Liburan telah usai, sejak 2 minggu lewat ini, saya kembali bertugas ke Liberia. Masih terasa benar dalam kecapan lidah ini rasa pedas dan nikmatnya kuah bakso di warung tikungan tidak jauh dari rumah di Surabaya itu.. ya, saya asli orang Surabaya, lho!
Wake-up, dear! – you are already in Liberia, and this is your luggage.

Nampaknya menceritakan ulang bagaimana acara liburan kemarin kepada teman-teman disini, sedikit membantu daya tahan mental/psikis ini bisa bertahan karena angka-angka pada kalender itu nampak masih jauuuuuh sekali dari jatuh tempo cuti berikutnya (Sebel!).
Berkutat lagi dengan seonggok berkas-berkas pembayaran dengan tulisan yang kecil-kecil seperti semut menyangkut perihal pembayaran gaji para staff peacekeepers serta urusan reimbursement ini dan itu yang kalau salah-salah bisa ngamuk dan datanglah itu mereka yang berseragam menayakan: “bagaimana dengan pembayaran gaji saya bulan ini dan itu..” atau pertanyaan favorit mereka yang sudah hafal-mati di telinga ini adalah: “Mba,.. mba – kapan ya transferan reimbursement itu nyampe?” – padahal berkas itu baru diterima dan datanya masuk kedalam system kemaren, besoknya udah nagih dia, dasar!
Mending yang bertanya seperti itu satu-atau dua orang.. bahkan sehari bisa lebih dari selusin! – kebayangkan rumitnya urusan pembayaran ini, ditambahlah logat aksen mereka yang datang dari negara semisal Ethiopia, dimana kefasihan berbahasa Inggris mereka sama sekali parah, yang ada saya ini seperti kambing congek yang nggak menangkap maksud perkataan mereka.
“I am sorry, what did you say?” atau “Pardon, I did not understand what you mean..”
Ah, kacaulah!
Meski bekerja di daerah pasca konflik macam Liberia, saya masih harus mengucap syukur karena ditempatkan dan berkantor di Ibukotanya, Monrovia dimana kehidupan disini jauh lebih baik ketimbang kawan-kawan peacekeepers yang ditancapkan di pedalaman sana dengan kondisi minimum, susah air, susah listrik dan hunianpun jauh bila dibandingkan dengan rumah-indekos paling busuk di Surabaya.. selain itu urusan perbekalan baik itu berbelanja ke supermarket dan restoran masih tersedia beberapa pilihan, meski terbatas itu-itu saja.
Bersantap malam bersama kawan se-negara, adalah salah satu kegiatan yang membahagiakan hati, betapa tidak? – selain bisa melemaskan otot rahang ini dengan kembali bisa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia, berbagi cerita-cerita seru yang biasanya selalu saya dapat dari rekan-rekan military observer yang bertugas di pedalaman sana.

Banyak kelakar-kelakar khas peacekeepers dari petualangan tugas mission mereka senantiasa menjadikan tawa-ceria dari hari-hari yang penuh dengan suntuk dan tekanan pekerjaan.
Menyambut ide kumpul menyambung silaturahim antar sesama staff Indonesia yang berdinas di UNMIL – Liberia, akhirnya diputuskan saja semalam untuk makan malam bersama, sembari bersantap buka-puasa bersama. Dipilihlah Garden Restaurant, sebuah resto anyar yang menghidangkan masakan ala China.
Ramai sudah banyak cerita dan kicau-tawa menjalar keseluruh ruangan sembari menunggu masakan disiapkan. Dimana suasana hening kemudian menguasai saat masakan tersedia dimeja dengan kepulan uap hangatnya masakan – hanya gemerincing suara sedok-garpu yang beradu saja terdengar.. sisanya lahap menyantap tanpa ba-bi-bu! – Sikaaat! :-)


Seperti biasa, lepas kenyang dan sebelum meninggalkan tempat, berfoto bersama kawan sejawat yang kebetulan juga melepas rasa lapar disana. Syukurlah masih bisa makan enak, lihat saja perutnya terlihat melendung keluar semua.

Sapi saus tiram, ayam goreng saus asam-manis, tumis kangkung, nasi goreng dan hidangan penutup adalah pelengkap kebahagiaan kita malam itu.. meski demikian harus diakui bahwa hidangan khas di kampung halaman memang tiada duanya.
PS: Bagaimana dengan acara berbuka puasanya disana?
Disana ada kolak ndak Mbak :D
jadi tagihan makan malamnya berapa-an?!? :P
Kalo soal makanan, makanan Indonesia mang is de bes lahh.. mau kolak mbak? …. :P
Salam kenal mbak Vonny :) … Surabaya-nya dimana? Aku yo Arek Suroboyo loo … hehehehe
Itu tumis kangkung kalo rasa sambel trasi lebih nikmat dah .. yummy …
Senyum mas Pralangga sepertinya lebih lebar setelah buka puasa? hahaha (dah gak buka puasa pake roti prancis doank soalnya … becandaaaaaaa .. )
Go Indonesian peacekeeper …
Selamat menjalankan ibadah puasa di ‘negeri bau kelek’ … jangan bolong bolong ya puasanyaaa …
Peace yooo !!
untuk hal lainnya memang bisa disiasati, namun kalau sudah berurusan dengan perut, mati kutu kita.
ada gudeg nih, mauuu?
Mbak Vonny…
sampai di bandung tuh bau sapi saus tiramnya…hmmmm…kebayang deh.cerita dong tentang mereka-mereka yang berpuasa di sana…Mbak Vonny puasa nggak?
Wuaaah, sedep banget menunya ^^ Itu fotonya yang bawah2 pake fisheye 15 mm ya Mbak? CMIIW
weleh … weleh … dimana-mana yg favorit emang makanan yak …
tapi awas loh mbak , ntar dietnya gatot alias gagal total … ;-))
salam kangen dr jkt
waduh, sore-sore gini baca saus tiram, kangkung. aduh…
kabur kah, daripada pengin
terima kasih sharing info/ilmunya…
saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
silakan berkunjung ke:
achmadfaisol.blogspo…
semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…
salam,
achmad faisol
achmadfaisol.blogspo…
Huah .. kebayang deh pasti pada balas dendam dengan makanan :)
Waaa.. arek Suroboyo, bangga nih! dulu skripsi s1 tentang Women in Peacekeeping di UNMIS dan UNMIL. Salam kenal. Olin