Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Resepsi Pernikahan ala Sudan: Now I pronouce you.. (Alamaak!)

2 March 2008, 02:49 , by Wijaya Ngurah

 

Saya masih ingat beberapa waktu lampau, yaitu saat mendapat undangan ke resepsi perkawinan salah satu staff lokal kami (Orang Sudan) di Khartoum. Pada awalnya, agak ragu-ragu juga, apakah mau dating atau tidak, karena terus terang saja acaranya pasti *kering*nih alias tidak ada minuman penghangat (walaupun udara di Khartoum sendiri sepertinya lebih panas dari angin hembusan hair dryer itu).

Tetapi beberapa teman yang kebetulan dari satu kantor/Section berkali-kali mengingatkan saya akan penting banget supaya saya pergi hadir, maka jadilah! saya bilang bahwa saya akan datang.

Referensi beberapa coffee table book yang saya baca mengenai resepsi perkawinan di Khartoum, lumayan menyemangati saya untuk hadir ke acara resepsi. Lampu-lampu yang semarak, warna keemasan dan kain-kain yang dikenakan para gadis itu membuat benak ini menjadi sangat imajinatif memenuhi bayangan saya mengenai meriahnya resepsi perkawinan.

Jam delapan tepat saya sudah siap dan rapi, walaupun kendaraan yang menjemput terlambat 30 menit (Ngaret bin molor salah satu kebiasaan di Khartoum/Sudan)

Karena tidak ada map/peta jalan dan tidak dipegangnya kartu undangan/invitation resmi jadi kita semua persis kambing tulalit perihal mencari alamat/lokasi acara si resepsi kawinan ini.

Adalah tidak mudah mencari alamat di Khartoum, apalagi khusus cari pesta resepsi pernikahan yang tetap, karena kebetulan di areal tersebut ada 5 resepsi perkawinan yang berbeda. Bunyi ponsel itu akhirnya menjerit berdering untuk mengonfirmasi letak yang pasti.

Lepas krang-kring sana-sini, akhirnya pada jam 9 malam tepat, kami berada di tempat yang benar. (Hebat, khan!?)

Begitu kedua kaki ini tiba, pertama-tama langsung dibuat agak terkaget karena para undangan yang menghadiri resepsi itu, terlihat persis seperti mau nonton film di gedung Bisokop/Cinema. Mereka terlihat duduk rapi dengan kursi berjejer.

Okelah, kemudian kami mencari tempat duduk yang lumayan strategis untuk sekedar jepret sana-sini, berfoto-ria.

Sang pengantin masih belum datang kelihatan, dan kursi pengantinnya masih kosong. Dekorasinya lumayan high-tech (LOL). Latar belakang dekornya dibuat sedemikian menyerupai semacam air-terjun dengan ramai sekali bunga-bunga plastik mengelilingi areal pelaminan. Flat Screen TV dipasang beberapa buah di sejumlah sudut (sepertinya untuk mempermudah kameramen untuk fokus ketika merekam acara, selain untuk display)

Lama menunggu, dan manyun-monyonglah tampang kita dibuatnya, namun beberapa saat ketika pramusaji membawakan makanan dan minuman (kebetulan memang sudah lapar banget!).

Meski cita rasa hidangan tidak sebanding dengan Bali Deli – but hey!, tidak terlalu buruk kok.! Jadi sukseslah makanan tersebut masuk perut yang memang doyan makan ini.

Isinya beragam ada daging (yang sekilas kayak rendang), ayam goreng, lalu adalagi semacam perkedel goreng yang dibuat dari tepung roti (Tamiya), chips, dan pie ala Turki atau Mesir (mungkin Falalel?)

Entahlah namanya apa, yang jelas rasanya kering dan manis. Terlihat juga beberapa sweet roll dengan fetta cheese sebagai isiannya.

Menunggu hampir 1 jam, akhirnya terdengar nyaring bunyi sirene. Di layar flat-screen itu tampak mobil yang dihias memasuki halaman gedung. Bunyi teriakan sirine itu persis jeritan histeris – sampai kaget banget! dan hadirin itu, kemudian serempak menari dan bernyanyi diiringi musik live-band yang tepat berada di depan audiences.

Suasananya seru, dan hampir serentak para undangan mengangkat tangannya sambil menjentikkan jari-jari di udara (Persis gaya khas A. Rafiq, saat nyanyi dangdut tahun 80-an)

Sebelum pengantin duduk di pelaminan, mereka harus menari di depan audiences dan yel-yel kegembiraan terus mengumandang. Lagu bernafas Arabic menambah rancak acara tari-tarian tersebut. Peluk cium untuk menyelemati si pengantin terus berhamburan.

Sepertinya si pengantin agak malu-malu ketika mereka harus menari. Tetapi yang lebih heboh si para-penonton dan terus menyemangati si pengantin agar tetap menari sambil menjentikkan jari-jari di udara. Persis pesta rakyat, saat perayaan 17-Agustusan (Paling tidak di kampung saya seperti itu ramainya).

Walaupun tidak persis seperti yang saya bayangkan, Pesta Resepsi Pernikahan ala Sudan tetaplah menjadi bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.

Wijaya Ngurah SUKARASA Experienced in hospitality industry for 10 years, before join SKYLINK Aviation in Timor Leste during UNTAET/UNAMET mission as Ground Manager. Currently serving under UNMIS (United Nations Mission in Sudan) as Facilities Camp Management in Malakal (Southern of Sudan) then...

Detail Profile »

5  Comments

by Yuliazmi at 3 March 2008, 03:01

Untung walau telat berangkat dan susah mencarinya bisa mengikuti resepsi-nya dari awal ya. :)

by Donasion at 3 March 2008, 22:33

Wah seru juga pesta ala Sudan ya,,,apalagi mobil pengantennya ada sirenenya,,,,LAIN PADANG LAIN BELALANG

by et at 4 March 2008, 11:03

Menyaksikan pernikahan ala budaya daerah2 di Indonesia saja mengagumkan…. Beruntung sekali bisa melihat budaya negara lain….

by Wijaya at 5 March 2008, 15:40

ya… terpaksa membawa berkah..he..he…
Cerita di atas agak “plain” jika di bandingkan dengan suasana aslinya… meriah banget!

by pernikahan adat at 3 June 2010, 20:26

Salam kenal sobat,tulisan yang bagus, saya suka dengan ulasan dan gaya penulisan anda yang santai namun berbobot, jadi inget waktu jadi pengatin adat setahun silam, betapa indahnya :)

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

798 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Donasion Donasion Having to conclude his initial assignment with the International Federation of Red Cross – IFRC, then successfully completed another at the British Red Cross during the Tsunami post-disaster rehabilitation in Aceh Province, Donasion further engaged into new challenges in the...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 7 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 14 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 17 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 17 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 18 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago