About This Post

Muhammad IRAWADI

Correspondent Muhammad IRAWADI

Total 5 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 183 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Pesan Presiden terhadap Personel TNI

Presiden SBY saat melantik 942 taruna TNI-Polri menjadi perwira muda di Semarang tanggal 17 Desember 2007, mengungkapkan bahwa TNI-Polri harus dapat merespons dengan cepat dan tepat terhadap perubahan dibidang teknologi persenjataan dan strategi tempur yang berkembang saat ini. Pernyataan ini tentunya diungkapkan bukan serta merta, namun bila ditilik lebih dalam memang sudah saatnya institusi TNI untuk mampu menghadapi perkembangan yang terjadi disekitarnya.

Pernyataan Presiden bila dilihat konteks perkembangan jaman, tentunya untuk menggugah dan mendorong institusi TNI, agar mampu menghadapi situasi yang bergerak cepat dibidang tehnologi. Saat ini revolusi tempur tidak hanya menjadi domain militer namun juga bagi perencana militer sipil yang berkompeten untuk bersama meningkatkan kemapuan pertahanan Indonesia. Bila dilihat kebelakang sejenak, memang TNI secara internal telah melakukan pembenahan untuk meningkatkan profesionalismenya. Hal ini adalah dilakukan sesuai dengan keinginan dan tuntutan.

Reformasi didalam tubuh TNI telah dilakukan dan Mabes TNI telah mengeluarkan pedoman dan langkah strategisnya untuk melakukan pembenahan secara struktural dan kultural. Buku “TNI Abad XXI” melalui Redefinisi, Reposisi dan Reaktualisasi Peran TNI dalam kehidupan bangsa merupakan “Buku Putih” TNI untuk menunjukkan jati diri dihadapkan pada perubahan jaman. “TNI yang kita andalkan haruslah makin profesional dan memiliki kemampuan dan tidak boleh tertinggal dengan kemampuan negara lain. Sehingga TNI diharapkan senantiasa siap jika penggunaan kekuatan militer harus ditempuh untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara”.

Kutipan diatas merupakan ucapan SBY saat mewisuda para perwira muda dari Akademi TNI dan Polri di Semarang tersebut. Revolusi tempur telah dilakukan oleh negara luar, seperti Amerika Serikat, untuk dihadapkan terhadap tuntutan tugas. Konsep militer tersebut dikenal dengan Revolution in Military Affairs (RMA). RMA adalah sebuah teori tentang peperangan masa depan, dimana sering dikaitkan dengan kemampuan untuk siap melakukan perubahan terhadap tehnologi dan organisasi yang ditujukan terhadap peperangan. Peperangan masa depan adalah peperangan informasi, network-centric warfare, Komado dan Kendali terintegrasi yang semuanya berbasis tehnologi informasi yang bermuara pada Keamanan Nasional. Negara-negara diseluruh dunia saat ini telah melakukan revolusi tempur karena tindakan ini bukan semata-mata untuk melakukan pertempuran secara konvensional namun telah terjadinya pergeseran yang sangat besar dalam bidang kemiliteran, sehingga negara tersebut tahu bagaimana mereka akan melakukan tindakan untuk kepentingan keamanan nasionalnya. Sedangkan negara lain seperti Belanda, Australia, Selandia Baru, RRC, Singapura, Rusia dan Jerman telah melakukan riset yang mendalam tentang Revolusi Tempur dan hasilnya melakukan perubahan dibidang infrastruktur dan organisasi militernya.

Meskipun negara tersebut memahami bahwa investasi untuk membuat infrastrukturnya sangat mahal. Namun keniscayaan terhadap ancaman dan melindungi kepentingan nasional menuntut negara-negara tersebut konsisten melakukannya. Hal ini harus dipahami oleh para perwira militer Indonesia bahwa Revolusi Tempur telah memunculkan dimensi lain yaitu informasi disamping kemampuan didarat, laut dan udara.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki keunggulan komperatif, mulai dari sumber daya alam, jumlah penduduk dan letak geografis yang strategis. Modal awal anugrah Tuhan YME ini akan berlalu begitu saja, jika tidak dikelola dengan sumber daya manusia yang ada didalamnya. Sejak dahulu kala, tidak disangsikan bahwa jajaran kepulauan Nusantara telah menarik minat asing untuk menanamkan pengaruhnya terhadap negri yang subur dan memiliki kekayaan alam melimpah.

Tentunya selain untuk berdagang mereka juga ingin “menguasai” secara ekonomi dan politik. Saat Indonesia ini memiliki perbatasan dengan negara tentangga seperti Malaysia, Singapura, Pilipina, Papua Nugini dan Australia, sehingga tidak menutup kemungkinan konflik intensitas rendah hingga tinggi dapat muncul dari perbatasan. Meskipun Presiden mengatakan bahwa cara militer adalah cara terakhir yang dilakukan setelah diplomasi dan negosiasi politik, namun kesiapan dan kewaspadaan harus tetap tinggi bagi personel militer Indonesia.

Dengan keterbatasan anggaran negara untuk menyiapkan postur yang ideal bagi kemampuan personel militer Indonesia, menuntut improvisasi dari para perwira muda untuk tidak berhenti belajar dan berkreasi. Pemulihan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia. Karena bila anggaran pertahanan dinaikkan maka akan berpengaruh terhadap anggaran bidang kesehatan dan pendidikan.

Secara alami bila ingin meningkatkan profesionalisme bidang apapun maka akan bermuara pada tuntutan dana anggaran untuk pembinaan penyiapkan personel yang profesional. Kematangan dan kedewasaan berpikir dari pribadi personel militer harus dikedepankan untuk mendukung kemanunggalan dengan rakyat. Sehingga tidak ada kata terlambat untuk tetap mencurahkan perhatian untuk meningkatkan kemampuan dibidang militer.

by Luigi Pralangga at 3 January 2008, 21:03

Mas Irawadi,

Sependapat dengan apa yang dituangkan dalam entry kali ini, satu hal yang harus kita sadari bahwa sebuah rumah akan terasa lebih aman bila ada pagar pembatas yang kuat dan jelas, dimana TNI & POLRI adalah berfungsi sebagai institusi pagar pelindung bagi rumah dan penghuninya.

Menguatkan, memberdayakan dan meningkatkan kemampuan TNIPOLRI, baik personil dan kapabilitasnya adalah sebuah kebutuhan dan bukan menjadikan militerisme diatas elemen lain dalam struktur bernegara/bermasyarakat. Berjiwa militan adalah penting bagi setiap individu bangsa, bukan hanya tugas mereka yang berseragam dan yang dipersenjatakan saja.. setiap individu penghuni “rumah” itu mempunyai tanggung-jawab dan hak yang sama dalam pembelaan bangsa.

Meningkatkan kemampuan militer adalah elemen deterrence dini, agar bangsa dan negara ini senantiasa bisa disegani dan dihormati, karena kita bisa dan mampu membela diri bukan untuk pamer kekuatan.

by Agung Eka Dahana at 4 January 2008, 15:02

Anggaran militernya aja ngga cukup untuk itu…ditambah lagi dengan korupsi di tni sendiri sehingga mereka nggak konsen untuk berperang lawan malaysia….

by Luigi Pralangga at 4 January 2008, 15:25

Dear Agung,

Trims buat responsenya. Saya yakin perihal ini bisa dijawab dengan pencerahan dari kawan-kawan di TNI.
Satu hal yang saya faham adalah, TNI layaknya organisasi/institusi besar lainya juga menerapkan perbaikan-perbaikan internal.

Dari sudut pandang seorang sipil, yang juga berkecimpung dalam dunia peacekeeping, perihal serupa juga dialami oleh angkatan bersenjata lain-nya meski tidaklah semua serupa dan berbeda karakter situasinya. Dengan mekanisme dan fungsi kontrol yang sudah berlaku, saya yakin kedepan TNI bisa jauh lebih profesional. Kita doakan saja dan tentunya didukung.

A little pat on the back and sincere support from us, as civilian is much more effective rather than the negative gestures. After all, they are the one guarding our home. Right? :-)

Please continue expressing your voice, this way – we know that you care.

Kind regards from West Africa.

by Sulthon Hasanudin at 4 January 2008, 17:31

Wah menarik memang pernyatan presiden ini, jaman sekarang memang kita ngak bisa lepas dari kemajuan tehnologi, bahkan bisa dikatakan merupakan tuntutan jaman,dalam membentuk postur tni yg profesional.

Namun kita harus ingat bahwa manusia masih merupakan subject yg paling penting dalam kekuatan militer, setinggi apapun kecanggihan teknologi tanpa dibarengi sikap mental dan semangat juang yg tinggi akan menjadi suatu pajangan semata, sejarah beberapa kali mencatat tehnologi tidak musti memenangkan pertempuran, tapi tanpa teknologi nampaknya sangat sulit untuk menang.

Kembali pada semangat juang dan semangat bertempurlah yg menentukan kemenangan. Ini tidak hanya militer lo, semua komponen bangsa militer sipil mempunyai hak dan kwajiban yang sama dalam bela negara……….he he he…….ini kata undang undang.

by Tedja at 12 January 2008, 09:10

Irawadi,
Rudy Rahmat

How are you doing?
Nice to contact you again.

Regards
Tedja