang oleh UNESCO dan banyak organisasi lainnya. Pada waktu saya disana jembatan ini dalam proses pembangunan. Pada bulan Juli 2004 jembatan kembali ke bentuknya semula dan diresmikan oleh Pangeran Charles.

Mostar adalah kota yang sangat indah, dengan kontur perbukitan, ditengah – tengahnya terbelah oleh sungai Neretva yang airnya sangat jernih, pada musim panas hal yang paling menarik adalah meminum turks cava atau kopi turki di Café sepanjang sungai Neretva, indah sekali. Setiap Tahun ada acara yang telah berlangsung ratusan tahun yaitu meloncat dari tengah jembatan.

PENUTUP
Apakah kenangan ini akan terulang kembali di Sudan ? Ngga tau-lah yaaaw…… mudah – mudahan… setiap daerah pasti punya keindahan tersendiri……. betul ngga ?
Wah itu foto2 jadulsnya emang bener2 penuh nostalgia deh..! masih langsing2 yah.. meski demikian tetep ganteng-nya ngikut kok sampe sekarang..
Ohya, ada yang ketinggalan – cerita tentang dara-dara manis Kroasianya kok gak ada sih? —> ayo dilarang ada sensor dong! :)
Ada kawan yang sebelumnya pernah tugas di UNMIK – Kosovo, waktu itu dia masih bujangan (blom punya istri-red), dia bilang gini:
“wah, tugas waktu jaman di Kosovo, amat sangat menyenangkan! – gak ada wanita yang gak cantik!.. semuanya cuantiiik sekali!”
Didoakan agar penempatan FPU kita di Darfur Region, Sudan bisa sukses mengemban misinya dan selamat kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
photo jadulnya boleh juga tuh bang! Lagi trend bak tu basik
« Indonesia Turut Serta Latihan SHANTI DOOT-2 di Bangladesh Reminiscence: Port Sudan dalam kenangan »