About This Post

Catur SULASDIARSO

Correspondent Catur SULASDIARSO

Total 7 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 561 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Sengsara Membawa Nikmat

Dalam bentrok tersebut menimbulkan korban kurang lebih 400 meninggal dan luka. Kebayakan dari mereka adalah rakyat. Seluruh staff UN dari kalangan sipil diungsikan keluar kota sedangkan military di tampung di UN Camp dan dilindungi oleh pasukan peacekeeper dari India (tapi kali ini mereka ngga nyanyi-nyanyi).

Judul sebuah sinetron yang sukses ditayangkan salah satu stasiun televisi di Indonesia beberapa waktu yang lampau dengan setting cerita didaerah Sumatra. Walaupun waktu penayangan sinetron tersebut selalu ditunggu tunggu oleh pemirsa di Indonesia baik dari kalangan tua maupun muda namun saya sedikitpun tidak tertarik. Aneh bin ajaib binti heran, justru sekarang saya yang lagi nun jauh dinegeri orang (Sudan) mengalami apa yang dinamakan sengsara membawa nikmat.

Kurang lebih pukul 11.30 tanggal 14 Oktober 2006 ketika dect phone (4731) di mejaku berdering kriiing… dan ketika saya angkat terdengar diseberang sana suara Capt Issac (Zimbabwe), “Sir, your leave request not approved” Ketika itu perasaan saya bagaikan disambar petir disiang hari. Capt Issac adalah laison officer team site saya untuk Sector III (disamping mengerjakan tugas tugas resmi Capt Issac juga saya tugasi untuk mengurus cuti saya). Perlu diketahui saya ditempatkan di team site Bor sebagai Deputy Team Site Commander dibawah Sector III/Malakal termasuk Sudan Bagian selatan. Bor sendiri sebenarnya adalah sebuah ibukota propinsi, namun jangan pernah membayangkan kalau kota Bor seperti kota-kota di Indonesia pada umumnya. Bor hanyalah puing-puing akibat perang berkepanjangan selama kurang lebih 21 tahun. Disana hanya ada 3 buah bangunan yang terbuat dari batu/bata dan semen yaitu kantor gubernur. Rumah Gubernur dan satu lagi masjid sedang selebihnya bangunan yang terbuat dari kayu dan tanah liat mirip rumah adat pedalaman Irian. Akses jalan satu-satunya adalah melalui udara. Luas kota BOR sendiri kira-kira cuma 5 km persegi selebihnya adalah ladang. Namun bukan ladang jagung, gandum atau tanaman lainya melainkan… ladang ranjau!

Kembali ke masalah leave request, ini adalah usaha saya yang ketiga untuk mengajukan cuti lebaran setelah 2 kali usaha saya ditolak dengan alasan kuota sudah habis. Kini ada beberapa orang yang sudah kembali dari cuti tapi mengapa cutiku tetap ditolak? Segera saya telepon sector Commander untuk menjelaskan keinginan saya: berlebaran dengan keluarga di Indonesia. Namun sekali lagi usaha saya gagal. Dari 13 Military observers Indonesia hanya saya seorang yang gagal mendapat ijin cuti, 9 orang sudah berada di Indonesia, 2 orang sedang menikmati cuti di Uganda karena yang bersangkutan beragama Nasrani, tinggal saya dan Mas Ltk Dony Rizl Lubis yang tersisa di team site tapi Mas Dony sudah ada kepastian cuti di setujui. Tinggal menunggu waktu berangkatnya saja.

by phie2t at 8 February 2007, 17:52
emang sebagai manusia qta kadang cuma bisa ngeluh, gerutu dan berprasangka buruk padaNya tapi itu smua adalah rencana Allah & memang yg terbaik buat qta.

seperti di jakarta yg kini sedang kebanjiran, mungkin sebagian orang pada ngeluh karena ujan terus menerus jadinya banjir. apakah banjir ini merupakan yg terbaik? wallahu'alam

yang pasti qta harus dan selalu berpransangka baik padaNya :)
by santoso ted at 8 February 2007, 20:52
Mas catur rupanya anak keempat......dan memang harus banyak sabar dan tentunya semuanya mempunyai hikmah, saya seorang Field Service Officer(UN staff member)yang di kriet(created) by UN untuk hidup di Fields, memang hidup bersama UN 29 tahun selalu di Field, istri, anak selalu jauh tentunya anda dapat bayangkan, kok boro-boro lebaran, adha, natal dsb, dapat cuti pulang ke Indonesia-pun hanya setahun sekali paling betahpun sebulan, saya merantau sudah33 tahun diluar negri jadi, kurang betah di Indonesia malahan kelihatan lebih semerawut, dan memang usiapun sudah mulai keufuk barat (senja), pernah dengan pak Fahrul di Iraq(1986) dengan Hendrarto (Iraq/Iran 1986) Joko Pramono (1978 di Sinai) Nugroho Jayusman(1991) Namibia. Hanya penghasilan di UN memang 100% halal wal-halal. Kita harus sabar dan banyak sabar, I knew that in Sudan are many Indonesian civilian staff members, salam dan merdeka..! God Bless Indonesia..!
by Luigi at 8 February 2007, 22:15
Mas Catur,

Sesama 'kampret nyasar' macam kita ini yang bekerja di peacekeeping field-missions begini, saya tau banget rasanya gimana hati ini girang saat menaiki undakan tangga masuk ke pesawat, dan sebelum masuk kedalam kabin, berhenti sejenak dan menengok ke belakang, melihat terminal passenger bak bangunan layak gudang/bengkel itu..sembari menghela nafas dan berkata dalam hati : "Bismillah, I am going home!"

Saya percaya kedepan, dengan tempaan kapabilitas dan aosisasi [networking] yang sudah terjalin antara sahabat sesama staff Indonesia dan para staff intl lainya - bisa menjadi asset berharga buat pergerakan karir kedepan.

Maklum sekali dengan instabilitas yang sedang terjadi di Sudan, beberapa kawan juga sharing via email ttg apa yang terjadi saat ini di Timor-Leste dan di Khatmandhu, Nepal.. seyogyanya kita saling mendoakan.
Tetep semangat yah.. salam hangat dari Liberia...
by Guntur Samodera at 8 February 2007, 23:52
Akang Catur ........
Akang udah bisa cerita tentang Bor, yeahc begitulah sebagian dari proses hidup yang harus kita jalani. Dalam proses tersebut kadang kita bangga akan keadaan lingkungan yang sulit penuh tantangan. Akhirnya kita lupa bahwa semua itu bagian dari ujian. Masih ingat enggak kalau salah satu temannya sekarang masih berlatih menyelam di Juba. He he he he ...
Menyelamnya dimana kira-kira dimana ya.
Sukses selalu Akang.
Cheers.
Guntur Samodera
by cathy at 19 February 2007, 00:33
Mas Catur,

Wah, aku pikir cuman aku doang yg menderita di kenya, boleh dibilang ini somalia!! panas banget pasti sama kaya di Bor..
segala sesuatu indah pada waktunya mas... dan pada akhirnya pasti bisa survive... but i'm counting days now... can't wait to go back home...

Aku juga pernah merasakan perasaan yang sama, tapi untungnya di liberia banyak orang indo jadi ndak kesepian...

Keep up the spirit...
Cathy


by Vina at 11 April 2007, 21:56
Kita tidak akan pernah tau rahasia ALLAH akan tetapi sometimes kita dapat merasakan "kasih sayang" ALLAH, adapun dalam keseharian hanya "setetes" nikmat yang kita syukuri dari lautan nikmat yang kita dapatkan.

Lebih baik sengsara membawa nikmat daripada kenikmatan membawa sengsara (sharing dong kalau udah punya pengalaman), ditunggu ya...!!!

by Kardi at 3 May 2007, 23:13
Mas Catur,

Ini mungkin yg dinamakan Blessings In Disguise yah. Seringkali kita terlalu cepat menyalahkan atau complain bila ada masalah.

Tapi begitu semua itu lewat kita baru sadar bahwa semuanya ini mungkin sudah diatur sama yang di-Atas, untuk kita petik hikmahnya.

Selamat bertugas yah, ditunggu postingan-postingan berikutnya...

Cheers