Monrovia adalah ibu kota negara Liberia. Terletak di pantai Atlantik di Cape Mesurado, dalam wilayah hukum Montserrado County, yaitu daerah yang paling padat penduduknya di Liberia. Monrovia dengan wilayah perkotaan-nya mempunyai populasi sebanyak 1.010.970 jiwa sesuai hasil sensus tahun 2008, djmana sebanyak 29% dari total penduduk Liberia tinggal dan menetap di Monrovia. Ibukota ini adalah juga merupakan pusat budaya, politik dan keuangan untuk seluruh negeri. Menurut sejarahnya, Monrovia didirikan tahun 1822, Monrovia adalah nama yang diberikan sebagai ibukota Liberia dalam upaya menghormati Presiden Amerika Serikat yaitu James Monroe, seorang pendukung terkemuka kolonisasi Liberia. Monrovia didirikan tiga puluh tahun setelah Freetown, ibukota Sierra Leone (negara tetangga Liberia), dan Monrovia merupakan pemukiman permanen pertama Afro-American di benua Afrika. Perekonomian kota ini disumbang sebagian besar oleh kegiatan perdagangan di pelabuhan, dan kantor-kantor pemerintah. Pelabuhan Monrovia itu secara signifikan diperluas oleh pasukan AS selama Perang Dunia Kedua dan ekspor utama meliputi bijih lateks dan besi. Bahan juga diproduksi di tempat, seperti semen, minyak bumi olahan, produk makanan, batu bata dan genteng, mebel dan bahan kimia. Terletak dekat pertemuan Sungai Mesurado dan Sungai Saint Paul.
Semenjak pulihnya stabilitas keamanan dan ketertiban di Liberia, Monrovia tumbuh berkembang layaknya ibukota negara lainnya di kawasan ini, meski masih jauh tertinggal namun jumlah pendatang dari counties di pedalaman Liberia, menjadi daya tarik penduduk desa untuk berduyun-duyun mengadu nasib. Hal ini terasa sekali dengan marak-nya tindak kejahatan yaitu perampokan baik tanpa atau dengan senjata api, disusul dengan angka kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang masih terbilang tinggi dan beberapa jenis kejahatan lainnya. Acapkali kasus-kasus tersebut ramai menghiasi halaman utama surat khabar di kota ini.
Pihak misi PBB, yang salah satu tugasnya adalah mengupayakan stabilitas keamanan di Liberia, dan Monrovia adalah salah satu daerah operasi utama, melalui distribusi kontingen peacekeepers yang disebar pada berbagai titik lokasi melalukan patroli rutin, dan community policing bersama mitra kerjanya yaitu Liberian National Police (LNP). Patroli pengamanan selama 24 jam ke seluruh penjuru Monrovia dilakukan oleh Batalion FPU Wanita dari Kontingen Peacekeepers India, lalu Military Peacekeepers dari Kontingen Nigeria. Kali ini, si kampret berkesempatan untuk mendapatkan ijin untuk meliput kegiatan patroli malam yang dilakukan oleh personil pasukan reaksi cepat (Quick Reaction Force – QRF) dari Kontingen Nibatt-11 (Nigerian Battalion) yang bermarkas di Sinkor Area.
Patroli malam oleh team dari QRF Nibatt-11 ini adalah termasuk patroli reguler yang menjadi tugas pokok Nibatt dalam mengamankan ibukota Monrovia dari ancaman stabilitas keamanan dan pencegahan tindak kejahatan domestik yang dirasa makin marak. Company Foxtrot, itulah nama sandi patroli malam yang kita liput.
Anggota tim patroli, sebelum berangkat dikumpulkan dengan berbaris sementara komandan patroli menilik kembali tajuk-rencana dan rute patroli yang sudah ditetapkan sebelum menjelaskannya kembali kepada tim/regu patroli malam itu. Dalam setiap patroli, baik itu saat siang, sore dan/atau malam, anggota patroli wanita (seperti KOWAD) turut menjadi bagian dari regu/team patroli tersebut, hal ini dimaksudkan agar saat team patroli ini berhadapan dengan target atau kerumunan yang melibatkan wanita, maka intervensi awal akan ditangani oleh personil peacekeepers wanita ini.
Dibantu oleh seorang sahabat, berbekal lensa L-Series 100 – 400mm pada kendaraan terpisah, si kampret ini ‘embedded’ dengan kendaraan patroli utama yang berada diurutan paling depan, maka sejak pukul 8:30PM dimulailah rangkaian patroli malam itu. Duduk dibangku terbuat dari palang kayu, persis konstruksi kursi mobil patroli khas kendarranpatroli polisi pasar atau pamong praja di tanah air pada bak terbuka bagian belakang, maka duduklah kita berempat termasuk 3 personil anggota Pasukan Reaksi Cepat (QRF) Nibatt-11, sementara sang rekan fotografer berada di kendaraan belakang.
Rute awal yang ditempuh adalah melewati jalan protokol utama Monrovia, yaitu Tubman boulevard terus menyusuri daerah lain yang dilalui jalan kelas dua sampai keluar masuk lingkungan perumahan penduduk dimana menurut hasil pengamatan reconnaisance tergolong darah yang perlu diawasi, terutama untuk malam hari. Meski harus diakui bahwa secara umum, di Liberia dan khususnya di ibukotanya, Monrovia, situasi keamanan dan ketertiban umum relatif stabil dan terkendali, terlepas dari itu, kehadiran personil peacekeepers melalui serangkaian patroli dan community policing memberikan keyakinan pada publik dan memastikan ‘deterrence factor’ (faktor pencegahan) yang cukup efektif terhadap potensi tindak kriminal.
Angin malam itu memang cukup kuat menerpa setiap wajah yang berada duduk di bangku patroli pada bak terbuka dibelakang, kantuk sudah pasti datang menjumpai namun dengan tuntutan tugas agar senantiasa mawas dan mengamati baik keadaan sekitar, mereka harus tetap terjaga dan mengamati keadaan sekitar. Personil yang berada didalam kendaraan double cabin Nissan Pick-up jenis Hardbody ini adalah kepala regu patroli dan supir, dimana sang kepala regu senantiasa berkoordinasi dengan markas komando-nya melalui saluran radio Channel 14, yaitu saluran radio khusus elemen military peacekeepers di UNMIL juga channel radio terpisah komando Nibatt.
Sepintas, rasanya seperti iring-iringan kendaraan saat mau pergi piknik, namun rasanya tidaklah demikian kalau harus mengenakan seragam lengkap berikut flack-jacket (Ballistics Vest), helm biru khas PBB, dan menyandang sepucuk AK-47 yang beratnya mungkin 4-5 kali kamera ini. Wah, sudah pasti ini bukan perkara pelesir tamasya ditengah malam. Pada titik-titik tertentu iring-iringan kendaraan patrolil ini berhenti sambil mengamati situasi sekitar, biasanya pada daerah yang padat akan kerumunan massa yang dirasa tidak lazim, maka disitulah konvoi patroli malam ini kemudian berhenti dan turun dari bak terbuka dan membuat ‘perimeter pengaman’ semnetara kepala regu akan menugaskan salah satu personil patroli untuk memeriksa situasi, baik itu berinteraksi dengan massa/kerumunan yang ditenggarai sebagai potensi tindak kejahatan atau gangguan ketertiban.
Kehadiran tim patroli ini adalah sebagai pendukung pengamanan kota dimana bila ada kejadian perkara, langkah-langkah pengamanan dan kendali situasi bisa ditanggulangi sedemikian rupa kemudian saat kedatangan pihak berwajib setempat, dalam hal ini: LNP, maka perkara kemudian diserah terimakan secara prosedural.
Apa sih yang biasanya terjadi pada kebanyakan malam-malam di Monrovia?, ada banyak kasus pencurian, perampokan bersenjata, pemerkosaan, dan tindak kekerasan domestik yang acapkali bila tidak lekas ditanggulangi, akan mengarah pada penghakiman oleh massa yang mengakibatkan pelaku bila tertangkap oleh kerumunan massa, akan habis babak-belur dipukuli bahkan bisa sampai tewas. Hal ini adalah kejadian yang marak terjadi di Monrovia secara khusus dan pada kawasan di pedalaman Liberia secara umum. Kesadaran akan khalayak umum dalam membantu menyelesaikan pihak berwajib setempat masih dirasa kurang mendukung, itulah mengapa pihak misi PBB merasa masih perlu untuk senantiasa memberikan dukungan melalui patroli kota, apalagi untuk periode malam seperti ini.
Kontingen Peacekeepers Nigeria, adalah kontingen peacekeepers pada misi PBB – UNMIL yang dirasa andal dalam kontribusinya, serta memiliki nilai sejarah yang kuat akan lika-liku perjalanan sejarah konflik di Liberia, dimana saat konflik bersenjata awal tahun 1997 dan pengiriman pasukan ECOMOG/ECOMIL ke Liberia, Angkatan bersenjata Republik Nigeria-lah yang menjadi kekuatan pemulih keamanan pertama yang mendarat di Liberia atas utusan ECOWAS.
Usai rute reguler, iring-iringan patroli kemudian kembali menuju markas untuk mengembalikan team ‘mat kodak’ ini mengingat, keberadaan kita (baca: Staff Sipil) diluar rumah/jalan diizinkan sampai pukul 12:00 tengah malam saja, setelah itu ‘jam-malam’ atau dikenal dengan ‘Curfew’ diberlakukan oleh pihak manajemen misi terhadap seluruh personil, kecuali mereka yang memang bertugas lewat periode jam malam. Meski secuplik pengalaman patroli bareng bersama team QRF (Pasukan Reaksi Cepat) Nibatt-11, rasanya faham sudah betapa pentingnya peranan mereka bagi suksesnya misi PBB dan proses perdamaian di Liberia.
Selepas mengucapkan salam dan terima kasih, dan berfoto bersama dengan team/regu patroli tadi.
Kelar foto bersama, sang komandan regu kemudian bisik-bisik kepada si kampret ini: “Minggu depan kita akan patroli lagi dengan kendaraan lapis baja, kalian ikut lagi ya.. dan saya minta difoto lebih banyak ya.. – buat kenang-kenangan nih..”














Mohon dengan sangat supaya Juragan Kampret untuk ikut dengan patroli minggu depan, supaya dapet gambar eksklusip lagi
heheh
sekarang kameranya apa mas? lensanya cakep euy, pantes foto2nya juga mulus… :)