About This Post

Correspondent Wijaya NGURAH

Total 4 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 173 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 6.0/10(3 votes cast)

Articles

Resepsi Pernikahan ala Sudan: Now I pronouce you.. (Alamaak!)

Saya masih ingat beberapa waktu lampau, yaitu saat mendapat undangan ke resepsi perkawinan salah satu staff lokal kami (Orang Sudan) di Khartoum. Pada awalnya, agak ragu-ragu juga, apakah mau dating atau tidak, karena terus terang saja acaranya pasti *kering*nih alias tidak ada minuman penghangat (walaupun udara di Khartoum sendiri sepertinya lebih panas dari angin hembusan hair dryer itu).

Tetapi beberapa teman yang kebetulan dari satu kantor/Section berkali-kali mengingatkan saya akan penting banget supaya saya pergi hadir, maka jadilah! saya bilang bahwa saya akan datang.

Referensi beberapa coffee table book yang saya baca mengenai resepsi perkawinan di Khartoum, lumayan menyemangati saya untuk hadir ke acara resepsi. Lampu-lampu yang semarak, warna keemasan dan kain-kain yang dikenakan para gadis itu membuat benak ini menjadi sangat imajinatif memenuhi bayangan saya mengenai meriahnya resepsi perkawinan.

Jam delapan tepat saya sudah siap dan rapi, walaupun kendaraan yang menjemput terlambat 30 menit (Ngaret bin molor salah satu kebiasaan di Khartoum/Sudan)

Karena tidak ada map/peta jalan dan tidak dipegangnya kartu undangan/invitation resmi jadi kita semua persis kambing tulalit perihal mencari alamat/lokasi acara si resepsi kawinan ini.

Adalah tidak mudah mencari alamat di Khartoum, apalagi khusus cari pesta resepsi pernikahan yang tetap, karena kebetulan di areal tersebut ada 5 resepsi perkawinan yang berbeda. Bunyi ponsel itu akhirnya menjerit berdering untuk mengonfirmasi letak yang pasti.

Lepas krang-kring sana-sini, akhirnya pada jam 9 malam tepat, kami berada di tempat yang benar. (Hebat, khan!?)

Begitu kedua kaki ini tiba, pertama-tama langsung dibuat agak terkaget karena para undangan yang menghadiri resepsi itu, terlihat persis seperti mau nonton film di gedung Bisokop/Cinema. Mereka terlihat duduk rapi dengan kursi berjejer.

Okelah, kemudian kami mencari tempat duduk yang lumayan strategis untuk sekedar jepret sana-sini, berfoto-ria.

Sang pengantin masih belum datang kelihatan, dan kursi pengantinnya masih kosong. Dekorasinya lumayan high-tech (LOL). Latar belakang dekornya dibuat sedemikian menyerupai semacam air-terjun dengan ramai sekali bunga-bunga plastik mengelilingi areal pelaminan. Flat Screen TV dipasang beberapa buah di sejumlah sudut (sepertinya untuk mempermudah kameramen untuk fokus ketika merekam acara, selain untuk display)

Lama menunggu, dan manyun-monyonglah tampang kita dibuatnya, namun beberapa saat ketika pramusaji membawakan makanan dan minuman (kebetulan memang sudah lapar banget!).

Meski cita rasa hidangan tidak sebanding dengan Bali Deli – but hey!, tidak terlalu buruk kok.! Jadi sukseslah makanan tersebut masuk perut yang memang doyan makan ini.

Isinya beragam ada daging (yang sekilas kayak rendang), ayam goreng, lalu adalagi semacam perkedel goreng yang dibuat dari tepung roti (Tamiya), chips, dan pie ala Turki atau Mesir (mungkin Falalel?)

Entahlah namanya apa, yang jelas rasanya kering dan manis. Terlihat juga beberapa sweet roll dengan fetta cheese sebagai isiannya.

Menunggu hampir 1 jam, akhirnya terdengar nyaring bunyi sirene. Di layar flat-screen itu tampak mobil yang dihias memasuki halaman gedung. Bunyi teriakan sirine itu persis jeritan histeris – sampai kaget banget! dan hadirin itu, kemudian serempak menari dan bernyanyi diiringi musik live-band yang tepat berada di depan audiences.

Suasananya seru, dan hampir serentak para undangan mengangkat tangannya sambil menjentikkan jari-jari di udara (Persis gaya khas A. Rafiq, saat nyanyi dangdut tahun 80-an)

Sebelum pengantin duduk di pelaminan, mereka harus menari di depan audiences dan yel-yel kegembiraan terus mengumandang. Lagu bernafas Arabic menambah rancak acara tari-tarian tersebut. Peluk cium untuk menyelemati si pengantin terus berhamburan.

Sepertinya si pengantin agak malu-malu ketika mereka harus menari. Tetapi yang lebih heboh si para-penonton dan terus menyemangati si pengantin agar tetap menari sambil menjentikkan jari-jari di udara. Persis pesta rakyat, saat perayaan 17-Agustusan (Paling tidak di kampung saya seperti itu ramainya).

Walaupun tidak persis seperti yang saya bayangkan, Pesta Resepsi Pernikahan ala Sudan tetaplah menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.

by Yuliazmi at 3 March 2008, 03:01

Untung walau telat berangkat dan susah mencarinya bisa mengikuti resepsi-nya dari awal ya. :)

by Donasion at 3 March 2008, 22:33

Wah seru juga pesta ala Sudan ya,,,apalagi mobil pengantennya ada sirenenya,,,,LAIN PADANG LAIN BELALANG

by et at 4 March 2008, 11:03

Menyaksikan pernikahan ala budaya daerah2 di Indonesia saja mengagumkan…. Beruntung sekali bisa melihat budaya negara lain….

by Wijaya at 5 March 2008, 15:40

ya… terpaksa membawa berkah..he..he…
Cerita di atas agak “plain” jika di bandingkan dengan suasana aslinya… meriah banget!