Memang sudah lama juga ngak urun-rembuk untuk mengisi tulisan di blog tercinta ini. Hal ini karena tugas rutin yang melelahkan dan terus menerus sehingga pikiran yang fresh sulit muncul.. Namun, oleh dorongan dari kang Luigi yang nyempet-nyempatnya nelpon saat kursus sedang berlangsung, menjadikan semangat untuk mencoba melatih menyusun kata dan kalimat kembali. Mudah-mudahan sharing pengalaman dan informasi (tentunya berdasarkan pengalaman pribadi) ada gunanya.
Tidak pernah terbayang kalau akan berangkat ke negeri Deutschland, untuk menambah pengetahuan. Kesempatan untuk mengikuti kursus SSTaR yang diselenggarakan di Jerman, sangat mengembirakan dan juga menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Memang sudah hampir dua tahun tidak memperoleh sharing pengetahuan untuk pencerahan. Pernah tahun lalu ke Kongo dan Amerika Serikat namun kesana hanya sebagai staf peninjau untuk memperkuat peran Indonesia pada misi perdamaian.
Jerman.. terbayang pertama kali di pikiran saya adalah tim panser-nya yang luar biasa. Sebutan tim panser bagi sepak bola Jerman boleh dibilang semua masyarat mengetahui. Tidak saja persepakbolaan namun juga saat perang dunia Jerman menjadi axis of power dari perang tersebut.
Pasukan panser Jerman atau pasukan lapis baja (kavaleri) sangat ditakuti dan mengentarkan musuh pada saat itu. Tidak ada satu negara yang mampu menandingi konsep operasi perang blitzkrieg pasukan ini. Kalau kita baca sejarah Jerman pada perang dunia kesatu, negara ini mengalami kekalahan oleh sekutu. Namun kekalahan ini tidak menyurutkan pola pikir perwira-perwira militer Jerman untuk tetap mengembangkan taktik pertempuran yang lebih cepat. Salah satu perwira Jerman yang terkenal untuk pengembangan konsep tersebut adalah Heinz Guderian. Dimana dia mengembangkan pasukan panser (sebutan Jerman untuk tank) yang memiliki gerak cepat, daya tembak dan kemampuan mengejutkan lawan.
Namun kegagahan Jerman saat perang dunia kedua dan sebelum runtuhnya tembok Berlin tidak terasa saat saya mendarat di Bandar udara Munich. Yang terasa saat itu adalah dingin..sekali.
Karena saya tiba di Munich pada pukul 2100. Kedatangan tersebut terlambat yang seharusnyya saya tiba pukul 1200 siang, akibat pesawat dari maskapai elit tersebut tertunda 5 jam dari Jakarta. Akibatnya malam kedatangan tersebut langsung dijemput oleh pemandu dari Marshal Center. Marshal Center adalah badan pendidikan milik Amerika Serikat yang ada di Jerman. Nama lengkap badan tersebut adalah George C. Marshall European Center for Security Studies yang memberikan kursus dan seminar tentang global threat, konter terorisme, Peacekeeping dan juga bahasa. Bahasa yang digunakan dalam badan/lembaga ini adalah bahasa Inggris, Rusia dan Jerman.
Sekelumit mengenai lembaga ini mengapa diberi nama Marshall Center adalah George C. Marshall merupakan seorang jenderal Amerika Serikat yang menaruh atensi yang tinggi atas kerusakan akibat perang dunia yang dialami oleh negara-negara Eropa.
Sehingga Mr. Marshall mengajukan proposal tentang rencananya untuk memperbaiki kondisi negera-negara Eropa yang rusak akibat perang dunia kedua. Dan proposal tersebut direstui oleh presiden Amerika Serikat waktu itu Truman. Untuk menghormati dedikasi tersebut pemerintah Amerika Serikat memberikan lembaga tersebut dengan namanya.
Kembali keperjalanan, selanjutnya dari Munich ke Marshall Center berjarak perjalanan dengan kendaraan kurang lebih selama 1,5 jam. Peserta yang datang bersamaan dengan saya, adalah dari Perancis, Bangladesh, Sri Lanka dan Moldova. Dengan menggunakan kendaraan mini bus kami 5 orang menuju ke Marshall Center.
Kondisi saya yang cukup letih, disebabkan saat transit di Dubai yang cukup lama, sehingga saaya tidak bisa meningmati perjalanan akibat pulas tertidur di kendaraan. Tiba di Marshall Center pukul 2300. Sebelum masuk ke tempat akomodasi dipintu gerbang di periksa dulu oleh penjaga dengan menunjukkan pasport.
Memang dari bandara saya sudah mengenakan jaket tebal yang saya bawa dengan tas ransel sehingga mudah digunakan sewaktu-waktu. Suhu saat itu minus 5 derajat. Sebelum berangkat sudah saya coba untuk mengumpulkan informasi tentang daerah yang akan saya tuju. Dengan harapan dapat mengurangi rasa jetlag dan kedinginan.
Selanjutnya saat tiba di Marshall Center di terima di resepsionis atau mereka menyebutnya Student Liaison Officer yang menghandel semua masalah terkait pendidikan. Penjelasannya tidak panjang memang, namun kondisi kita yang sudah lelah dan larut malam sehingga tidak konsentrasi atas macam2 informasi tersebut. Saya ingin segera menuju ruangan istirahat.
Kita diberi kunci kamar masing-masing dan mereka sudah well-organized sehingga setiap peserta yang dating sudah didata. Sehingga nama, pangkat, asal Negara dan lain-lain sudah sesuai dengan data diri kita masing masing. Setelah mmenerima kunci kamar dan satu bundle formulir dan buku tulis yang akan digunakan selama pendidikan, kita dipersilahkan menuju bangunan dimana kamar kita berada. Untungnya saya dapat bangunan yang dengan dengan resepsionis, sedangkan teman dari Sri Lanka dan Moldova diluar compound dimana kita masuk pertama.
Bawa koper satu dan ransel satu keluar dari ruang resepsionis, angin berhembus. Saat itu salju cukup tebal menyelimut halaman dan pemukaan tanah. Sehingga saya mengigil meskipun menggunakan jaket tebal. Dengan segera untuk menuju kamar. Alhamdulillah kamar akomodasinya cukup baik.
Dilengkapi kamar mandi didalam, alat pemanas, TV, internet, lemari dan kulkas dan microwave oven plus tempat tidur spring bed. Lebih dari cukup untuk personel tentara yang biasa tidur tidak jauuh dari veldbed dan ransel.
Karena sudah malam saya siapkan hanya pakaian PDU I, karena sesuai jadwal/roster yang ada untuk kegiatan esok harinya menggunakan pakaian tersebut.
Dari materi yang disusun oleh Marshall Center, kursus SSTaR dibuat untuk memberikan wawasan yang komprehensif kepada semua peserta agar dapat memahami perencanaan hingga pelaksanaan dari masyarakat internasional melaksanakan intervensi atas negara yang gagal (failed state). Kegagalan negara bisa berasal dari perang saudara, korupsi, bencana alam yang dahsyat, dan demi kepentingan demokrasi.
Beberapa kasus seperti Congo, Haiti, Irak dan Afghanistan, menjadi materi diskusi yang menarik bagi peserta kursus. Peserta kursus berjumlah 41 orang dan berasal dari 37 negara.
Bisa disimpulkan secara sederhana bahwa materi kursus memberikan tahapan dan panduan dalam melaksanakan tugas Security, Stabilitation, Transition and Reconstruction sebagai berikut:
1. Pentingnya analisa yang baik dan tepat atau penilaian strategis. Dari situasi atau perkembangan yang terjadi didalam sebuah negara yang mengalami konflik/bencana.
2. Kepemimpinan merupakan faktor yang penting
Dalam sebuah negara yang sangat beresiko (kondisi berbahaya) seorang pemimpim harus berani melakukan reformasi untuk menghindari terjadinya konflik atau menjadi sebuah negara yang gagal. Hal ini di lakukan dengan cara stabilisasi dan membangun menuju kondisi yang lebih baik.
Contoh hal tersebut seperti Nelson Mandela yang mampu melakukan perubahan di Afrika Selatan dari masa Aperthaid menuju negara demokrasi, tanpa melakukan pertumpahan darah baru atau mampu melakukan rekonsiliasi.
3. Memiliki harapan yang realistis atas rencana dan pelaksanaan misi yang dijalankan.
Secara logis sebuah misi SSTaR sangat beresiko apabila diterapkan tanpa persiapan yang matang. Begitu luasnya dimensi yang ada, antara NGO, local government dan negara donor yang memiliki rencana masing-masing akan mempersulit keberhasilan. (Bersambung)





Kapan mas ke Jermannya kok masih winter sepertinya ? :P
Sumpah FOTO FOTOnya keren keren…