Saya selalu menantikan setiap Indodefence digelar. Hajatan besar ini seolah menjadi etalase buat saya untuk melihat apa sih yang baru dari sistem persenjataan kita. Masihkah bernada muram atau sudah sedikit cerah karena bantuan berbagai regulasi dari pemerintah.
Pada Indodefence yang lalu, usai keliling melihat kecanggihan berbagai persenjataan yang dipamerkan negara produsen lain, saya masih bisa tersenyum bangga.
Pertemuan saya dengan Letkol (Mar) Gazali Achmad Sulaiman yang jadi sebabnya. Mungkin Gazali Achmad kini bukan lagi Letkol, barangkali sudah naik pangkat. Gazali merakit kendaraan pendukung personil di lapangan. Ciptaannya ini ia namanya Aligator dan Raptor.
Idenya sederhana saja. Bermula dari keinginan untuk memberikan dukungan keamanan bagi personel militer yang ditugaskan di wilayah konflik, terutama Aceh, mulailah ia bergulat dengan ide untuk mengubah kendaraan standar menjadi angkut personel.
“Untuk wilayah konflik, kendaraan jenis ini sangat membantu karena bajanya tahan peluru sehingga suplai logistik dan dukungan bisa dilakukan dengan lebih baik,” ujarnya, kala itu.
Maklum, bodi kendaraan ini diganti dengan armoured steel 18 milimeter, mesin pun diganti dengan kapasitas yang lebih besar. Mesin diesel 4 silinder, inline 120 PS, konfigurasi 4 × 2, dengan berat total 6 ton.
Jadilah Aligator yang mampu mengangkut 20 personel dengan aman. Laiknya kendaraan yang digunakan di wilayah konflik, Aligator pun dilengkapi dengan mitraliur 12,7. Baja yang tebal membuat kendaraan ini tidak tembus peluru kaliber 7,62 mm pada jarak tembakan 100 meter. Tampilan Aligator meski digunakan untuk angkut personel tetapi sangat nyaman digunakan. Lengkap dengan pendingin udara dan kursi yang empuk.
Selain Aligator, ada pula Raptor, kendaraan angkut personel lapis baja yang dikhususkan untuk perwira. Raptor didesain lebih mewah dan lebih nyaman. Bentuknya mirip dengan Aligator hanya lebih pendek 30 sentimeter. Desain interior lebih nyaman karena hanya memasang enam kursi, selain dua kursi untuk kru. Pintunya pun hidrolik. Enam perwira atau tamu eksekutif bisa duduk nyaman di kendaraan ini sambil berdiskusi.
Pekerjaan tangan ini tidak sia-sia karena pernah menang pula dalam Lomba Cipta Karya Teknologi TNI, Raptor dan Aligator meraih juara dua. Sebetulnya sudah ada ajakan dari Korea Selatan untuk diproduksi secara massal.
Wajar memang kalau banyak pihak yang tertarik untuk memproduksi model kendaraan ini dalam jumlah banyak. Meski pemotongan baja dilakukan cara konvensional, tetapi hasil akhir terlihat sangat halus. “Untuk hasil karya tangan sendiri bukan pabrikan, kendaraan ini sudah sempurna. Siapa pun puas yang naik kendaraan ini,” ujarnya.
Bukan Gazali kalau puas dengan dua karyanya ini. Ia pun tengah membuat kendaraan modifikasi lain, yaitu sebuah bus angkut personel biasa, jip modifikasi yang dapat digunakan untuk kegiatan tim SAR, intai, dan angkut personel, serta bus yang dapat digunakan untuk rapat komando para perwira tinggi yang dilengkapi dengan toilet.
Keahlian prajurit seperti ini memang harusnya didukung dengan pendanaan dan kebijakan politik yang sejalan. Dana seringkali menjadi kendala.
Perlu Dukungan
Tapi bagaimana dengan Indodefence kali ini? Pendanaan memang masih menjadi kendala. Meski embargo dari Amerika telah dicabut, tak berarti Indonesia bebas berbelanja. Alutsista apapun memang tersedia di sana, tetapi lagi-lagi dana yang menjadi kendalanya. Terobosan yang memungkinkan adalah menggiatkan badan usaha milik negara industri strategis (BUMNIS).
Alutsista: Tidak bisa sembarang belanja
Ada harapan ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan dan Penerusan Pinjaman Dalam Negeri oleh pemerintah.
Paling tidak, inilah kunci agar pinjaman dana bisa diberikan sehingga industri strategis bergerak maju memproduksi alutsista yang dibutuhkan untuk pertahanan kita.
“Walau sudah keluar peraturan itu, tidak lantas memudahkan proses pengadaan senjata buatan industri pertahanan strategis dalam negeri,” ujar Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.
Padahal, sampai saat ini BUMNIS memerlukan dana paling tidak 600-700 juta dolar AS untuk bisa memroduksi kebutuhan dan permintaan produk senjata TNI.
Kendalanya menurut Juwono, regulasi bunga pinjaman yang syaratnya harus setara dengan suku bunga komersial. Titik temu pun tidak mudah dilakukan mesku sudah dilakukan oleh Departemen Keuangan dengan otoritas terkait yaitu Bank Indonesia. Sejak 10 tahun, BI sudah memiliki independensi sehingga tidak berada di bawah kendali pemerintah lagi.
Padahal komitmen untuk menggunakan alutsiswa dalam negeri sudah dinyatakan oleh Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso.
Ah saya jadi ingat. Ketika Slamet Soebijanto, mantan Kepala Staf TNI AL mengatakan, pemikiran untung rugi seharusnya tidak bisa dijadikan prioritas utama pengembangan alutsista. “Kalau hanya mikir untung rugi, tidak akan pernah ada upaya untuk mengembangkan BUMNIS ini,” ujarnya.
Sayangnya pula, sejak dikeluarkan hingga saat ini, belum ada petunjuk teknis pelaksanaan PP 54 tadi di lapangan.
Padahal tanda dukungan berarti, alutsista kita lebih banyak bergerak karena repowering peralatan yang ada. Bukankah jadi rahasia bersama kalau masih banyak alustsista kita yang diproduksi tahun 1960 dan 70 an? Senjata yang sudah tergolong usang, bahkan yang sudah habis masa pakainya, dibongkar dan diperbaiki dengan kemampuan prajurit TNI sendiri. Mungkin inilah kreatifitas yang lahir dari keterpaksaan. Padahal seharusnya improvisasi dan ketrampilan tinggi dari prajurit ini yang seharusnya disinkronkan dengan usaha stratgis dari pemerintah.
Repowering, meski akan berguna untuk sementara waktu, tetapi tidak selamanya bisa digunakan. Sudah berapa kali bagian dari pesawat terbang TNI yang jatuh di perkampungan warga? Sudah berapa as panser yang patah. Arie Wailan Orah (Awo), kameramen Indonsiar mengalami nasib naas ketika bersama TNI naik panser Saracen di Aceh. Saracen seri FV600 yang diproduksi usai perang dunia kedua itu memang sudah diperbaiki sebelum diterjunkan ke Aceh kala itu. Malang, Saracen yang patas as belakang itu menewaskan Awo.
Awo menjadi perbincangan hangat karena dia wartawan, tetapi bagaimana dengan nasib prajurit yang mengalami nasib sama karena tak laiknya alutsista kita? Jangan sampai, tewasnya prajurit karena buruknya alutisista hanya menjadi bilangan tanpa makna.
Alarikka, Jakarta 22 November 2008
Achh sy terkesan dgn kupasan artikel ini dan setuju amat sangat kalau saja Pemerintah kita mau berbuat untuk TNI kita sebenarnya bisa saja terlepas dr kesulitan berbagai DANA,intinya skala prioritas,dulu ketika Jenderal YUSUF masih sebagai panglima banyak GEBRAKAN yang beliau lakukan bagi kepentingan TNI kita,dan kenapa para petinggi saat ini enggan meneruskan langkah & obsesi Jend YUSUF yang ingin memperkuat TNI kita. Saya sering diskusi dgn para MILOBS betapa jauhnya negara kita tertinggal dengan negara tetangga khususnya dlm bidang kelengkapan persenjataan tempur TNI.
salam EA