About This Post

Tri Ambar NUGROHO

Correspondent Tri Ambar NUGROHO

Total 0 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 346 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Rajin Cuci kaki sebelum Bobo’ atau dapetin Zziega, pilih mana hayoo... ?

Zziega, istilah ini sangat populer di belahan bumi Zwedru (di utara Liberia berbatasan dengan Ivory Coast) tempat saya nangkring (baca: bertugas) beberapa waktu lalu.

Penduduknya secara umum ndak begitu agresif terhadap kita-kita orang yang bertugas untuk misi UNMIL. Bahkan mereka sangat mengharapkan UNMIL untuk tinggal lebih lama di Liberia. Ok sekarang kita kembali ke si Zziega ini. Kosa kata baru ini saya dapatkan saat waktu bertugas patroli pertama ke daerah pedalaman Manyea Town (jangan dibayangin kaya’ town ditempat kita lho, TOWN di sini paling banyak isinya terdiri dari 25-30 rumah bahkan kadang Cuma 15-an!).

Pada waktu proses wawancara dengan Town Chief (istilah kerennya buat kepala desa di sini), seperti biasa banyak penduduk yang langsung gabung mengerubungin kita, mungkin sepertinya kita-kita ini – para military observer terlihat ganteng dan sedikit lebih wangi kali ya … he he he (Ge-eR dikit boleh, khan?)

Apa pasal bisa kita dikatakan wangi? soalnya dari jarak satu setengah meter bau badan mereka udah tercium santer banget tajamnya, aroma khas hutan belantara di hidung saya, untuk mempermudah – coba bayangin aja deh persis terasi yang udah busuk 3 bulan..

Jadi kebayang khan kayak apa “wanginya”. Nah, ditengah proses wawancara ini kita selalu memperhatikan sesuatu yang sedang menjadi trend atau kecenderungan yang ditemui pada obyek-obyek patroli, selain perihal utamanya yaitu masalah stabilitas dan security/keamanan.

Secara spontan, seorang nenek datang mendekati – sebut aja namanya Nenek Maknyos, beliau datang sambil ngegendong cucunya Si Otong Surotong, anak kelahiran Manyea Town, yang tengah meringis-ringis menahan tangis. Tanpa ba-bi-bu .. Si Mbok Maknyos langsung menunjukin telapak dan jemari kaki Si Otong yang penuh bintil-bintil seperti kutil sambil ia bicara dengan lantang, persis juru kampanye: ”Jiga ! Jiga ! Jiga !” (kuping Indo saya dengernya Jiga padahal yang bener tuh Zziega: red).

Maklumlah penduduk yang usianya lanjut rata-rata hanya bisa berbahasa daerah aja (Manyea People bicara bahasa Krahn yang amat jauh berbeda dengan Bahasa English).

Untunglah si Town Chief, sebut aja Pak Bedul Suradul, secara panjang lebar langsung ngejelasin tentang penyakit yang meresahkan penduduk ini. Nama keren-nya si kutil ini adalah ”Zziega”, suatu penyakit kulit yang penyebarannya sangat cepat (terutama di musim kering). Dalam waktu kurang dari satu bulan sebagian besar penduduk telah terjangkit penyakit tersebut.

Setelah interogasi kesana-kesini, semua data terkumpul, cross-checking faktanya, jepret sana – jepret sini (Foto forensik –maksudnya), langsung kembali ke team site (buru-buru mandi pake sabun antibiotics soale takut ketularan, hiii!)

Jangan sampe jauh-jauh ke afrika cuman dapet kutu babi (itu bahasa saya siiyy)… he he he. Singkatnya setelah bersih bin wangi, saya bersama Patrol Leader mulai menyusun laporan tentang ”Zziega” ini, dan menyusun foto-foto supaya lebih terlihat nyata dan sangar kemudian kirim ke Military Observer Sector 4 HQ.

Selang beberapa hari, maka diturunkanlah sebuah tim medis dari Chinese Level II Hospital ke kampoeng Manyea (terlalu keren kalo disebut Manyea town… soale listrik aja gak ada apalagi mall … he he he), mereka survey and cross-checking perihal yang kita laporkan beberapa hari lalu.

Dengan mengawal mereka disana, kita-kita, para military observer banyak mendukung pemeriksaan tim medis dari batalion medik China itu, dari mulai dari mengumpulin warga yang terjangkit, pendaftaran si terjangkit satu-per-satu, lalu pembuatan kartu pasien, bagi-bagi obat sementara and terakhir ambil sampel darah and kutu babi dari beberapa pasien.

Setelah melalui proses laboratorium yang cukup rumit. Akhirnya, satu minggu lewat berlalu, kemudian terdengar khabar bahwa UNMIL Medical Healthcare mengirimkan tim khusus untuk penanggulangannya.

Hal itu kemudian membuat kita datang lagi berkunjung ke desa yang sama, dikumpulin lagi masyarakat, berikan pengobatan gratis dan terakhir penyuluhan untuk hidup bersih. Jadi inget kata ibu di rumah euy … Cuci kaki sebelum bobo cah bagus … he he he ….

Memang, selain mengurus dan mengamati penegakan proses perdamaian di Liberia, peran-serta dan kontribusi para pengamat militer (Military Observer) adalah juga dituntut untuk peka menanggulangi bersama isu-isu dalam masyrakat ditempat penugasan.

Dari situlah kami juga mendapatkan banyak masukan akan bagaimana situasi dan kondisi lainya yang berkembang di lapisan terbawah di tempat yang jauh dijangkau.