About This Post

Correspondent Sigit SAKSONO

Total 3 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 198 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 6.5/10(2 votes cast)

Articles

Patroli ke Wamaza: Dari sang Administrateur hingga penjual pisang itu

Pagi itu saya bangun lebih pagi dari biasanya, karena itu saya kebagian sebagai Patrol Leader untuk yang pertama kalinya, seperti biasa malam sebelumnya saya berusaha keras untuk membaca semua Guidelines sebagai seorang Patrol Leader dari prasyarat yang harus dilaksanakan sampai segenap larangan yang memang tidak boleh dilakukan selama patroli. Dan akhirnya datanglah hari yang sangat saya tunggu-tunggu karena setelah membaca dari beberapa laporan sebelumnya, bahwa jarak tempuh yang harus dilalui cukup lumayan sekitar 72 Km (kalo di Indonesia mungkin cukup satu jam perjalanan lewat tol ) ke suatu wilayah yang bernama WAMAZA, tapi dari laporan sebelumnya bahwa waktu tempuh yang dibutuhkan sampai tiga jam kalo tidak hujan, tapi bila hujan turun bisa sampai empat atau lima jam.

Saya selalu berdoa agar tidak turun hujan dan lancar karena segala tanggungjawab selama patroli berada di pundak saya.

Misi yang di emban kali ini adalah pendataan situasi keamanan, para ex-combatant (mantan milisi) dan masalah sipil lainnya. Menarik juga misi kali ini dan yang membuat saya senang adalah UN benar benar menerapkan Rainbow Milobs pada misi ini, kami berangkat berlima dangan dua kendaraan Toyota 4X4 – 4Runner yang benar benar tanggung di medan off road. Tim kami terdiri dari personil Milobs (Military Observers) Uruguay, Mongolia, Indonesia dan Bangladesh dan tentunya selalu didampingi oleh satu orang Congolese interpreter (seorang penterjemah orang Congo asli) yang akan menterjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Perancis atau ke bahasa Swahili. Kami meninggalkan satu observer dari China di home base sebagai Duty Officer.

Setelah sarapan sama Capati (sejenis roti khas Congo) dan lepas briefing singkat kegiatan, kami berangkat dengan dua mobil secara beriringan karena memang begitu prosedurnya. Desa yang kami lalui masih terbelakang beratapkan daun rumbia dan dinding tanah, sebuat potret kehidupan yang sangat jauh dari bayangan kami, sepanjang jalan yang kami lalui selalu disambut oleh anak kecil yang ada di pinggir jalan sambil berteriak teriak “MONIQE bombo!” (MONUC minta permen) atau “MONIQE Biscuit!” (MONUC minta biscuit). MONUC adalah nama singkatan Misi Pemulihan Perdamaian PBB di Democratic Republic of Congo (Mission de l’ONU en RD Congo)

Terdapat sesuatu yang dirasa lucu saat itu, dimana ternyata yang ramai meminta permen atau biskuit bukanlah anak-anak saja namun melainkan juga orangtua dan mereka para remaja… hal yang aneh. Selama diperjalanan saya berpikir bahwa di pedalaman Congo, saya masih bisa menemui suku-suku yang berpakaian apa adanya karena negaranya masih amat jauh terbelakang. Namun dmeikian, saya salah menilai. Semua penduduk di Democratic Republic of Congo (DR Congo) faham dan tahu cara berpakaian yang benar meski mereka dipelosok jauh dari perkotaan, sampai suatu ketika saya melihat seorang lelaki berpakaian lengkap pakai jas dan dasi keluar dari sebuah gubug tanah!!.

Saya cuma berfikir panas terik kayak begini kok malah berpakaian lengkap dengan setelan jas serta dasi – Mau kondangan kemana dia? atau Pak Pejabat – mau rapat kemana ? Sebuah keanehan yang nyata, disatu sisi mereka masih tetap meminta bantuan makanan namun disisi lainya malah sudah mampu berpakaian dengan lengkap.

Jalan yang kami lalui tidak ada yang beraspal semuanya masih berupa tanah liat yang biasa dilalui penduduk setempat, Kadang kami berhenti sejenak dan berinteraksi dengan penduduk setempat menanyakan tentang aktifitas dan masalah keamanan mereka. Kalaupun jawabannya aman dan landai itu yang kami harapkan soalnya tidak menambah pekerjaan seperti halnya bila ada laporan tentang gangguan keamanan.

Ternyata kendaraan yang kita tumpangi tangguh juga, sempat beberapa kali kami terjebak dalam kubangan berlumpur dengan mengunakan persneling 4X4, ternyata masih bisa atasi, namun kadang suatu ketika bila bernasib sial dan tidak bisa mengatasim terpaksa kendaraan yang satunya dipakai untuk menarik-derek mobil yang terperosok nyungsep itu. Salah satu dari bejibun pengalaman berharga dengan bekerja di negara konflik macam DR Congo.

Akhirnya sampai juga ditujuan bernama WAMAZA, sebuah kota setingkat kabupaten yang ada di Indonesia, tetapi pada kenyataannya yang saya lihat adalah sebuah desa tanpa listrik dan sarana transportasi yang memadai. Kami bertemu dengan Kepala kabupaten kota tersebut, di DR Congo mereka dipanggil dengan jabatan Adminstrateur.

Duduk di kursi kayu ala kadarnya, berempat kami mulai berbincang menanyakan situasi keamanan dan situasi sipil yang berlaku. Satu-persatu kami ajukan pertanyaan dan status masalah dan sedianya kami mencoba memberi solusi. Harus diakui bahwa acapkali, para pejabat daerah setempat, macam Pak Administrateur ini salah mengerti tentang tugas kita sebagai Milobs. Hal ini terlihat dari tiap kunjungan Milobs datang ke suatu tempat mereka selalu menuntut untuk dipenuhi kebutuhannya dari masalah gizi sampai kebutuhan sosial lainya.

Tugas Military Observer adalah hanya mendata situasi keamanan dan sosial serta memberi jalan keluar berupa nasehat pada suatu masalah. Semakin lama kami disana semakin banyak orang yang datang dengan segala-rupa jenis permasalahan yang dilontarkan-nya.

Saatnya pulang sudah tiba dan lepas kami mendapat data-data yang diperlukan, – waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang serta si perut ini sudah mulai protes meronta untuk diisi. Teman-teman juga sudah merasa kelaparan, tapi ternyata ada satu dari perencanaan patroli yang kelupaan, yaitu masalah logistik makanan yang tidak dibekal, wal hasil sepanjang jalan kami lirak-lirik dan akhirnya menemukan penjual pisang , saya turun beli satu ikat seharga 200 franco, lumayan buat ganjal perut sampai rumah.

Sampai Tim site house seperti biasa kami disambut oleh “si mama” tukang masak, “welcome sir, food is ready!”, suara itulah yang selalu ditunggu setiap personil Milobs saat pulang patrol ditempat terpencil seperti saya ini…he he.he.

by Imeza Saraswaty at 5 January 2008, 01:04

Wahhh, akhirnya kluar juga ya artikel pertamanya mas :)
Seru juga acara jalan2nya ke Wamaza, ternyata Milobs itu dilihat sebagai ‘Dewa’‘ yang mampu memecahkan segala masalah ya…
Padahal sebenarnya ya nggak :)
Baca guidelines sih boleh2 aja mas, tapi jangan lupa bawa ransum dong,… masih untung dapet pisang, kalo enggak, gimana dong???

Tetap semangat n keep on writing ya!

by Luigi Pralangga at 5 January 2008, 02:35

Akhirnya postingan pertamanya nongol juga… :D Semangat patroli yah.. kalau kawan-kawan di UNMIL (KONGA XXI-4) selalu rajin bawa bekel nasi-timbel ;-) dan rajin ngunyah pil-kina biar gak kena malaria.

udah sempet ketemu Pak Amin Harsono di MONUC-HQ, Kinshasa? beliau ada di Mail & Pouch. Salam hangat dari Afrika Barat dan tetep semangat yah – ditunggu cerita selanjutnya.

by tata at 10 January 2008, 06:15

Salut mas..selamat berjuang yah