Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Octavianus Marthin

Oleh-oleh dari Korea

19 August 2010, 05:59 , by Oktavianus Marthin

 

Belajar bahasa Korea?
Pergi ke Korea?
Tidak pernah terpikir oleh saya tentang itu sebelumnya. Tetapi, 2 (dua) pertanyaan itu malah akhirnya saya jalani. Pada kurun waktu awal bulan April sampai dengan akhir bulan Juni 2010, saya mendapat kesempatan mengikuti kursus bahasa Korea di negeri Korea Selatan.

Map Locator - Korea

Tentunya ini bukan kemauan saya semata. Awalnya adalah diterimanya undangan dari Kepolisian Korea Selatan (Korea National Police Agency = KNPA), pada sekitar bulan Maret 2010, kepada Mabes Polri untuk mengirimkan Perwiranya untuk mengikuti kursus bahasa Korea dan pengenalan sistem kepolisian Korea Selatan. Kegiatan itu bernama “The 2nd International Police Training Program of KNPA”. Kegiatan ini tentunya adalah buah dari akrabnya hubungan antarlembaga kepolisian Indonesia dan Korea Selatan yang telah lama terbina.

Inisiatif kepolisian Korea Selatan ini dilatarbelakangi dengan kepentingan Korea Selatan sendiri atas keselamatan, keamanan warga negaranya yang berada di Indonesia.

Tidak hanya Indonesia yang diundang, tetapi juga beberapa Negara lain yang memiliki jumlah warga Negara Korea Selatan yang cukup signifikan. Negara lain itu adalah China, Cambodia, Fiji, Guatemala, Mongolia, Thailand dan Vietnam. Masing-masing Negara mengirimkan satu perwira polisinya, namun entah dengan alasan apa, Indonesia ternyata mengirimkan 2 (dua) perwiranya.

Setelah mengalami proses seleksi berupa wawancara dengan LO (Liasion Officer) kepolisian Korea Selatan di Indonesia, kami diberangkatkan ke Seoul pada tanggal 31 Maret 2010, dengan menggunakan Korean Air. Sebelum berangkat kami diberitahu untuk tidak usah membawa pakaian tebal atau berlengan panjang, mengingat Seoul telah memasuki musim panas. Ternyata cuaca, iklim yang dimaksud berbeda dengan persepsi saya. Begitu tiba di bandara Incheon, Seoul, dan keluar menuju bis yang menjemput kami, udara dingin masih terasa menusuk tulang.

setiba di bandara

Saya merasa seperti telah tertipu. Kenyataannya orang-orang yang saya temui pun masih menggunakan jas atau sweaternya. “Wah, ini namanya saltum, salah kostum”. Walhasil, selama 2 (dua) bulan pertama saya tersiksa sekali. Masih untung saya masih membawa jaket demi menghindari dingin di atas pesawat.
Selama 10 minggu saya mengikuti kursus bahasa Korea di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS).

foto bersama di depan asrama kampus prosesi wisuda

Awalnya saya pikir akan dikursuskan bahasa Korea di lembaga kursus, seperti di Indonesia. Ternyata kami dikursuskan di salah satu universitas yang cukup terkenal untuk kursus bahasa asingnya.

pose di prasasti univ suasana di kelas 2
suasana di kelas 1 pelaksanaan replacement test

Kami mendapat kelas tersendiri, tidak bercampur dengan mahasiswa lain. Sebelum mendapat kelas, kami semua, 9 orang, mengikuti proses penempatan kelas (Replacement Test). Wah, kertas ujian yang kami terima isinya adalah huruf yang tidak kami mengerti sama sekali. Nah, baru sampai beberapa hari yang lalu, kok. Apalagi tanpa persiapan bahasa Korea sebelumnya di mana-mana. Saya pun menyerahkan kembali kertas ujian itu dengan tanpa isi sama sekali. Para guru pun tersenyum kecut.

Writing

Hari-hari mengikuti kegiatan kuliah saya isi dengan serba kedinginan. Untuk menghindari kebosanan para peserta, KNPA telah menyiapkan acara city tour untuk kami setiap hari Senin, Rabu dan Jumat selesai melaksanakan kuliah. Hari Senin dan Rabu kami diajak wisata ke tempat-tempat budaya, mall/pasar tradisional, lokasi shooting film drama Korea dan kampung tradisional.

Untuk hari Rabu adalah tur mengunjungi kantor-kantor atau lembaga kepolisian. Setelah program pengajaran bahasa selesai dilanjutkan dengan jadwal ujian. Lho??

Kami semua cukup kaget. Karena tidak menyangka keberadaan di universitas ini harus diakhiri dengan kelulusan. Awalnya semua berpikir bahwa kursus bahasa ini hanya untuk pengenalan saja. Sudah jelas tidak ada yang bisa di-lobi untuk masalah nilai nantinya. Namun, Alhamdulillah, ternyata para guru kami masih bermurah hati dengan memberikan kelulusan kepada kami semua, dengan alasan bahwa kami bukanlah peserta kuliah reguler. Mirip di Indonesia juga ya?

Selesai kursus kegiatan kami adalah wisata ke salah satu tujuan wisata terkenal Pulau Jeju (Jeju do = Jeju Island).

Jeju Tour 1 pakaian tradisional Hanbok
jeju Tour 3 Jeju Tour 2

Selesai wisata ke Jeju Island, dilanjutkan kembali ke dalam kelas, yaitu kelas pengenalan sistem kepolisian Korea Selatan bertempat di Korea Police Training Institute (KPTI), Asan City, Chungnam. Institut ini adalah lembaga kepolisian yang mendidik para polisi Korea dalam fungsi-fungsi kepolisiannya. Kampus ini masih terbilang baru, dengan segala fasilitasnya. Ada stadion sepakbola, kolam renang, lapangan tenis, sauna dan sarana transportasi dalam kampus, berupa sepeda. Sungguh nikmat dan mengasyikkan, dibandingkan dengan 10 minggu di kampus dan asrama kampus yang membosankan. Sayangnya, di kampus ini kami hanya menghabiskan 5 (lima) hari saja. Institut ini cukup jauh dari kota Seoul, sekitar 4 jam perjalanan menggunakan tour bus.

Akhirnya, pengalaman 3 (tiga) bulan di Korea Selatan berakhir pada tanggal 29 Juni 2010. Kembali ke tanah air dengan segala bawaan. Alhasil, begitu penimbangan bagasi, saya harus membayar 60 000 won untuk kelebihan bagasi, tetapi puas karena tidak perlu membuang barang yang sudah saya beli sebagai kenang-kenangan.

Satu hal yang menarik selama di Korea adalah pengalaman ikut nobar (nonton bareng) pertandingan piala dunia antara Korea Selatan melawan Uruguay, di kawasan City Hall (alun-alunnya Seoul). Sayangnya, harus diselingi dengan hujan, sehingga begitu peluit istirahat berbunyi banyak penonton yang meninggalkan lapangan. Hal ini kelak yang membuat pikiran saya teringat Seoul kalau mendengar theme song nya piala dunia sepakbola yang lalu.

Satu hal yang cukup sulit buat saya selama di Korea adalah masalah makan. Apalagi dengan mayoritas makanan yang serba menggunakan daging yang diharamkan dalam Islam. Sehingga saya harus hati-hati dan cenderung untuk makan hanya yang serba sayuran.

Lunch di PTI upacara minum teh

Tentunya banyak hal menarik lain yang saya alami, terutama dalam berburu souvenir. Karena sudah kebiasaan saya untuk selalu mencari souvenir khas suatu tempat di mana saya berkunjung.

di Namdaemun Market

Mudah-mudahan cerita saya ini bisa dapat mendeskripsikan pengalaman saya kepada teman-teman semua.

Octavianus Marthin Oktavianus MARTHIN Super Intendent (Lieutenant Colonel) Oktavianus MARTHIN, SIk., was born in Jakarta, October 25, 1970. After finishing senior high school in Jakarta in 1989, then became a cadet of Indonesian Police Academy in Semarang. Graduated from that Academy in the year...

Detail Profile »

0  Comments

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Arief Rahman Hakim Major Arief Rahman Hakim, married to Sully Dewi Triono, with two children. Deployed by the Indonesian Navy to represent the country serving as the Indonesian Military Observer under the mandate of United Nations Stabilization Mission in Nepal (UNMIN) based in...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago