Suasana riang dan penuh keceriaan. Itulah kesan yang diperlihatkan seluruh ABK KRI Diponegoro-365 menandai berakhirnya penugasannya sebagai pasukan perdamaian PBB dalam Satgas Maritime Task Force (MTF) Kontingen Garuda XXVIII-A/UNIFIL. Berakhirnya penugasan ini juga ditandai dengan penurunan bendera PBB dan penghapusan logo PBB yang terdapat di lambung kapal buatan Belanda ini.
“Saya merasa senang sekali dan plong karena telah selesai melaksanakan tugas operasi dengan hasil yang sangat membanggakan. Sekarang yang terbayang di mata saya adalah keluarga…keluarga dan keluarga…”, ujar Kapten Laut (E) Fransisco Deny – Kepala Divisi Listrik dan Control (Kadivlistrol).
Tidaklah berlebihan bila perasaan itu muncul karena sejak, Minggu, 18 Oktober 2009 pukul 23.59 GMT, secara resmi Satuan Tugas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-A/UNIFIL 2009 berakhir masa penugasannya dalam Task Force 448 dalam Maritime Operation UNIFIL. TF 448 saat ini berada dibawah komando Commander of Maritime Task Force Rear Admiral Juergen Mannhardt (Jerman).
Selama kurang lebih 6 bulan, sejak Transfer of Authority pada 18 April 2009 lalu, Satgas Maritim TNI yang terdiri atas KRI Diponegoro-365 (Korvet kelas Sigma) dengan komandan Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah dan NV-414 (NBO-105) yang diawaki 100 orang prajurit telah melaksanakan tugasnya dalam rangka mengemban mandat Resolusi PBB No. 1701 dan 1832 dengan dua tugas pokok yakni : Mendukung implementasi dari UNSCR 1701 dengan melaksanakan Maritime Interdiction Operations ( MIO ) untuk membantu LAF ( Lebanese Armed Force ) dalam mencegah pemasukan senjata dan material yang berhubungan dengan senjata secara tidak sah ke dan dari Libanon lewat laut disamping tugas tambahan untuk m embantu Angkatan Laut Libanon ( LAF -Navy) dalam usahanya memiliki kemampuan untuk melaksanakan seluruh spektrum penugasan yang terkait dengan kedaulatan untuk menegakkan UNSCR 1701 secara mandiri.
Keterlibatan KRI dan Helikopter TNI dalam misi perdamaian PBB khususnya di Libanon merupakan yang pertama kali sepanjang sejarah pengiriman pasukan perdamaian PBB dari Indonesia . Hal ini memberikan sebuah nuansa baru bagi TF 448 yang sebelumnya hanya berasal dari negara Eropa khususnya yang semuanya merupakan anggota NATO.
Selama pelaksanaan operasi ini, Satgas ini telah dengan semaksimal mungkin melaksanakan setiap misi yang diberikan oleh CMTF. Selama periode penugasan, Satgas harus memenuhi rasio operasi 70/30 yakni 70 % operasional di AMO ( Area Of Maritime Operation ) dan 30 % sandar (portvisit).
Untuk mengefektifkan operasi dan untuk meliput seluruh AMO, CMTF mengeluarkan jadwal bulanan kegiatan operasional untuk seluruh unit yang berisi waktu operasi dan waktu sandar sesuai rasio operasi yang diharapkan.
Sejak hari pertama, KRI Diponegoro-365 disibukkan dengan kegiatan pemantauan wilayah laut untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan mengklasifikasi kontak kapal permukaan yang melintas di AMO dan melaksanakan pengamatan udara untuk mencegah pelanggaran wilayah udara yang dapat memicu dan menghambat proses perdamaian di Libanon. Kegiatan yang paling rutin dilaksanakan adalah Hailing yakni sebuah proses pengambilan data melalui sarana komunikasi radio terhadap kapal-kapal yang melintasi AMO yang tujuannya untuk membangun database dan mendukung proses identifikasi dan klasifikasi. Selama bertugas di AMO, jumlah keseluruhan hailing yang berhasil dilaksanakan adalah sebanyak 642 kapal termasuk 5 diantaranya dilaksanakan oleh NV-414 yang mendapatkan nama panggilan ( call sign ) Garuda.
Tidak hanya kegiatan dalam rangka MIO, tugas lain MTF adalah melaksanakan latihan dan pelatihan bagi LAF-N. Bentuk latihan yang dilaksanakan antara lain Combined-MIO , Tactical Exercise dan Personel Exercise . Combined-MIO merupakan sebuah bentuk latihan sekaligus operasi bersama antara unsur MTF yang sedang operasi di AMO dengan kapal-kapal LAF-N serta dengan 6 Coastal Radar Station (CRS) yang berlokasi di titik tertentu di sepanjang pantai Libanon. Latihan ini menitik beratkan pada kerja sama membangun gambaran situasi permukaan ( Recognized Maritime Picture ) dengan melakukan pertukaran data dan info yang didapatkan masing-masing pihak sehingga proses pengambilan keputusan tindakan lanjutan lebih mudah dan lebih akurat. Tactical exercise merupakan latihan taktis dasar berupa latihan maneuver sederhana. Sedangkan personnel exercise adalah latihan bagi beberapa personel LAF-N khususnya kadet atau taruna yang diikutkan di kapal-kapal MTF untuk menerima pelatihan dan terlibat dalam kegiatan rutin di kapal. KRI Diponegoro-365 berkesempatan menerima 4 orang Petty Officer Cadet dari LAF-N selama pelaksanaan operasi.
Selain melaksanakan latihan dengan LAF-N, secara internal unsur-unsur MTF juga menyelenggarakan latihan dalam rangka mempertahankan kesiapan operasional baik individu maupun bersama, dari tingkat yang sederhana sampai tingkat yang lebih kompleks. Latihan ini secara periodik (mingguan) direncanakan dan dilaksanakan dengan tetap memprioritaskan pelaksanaan operasi, dengan kata lain latihan ditunda atau dibatalkan sama sekali jika situasi operasi tidak memungkinkan pelaksanaan sebuah latihan.
Meski sempat mengalami kendala kondisi teknis selama beberapa waktu sehingga tidak dapat melaksanakan operasi, KRI Diponegoro-365 dan NV-414 dinyatakan telah dapat melaksanakan tugas dalam misi perdamaian PBB perairan Libanon dengan ditandai pemberian UN Medal yang merupakan tanda penghargaan dari PBB bagi personel yang telah melaksanakan operasi perdamaian PBB selama minimal 90 hari. Acara penyerahan medali kepada 100 orang prajurit telah dilaksanakan pada tanggal 8 Oktober 2009 di geladak heli KRI Diponegoro-365 yang sedang melaksanakan patroli di AMO dalam sebuah upacara sederhana ( Medal Parade ) dengan inspektur upacara CMTF 448 RAdm Juergen Mannhardt yang bertindak mewakili Force Commander UNIFIL (yang saat ini dijabat oleh Major General Claudio Graziano dari Italia).
Banyak respon positif dari berbagai pihak yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dengan operasi MTF terhadap pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan kepada KRI Diponegoro dan NV-414.. Satu pengalaman berharga, bahwa dalam beberapa periode tertentu saat di AMO, KRI Diponegoro-365 diberikan tugas untuk menjadi MIO Commander , AAWC ( Anti Air Warfare Commander ) dan EWC ( Electronic Warfare Commander ), dua tugas terakhir hanya sekali dilaksanakan. Tugas ini merupakan tantangan tersendiri dan bisa dikatakan sebagai prestasi karena dapat memimpin kapal-kapal perang negara lain dalam melaksanakan tugas di AMO dalam hal sebagai pemegang kendali taktis. Dan tugas-tugas ini dapat dilaksanakan dengan baik tanpa ada kendala bahkan beberapa menilai melebihi dari apa yang mereka asumsikan dan apa yang telah mereka laksanakan selama ini. Inilah yang membuat unsur-unsur MTF lainnya “terkaget-kaget” sebab tidak menyangka kemampuan kita sama dengan mereka.
Setelah meninggalkan Indonesia tercinta selama lebih kurang tujuh bulan dan selesai melaksanakan operasi kini kapal kebanggaan Indonesia ini kembali melaksanakan lintas laut ke Indonesia dengan rute Beirut (Lebanon) – Alexandria (Mesir) – Jeddah (Saudi Arabia) – Salalah (Oman) – Cochin India – Belawan – Jakarta – Surabaya. Perjalanan dengan jarak 6850 NM ini akan ditempuh dalam waktu 1 bulan. Sesuai rencana akan tiba di Jakarta pada 20 November mendatang.






Wah… perjalanan 1 bulan ngga kebayang lah…
tapi untungnya ngga pake macet kaya jalanan di jakarta ya pak. Mungkin lebih lengkap lagi kalo bapak sebutkan umur kapalnya pak…
saya turut mendo’akan semoga selamat sampai di indonesia.