Judul sebuah sinetron yang sukses ditayangkan salah satu stasiun televisi di Indonesia beberapa waktu yang lampau dengan setting cerita didaerah Sumatra. Walaupun waktu penayangan sinetron tersebut selalu ditunggu tunggu oleh pemirsa di Indonesia baik dari kalangan tua maupun muda namun saya sedikitpun tidak tertarik. Aneh bin ajaib binti heran, justru sekarang saya yang lagi nun jauh dinegeri orang (Sudan) mengalami apa yang dinamakan sengsara membawa nikmat.
Kurang lebih pukul 11.30 tanggal 14 Oktober 2006 ketika dect phone (4731) di mejaku berdering kriiing… dan ketika saya angkat terdengar diseberang sana suara Capt Issac (Zimbabwe), “Sir, your leave request not approved” Ketika itu perasaan saya bagaikan disambar petir disiang hari. Capt Issac adalah laison officer team site saya untuk Sector III (disamping mengerjakan tugas tugas resmi Capt Issac juga saya tugasi untuk mengurus cuti saya). Perlu diketahui saya ditempatkan di team site Bor sebagai Deputy Team Site Commander dibawah Sector III/Malakal termasuk Sudan Bagian selatan. Bor sendiri sebenarnya adalah sebuah ibukota propinsi, namun jangan pernah membayangkan kalau kota Bor seperti kota-kota di Indonesia pada umumnya. Bor hanyalah puing-puing akibat perang berkepanjangan selama kurang lebih 21 tahun. Disana hanya ada 3 buah bangunan yang terbuat dari batu/bata dan semen yaitu kantor gubernur. Rumah Gubernur dan satu lagi masjid sedang selebihnya bangunan yang terbuat dari kayu dan tanah liat mirip rumah adat pedalaman Irian. Akses jalan satu-satunya adalah melalui udara. Luas kota BOR sendiri kira-kira cuma 5 km persegi selebihnya adalah ladang. Namun bukan ladang jagung, gandum atau tanaman lainya melainkan… ladang ranjau!
Kembali ke masalah leave request, ini adalah usaha saya yang ketiga untuk mengajukan cuti lebaran setelah 2 kali usaha saya ditolak dengan alasan kuota sudah habis. Kini ada beberapa orang yang sudah kembali dari cuti tapi mengapa cutiku tetap ditolak? Segera saya telepon sector Commander untuk menjelaskan keinginan saya: berlebaran dengan keluarga di Indonesia. Namun sekali lagi usaha saya gagal. Dari 13 Military observers Indonesia hanya saya seorang yang gagal mendapat ijin cuti, 9 orang sudah berada di Indonesia, 2 orang sedang menikmati cuti di Uganda karena yang bersangkutan beragama Nasrani, tinggal saya dan Mas Ltk Dony Rizl Lubis yang tersisa di team site tapi Mas Dony sudah ada kepastian cuti di setujui. Tinggal menunggu waktu berangkatnya saja.
seperti di jakarta yg kini sedang kebanjiran, mungkin sebagian orang pada ngeluh karena ujan terus menerus jadinya banjir. apakah banjir ini merupakan yg terbaik? wallahu'alam
yang pasti qta harus dan selalu berpransangka baik padaNya :)
Sesama 'kampret nyasar' macam kita ini yang bekerja di peacekeeping field-missions begini, saya tau banget rasanya gimana hati ini girang saat menaiki undakan tangga masuk ke pesawat, dan sebelum masuk kedalam kabin, berhenti sejenak dan menengok ke belakang, melihat terminal passenger bak bangunan layak gudang/bengkel itu..sembari menghela nafas dan berkata dalam hati : "Bismillah, I am going home!"
Saya percaya kedepan, dengan tempaan kapabilitas dan aosisasi [networking] yang sudah terjalin antara sahabat sesama staff Indonesia dan para staff intl lainya - bisa menjadi asset berharga buat pergerakan karir kedepan.
Maklum sekali dengan instabilitas yang sedang terjadi di Sudan, beberapa kawan juga sharing via email ttg apa yang terjadi saat ini di Timor-Leste dan di Khatmandhu, Nepal.. seyogyanya kita saling mendoakan.
Tetep semangat yah.. salam hangat dari Liberia...
Akang udah bisa cerita tentang Bor, yeahc begitulah sebagian dari proses hidup yang harus kita jalani. Dalam proses tersebut kadang kita bangga akan keadaan lingkungan yang sulit penuh tantangan. Akhirnya kita lupa bahwa semua itu bagian dari ujian. Masih ingat enggak kalau salah satu temannya sekarang masih berlatih menyelam di Juba. He he he he ...
Menyelamnya dimana kira-kira dimana ya.
Sukses selalu Akang.
Cheers.
Guntur Samodera
Wah, aku pikir cuman aku doang yg menderita di kenya, boleh dibilang ini somalia!! panas banget pasti sama kaya di Bor..
segala sesuatu indah pada waktunya mas... dan pada akhirnya pasti bisa survive... but i'm counting days now... can't wait to go back home...
Aku juga pernah merasakan perasaan yang sama, tapi untungnya di liberia banyak orang indo jadi ndak kesepian...
Keep up the spirit...
Cathy
Lebih baik sengsara membawa nikmat daripada kenikmatan membawa sengsara (sharing dong kalau udah punya pengalaman), ditunggu ya...!!!
Ini mungkin yg dinamakan Blessings In Disguise yah. Seringkali kita terlalu cepat menyalahkan atau complain bila ada masalah.
Tapi begitu semua itu lewat kita baru sadar bahwa semuanya ini mungkin sudah diatur sama yang di-Atas, untuk kita petik hikmahnya.
Selamat bertugas yah, ditunggu postingan-postingan berikutnya...
Cheers