Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Patroli ke Wamaza: Dari sang Administrateur hingga penjual pisang itu

4 January 2008, 20:42 , by Sigit SAKSONO

 

Pagi itu saya bangun lebih pagi dari biasanya, karena itu saya kebagian sebagai Patrol Leader untuk yang pertama kalinya, seperti biasa malam sebelumnya saya berusaha keras untuk membaca semua Guidelines sebagai seorang Patrol Leader dari prasyarat yang harus dilaksanakan sampai segenap larangan yang memang tidak boleh dilakukan selama patroli. Dan akhirnya datanglah hari yang sangat saya tunggu-tunggu karena setelah membaca dari beberapa laporan sebelumnya, bahwa jarak tempuh yang harus dilalui cukup lumayan sekitar 72 Km (kalo di Indonesia mungkin cukup satu jam perjalanan lewat tol ) ke suatu wilayah yang bernama WAMAZA, tapi dari laporan sebelumnya bahwa waktu tempuh yang dibutuhkan sampai tiga jam kalo tidak hujan, tapi bila hujan turun bisa sampai empat atau lima jam.

Saya selalu berdoa agar tidak turun hujan dan lancar karena segala tanggungjawab selama patroli berada di pundak saya.

Misi yang di emban kali ini adalah pendataan situasi keamanan, para ex-combatant (mantan milisi) dan masalah sipil lainnya. Menarik juga misi kali ini dan yang membuat saya senang adalah UN benar benar menerapkan Rainbow Milobs pada misi ini, kami berangkat berlima dangan dua kendaraan Toyota 4X4 – 4Runner yang benar benar tanggung di medan off road. Tim kami terdiri dari personil Milobs (Military Observers) Uruguay, Mongolia, Indonesia dan Bangladesh dan tentunya selalu didampingi oleh satu orang Congolese interpreter (seorang penterjemah orang Congo asli) yang akan menterjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Perancis atau ke bahasa Swahili. Kami meninggalkan satu observer dari China di home base sebagai Duty Officer.

Setelah sarapan sama Capati (sejenis roti khas Congo) dan lepas briefing singkat kegiatan, kami berangkat dengan dua mobil secara beriringan karena memang begitu prosedurnya. Desa yang kami lalui masih terbelakang beratapkan daun rumbia dan dinding tanah, sebuat potret kehidupan yang sangat jauh dari bayangan kami, sepanjang jalan yang kami lalui selalu disambut oleh anak kecil yang ada di pinggir jalan sambil berteriak teriak “MONIQE bombo!” (MONUC minta permen) atau “MONIQE Biscuit!” (MONUC minta biscuit). MONUC adalah nama singkatan Misi Pemulihan Perdamaian PBB di Democratic Republic of Congo (Mission de l’ONU en RD Congo)

Terdapat sesuatu yang dirasa lucu saat itu, dimana ternyata yang ramai meminta permen atau biskuit bukanlah anak-anak saja namun melainkan juga orangtua dan mereka para remaja… hal yang aneh. Selama diperjalanan saya berpikir bahwa di pedalaman Congo, saya masih bisa menemui suku-suku yang berpakaian apa adanya karena negaranya masih amat jauh terbelakang. Namun dmeikian, saya salah menilai. Semua penduduk di Democratic Republic of Congo (DR Congo) faham dan tahu cara berpakaian yang benar meski mereka dipelosok jauh dari perkotaan, sampai suatu ketika saya melihat seorang lelaki berpakaian lengkap pakai jas dan dasi keluar dari sebuah gubug tanah!!.

Saya cuma berfikir panas terik kayak begini kok malah berpakaian lengkap dengan setelan jas serta dasi – Mau kondangan kemana dia? atau Pak Pejabat – mau rapat kemana ? Sebuah keanehan yang nyata, disatu sisi mereka masih tetap meminta bantuan makanan namun disisi lainya malah sudah mampu berpakaian dengan lengkap.

Jalan yang kami lalui tidak ada yang beraspal semuanya masih berupa tanah liat yang biasa dilalui penduduk setempat, Kadang kami berhenti sejenak dan berinteraksi dengan penduduk setempat menanyakan tentang aktifitas dan masalah keamanan mereka. Kalaupun jawabannya aman dan landai itu yang kami harapkan soalnya tidak menambah pekerjaan seperti halnya bila ada laporan tentang gangguan keamanan.

Ternyata kendaraan yang kita tumpangi tangguh juga, sempat beberapa kali kami terjebak dalam kubangan berlumpur dengan mengunakan persneling 4X4, ternyata masih bisa atasi, namun kadang suatu ketika bila bernasib sial dan tidak bisa mengatasim terpaksa kendaraan yang satunya dipakai untuk menarik-derek mobil yang terperosok nyungsep itu. Salah satu dari bejibun pengalaman berharga dengan bekerja di negara konflik macam DR Congo.

Akhirnya sampai juga ditujuan bernama WAMAZA, sebuah kota setingkat kabupaten yang ada di Indonesia, tetapi pada kenyataannya yang saya lihat adalah sebuah desa tanpa listrik dan sarana transportasi yang memadai. Kami bertemu dengan Kepala kabupaten kota tersebut, di DR Congo mereka dipanggil dengan jabatan Adminstrateur.

Duduk di kursi kayu ala kadarnya, berempat kami mulai berbincang menanyakan situasi keamanan dan situasi sipil yang berlaku. Satu-persatu kami ajukan pertanyaan dan status masalah dan sedianya kami mencoba memberi solusi. Harus diakui bahwa acapkali, para pejabat daerah setempat, macam Pak Administrateur ini salah mengerti tentang tugas kita sebagai Milobs. Hal ini terlihat dari tiap kunjungan Milobs datang ke suatu tempat mereka selalu menuntut untuk dipenuhi kebutuhannya dari masalah gizi sampai kebutuhan sosial lainya.

Tugas Military Observer adalah hanya mendata situasi keamanan dan sosial serta memberi jalan keluar berupa nasehat pada suatu masalah. Semakin lama kami disana semakin banyak orang yang datang dengan segala-rupa jenis permasalahan yang dilontarkan-nya.

Saatnya pulang sudah tiba dan lepas kami mendapat data-data yang diperlukan, – waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang serta si perut ini sudah mulai protes meronta untuk diisi. Teman-teman juga sudah merasa kelaparan, tapi ternyata ada satu dari perencanaan patroli yang kelupaan, yaitu masalah logistik makanan yang tidak dibekal, wal hasil sepanjang jalan kami lirak-lirik dan akhirnya menemukan penjual pisang , saya turun beli satu ikat seharga 200 franco, lumayan buat ganjal perut sampai rumah.

Sampai Tim site house seperti biasa kami disambut oleh “si mama” tukang masak, “welcome sir, food is ready!”, suara itulah yang selalu ditunggu setiap personil Milobs saat pulang patrol ditempat terpencil seperti saya ini…he he.he.

Sigit SAKSONO Originating from the Infantry, Sigit Saksono has been exposed to various assignments. Attended several overseas military in India, Australia, and Singapore. Presently serving at MONUC – the United Nations Peacekeeping in Dem. Republic of Congo as COE Inspector. Sigit will...

Detail Profile »

3  Comments

by Imeza Saraswaty at 5 January 2008, 01:04

Wahhh, akhirnya kluar juga ya artikel pertamanya mas :)
Seru juga acara jalan2nya ke Wamaza, ternyata Milobs itu dilihat sebagai ‘Dewa’‘ yang mampu memecahkan segala masalah ya…
Padahal sebenarnya ya nggak :)
Baca guidelines sih boleh2 aja mas, tapi jangan lupa bawa ransum dong,… masih untung dapet pisang, kalo enggak, gimana dong???

Tetap semangat n keep on writing ya!

by Luigi Pralangga at 5 January 2008, 02:35

Akhirnya postingan pertamanya nongol juga… :D Semangat patroli yah.. kalau kawan-kawan di UNMIL (KONGA XXI-4) selalu rajin bawa bekel nasi-timbel ;-) dan rajin ngunyah pil-kina biar gak kena malaria.

udah sempet ketemu Pak Amin Harsono di MONUC-HQ, Kinshasa? beliau ada di Mail & Pouch. Salam hangat dari Afrika Barat dan tetep semangat yah – ditunggu cerita selanjutnya.

by tata at 10 January 2008, 06:15

Salut mas..selamat berjuang yah

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

799 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Banu Kusworo Capt. Banu Kusworo was born in Banyumas, 7 March 1978. currently assume responsibility as the Military Public Information Officer to the Indonesian Garuda Contingent XXIII-E serving under the United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL). He graduated from Indonesian Air...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 6 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 13 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 16 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 16 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 17 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago