About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 26 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 572 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.5/10(2 votes cast)

Articles

Pendidikan - Investasi strategis bagi [anak] bangsa

Dalam ceritanya, si Mbak Huntu-Roges ini mengisahkan kalau di kelasnya, ia sudah terasa susah berjalan di dalam kelas, yaitu ruangan berjalan pada baris diantara 2 deret meja kursi, dimana murid-muridnya sudah duduk berdempetan bahu-bertemu-bahu satu sama lain, alhasil ia hanya bisa mundar-mandir sambil mengajar terbatas di bagian depan saja, karena susah berjalan menengok barisan di balakang itu, entah apakah si kuncung berhidung pesek di baris paling belakang cukup jelas menerima penjelasan pelajaran yang diberikannya.

Setiap pagi, semenjak dari keluar pintu gerbang didepan rumah mau berangkat ke kantor, pemandangan pertama-tama yang terlihat dari kendaraan adalah gerombolan anak-anak kecil berseragam sekolah, melenggang dengan riang dengan langkah kecilnya dari rumah menuju ke sekolahnya masing-masing.

Warna-warni seragamnya pun beragam, ada yang kuning biru, merah-biru, maksudnya si kemejanya warna gonjreng merah lalu celana pendeknya warna biru tua, dan begitu juga kakak kelas mereka yang sudah berada di jenjang high school.

Sebutlah dia, Andrea Huntu-Roges, dia adalah tetangga si kampret ini yang tinggal persis disebelah rumah, kadang sesekali bertemu saat saya kembali dari seharian bekerja, senyum dan lambaian tangan sapa-nya menandai kekerabatan kita sebagai tetangga. Sesekali dalam satu akhir pekan, di depan gerbang pernah ngobrol-ngobrol bersama tetangga lainya yang kebetulan berjalan-jalan sore.

by venus at 28 January 2007, 03:40
wah, sedih banget. lebih parah dari kita nih. aku juga pernah nonton di oprah show, penghasilan mereka 1 dolar sehari.. jadi bener, ya mas?

beuh..ga kebayang :(
by ambar at 28 January 2007, 04:55
Itu masih mending mas ! tgl 26 jan kemaren sy ke bjolobo town (100 km dr kota zwedru/4jam jalan darat) di perbatasan Liberia-Ivory Coast, ndak ada guru sama sekali apalagi bangunan sekolah .. Ndak ada yg mau jd guru disana karena buat ngambil gajinya aja malah harus nombok (biaya transport dua kali lipatnya tuh). Bener-bener kasihan banget mereka ..... Syukur Alhamdulillah anak2 kita yang di tanah air yach .. dapet sekolah n jauuuuh lebih maju dr mereka.
by ancilla at 28 January 2007, 06:31
tapi hebat ya semangatnya...
walau amat sangat terbatas, niat mereka sangat besar. lha itu ampe gotong-gotong kursi...

mestinya kita malu, kalau kita yang lebih "beruntung" tidak punya semangat seperti itu...

smoga kerakusan dunia tidak membuat semangat itu pudar ya mas...
nanti mereka sempat kuliah jauh-jauh ke negri sebrang atau antah berantah, tapi akhirnya malah menghancurkan bangsa walau meningkatkan kemakmuran keluarga :p

*sekitar sebulan lalu, baru liat tampangmu di acara ntuh. hehehe... maap, susa kali aku cari waktu untuk nonton :p
by james at 28 January 2007, 13:43
sangat menggugah sekali foto2 dan essay nya...mas.
hampir sama dengan negara kita yg sedang terpuruk...yang seharusnya pendidikan dan kesehatan itu gratis...
sayang 2 departemen ini juga sarang empuk korupsi.

Coba kita liat skrg India...pendidikan di india sangat lah murah,bangunan universitas2 di india tdk lah semewah & seagung univ. di indonesia,tapi lulusannya bisa mengancam ahli2 IT di silicon valley,usa.kemampuan di nilai dari prestasi bukan gelar pendidikan yg terus ditambah.dan ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan hidup bukan alat pamer...kini india menjadi kekuatan sumber daya manusia intelektual terbesar didunia setelah eropa dan amerika.

Sementara eksport barang2 murah cina menjadi ancaman dunia maju,maka ekspor tenaga intelektual murah menjadi ancaman serius bagi pasaran tenaga kerja di eropa dan amerika.
Dan di indonesia kita menyaksikan bangsa ini terpuruk,yg kelompok terdidiknya cuma berani tepuk dada didepan bangsa nya sendiri yang kurang beruntung....para cukong berkedok kaum akademis berlomba lomba membangun institusi pendidikan hanya untuk mengeruk uang dan kapital...

Maka hasilnya adalah"jutaan sarjana menganggur"di Republik ini...

education is free,not for sale.....salam
by Rara at 28 January 2007, 15:42
Sedih ya.. Di Indonesia sekarang juga mulai berbenah.. masyarakat makin peduli terhadap pendidikan..

Di Al-Azhar, kelas Raul ada 27 orang dengan hanya 2 orang guru.. Pernah saya mo complain, terlalu banyak murid di kelas, sehingga dikhawatirkan banyak murid yang tidak memperoleh perhatian.. Gimana kelasnya Mbak Huntu Roges ya.. :D


by dodski at 29 January 2007, 04:57
*demonstran mode on*

segera realisasikan proporsi 20% APBN untuk sektor pendidikan! ini bukan sekedar wacana! kalo ada yang mengusulkan utk melepaskan sektor pendidikan pada mekanisme pasar: sini deh... biar gw hajar aja tuh orang *preman mode on* :-D

maju terus generasi muda indonesia!
by Arif Kurniawan at 29 January 2007, 09:55
Hebat... akhirnya turun juga tulisan ini.
Makasih Kang Luigi.
Membantu sebagai bahan komparasi pembelajaran terhadap sistem pendidikan.

Nuhun, terimakasih atuh Kang atas tulisannya.
by gre at 29 January 2007, 13:37
:( jadi nyesel, dulu waktu bisa sekolah saya malah sering banget bolos. nongkron di kantin. gak pernah ikut upacara. jadi sekalinya masuk sekolah seharian malah disuruh duduk di ruang bp.

sekarang mulai kuatir. anak saya bakal meniru polah bapaknya dulu.

makanya, artikel bapak saya simpan. nanti kalau dia mulai nakal, bolasbolos, saya kasih liat postingan bapak. mudah-mudahan jadi sadar. :)

dan ini tentang kojarsena. kepanjangan dari korps pelajar serbaguna. saya sendiri tidak mengalami masa kojarsena, sebab pada masa saya sekolah, yang ada adalah pramuka, praja muda karana. kata orang, seragam keduanya hampir sama. atas coklat cerah dengan bawahan coklat tua. itu saja yang saya tahu. maklum, saya masih tigapuluhan. ;)
by Hartanto at 30 January 2007, 01:40
Saya juga salut ketika mendengar bahwa ketika mereka reda dari hingar bingar konflik, mereka langsung ingat untuk --pertama-tama-- membangun sektor pendidikan.
by iman Brotoseno at 30 January 2007, 02:44
benar benar potret buram africa ya...tapi membawa bangku ke sekolah, sangat unik dan membuat masih beruntungnya di negeri kita sendiri. Uh..jadi ingat film ' Bloood Diamond '..
by -ii- at 30 January 2007, 19:17
mau bagi pengalaman sendiri. bbrp waktu lalu ada kesempatan ke kampung2 di kepulauan Raja Ampat, Papua. Untuk bbrp distrik yg mmng sangat jauh dr kota besar terdekat (Sorong), bisa dibilang fasilitas pendidikan itu sangat2 minim. Walaupun di kampung tersebut sang guru nantinya akan mendapatkan tempat tinggal (yang amat layak dibandingkan rumah penduduk setempat) atau ada fasilitas tempat blajar yg memadai, nmn tdk ada guru yang mau ngajar ke sana. siapa yg mau kalau gaji guru tsb saja tdk cukup untuk membeli bahan bakar untuk naik perahu ke Sorong (misalnya bila org tsb sakit atau utk beli bahan pangan pokok)? Hati ini meringis bl penduduk cerita bhw anak2 mreka sudah 2 thn tdk mengecap pendidikan.

tp kenapa ya utk sebagian besar org pemerintah itu (atau siapa pun yang terpilih) sll menilai kemajuan suatu wilayah itu dr pembangunan fisik? jalan dr semen/beton di bangun utk membelah suatu kampung. tp bl dilihat kembali, mana ada sih penduduk -yg terbiasa bertelanjang kaki- mau jalan diatas jalan tsb pd siang hari dimana matahari bersinar terik? Kaki ini pastilah melepuh. yang ada hanya anjing2 yang numpang "pup" disana.
by adek alma at 31 January 2007, 19:21
aku sampai menitikkan air mata baca dan liat photo bocah bawa kursi ke sekolah di artikel ini. kasian sekali mereka ya. nggak kebayang kalau itu anakku.... aku pasti bakalan bawain kursinya.
by mashuri at 1 February 2007, 05:36
Gaji guru di Indonesia 20 tahun yang lalu ya.........
by Kana at 1 February 2007, 17:34
om luigi... na nangis beneran deh liat gambar anak sekolah yg bawa kursi ke sekolah itu... jadi merasa bersyukur karena waktu na seusianya dulu, na ga perlu seperti itu untuk bersekolah dan menuntut ilmu.

eniwei, kondisi ini hampir sama, lho, dengan di Indo. mungkin kalo di kota2 besar di Indoe, sih, udah jauh lebih baik dari itu. tapi coba lihat ke wilayah kalimantan, sumatera, sulawesi, dan papua. lihat ke area pedalamannya. kasusnya mirip! bangunan sekolah yang sangat jarang bisa kita temukan. terbatasnya guru yang mau mengajar di sekolah di pedalaman tersebut. dan fasilitasnya yang tidak memadai. oya, jumlah murid yang melebihi kuota satu kelas yang sesuai dengan anjuran kurikulum pun sama persis!

miris, ya, melihatnya... jadi sepatutnyalah kita bersyukur atas apa yang Tuhan karuniakan pada kita saat ini. tentu tidak lupa juga mewujudkan rasa syukur itu dengan turut membantu mereka yang kekurangan *jika kita mampu* :)
by Hedi at 1 February 2007, 20:04
Ini yang kadang bikin kita bersalah dan tidak bersyukur. Karena sering melihat ke atas, kita mengeluh pendidikan kita ga bener, padahal di bawah sana masih banyak yang lebih kekurangan.
by triadi at 2 February 2007, 14:25
mas luigi kok comment saya ga masuk ya? tapi pengein commnet lagi.

Di setiap negara berkembang permasalahan sepertinya hampir sama...Tentang penjaga gawang pendidikan, yaitu guru. Guru seperti halnya pendidikan di Indonesia seperti seorang anak tiri, bahkan oleh media TV-yang katanya agen pembawa budaya- keberadaan seorang guru pun dipinggirkan. Guru di kebanyakan sinetron remaja digambarkan sebagai seorang yang culun, katrok, kampungan, kere, kacamata tebal, galak, dan seperti tidak berperikemanusian terhadap anak didiknya.

Semakin lama branding tentang wajah guru seperti ini akan semakin kuat, dan sepertinya akan semakin sedikit orang berkualitas yang mau jadi guru karena takut akan image yang sudah terbentuk. Efeknya lanjutan tentunya adalah semakin menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia, dan ini yang di masa depan akan lebih menyedihkan, mengkhawatirkan, dan harus dicermati bersama

by mamakintan at 2 February 2007, 23:22
Kok sampai bawa-bawa bangku ke sekolah...

Di TV pernah lihat di daerah Papua anak2 harus nyebrang sungai (renang) kalau mau ke sekolah, sebelum berenang baju dilepas dan dipakai lagi kalo sudah sampe di sebrang.

Salut sama perjuangannya... Dan sedih juga, kasian.
by Rian at 3 February 2007, 00:26
Walau apapun kondisinya tetaplah semangat belajar.
Walau para Dewan berpesta pora dgn PP 37/2006, tetaplah mencari ilmu hingga ke negeri Cina.
by senja at 5 February 2007, 14:30
mulianya guru2 itu. saya terharu.
by Fannie at 7 February 2007, 22:04
Semoga dengan makin berlalunya waktu dan semakin stabilnya negara, anak anak itu bisa lebih konsentrasi dan diberi kesempatan sekolah :)

Andai Indonesia bisa lebih concern tentang pendidikan.....
by Roni at 8 February 2007, 11:37
Salam kenal Mas Luigi. Mas Luigi ini jadi UN Peace Keeper yah? Wah, hebat. Salut. Saya turut bangga lho. Situsnya sudah saya kunjungi. Senang berkenalan dengan anda. Selamat berjuang mas.

Untuk mengembangkan ke Afrika, saya belum terpikir. Dulu pernah ada calon buyer dari Uganda. Tapi tidak jadi.

Terima kasih atas kunjugannnya di blog saya...


by Yoki at 8 February 2007, 14:32
Ironis yah... bahkan klo melihat pendidikan di Indonesia bagi saya ironis juga..bukan dilihat dari sisi materinya....tapi sistem pendidikan dan moral education-nya itu yang bikin ironis. Sekolah masih dijadikan pajangan sosial yang hanya indah di lihat (katanya?)...sighh........
by linda at 12 February 2007, 20:08
wah nasibnya masih lebih baik bangsa kita ya kang
sedih banget ke sekolah mesti bawa bangku sendiri
btw kang, semua postcard yg pernah dikirim terendam banjir euy :(
by Oskar Syahbana at 14 February 2007, 06:57
I think there's a thing or two that we can learn from this. The teacher is passionate about teaching and the students well, they are really passionate on studying. It's kinda ironic if compared to situations in Indonesia though...

by Bunda Key at 14 February 2007, 19:58
Apa Kabar mas ? Lihat postingan yang ini, baru deh berasa bersyukur (Alhamdulillah) banget jadi orang Indonesia , MERDEKA !
by si iyo at 22 March 2007, 04:10
masih banyak yang suka menyalahkan sistem pendidikan kita, kurang inilah-kurang itulah, tapi nyatanya kita sudah harus bersyukur masih bisa sekolah yang baik, fasilitas alhamdulillah cukup. sekarang tinggal kita semua harus bisa mensyukuri dan memanfaatkannya. inspiring sekali, kang.