Sudah setahun lewat saya bertugas di Sudan, tepatnya pada United Nations Mission in Sudan (UNMIS), misi pemulihan perdamaian PBB di Sudan. Banyak kisah yang selalu menjadi ide untuk diceritakan namun karena kesibukan dan usang-nya diri ini lepas jam 5 sore, maka urunglah niat itu untuk menuliskan-nya.
Saya bekerja sebagai staff pendukung operasi pada UNMIS – Air Operations, dimana selain dukungan operasi dan administrasi Air Operations, juga terlibat banyak perihal budgeting dan recruitmen, pokoknya beragam jenis tugas dan pekerjaan dilakkukan serasa tangan ini ada 5-6 layaknya seekor gurita.
Seperti yang bayak diketahui, Air Oeprations di UNMIS, Sudan – melayani banyak dukungan transportasi udara bagi staff sipil danmiliter yang bernaung dibawah UNMIS dan misi PBB untuk Darfur (United Nations Hybrid Mission in Darfur – UNAMID), jadi kebayang khan seperti apa sibuknya dan kantor kita di UNMIS Air Operations, Khartoum – ibukota Sudan itu tidak kalah ramainya dengan bandara cengkareng!.




Namun sejak beberapa hari lalu, saya kembali teringat, sang atasan selalu bercerita akan pengalaman lampaunya saat bertugas di Democratique Republic du Congo (DRC) yang salah satu tugasnya adalah mengawasi pembangunan fasilitas lapangan terbang di wilayah Beni, untuk keperluan operasional misi PBB disana (MONUC). Kisahnya semakin seru bercerita dikala ia berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan UN Military Observer (UNMO) dari TNI yang bertugas di Sudan. Dalam bahasa yang sudah diterjemahkan secara sederhana, saya ingat sekali ia berceloteh kepada mereka: “Kamu tahu, waktu di Congo, saya bertemu dengan Batalion Zeni dari Indonesian Army..mereka piawai sekali dalam mengerjakan konstruksi lapangan terbang disana.. dan..bla..bla..bla..“ – sampai cerita itu terus berulang tiap kali ada personil UNMO dari TNI yang mampir ke kantor saya untuk deployment ke daerah pelosok di Sudan.
Mr. O’Brein, begitulah ia dipanggilnya disini, pria dengan sosok paruh baya, berambut putih aslinya datang dari Inggris, adalah seorang atasan yang profesional dan amat memperhatikan para staff dibawahnya. Dari cerita-cerita yang saya dengar akan kesan/impresi si atasan terhadap kontingen Zeni Indonesia, sangat mendorong saya untuk mulai berkisah melalui blog ini dan mnyatakan bahwa saya turut bangga menjadi orang Indonesia dan bangga atas kinerja serta sumbangsih rekan-rekan TNI yang bertugas di D.R. Congo.
Atas kesediaan beliau, dibawah ini adalah photo bapak-bapak peacekeepers TNI dan Mr. O’Brien saaat mereka rampung membangun Airfield di hutan belantara di D.R. Congo. Photo ini pemberian Mr. O’Brien dan dia adalah Chief Aviation Officer di UNMIS.

Beliau ini selalu memuji bapak-bapak peacekeepers TNI akan hasil kerja mereka. Sudah pasti saat ada anggota peacekepers atau Military Observer TNI yang mampir ke kantorku, si bosku ini selalu memamerkan photonya kepada tetamunya itu. Beliau selalu memuji hanya TNI yang berani dan menyanggupi membangun Airfield didaerah yang sangat berbahaya di D.R Congo. Salut dan admirasi deh pokoknya hanya kepada bapak-bapak Peacekeepers TNI.
Salam hangat dari Khartoum, Sudan – insyallah nantikan saya pada kisah selanjutnya, live from Khartoum, Sudan.
Wah salut Buat Mr O’brien yang selalu ramah dan kepada bapak TNI emang tiada duanya beda deh ama yang itu tu hehehehe, , , , Ayo Mbak cerita lagi dong di tunggu ya.selamat berlibur ya, saya akan jaga gawang aja deh…….
Salam hangat dari tanah air Mba Eko. .
Salam kenal, saya Deded Wardi mba, salah satu penggemar berat UN dan juga sangat berharap dan berupaya agar bisa join di UN ataupun UNV sebagai Airops ataupun Movcon.
Saya teman dari Bang Puguh dan Agus mewal mba. .
semoga sukses selalu. . .
deded
aduh si mbak ini cantik bener ya,pasti gak terasa deh tugs setaun di sudan kalo ada mbak2 cantik seperti ini dari indo
Mr. O’Brein pastinya adalah sosok atasan yang patut dicontoh. Salam hangat dari tanah air.