About This Post

Correspondent Wijaya NGURAH

Total 2 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 135 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 8.8/10(4 votes cast)

Articles

Reminiscence: Port Sudan dalam kenangan

Beberapa hari yang lalu, saya sempat teringat akan sebuah kenangan dimana hampir 9 bulan bertugas di Port Sudan. Kota pelabuhan di arah timur Negeri Sudan. Kota yang menjadi salah satu titik penting perhubungan Afrika Utara pada jaman dahulu menghubungkan Middle East.

Kota kecil nan nyaman ini sebenarnya mempunyai sejarah yang menarik. Cuman mungkin karena kesadaran sejarah penduduk atau mungkin karena pertikaian di Sudan menjadi agak terlupakan.

Kota yang berhadapan dengan Saudi Arabia dan juga bertetangga dengan Mesir ini sampai saat inipun masih menjadi tempat masuknya kapal-kapal dagang dan juga sebagai penyeberangan alternative murah-meriah untuk urusan ibadah bagi umat muslim baik itu untuk menunaikan ibadah Haji atapun sekedar beribadah Umroh.

Port Sudan sendiri mempunyai struktur kota yang hampir mirip dengan umumnya kota-kota bekas jajahan Inggris, teratur dan jalan-jalan yang lumayan lebar. Block demi block perumahan tertata rapi mengikuti alur pantai nya yang sunggguh mencengangkan lumayan biru (mengingatkan saya dengan cote d’Azur, he..he…. (bisa dikatakan miriplah walaupun mungkin kedengarannya maksa). Hanya saja mungkin karena sekarang populasi bertambah, komplek perumahan baru mulai terllihat berdiri dibangun secara ngawur.

Bagi staff United Nations yang bekerja di Sudan, Port Sudan terkenal dengan pasar ikan lautnya. Harga ikan laut sendiri tidaklah bisa dikategorikan murah, karena sekilo ikan laut yang berjenis popular (Kakap dan Kerapu bisa mencapai USD7.50/kilo) lumayan menambah variasi asupan protein untuk tubuh.

Port Sudan juga lumayan terkenal sebagai salah satu tempat diving yang menarik di Sudan. Umumnya para diver/penyelam amatiran ataupun professional datang dari benua Eropa . Sayangnya sebagai pencinta olahraga diving, saya belum sempat menjajal diving spot di daerah ini…

Tempat bersejarah yang sempat saya kunjungi adalah pulau kecil _ yang di kenal dengan nama SUAKIN. Kota tua yang dulunya mungkin sangat cantik, cuman karena pengapuran dan pengaruh cuaca laut tinggal puing-puing nya saja. Laut merah _(yang terus terang saja bahwa warna lautnya tidak merah) mengelilingi pulau kecil SUAKIN lama, dimana nuansa disana membuat kita kembali berbalik mengunjungi ke abad lampau.

Beberapa snapshoot ini tidak menggambarkan secara lengkap suasana tersebut (sorry flat battery).

by Luigi Pralangga at 9 April 2008, 03:49

Bli Wijaya, boleh dong foto2 lainya dipasang – mosok yang naik online yang dibokongi ginih? :p.

Itu si mbok sing jualan kopi, jualan pisang goreng juga gak? :-) Salam buat anggota pasukan jendral kancil lainya di UNMIS – Sudan, juga buat rekan-rekan di UNAMID – Darfur.

by Wijaya at 9 April 2008, 22:00

he…he… tar tak cariin deh..habis kemarin habis rest comp… banyak files yang corrupt!
sayang nggak ada pisang goreng tuh! pastinya mantap deh kalao ada gorengan!