Semua orang tahu bahwa setiap anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) semenjak pendidikan dasar pembentukan telah ditanamkan dalam ruang bawah sadarnya untuk selalu taat, disiplin pada aturan dan perintah. Tetapi apakah ini yang kemudian disebut sebagai prajurit professional? Atau, sebagaimana juga sebagian besar orang menilai bahwa Tentara Nasional Amerika yang biasa melaksanakan tugas “menjaga dan memaksakan kedamaian” dimuka bumi disebut sebagai tentara professional? Bagaimana dengan humanismenya? Namanya saja PEACEKEEPERS berarti kan harus professional dan humanis. Saya sangat risau dengan instilah dan penilaian tentara professional dan sekaligus humanis ini. Apapun teorinya, dan siapapun ahlinya, saya lebih ingin memilah dan memilih ukuran professional dan humanis berdasarkan analisa saya. Saya akan menganalisa profesionalisme dan humanisme peacekeepers ini dari urusan perut saja.
Saya tidak pernah menyadari sehingga saya menyaksikan sendiri, di sepanjang jalan menuju arah Kota Marjayoun kira-kira 1.5 KM dari arah UN POSN 7-2 Sector East HQ melalui kompleks Sector East Military Police Unit (SEMPU), terdapat kompleks gubuk-gubuk kumuh di kanan kiri jalan. Ternyata, mereka yang tinggal di rumah-rumah itu adalah para pengungsi dari Negara Syria dan kota-kota lain yang dilanda perang saudara. Mereka boleh berada di Lebanon Selatan tetapi tidak boleh mendirikan bangunan permanen. Setiap kali mobil UN melalui jalur tersebut, maka anak-anak berumur lima hinggga sepuluh tahunan dengan pakaian yang lusuh dan raut muka yang kumuh akan berhamburan keluar ke jalan melambaikan tangan dan menengadahkan tangan, berlarian mengejar mobil UN. Kalau di bahasakan mungkin berbunyi: “ Hi, peacekeepers, you are so rich and gallant, look at me; my hand, please give me something to eat”. Tetapi, sesuai SOP kami TIDAK BOLEH memberikan apapun kepada mereka. Dan, kami harus professional…
Saya pernah berdinas di Australia selama kurang lebih dari dua tahun sebagai LO di Defence International Training Center (DITC) Victoria. Saya kebetulan juga sering memonitor pekerjaan dapur dimana TNI dan Tentara Diraja Malaysia ikut makan di Officer Mess. Saya tahu persis bagaimana para chefs dan cooks bekerja menyiapkan makanan dan memperlakukan makanan. Setelah jam makan habis (ukurannya BUKAN; apakah semua orang sudah makan? atau semua makanan sudah dimakan?), maka makanan yang tidak habis atau tidak dimakan, tidak peduli daging sapi, kambing, ayam, kalkun, keju, es cream, dan sebagainya..semua akan di disposed, dibuang ketempat sampah. SELESAI. OK itu Australia, dan saya tidak melihat sekelompok orang yang menderita seperti diatas. Fine, I said Fine! Meskipun hingga saat ini saya masih “bertempur” melawan perasaan dan dalil “MUBAZIR ya Alloh MUBAZIR Why don’t you just export those food to my village; Klaten? So that…” Tetapi karena itu juga aturan maka saya juga tetap harus professional…
Peristiwa itu sekarang terjadi lagi, “perang” membuang sisa makanan (dimakan atau tidak dimakan tetap saja dianggap sisa) juga dilakukan di dapur Sector East HQ. “Memang begitu aturannya pak, kita harus professional” kata salah satu pemasak yang didatangkan dari Kompi E Indobatt XIII-D; Pratu Nurcholis. Oh…Profesional adalah dengan membuang sisa makanan yang sebegitu lezat, yang sudah ditakar kadar kalorinya berdasarkan ukuran UN…OK.
Kemudian saya mulai mendapatkan jawaban dari komplikasi antara being professional dan being humanist. Keduanya tidak pernah akan menikah kalau masing-masing kita jadikan ukuran. Keduanya harus dilaksanakan bukan dijadikan ukuran. Supaya kita menjadi tentara professional; berarti kita harus melaksanakan makan tepat waktu, mengenakan pakaian sesuai aturan. Dan, menjadi Humanis; berarti kita harus mengingat sudara-saudara kita yang kurang makan, bahkan tidak makan sama sekali dengan cara mengambil secukupnya, menghabiskannya, dan mengucapkan terima kasih kepada para pemasaknya, dan tentu saja bersyukur kepada Alloh atas nikmatnya. Profesionalisme dan Humanisme peacekeepers cukup dirasakan dan dilaksanakan oleh pribadi masing-masing dan bukan dipertentangkan…

Klo tiap hari menu makannya itu2 aja dan ga ada perubahan….is that profesionalisme SIR..?? hehehe
sama dengan memberi sedekah kepada pengemis tapi diganjar hukuman kurungan, hukum memang kadang tidak berpihak pada rakyat kecil dan tertindas.
Sampean memang tentara, tapi sampean juga manusia.