Ketika saya tinggal di Wamena tahun 2007 lalu, suatu hari seorang teman datang ke rumah kami dan memberitahukan bahwa hari Sabtu di daerah Sinakma akan ada pertunjukan tari tradisional. Teman kami mengajak kami untuk ikut melihat pertunjukan itu.
Hari Sabtu siang, kami bersama-sama pergi ke Sinakma, tempat dilangsungkannya pertunjukan, di pinggir kota Wamena. Tempatnya di suatu lingkungan yang terdiri dari beberapa Honai.
Ketika kami datang, terlihat ada dua orang perempuan dengan pakaian tradisional sedang beraktivitas di ladang. Kami berbincang-bincang sebentar dengan tuan rumah, dan tak berapa lama pertunjukan pun dimulai.
Ternyata dua orang perempuan yang sedang bekerja di ladang tadi merupakan bagian dari pertunjukan. Pertunjukan ini berupa drama yang menceritakan penculikan seorang perempuan oleh lelaki dari suku lain yang kemudian berakibat pada terjadinya perang antar suku. Drama ini berakhir dengan happy ending. Kedua suku akhirnya berdamai, dan untuk menunjukkan bahwa mereka bersepakat untuk berdamai yaitu dengan pertemuan wakil dari kedua suku yang kemudian bersama-sama mematahkan sebilah anak panah.




Ada yang menarik ketika terjadi adegan perang antar suku. Disitu saya melihat ada perempuan-perempuan yang ikut serta di dalam perang. Perempuan-perempuan itu mengayun-ayunkan dedaunan sambil mengeluarkan suara-suara seperti yel-yel atau nyanyian. Ketika perang berakhir, ternyata perempuan-perempuan tadi kembali muncul dan, sekali lagi, mengayun-ayunkan dedaunan sambil bernyanyi.
Tertarik dengan pemandangan tersebut, sayapun bertanya kepada teman saya, apa sebenarnya yang dilakukan oleh perempuan-perempuan tadi di dalam situasi perang suku? Kata teman saya, perempuan yang mengayun-ayunkan dedaunan di saat perang bertugas untuk memberi semangat pada para lelaki yang sedang berperang. Sedangkan ketika perang berakhir, perempuan tadi yang memberi pertanda bahwa perang telah usai.
Ternyata peran perempuan dalam perang dan perdamaian cukup besar ya… perempuan bisa menjadi sumber terjadinya perang – seperti dalam cerita tadi yang diawali dengan penculikan seorang perempuan, lalu perempuan mampu mengobarkan semangat perang, tetapi kemudian perempuan juga mampu menjadi aktor penting yang menghentikan peperangan.
Dan dalam budaya tertentu, menyerahkan perempuan kepada pihak lawan yang menang dalam peperangan juga menjadi pertanda adanya pengakuan atas kemenangan satu pihak dalam perang.
Kejadian ini tidak hanya ditemui di Papua… di banyak daerah bisa pula ditemui kejadian serupa. Salah satu yang pernah saya lihat adalah di filem The Wajir Story, yang menceritakan peran perempuan di Wajir, Kenya, dalam meningkatkan perang maupun mengajak pada terwujudnya perdamaian.
Perempuan memang luar biasa…
(.dodie.)
Selamat hari kartini :)