Setelah kurang lebih menunggu selama 1 bulan, akhirnya hari ini saya menginjakkan kaki pertama kali di daerah dungu. Sebelumnya sudah ada 58 personel yang bertugas di daerah ini.
Berdasarkan OPO (Operation Order) dari Force Commander, Satgas KIZI XX-F harus relokasi ke daerah Dungu dalam rangka mendukung proyek pembuatan jalan Dungu-Duru sepanjang 80 km. Setelah turun dari pesawat Antonov dari penerbangan Ukraina, saya disambut dengan susana yang sangat jauh berbeda dengan daerah Beni. Temperatur udara 41 derajat Celsius dan tempat berdebu ditengah hutan belantara.

Saya berpikir sejenak, inilah yang akan saya hadapi selama 6 bulan kedepan. Daerah gersang yang terpencil di tengah hutan dimana sepanjang mata memendang hanya diselimuti oleh debu yang beterbangan. Hal ini disebabkan oleh landasan pacu pesawat yang terbuat dari Limonit (sejenis tanah yang terdiri atas campuran tanah, pasir dan kerikil). Ditambah lagi intensitas penerbangan yang cukup tinggi setiap harinya.

Camp Indonesia yang baru berada sekitar 2 km dari camp lama. Sesampainya disana semua infrastruktur belum selesai dibangun. Tenda-tenda, toilet dan gudang-gudang belum selesai dikerjakan. Alangkah malang nasibku, gerutuku dalam hati. Sore itu juga saya langsung merapikan tenda yang akan saya tempati. Dibawah terik sinar matahari semua personil bekerja membenahi kamp agar secepatnya dapat digunakan.
Setelah satu minggu berjalan, sudah banyak perubahan disana-sini. Semua prajurit bahu-membahu menyelesaikan semua pekerjaan konstruksi bangunan. Peleton ZIkon (Zeni Konstruksi) menyelesaikan pembangunan tenda dan kamar mandi. Sedangkan Peleton Alber (Alat Berat) melanjutkan pembangunan jalan Dungu –Duru dan membantu pembuatan pos jaga. Disamping itu Ton Alber juga membuat tanggul pertahanan dan membantu Ton Zikon dalam pembutan tanggul air.



Anggota yang lain menyiapkan sarana dan prasarana sesuai bidangnya masing-masing. Contohnya Tim Disposal menyiapkan kontainer untuk pembuatan gudang senjata dan munisi. Anggota staf satgas menyiapkan sarana perkantoran.
Dengan segala keterbatasan disini, tidak juga membuat saya banyak mengeluh. Disamping kanan kiri kamp terdapat kamp kontingen Negara lain.





Satu batalion FARDC (Armed Forces of Republic Democratic of Congo) , satu SSK (Satuan Setingkat Kompi) Special Forces dari Guatemala KAIBIL dan satu Batalion Infanteri dari Maroko. Disamping itu ada juga organisasi-organisasi UN (United Nations) seperti UNICEF , UNHCR dan WFP . Setiap hari semua anggota dapat berinteraksi dengan mereka. Ini juga menjadikan salah satu hiburan baru bagi anggota satgas.
Kegiatan sore hari adalah waktu yang paling saya tunggu. Pada saat ini lah saya melepaskan kepenatan setelah seharian bekerja dengan berolahraga. Semua anggota bersama-sama melaksanakan kegiatan olahraga sesuai hobinya masing-masing. Ada yang bermain bola voli, lari, joging dan catur. Disamping itu ada juga yang hanya sekedar ngobrol dan berinteraksi dengan kontingen lain. Melalui kegiatan ini semua bisa tertawa, gembira, sehingga lepas semua beban pekerjaan. Berganti dengan sebuah keriang gembiraan dan kesenangan.
Sesulit apapun keadaan tergantung bagaimana menyikapinya. Setiap orang punya cara masing-masing untuk survive disini. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan semua ini cepat berakhir dan pulang kembali ke Indonesia dengan selamat dan sukses.
Kalimat ini bagus sekali pak “Sesulit apapun keadaan tergantung bagaimana menyikapinya. Setiap orang punya cara masing-masing untuk survive……”
Semoga sehat selalu dan sukses selalu kepada semua anggota yang bertugas