About This Post

Ossy DERMAWAN

Correspondent Ossy DERMAWAN

Total 0 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 401 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 8.3/10(3 votes cast)

Articles

Pelajaran Yang Berharga Dalam Suatu Perpisahan

Waktu menunjukkan pukul 12.00 pada tanggal 14 Juli 2007. Bertempat di lapangan upacara markas sektor timur Unifil dan di tengah terik matahari, saya menyaksikan secara langsung rotasi pergantian prajurit penjaga perdamaian dari Spanyol yang tergabung dalam misi perdamaian Unifil di Libanon Selatan.

Brigade Spanyol

Seperti yang diketahui bahwa dalam susunan organisasi militer Unifil terdapat 2 sektor yaitu sektor Barat yang dikomandani oleh negara Italia dan sektor Timur yang dikomandani oleh negara Spanyol. Dalam hal ini, Indonesia merupakan batalyon yang berada secara langsung di bawah komando sektor Timur (Spanyol). Setiap kontingen wajib mengirimkan salah satu perwira sebagai Liaison Officer / LO (Perwira Penghubung) untuk tiap-tiap kontingen di markas sektor.

Kapten Inf Kristomei S, Kapten Nav Benny Simanjuntak, Kapten Cpm M Rizal dan saya secara bergantian mengisi pos sebagai LO di Sektor. Menjadi LO di sektor merupakan suatu kebanggan dan kepercayaan karena kami merupakan perwakilan batalyon di dalam organisasi sektor. Setiap negara pun hanya mengirimkan satu perwira dan untuk Indonesia, kami berempat selalu dirotasi berdasarkan kepentingan tugas yang ada. Merupakan pengalaman menarik bagi kami para LO dari tiap-tiap negara (Nepal, India, Malaysia dan Italia) untuk menghabiskan waktu di dalam ruangan Operations Center yang selalu menghadirkan dinamika dan pengalaman yang beragam.

Setelah 4 bulan berdinas di Libanon (dibandingkan kami yang sudah 7 bulan berdinas disini), kontingen Spanyol pun melaksanakan rotasi pergantian. Komando sektor timur yang lama berasal dari BRIPAC (Brigada Paracaidista ”Almogavares VI”) atau di Indonesia biasa disebut sebagai Brigif Linud. Satuan ini akan segera digantikan oleh satuan BRILAT (Brigada De Infanteria Ligeria Aerotransportable Galicia VII). Pengertian BRILAT dalam bahasa Indonesia adalah Brigif Serangan Udara. Pergantian kali ini dirasakan cukup menarik karena kejadian gugurnya 6 orang prajurit Spanyol dari BRIPAC akibat terkena bom mobil beberapa pekan lalu cukup membuat ’keder’ para prajurit BRILAT yang akan menggantikan BRIPAC. Musibah tersebut pun terjadi tidak lama sebelum adanya rotasi ini. Sehingga sungguh rotasi ini dilaksanakan dengan sangat khidmat dan menjadi pusat perhatian di kalangan para prajurit penjaga perdamaian PBB.

Upacara serah terima yang menghadirkan Komandan Sektor yang lama dan yang baru serta calon Panglima Tempur AD Spanyol sebagai perwakilan negara Spanyol dan penyerah bendera komando pun tak luput dari pengamatan saya sebagai perwakilan Komandan Satgas Indonesia yang hadir dalam upacara tersebut. Upacara ini memang diselenggarakan secara internal, namun karena kami para LO sudah sedemikian seringnya berurusan dengan mereka, Mayor Batoulazza sebagai Kasi Ops Sektor yang lama pun mengajak kami untuk bergabung dalam upacara tersebut. Saat bendera komando diserahkan dari pejabat lama kepada pejabat yang baru, terlihat dalam raut wajah Komandan yang lama, Brigjen Ramon Martin-Ambrosio Merino, bahwa musibah yang dialami prajuritnya kemarin sangatlah mengganggu dirinya. Saya teringat dalam perjalanan hidup militer saya yang relatif cukup baru ini bahwa keberhasilan komandan dalam melaksanakan tugas operasi militer terletak pada keselamatan dan kelengkapan jumlah personel dan material yang dibawa dalam pelaksanaan tugas serta pencapaian tujuan pokok dalam misi itu sendiri. Dan apakah hal tersebut juga terbersit dalam benaknya? Wallahualam. Setelah penyerahan bendera komando kepada pejabat yang baru, Brigjen Jose Prieto Martinez, tergambarkan raut wajah kewaspadaan yang cukup tinggi. Saya yakin di dalam benaknya akan menjadikan musibah yang dialami pasukan lama sebagai pengalaman berharga bagi pasukannya yang baru. Mudah-mudahan pengalaman yang dialami oleh pasukan yang lama tidak akan dihadapi oleh pasukan yang baru. Amien.

Setelah melihat sosok dan raut wajah komandan yang lama dan yang baru, mata saya bergerak mengobservasi raut wajah pasukan lama yang tampil sebagai latar belakang pasukan. Dalam hati saya berpikir, betapa bahagianya mereka yang akan segera kembali bertemu dengan sanak keluarga dan teman-teman di tanah airnya. Betapa di dalam benak setiap prajurit, kembali dengan selamat dalam tugas operasi merupakan suatu kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Betapa saya pun larut dalam emosi yang cukup mendalam bahwa ternyata saya masih 5 bulan lagi akan menyelesaikan tugas di Libanon Selatan ini. Sudah 7 bulan kontingen Indonesia berada di sini dan kami bersyukur bahwa kami semua masih mendapatkan perlindungan dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Betapa berat melihat raut kegembiraan mereka yang akan segera kembali ke negaranya karena saya merasakan bahwa waktu saya masih lama untuk bertemu dengan keluarga. Namun kemudian perasaan tersebut saya buang jauh-jauh karena saya yakin saya tidak sendiri sebagai orang yang merindukan keluarga dan teman-teman di Indonesia. 849 orang prajurit Indonesia lainnya yang berada di sini pasti merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan.

Setelah upacara selesai dilaksanakan, Komandan Sektor yang lama dan yang baru mendatangi kelompok kami (LO). Beliau memperkenalkan kami kepada komandan yang baru. ”I expect you to extend your cooperation and relationship with this new general,” kata-kata itu yang meluncur dari mulut Brigjen Martin Ambrosio sebagai pejabat lama. Kami pun mengucapkan selamat datang kepada komandan sektor yang baru dan selamat jalan kepada komandan sektor yang lama. Sambil teriring humor dari kami para LO, ”Sir, I hope you won’t come again to Lebanon wearing that military BDU (Battle Dress Uniform.red). Hope you are wearing your civillian dress and come here as a tourist.” Mereka tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas ucapan perpisahan kami.

Masih dalam lapangan upacara tersebut, datanglah beberapa rekan sejawat kami di dalam ruangan Operation Center. Ada Letnan Rolan yang sangatlah anti minum minuman lain selain air putih. Dan ada juga Sersan Arribas yang dengan bahasa Inggrisnya yang terbata-bata selalu berusaha membantu kami semua dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Letnan Rolan berkata “We, as soldiers, will always remember this as a friendship. Lebanon might have never solved its problem, but we, as the unity of soldiers from many countries, have found that problem does occur when there is a conflict of interests. We have never faced big problems because in back of our minds, we always think about the unity.” Mayor Rakash, LO dari India pun menimpali, “Conflict of interests happen when people think only and only from their own perspectives. I am personally proud of you and your soldiers who put aside differences in races and nations in order to fulfill the mission.” Terpikir dalam benak saya, bahwa apakah kita semua merasa satu karena kita, seluruh prajurit dari masing-masing negara, merasa senasib dan sependeritaan di Libanon ini sehingga tercipta suatu kondisi persahabatan (brotherhood) yang erat dan cukup tinggi?

Saya bertemu dengan Kapten Ramajo, perwira Zeni dari Spanyol yang biasa berurusan dengan ranjau di Libanon. Saya kenal cukup dekat dengan dia karena pada saat dia melaksanakan pengarahan di markas batalyon Indonesia kepada para prajurit Indonesia tentang pengenalan ranjau, saya bertindak selaku interpreter. Selain itu, saya juga pernah mendampingi Kapten Czi Fauzan Fadli selaku perwira yang mengurus masalah ranjau di batalyon Indonesia dan sering berkoordinasi dengan dia. Kapten Ramajo terlihat sebaya dengan saya. Saya mendatangi dia di lapangan upacara untuk mengucapkan perpisahan. Dia berkata, “I feel pretty bad for you to stay here for another 5 months.” Saya membalas, “I know it’s hard to be here away from the country, but I guess this experience will shape me to be a better man in the future.” Lalu dia menimpali, “This is the toughest time for us to leave when I know that 6 of us are left behind. I have been to Kosovo with NATO military operation but this is a very different area of operation and anything can happen here. I wish you all the best in completing your mission.” Saya pun berterima kasih dan memberikan salam perpisahan kepadanya.

Waktu pun berlalu dan memang tak ada yang kekal di dunia ini. Betapa beruntungnya saya sebagai manusia dan perwira yang dapat bertemu dengan rekan-rekan prajurit yang begitu berdedikasi dalam melaksanakan tugas. Kepergian mereka telah tergantikan dengan rekan-rekan prajurit yang baru dan kami pun siap bekerja sama dengan mereka dalam rangka menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Terlihat kertas yang tertinggal di meja salah satu prajurit yang pulang di dalam ruangan Operation Center, ”Cuanto mayor sea la dificultad y mas imprevista la situacion, mas me superare y mejor cumplire la mision” (Walaupun terdapat kesulitan yang berat dan situasi yang tidak menentu, saya akan selalu memperbaiki diri dan menjalankan misi oleh SAYA dengan lebih baik). Mucha gracias & que dios te bendiga siempre (Terima kasih dan semoga Tuhan selalu memberkati kalian selalu). Doakan saya agar segera menyusul kalian untuk segera bertemu keluarga dan teman-teman serta negara yang telah lama saya tinggalkan. Amien.