Correspondent A. SETIAWAN
Total 3 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 324 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Indonesia Siap Kirim Pasukan Ke Darfur
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Luanda terkenal sebagai kota termahal di dunia. Mungkin bersaing dengan Tokyo dan London mahalnya. Sayangnya kualitas barang di Angola tidak bagus, meski pun harganya mahal-mahal. Jadi memang agak repot tinggal di Luanda, karena biaya hidup yang cukup tinggi. Begitu juga dengan turisme tidak begitu berkembang, karena orang sudah ngeper sendiri mendengar harga-harga barang yang begitu tingginya. Belum lagi fasilitas dan infrastruktur yang belum memadai.
Memang beginilah ciri-ciri negara yang masih akan berkembang. Karena mahalnya harga barang kebutuhan sehari-hari, masyarakat Indonesia di Luanda biasanya mencoba mencari tempat di mana dijual barang-barang yang lebih murah. Karena jelas saja, bila belanja terus di supermarket, maka harganya pun melambung setinggi langit. Bayangkan bila harga singkong bisa mencapai 5-10 dollar AS untuk setiap umbinya.
Kalau barang-barang produksi pabrik, seperti minyak, sabun, odol tak pelak lagi hanya bisa dibeli di supermarket. Karena kalau beli barang-barang seperti itu di toko-toko kecil, jatuhnya lebih mahal. Uniknya, toko-toko kecil seperti warung kelontong di Luanda umumnya dimiliki oleh orang Mali, sebuah negara kecil di Afrika. Mereka tergolong enterpreneur yang ulet membuka toko kelontong. Mungkin seperti orang Cina di Indonesia.
Untung saja ada salah satu alternatif untuk belanja sayur, umbi dan buah-buahan. Yaitu belanja di pasar tradisional yang terletak di sebelah utara kota Luanda. Namanya Terra Verde, mungkin kalau di Indonesia disebut Pasar Sayur Terra Verde. Terra Verde ini kira-kira berjarak hanya 5 km, tetapi perjalanan bisa memakan waktu satu jam karena harus melewati kawasan industrial Cacuaco yang terkenal dengan kemacetannya. Dan untuk ke sana harus berangkat pagi, karena kalau sudah sore pasarnya sudah bubar. Kalau penasaran, Terra artinya tanah dan Verde itu hijau. Jadi Terra Verde artinya Tanah Hijau.
Bila sampai di Pasar Terra Verde, maka begitu kita turun dari mobil akan dijemput oleh ramai anak-anak kecil yang membawa tas kresek. Tujuan mereka adalah menjual tas kresek. Tetapi biasanya orang Indonesia sudah pengalaman, jadi mereka membawa beberapa tas kresek sendiri dari rumah. Lumayan ngirit. Anak-anak itu pun tidak kalah cerdiknya, mereka juga memberi pelayanan untuk membawakan tas kresek yang sudah berisi belanjaan. Jadi mereka akan ngikutin atau ngekor kemana saja kita pergi untuk berbelanja di pasar itu.
Pasar sayur Terra Verde merupakan pasar terbuka, artinya memang nggak ada bangunan dan juga nggak ada atapnya. Jadi hanya merupakan tanah kosong yang kemudian para quitandera (penjual di pasar) menjajakan barang-barang dagangannya. Di sini bisa dijumpai bermacam-macam sayuran, dengan harga yang relatif murah.
Tomat misalkan, di sini dijual dalam satuan ember kecil. Satu ember kecil harganya 200 kwanza atau sekitar Rp 20,000. Masih lebih mahal sih daripada di Indonesia, tetapi jauh lebih murah daripada beli di supermarket di Luanda. Begitu juga dengan paprika, yang agak sedikit lebih mahal. Tetapi anehnya, yang namanya bawang bombay kok jatuhnya lebih mahal, jadi kita juga nggak beli bawang bombay.
Di Terra Verde juga banyak penjual ikan asin. Pokoknya macam-macam ikan yang diasinkan. Baunya pun seperti ikan asin, cuman belum kering kali, jadi masih basah gitu deh. Lumayan juga, ikan asin satu tas kresek harganya juga 200 kwanza. Namun, ikan asin tersebut harus dikeringkan terlebih dulu baru digoreng, biar rasanya agak gurih dan kriuk habis. Enak juga dimakan dengan sambel tomat campur jelantah. Beginilah bersiasat untuk mengurangi biaya hidup. Tetapi tentunya dengan kualitas yang agak turun sedikit, karena yang dibeli cuma ikan asin.
Waaah … abis baca ini, ilang deh minat mo jalan2 ke luanda … sayang duitnya yah mas … he he he
Boss,
Setelah denger ceritanya dan obrolan kita – ternyata belanja sayur di afrika itu jauh lebih mahal daripada belanja di Pasar Minggu yah! – mosok cabe 5-6 biji aja bisa sampe sedollar, mahal bener yah! trims buat reportasenya.. ditunggu laporan wisata kulinernya.
He he he…ikan asin pake jelantah is de best tuh mas
« Indonesia Siap Kirim Pasukan Ke Darfur Pasar Seni Futungo »