Setelah hampir seminggu departure briefing di kantor pusat di Perancis dan hamper 2 minggu di kantor regional di Nairobi – Kenya, akhirnya tgl 20 Februari menginjakkan kaki di tempat tugas baru yakni di Hargeisa – Somaliland.
Selama satu dasawarsa terakhir, karena pekerjaan, membuatku terkespos cukup baik dengan Afrika termasuk budaya, makanan, musik, tari, bahasa dan kebiasaan masyarakat wilayah Afrika lainnya terutama Afrika Barat. Namun Somaliland ini relatif berbeda dibandingkan wilayah Afrika Barat. Secara umum, Somaliland lebih dekat ke budaya Arab; makanannya, interior rumahnya, musik, tarian, budaya, pakaian, dan bahasa sangat dekat dengan budaya Arab termasuk secara fisik relatif tidak seperti streotip masyarakat Afrika lainnya.
Pekerjaan saat ini juga membuatku melakukan perjalanan dinas hingga ke pedalaman/perbatasan Djibouti dan Ethiopia. Perjalanan terakhir yang baru saja kulakukan minggu lalu adalah ke Boroma yang merupakan perbatasan Somaliland – Ethiopia, dan ke daerah coastal Lowyado yang merupakan pebatasan Somaliland – Djibouti. Hargeisa – Boroma berjarak tempuh 2jam-an lewat darat dan dari Boroma ke Lowyado sekitar 8 jam-an yang kondisi jalannya jangan dibandingkan dengan kondisi lintas Sumatera maupun Pantura di Indonesia.
Melainkan kondisi yang relatif berat melintasi gurun pasir yang sangat gersang, sungai lebar berbatu-batu besar, perbukitan dengan batu dan karang-karang besar serta berbagai jalur yang sangat terjal. Namun bagi yang menyukai kegiatan off-road, maka ini adalah jalur off-road yang sangat mengesankan. Hanya kendaraan 4wheel yang dapat digunakan di jalur ini karena beratnya kondisi geografis wilayah ini.
Di tempat tugas baru ini, mulai hari pertama sudah mulai belajar bahasa Nasional yakni Bahasa Somali. Bahasa ini sangat jauh berbeda dengan bahasa/lokal dialek wilayah Afrika lainnya. Bahasa ini sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab. Buatku yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Arab, ini relatif jadi tantangan besar buatku. Secara pribadi, menurutku lebih mudah belajar bahasa Kwashili yang digunakan secara nasional oleh masyarakat di Kenya maupun Bahasa Igbo yang digunakan sebagian besar masyarakat Nigeria dibandingkan bahasa Somali. Mungkin karena dalam bahasa Somali, pengucapannya tidak sama dengan penulisannya. Misalnya huruf ‘x’ dibaca sebagai ‘h’ misalnya ‘axmed’ dibaca ‘ahmed’.
Masih terbatasnya ketrampilanku dalam bahasa Somali, membuatku sangat bergantung kepada staff baik project staff maupun support staff seperti supir terutama ketika sedang melakukan perjalanan dinas dan memberikan supervisi teknis di lapangan. Untuk staff di kantor, karena Bahasa Inggris adalah bahasa sehari-hari, tidak menjadi masalah kecuali ketika berhadapan dengan support staff seperti cleaner dan cook di kantor dan di Guest House.
Kadang buat staff, juga lebih mudah bagi mereka dalam bertugas menggunakan Bahasa Somali ketika berhadapan dengan para partner kerja di luar kantor. Untuk itu, sebagai usaha memahami, aku mulai belajar membaca bibir staff ketika sedang meeting dengan partner kerja dari luar kantor. Ini cukup membantu kecuali partner dari luar kantor terbiasa bicara dengan gerakan bibir yang sangat minim dan suara yang sangat halus.
Namun ketika harus melakukan perjalanan dinas hingga ke pedalaman, dimana Bahasa Inggris sangat minim digunakan, di sini, saya dapat tergantung kepada staff yang menyertai perjalanan dinas untuk menterjemahkan penullis kepada para anggota team yang disupervisi di pedalaman. Terutama ketika sedang memberikan supervisi teknis, misalnya seperti minggu lalu ke Lowyado dengan agenda memberikan supervisi kepada para konselor di Layanan Kesehatan satu-satunya di Lowyado.
Selama proses supervisi, kadang staff harus menterjemahkanku kepada team yang disupervisi dengan sangat detail, dan kadang cukup menterjemahkan intinya saja karena ada saatnya saya dapat menangkap pembicaraan dari membaca bibir staff. Namun ada kalanya saya merasa gregetan ketika kalimat yang kusampaikan hanya singkat, namun terjemahannya cukup panjang. Ini membuatku belajar untuk memberikan kepercayaan utuh kepada staff dalam menterjemahkan sekaligus juga buatku belajar bersabar. Proses ini membuatku sangat bersukur di masa-masa pertumbuhan karirku di tanah air, berkesempatan bekerja dengan staff asing.
Sekarang saya mengerti betapa sangat dibutuhkan kesabaran dan dan memberikan kepercayaan tinggi kepada anggota team. Betul-betul seperti mengulang proses di masa lalu, hanya saat ini posisiku sebagai staff asing di negara asing yang mengepalai program dan bekerja dengan staff lokal. Diriku percaya, aku saat ini adalah hasil proses bertumbuh bekerja bersama dengan para atasan-atasan asingku di masa lalu seperti Sue Prosser, Margaret Lord dan Steve Wignall dan kerja team bersama team kerja Indonesia lainnya seperti dengan Fetty Zachra, juga para supir yang sudah seperti keluarga sendiri seperti Pak Acho dan Mancuana Madjid di Pulau Buton.
Kini di tempat baru, aku memiliki anggota team baik project staff lokal seperti Nimo, Kamil, Rooble, Khadar, dsb dan juga team supir yang sangat berdedikasi seperti Yassin, Adeero Haibe, Adeero Harun, Adeero Abduraxman. Dan kini merekalah keluargaku di Somaliland ini; sebuah negara yang belum diakui secara diplomatik internasional yang menyebabkan sumber dana sangat minim dan mempengaruhi infrastruktur yang di sana sini masih sangat minim, tapi yang telah membuatu jatuh cinta dan berniat menggunakan masa 2 tahunku ke depan dengan optimal untuk melakukan yang terbaik dan semoga akan menghasilkan staff-staff ekspatriat baru dari negara ini seperti Indonesia menghasilkanku.
Tulisan ini kudedikasikan buat Sue Prosser & Margaret Lord (2 inspiring women in my career), Fetty Zachra (my soul sister not only in humanitarian field), clan HIMPSI di Pejaten, juga keluarga besar baruku di Somaliland. Love you all and thank you for inspiring and give roles in my life. Habeen Wanagsan.. Good night from Somaliland..









Neng Irene, saat ngebaca dan nengok foto2nya, kok rasanya jauh bener menjulang ya situasi kalian di Somaliland (Hargeisa) dengan mereka yang ada di Mogadishu, Somalia yang jelas terkesan ‘liar dan barbar’.
Saat ini misi Joint antara African Union (AU) dengan PBB yaitu African Union – United Nations Mission in Somalia (AMISOM) masih belum mendapat mandat penuh dan pre-deployment nampaknya masih jauh dari realisasi untuk masuk ke Somalia, mengingat 2 kali misi PBb disana gagal dalam UNOSOM 1 & 2, inget film hollywood —> Blackhawk Down.
Hati-hati ya disana.. siapa tahu saat nanti misi AMISOM di gelar full-throttle, kita bisa ketemu di Nairobi atau malah di Mogadishu sekalian. Salam hangat dari Monrovia ya – ditunggu cerita seru berikutnya.
PS: Titipanku jangan lupa ya! :D
yeup! betul banget kang! beda banget! sebelum aku nyampe sini, aku browsing internet tentang somaliland termasuk di wikipedia, disebutkan negara ini berada situasi phase security 5 seperti di mogadishu, somalia.. wheits… cari informasi lagi dong ahh, dapat info dari staff2 di sini, semua isinya hangat dalam artian positif. begitu nyampe di Hargeisa Airport, naluri tukang potret amatiran keluar, langsung mau motret landasan n kondisi bandara, ehh.. diteriakin ama UN Troops yang bertugas di bandara.. “no picture mam! stop! no camera!” hmmm.. tapi begitu masuk ke jalur imigrasi, rasanya seperti masuk ke warung tetangga.. everybody knows everybody.. dan itu perasaan hangat, ramah, aman itu tetap hingga sekarang! i really feel at home here! moga2 ini dibaca mba Anti (Piranti), n makin semangat untuk gabung ke wilayah afrika ya ;))
Februari lalu di Nairobi sempat ngobrol dengan seorang teman yang dulu sama2 bertugas di UN DSS Indonesia, saat ini bertugas di UN DSS Somalia (Mogadishu) share kl februari itu UN DSS Mogadishu ditarik ke Nairobi karena situasi makin panas di sana. Tp 2 minggu lalu semua sudah kembali ke Mogadishu.
menurutku yg jadi masalah di sini selain belum terecognizenya secara international, adalah masalah pengkonsumsian “khat” yg sangat umum..tanpa mempertimbangkan dampak sosial,ekonomi, kesehatan jg mental dari pengkonsumsian tanaman yg konon berasal dari ethiopia ini. ntar2 aku usahakan nulis ttg kebiasaan konsumsi tanaman ini ya kang..
kang, aku ga pernah terima pesan apapun ttg uang somaliland.. diemail ulang kang ke aku..
habeen wanagsan.. good night.. selamat malam..
irene sirait
Mba irene..
Duuuhhh.. Aku sangat2 terkesan dgn ceritamu mbaaa.. :)
Aku jg sangat2 tertarik utk menjadi bagian dr peacekeeper ini.. Tp kok ya stlh membaca tulisanmu aku jd mikir, aku kan ga pny pengalaman smskl kerja di NGO dan sejenisnya.. :( will I make it? Manalagi modalku cm bahasa inggris doang.. Huhuhuhu.. Macamana ini?? Tp aku salut bgt sm mba yg cepet bgt bs adaptasi dan bljr budaya serta bahasa mereka. :)
Tetep semangat ya mbaaa.. Dan doakan aku spy bs join jugaaa.. Hehehe.. Amiiinn.. :)
thanks Irene for ur good intentions. plse keep up the good work.
@Ummil: melamar pada lowongan tersedia pada situs resmi United Nations Recruiting bisa memberikanmu banyak pilihan dan informasi tambahan dimana banyak sekali misi peacekeeping PBB dan lowongan pada International NGO juga memprasyaratkan berbagai jenis profesi dari administrasi, keuangan, hingga jenis pekerjaan substantif.
Silahkan bangun kapabilitasmu serta ‘percaya-dirimu’ agar dapat sukses mendapatkan kesempatan karir menjadi peacekeepers dan mampu berdiri sejajar dalam persaingan dengan peacekeepers dari negara lainnya. Tetep semangat ya. Salam hangat dari afrika barat.
@ ummil: warm greetings from somaliland! hi mas or mba ummil? thanks for the good impression and compliment. i agree with kang luigi thousand percents! come, let’s spread out the wings to keep the peace worldwide! leave the inferiority in the back yard of your house ;)) This field needs zillion people! build your capability & confident, browse to various humanitarian job vacancy sites, put your good intention into your daily prayers, keep do the effort and get ready to pack your belongings ;)
@ mohamed & kang luigi: aad baad u mahadsantay & galab wanagsan, walaalo! thank you so much and good afternoon, brothers!