Correspondent Wijaya NGURAH
Total 4 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 173 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
Kalahkan Jenderal Spanyol, Indonesia raih juara umum >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Saya masih ingat beberapa waktu lampau, yaitu saat mendapat undangan ke resepsi perkawinan salah satu staff lokal kami (Orang Sudan) di Khartoum. Pada awalnya, agak ragu-ragu juga, apakah mau dating atau tidak, karena terus terang saja acaranya pasti *kering*nih alias tidak ada minuman penghangat (walaupun udara di Khartoum sendiri sepertinya lebih panas dari angin hembusan hair dryer itu).
Tetapi beberapa teman yang kebetulan dari satu kantor/Section berkali-kali mengingatkan saya akan penting banget supaya saya pergi hadir, maka jadilah! saya bilang bahwa saya akan datang.
Referensi beberapa coffee table book yang saya baca mengenai resepsi perkawinan di Khartoum, lumayan menyemangati saya untuk hadir ke acara resepsi. Lampu-lampu yang semarak, warna keemasan dan kain-kain yang dikenakan para gadis itu membuat benak ini menjadi sangat imajinatif memenuhi bayangan saya mengenai meriahnya resepsi perkawinan.
Jam delapan tepat saya sudah siap dan rapi, walaupun kendaraan yang menjemput terlambat 30 menit (Ngaret bin molor salah satu kebiasaan di Khartoum/Sudan)
Karena tidak ada map/peta jalan dan tidak dipegangnya kartu undangan/invitation resmi jadi kita semua persis kambing tulalit perihal mencari alamat/lokasi acara si resepsi kawinan ini.
Adalah tidak mudah mencari alamat di Khartoum, apalagi khusus cari pesta resepsi pernikahan yang tetap, karena kebetulan di areal tersebut ada 5 resepsi perkawinan yang berbeda. Bunyi ponsel itu akhirnya menjerit berdering untuk mengonfirmasi letak yang pasti.
Lepas krang-kring sana-sini, akhirnya pada jam 9 malam tepat, kami berada di tempat yang benar. (Hebat, khan!?)
Begitu kedua kaki ini tiba, pertama-tama langsung dibuat agak terkaget karena para undangan yang menghadiri resepsi itu, terlihat persis seperti mau nonton film di gedung Bisokop/Cinema. Mereka terlihat duduk rapi dengan kursi berjejer.
Okelah, kemudian kami mencari tempat duduk yang lumayan strategis untuk sekedar jepret sana-sini, berfoto-ria.
Sang pengantin masih belum datang kelihatan, dan kursi pengantinnya masih kosong. Dekorasinya lumayan high-tech (LOL). Latar belakang dekornya dibuat sedemikian menyerupai semacam air-terjun dengan ramai sekali bunga-bunga plastik mengelilingi areal pelaminan. Flat Screen TV dipasang beberapa buah di sejumlah sudut (sepertinya untuk mempermudah kameramen untuk fokus ketika merekam acara, selain untuk display)
Lama menunggu, dan manyun-monyonglah tampang kita dibuatnya, namun beberapa saat ketika pramusaji membawakan makanan dan minuman (kebetulan memang sudah lapar banget!).

Meski cita rasa hidangan tidak sebanding dengan Bali Deli – but hey!, tidak terlalu buruk kok.! Jadi sukseslah makanan tersebut masuk perut yang memang doyan makan ini.
Isinya beragam ada daging (yang sekilas kayak rendang), ayam goreng, lalu adalagi semacam perkedel goreng yang dibuat dari tepung roti (Tamiya), chips, dan pie ala Turki atau Mesir (mungkin Falalel?)
Entahlah namanya apa, yang jelas rasanya kering dan manis. Terlihat juga beberapa sweet roll dengan fetta cheese sebagai isiannya.
Menunggu hampir 1 jam, akhirnya terdengar nyaring bunyi sirene. Di layar flat-screen itu tampak mobil yang dihias memasuki halaman gedung. Bunyi teriakan sirine itu persis jeritan histeris – sampai kaget banget! dan hadirin itu, kemudian serempak menari dan bernyanyi diiringi musik live-band yang tepat berada di depan audiences.
Suasananya seru, dan hampir serentak para undangan mengangkat tangannya sambil menjentikkan jari-jari di udara (Persis gaya khas A. Rafiq, saat nyanyi dangdut tahun 80-an)
Sebelum pengantin duduk di pelaminan, mereka harus menari di depan audiences dan yel-yel kegembiraan terus mengumandang. Lagu bernafas Arabic menambah rancak acara tari-tarian tersebut. Peluk cium untuk menyelemati si pengantin terus berhamburan.



Sepertinya si pengantin agak malu-malu ketika mereka harus menari. Tetapi yang lebih heboh si para-penonton dan terus menyemangati si pengantin agar tetap menari sambil menjentikkan jari-jari di udara. Persis pesta rakyat, saat perayaan 17-Agustusan (Paling tidak di kampung saya seperti itu ramainya).
Walaupun tidak persis seperti yang saya bayangkan, Pesta Resepsi Pernikahan ala Sudan tetaplah menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.
Untung walau telat berangkat dan susah mencarinya bisa mengikuti resepsi-nya dari awal ya. :)
Wah seru juga pesta ala Sudan ya,,,apalagi mobil pengantennya ada sirenenya,,,,LAIN PADANG LAIN BELALANG
Menyaksikan pernikahan ala budaya daerah2 di Indonesia saja mengagumkan…. Beruntung sekali bisa melihat budaya negara lain….
ya… terpaksa membawa berkah..he..he…
Cerita di atas agak “plain” jika di bandingkan dengan suasana aslinya… meriah banget!
« Keluarga baru di Liberia!! Kalahkan Jenderal Spanyol, Indonesia raih juara umum »