About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 14 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 246 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 7.3/10(3 votes cast)

Articles

Sejarah Liberia untuk US$13 saja : Monrovia Barbershop

Mau kemana saja, rata-rata memang harga ongkos cukur pada semua kios barbershop Lebanese di Monrovia itu umumnya bertarif 10 Dollar-an [Amerika]. Tidaklah si kampret merasa rugi membayar ongkos cukur seharga 13 dollar, dimana 10 Dollar harga ongkos cukur resmi, 2 Dollar tip untuk si Abou Moussa dan 1 Dollar tip untuk tukang sapu Liberian yang bebersih menyapu guntingan rambut dilantai itu.
———————————

Memang si kampret ini doyan sekali ngajak ngobrol orang, siapa saja sudah menjadi teman ngobrolnya. Ya, saya masih ingat sekali, waktu itu si kampret ini masih bekerja di Jakarta, sebuah kantor telekomunikasi kelas wahid di bilangan jalan protokol daerah Gatot Subroto itu, naiklah ia kedalam taxi, sebut saja: superbird, jalan kedepan ramai sesak dengan untaian kendaraan yang enggan beranjak lebih dari semeter tiap 10 menitnya. Dari sisi kursi penumpang dibelakang, terlihat jelas dari bayangan kaca spion itu kalau wajah sang sopir itu bibirnya manyun seperti monyongnya maju semeter dan tampangnya ditekuk persis seperti sendal jepit busuk yang teronggok di wese umum terminal Blok-M itu.

Memang macet-nya situasi lalu lintas itu memang membuat tampang hampir semua orang berlipat menjadi tidak bersahabat, diputuskannya untuk memecah kejemuan diajak ngobrol-lah sang sopir. Satu, dua, tiga pertanyaanpun terlontar dan pada saat ditanyakan-nya perihal trayek dan jenis penumpang yang unik, tanpa dikendalikan lagi maka keluarlah semua cerita seru dan mengherankan para penumpang yang pernah diantarnya. Kejemuan ditengah kemacetanpun berlalu tanpa disadari dan si taxi pun sudah berhasil masuk pintu tol kemudian melesatlah kita meninggalkan kemacetan.

Dari session tersebut diatas, banyak yang sudah dipelajari, bahwa setiap orang ingin didengar [ceritanya], dimana kadang dalam banyak kesempatan kita memposisikan sesorang lain hanya sebagai pendengar dimana kita [diri ini] cuek cuap-cuap tiada cape.

Berbagai cerita, termasuk itu kisah sejarah, baik sejarah suatu daerah [terutama daerah asal sang sopir taxi, pramugari/gara, tukang ojek, porter hotel dan kampret-kampret lainya] memberikan beribu gambaran baru akan daerah yang tidak diketahui sebelumnya. Nah, selama bertugas di Liberia, berkantor di Monrovia, karena alasan keamanan, para staff dan si kampret ini memang dianjurkan untuk tidak menggunakan jasa taxi umum berwarna kuning yang umumnya peyot dan penumpangnya bisa 4-6 orang dengan bau badan mampus-mampus apeknya.. maka kesempatan mendengar cerita seperti halnya naik taxi dikampung tidaklah memungkinkan.

Namun, semua keterbatasan itu adalah ganti tukaran-nya. Hampir sebulan sekali, si Kampret ini terlihat cukup “representable” berkat kepiawaian seorang tukang cukur handal. Sebutlah dia namanya Abou Moussa, bapak separuh baya asli berasal dari Beirut, Lebanon yang sudah lebih dari 10 tahun telah mencukur ratusan.. atau mungkin ribuan kepala di Liberia, di kios/kedai barbershop ukuran 4 × 3 meter persegi itu. Dari kepala botak dengan rambut keriting bau apek dan rapet macam karpet, khas rambut Kampret Liberia hingga rambut para expats mulai dari Duta Besar Amerika di Monrovia, hingga rambut si hayam dugul ini [Maksudnya: Saya]

Mungkin satu dari lain hal mengapa banyak dari orang-orang asing di Monrovia selalu rela mampir dan menunggu giliran untuk di cukur oleh si bapa tua ini, selain cakap dna terampilnya ia mencukur [Jelaslah dengan pengalaman nyukurin kepala lebih dari 10 tahun – pastilah jago!] adalah kepandaian-nya bercerita akan banyak hal kepada si pelanggan yang sedang dicukurnya. Ibarat seorang dokter gigi anak-anak yang tahu bahwa setiap pasien anak-kecil itu ingin diceritakan sebuah cerita tertentu agar mau duduk diam dan menurut saat diperiksa giginya, selain itu ia cukup pandai dalam mencermati cerita balasan mereka itu.

Salah satu cerita favorit saya adalah, bagaimana ia dulu melalui masa-masa sulit disaat Liberia masih berada dalam periode peperangan dimana kehancuran terjadi disana-sini, ia bercerita dengan amat detil dan bergelora seakan situasinya persis hidup. Dengan suara serak-terbatuk, dan sesekali mengambil jeda untuk menghisap satu-dua-sampai tiga tarikan puntung ber-merek: Benson & Hedges Gold ia berlanjut dengan kisahnya.

Sebulan lalu ia bercerita bagaimana ia dan keluarganya mengungsi saat perang pecah, lalu 2 minggu berikutnya si Kampret ini datang lagi, bukan untuk dicukur lagi [Wong rambut ini sudah botak habis dicukur belom tumbuh panjang lagi!] mengantarkan seorang kolega dikantor yang juga perlu dicukur, karena menuruti himbauan si Kampret ini karena mungkin dia merasa penat kalau tampang rambutnya dikatakan sudah jabrik-gimbal nggak keruan bak singa jantan di Taman Nasional Kalahari – Kenya.

Sembari si kawan itu dicukur, dan si Kampret ini duduk dikursi tamu menunggu, memintanya untuk meneruskan cerita sambungan-nya. Kali itu, sebagai bonus, ia kemudian bercerita tentang bagaimana ia jatuh cinta pada wanita Liberia. Sembari cekras-cekris jemarinya bermain dengan gunting, memangkas rambut si kawan, telinga dan angan ini pun kemudian terbawa tinggi melayang membayangkan seperti siapakah gerangan wanita yang membuatnya jatuh hati itu.

Sembari menyimak, pikiran ini pun memunculkan sosok wanita hitam yang dinilai cantik menurut kamus si kampret ini..

She’s just like Beyonce Knowles but far more darker complexion.. begitulah ujarnya.

Dalam hati ini berguman: Gile si bapa-bapa gaek ini tau /kenal juga Beyonce Knowles!. Menjawab seru si pak Abou Moussa, diri ini hanya bisa setuju sembari membalas:

*Beyonce Knowles? Really?.. *

Si kawan juga ikut nimbrung dan bertanya balik:

*How come I’ve never seen the one like that or maybe similar around here..?? Tell me, Habibi *[Habibi adalah sebutan akrab dalam bahasa Arab : Sahabatku]

Sembari memiringkan kepalanya guna melihat apakah hasil cukuran itu rata atau tidak, ia pun menjawab dengan kalem:

Patience, my friend.. when I firstly got here I’ve seen all the ladies here looks much less attractive, why? Cause I always use my-Lebanese-type-of-ladies to compare with. Change your glasses and see it from a different perspective..

Every ladies posses a beauty within themselves, and if you allow yourself to see further and deeper, then you’d see the real beauty emerging.. got what I mean? – sembari melempar senyum.

Ya, mungkin cara pandang itu ada benarnya juga.

Yang jelas, setiap sesi bercukur disana, banyak cerita yang didapat, dari cerita seru sampai kepada cerita assoy si bapa-bapa tua ini. Dari sekian banyak sahabat baru yang ditemui si kampret selama bertugas di Liberia, tukang cukur adalah salah satu guru akan sejarah Liberia dan mengerti akan bagaimana kehidupan berjalan disini.

Mau kemana saja, rata-rata memang harga ongkos cukur pada semua kios barbershop Lebanese di Monrovia itu umumnya bertarif 10 Dollar-an [Amerika]. Tidaklah si kampret merasa rugi membayar ongkos cukur seharga 13 dollar, dimana 10 Dollar harga ongkos cukur resmi, 2 Dollar tip untuk si Abou Moussa dan 1 Dollar tip untuk tukang sapu Liberian yang bebersih menyapu guntingan rambut dilantai itu.

Bagaimana dengan tukang cukur disana? Buat temen-temen pada peacekeeping mission di Sudan, DR Congo, Afghanistan, Ivory Coast, dan misi peacekeeping, serta negeri di benua luaran sana bagaimana? Cerita doong… ditunggu responsenya yah…

PS: Tenang cintaku, buat saya kamu memang hanya satu-satunya wanita tercantik di hati ini dan ini bukan gombal, sumpeeee!

Saya cinta dan rinduuu banget sama kamu – kamu tahu benar akan hal itu.

by Imeza Saraswaty at 20 December 2007, 02:41

`Every ladies posses a beauty within themselves, and if you allow yourself to see further and deeper, then you’d see the real beauty emerging…. `
I´ve been telling you this ages ago! Liat prempuan jangan pasphoto doang :P
Please say my warm regards to Abou Moussa

by rumahkayubekas at 20 December 2007, 06:33

Duh Kang Pralangga,
Ceritanya asik sekali ternyata,
Layak lah ya, belasan dollar buat sekian- macam berita,
Dari beyonce Knowless sampai asoy- asoy dia punya cerita,
Dapet bonus lagi dicukur ma si Abou Moussa,

Saya nih sampai saat ini masih saja geleng- geleng kepala,
Gimana luar- biasanya yang anda- anda lakukan diluar- sana,
Peacekeeping dimanapun dibelahan dunia,
Mampu saya baru bisa peacekeeping dalam keluarga,

Sukses selalu semoga menyertai anda,
Sekali- sekali saat rindu akan tanah- air punya suasana,
Boleh- boleh lah mampir ke situsnya rumahkayubekas punya,
Rindu sang kekasih? Ah eta mah wios ku Akang we nyalira,

by Jelita at 20 December 2007, 10:05

Dulu zaman gw di LA cuma 4 dollar aja; nasib mulah potong rambut apa mau beli baju tuuvh..Makanya belajar potong rambut dulu sebelum kerja disana hehehehe

by Ingrid at 20 December 2007, 12:01

Semakin seru aja cerita mas Lui ttg Monrovia.
Yg di Indo punya usaha cukur “DPR – Dibawah Pohon Rindang” dgn harga 5rb saja mending pindah ksana ya.. :))

by Reinhard at 20 December 2007, 23:13

Mungkin ada satu hal lagi yang perlu di tambahkan kang… kalau shaving di sana jangan pakai pisau cukur di barbershop…. lebih baik di rumah saja….penyebabnya tau kan ????

by Mazazy at 21 December 2007, 08:56

Alo Kang Luigi, salam kenal juga, saya sempatkan mampir ke halaman anda …. wah isinya kelihatannya seru seru yah ttg suka-duka di negeri orang yang nun jauh dari Depok City. Wah banyak juga, ternyata, ‘pak tentara’ yang suka ngeblog he3. Selamat bertugas …

by Niwatori at 22 December 2007, 06:25

Eleuh meuni hayam dugul kekeke. Met bertugas dan met menikmati gaya rambut baru kang (berubah nol koma sekian mili? hihihi)

by poetra at 22 December 2007, 15:13

Halah, ini manggilnya meuni si kampret, haha. But anyway, saya setuju sama bapak cukur $10, bahwa memandang wanita diperlukan kacamata yang lebih “teliti” dibandingkan kacamata biasa.

Therefor, the woman we love will be the prettiest one aong the others. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah inner beauty, hehe.

Oh ya, semoga cepat bertemu dengan nyonya juga pak :)

by Dodot at 22 December 2007, 19:48

wah enakkan tinggal di indonesia, $10? Di Padang cuman Rp. 8.000, wa ka ka ka ka,

Selamat bertugas

by Peacekeeper at 23 December 2007, 01:25

Luar biasa,….rupanya sekarang ongkos cukur yang mahal ya,…
di Abkhazia/Georgia, dulu yang mahal adalah makanan atau minuman karena semuanya barang import. Jadi, kalau kita makan di restoran, katakanlah 20 dollar, itu seperti di Depok 20 ribu rupiah…..Jaga kesehatan , jangan sampai kena penyakit kuning mas Luigi….maksudnya semua cewek yang dilihat sudah menjadi kuning, ….it means time to take CTO

by didut at 23 December 2007, 06:38

emang indonesia paling top kalo soal barber..5000 perak saja + pijet :P

by hERNa at 24 December 2007, 08:35

waah, tampilan blog-nya akhirnya normal lagi di laptop saya Om…

happy holiday… salam hangat untuk Abou Moussa __

by edratna at 26 December 2007, 05:15

Yang bikin mahal ceritanya tuh…..kan nggak semua tukang cukur suka cerita, ada yang diem aja..terus yang dicukur baca majalah…padahal ini adalah saat-saat kita bisa mendpatkan informasi atau cerita macam-macam, supaya bisa melihat sisi dunia yang lain.

Betul kok, kalau lagi naik taksi, ajaklah sopir taksi mengobrol, pasti dia akan senang karena menjadi tidak bosan. Dan sopir taksi di Jakarta banyak yang sarjana…(saya cuma menebak), melihat gaya bertuturnya, tahu tentang politik, masalah sosial, bahkan cerita di buku-buku.

by Lulu Flint at 26 December 2007, 22:35

Emmmm..ternyata gak laki2 gak perempuan, kalau nyalon, pasti cerita2 n nggosip juga yaa..heheheeh..