Correspondent Donasion
Total 4 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 176 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Journey sans frontiers….finally: Zimbabwe!
KAPOLRI menutup latihan Pra-Operasi FPU Indonesia dalam persiapan ke Darfur >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Seingat saya, bepergian dari kampung, di Solok menuju Padang dengan menggunakan angkutan umum bis kota, setibanya di Padang, sudah pasti badan ini terasa letih benar, persis seperti tergilas mesin penggiling aspal pada sebuah konstruksi baru jalan raya.
Itu sekitar 30 tahun yang lalu, namun remuk-letih badan karena perjalanan ini amatlah berbeda dengan perjalanan mudik pada akhir January 2008 kemarin, dimana awak ini benar-benar merasa seperti karet gelang yang terus ditarik-rentangkan dengan melalui lebih dari 21 jam terbang.
Alamak, terbang dari mana hendak kemana itu? Lama sekali berada diudaranya? Hendak pergi ke bulan kah?
Mungkin ya, kalau naik berkendara roket terbang melesat dengan kecepatan tinggi, sudah pasti bisa sampai. Namun, penerbangan dari Liberia, sebuah negara kecil di kawasan Afrika Barat ini memang benar-benar menempuh waktu yang kurang lebih sama untuk menuju kampung halaman, waktu tempuhnya sama seperti astronaut NASA itu hendak mengorbit ke angkasa.
Hal itu tidak begitu terasa melelahkaan pada saat kami bertiga (Kang Luigi, Vonny dan saya) terbang cuti mudik bersama-sama pada akhir January 2008 yang baru lalu ini.
Memang sudah sesuatu hal yang manusiawi, bahwa waktu liburan itu berlalu amat cepat rasanya dan uang itu menguap habis terbelanjakan dengan luwes, pelesir piknik bersama keluarga dari Pekan Baru, Riau dimana keluarga tinggal dan menetap bertandang ke kampung halaman di Padang, serta banyak sekali acara keluarga kesana-kemari yang sudah pasti menciptakan biaya. Tak apalah itu, buat saya rejeki yang diperoleh adalah juga untuk membahagiakan keluarga.
Nah, Libur telah berlalu dan tanggal keberangkatan untuk kembali terbang ke Liberia untuk bekerja pun sudah tertanam jelas sekali dibenak ini, membuat hati mulai gundah dan rawut wajah tersayang nampak mulai mendung serta keruh sekali. Hmm, apa dayaku?.
Meski demikian, hati ini sudah bertekad untuk menunaikan kewajiban.
Dari Pekan Baru, terbanglah ke Jakarta, guna menyambung dengan penerbangan internasional ke Accra, Ghana melalui Dubai, UAE pada 16 February 2008.



Pukul 22:00, Penerbangan Emirates Airlines lepas landas meninggalkan Jakarta menuju Dubai. Singgah di Dubai untuk berganti pesawat, sembari menyempatkan diri membeli oleh-oleh untuk kerabat setibanya di Monrovia nanti, keluar-masuklah seputaran pertokoan duty free di Dubai International Airport dan kemudian bergegaslah naik pesawat menyambung penerbangan ke Accra, Ghana.
8 jam lebih sejak lepas landas, mendaratlah di Kotoka International Airport. Ternyata tampang rawut wajah yang sudah tidak keruan itu bukanlah milik diri ini semata. Rambut awuut-awutan, pakaian yang lecek – kusam dan penat-letih-nyeri di badan ini persis kertas yang sudah diremuk digumpal-gumpalkan itu harus sigap keluar meninggalkan pesawat bersama barang bawaan.
Ya, saya sudah tiba (lagi) di afrika! Dari mana bisa tahu? – Jelaslah dari sejak masuk pesawat di Dubai – mayoritas penumpang dalam penerbangan itu berkulit coklat gelap sekali, hidung pesek merekah ke samping, dan lengkap dengan aroma khas tubuh sangit-memabuk-kan, itulah ‘wake-up call’ realita bahwa liburan terlah usia.
Para staff UNMIL – Movement Control di Kotoka Int’l Airport di Accra terlihat jelas menunggu, dimana banyak para staff UNMIL yang terbang dengan penerbangan Emirates dari Dubai ke Accra hari itu.
Terlihat, Kudjoe Abedi, Chris dan Gifty Sappore menanti kedatangan kita, sebelum masuk passport control – gerbang imigrasi Ghana.
Welcome back to Accra..! – Sambutnya dengan senyum, sambil secepatnya kemudian disusul dengan: *“..and your flight to Monrovia is cancelled!” *disambungnya dengan kalem.

“What?!!” – Kontan saya pun menyambar dengan keheranan.
“Why .. what is the reason?” – Jawab saya. Sudah pasti Itulah juga pertanyaan mereka yang lain.
“There was a crack on the B-757 cockpit’s window and when they are about to check the whole plane.. they found another fine-crack on the passenger’s window.. so the flight is cancelled.. you are to stay overnight here..” kata Gifty – Wanita muda asal Ghana, yang juga adalah kepala movement control UNMIL di Accra, Ghana.
Suara-riuh persis kicau para pedagang kain di Tanah Abang itu, kemudian terdengar riak. Ya, mereka sudah pasti kesal karena terpaksa harus bermalam lagi dan jatah cuti yang biasanya sudah habis akan menjadi minus berhutang satu hari karena peristiwa ini.
“We are arranging a special flight for tomorrow, perhaps the Dash-7 will fly you all back to the mission on a 2 trips based.. it’s better be safe, now let me escort you through the immigration.. Gentlemen, line up please and give me your passports..” perintah Gifty.
Mungkin itu adalah hal/keputusan yang terbaik. Lagi pula, entah kenapa kok badan ini terasa letih yang bukan kepalang, penglihatan berat – persis seperti lepas ronda kampung 7 hari 7 malam, kepala pening cenut-cenut pada setiap langkah kaki ini melaju… maklumlah, hampir sebulan lamanya cuti mudik, badan dan pikiran ini masih mengikuti waktu di kampung, yang notabene adalah maju 7 jam lebih perbedaannya.
Bagasi utama disimpan diruang penyimpanan khusus di airport, para staff yang terpaksa harus tinggal semalam ini, lepas mendengarkan briefing, kemudian menunggu diruang lobby keberangkatan sembari dicarikan akomodasi.
““Guys, it may be very hard to find accommodation for tonight.. as most hotels are already booked as the U.S. President is scheduled to visit Ghana tomorrow.. but we do our best to accommodate you..””
Tidak mengherankan!, pantas saat kita mendarat tadi sudah berjejer sekitar 5 pesawat angkut berat, jenis C-17 dari AU-AS parkir tidak jauh dari pesawat kita. Pertanyaan selanjutnya adalah: Masih adakah kamar untuk kita merebahkan badan yang rasanya teler semampus-mampusnya ? – mengingat kota Accra itu tidaklah sebesar Jakarta dan banyak hotel serta fasilitas penginapannya.


Setelah telepon kesana-kemari, beruntunglah kami berdua (Kang Luigi & saya) berhasil mendapatkan hotel di bilangan Osu, Accra Downtown dan harus rela membayar US$ 96.00 semalam untuk kamar hotel sekelas hotel melati (T.I.A. = This is Africa!)

Honey, saya terpaksa harus ‘nyangkut’ dulu semalam di Accra!
Lepas check-in, mandi dan bebersih, langsung deh: “Bruk!”. Terguling badan ini diatas kasur.. dari sekitar jam 1 siang terus molor sampai terbangun jam 2 pagi dini hari berikutnya…
Suara hangar-bingar lalui-lintas itu sirna, tidak seperti saat siang kami masuk mendaftarkan diri di hotel itu. Bangkit dari ranjang untuk melongok pemandangan diluar dari jendela hotel sambil berpikir adakah pedagang nasi goreng gerobak yang mungkin lewat jam segini sebab keadaan perut sedang lapar keroncongan tiada-tara.
Terbangun disaat semua populasi di Accra, Ghana itu sedang atau mulai tidur dengan pulasnya, saya pun kembali teringat akan perjalanan naik Bis Umum dari Kota Solok menuju Padang sekitar 30 tahunan lalu itu.
Seingat saya sih perjalanan saat itu tidak sampai remuk badan seperti begini ya..?
T.I.A = This Is Africa ….mame… ;p cuma baca cerita mas Don aja, badanku rasanya jadi pegel semua. Wong, straight langsung ke Monro aja bisa ga brenti manyun niy mulut sampe 3 hari karena pegel yang ga ilang2, apalagi ditambah stucked di Accra 1 malam yah PLUS 96 dolarnya itu… Didoain mudah2an digantiin kantor yah biaya “nginep” nyaa hehehhe… Tapi pasti udah ga sabar nunggu cuti berikutnya khan…?!!!
Mas Don,
Memang tidak seindah jalan-jalan ke Paris, bukan?
Meski mungkin jam penerbangan-nya sama, tapi gak pake acara pegel2 yah…
PS: Keripik Nangkanya enak juga tuh yang dimakan pas tengah malam :D
pak Don, kok aku ga tau ya, kemarin sempet pulang toh…..yahhhh hilang deh oleh2…..hehehe, wah itu cerita seru banget kayaknya, kapan ya aku bisa kerja kayak gitu? mimpi dulu kali ya, but any way pokoknya good luck ya pak Don, inget kita2 neh yg bentar lagi terancam jadi pengangguran………aku jadi teringat daging rendang nyam nyam…….jadi laper, yok pa don sukses ya
Waduh… ternyata ada seneng ada susah juga yaaa ? hi hi…. pasti itu pengalaman yang seru tuk di ceritain ke temen2 dan sanak saudara kalau ‘mudik’ lagi…..
Selamat bekerja yah…
« Journey sans frontiers….finally: Zimbabwe! KAPOLRI menutup latihan Pra-Operasi FPU Indonesia dalam persiapan ke Darfur »