Correspondent Sandy M. PRAKASA
Total 6 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 64 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Sekolah kehidupan untuk anak Liberia
Pekan Baru: Merindu yang sudah membiru >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
(Adshit Al Qusayr, 2/6) Menghapus trauma akibat perang bagi anak-anak dan remaja di Lebanon bukanlah perkara mudah. Menyadari kenyataan ini, segala daya dikerahkan oleh anggota pasukan perdamaian PBB Kontingen Garuda (Konga) XXIII B agar anak-anak dan remaja yang berada di wilayah operasinya terbebas dari trauma yang menghantui mereka. Salah satu caranya ialah melalui penyelenggaraan Kursus Komputer tingkat dasar yang telah dimulai sejak 5 bulan lalu di Pusat Rehabilitasi “Khiam” di wilayah Deir Sirriane dan ditutup beberapa hari lalu yang ditandai dengan penyerahan sertifikat bagi peserta kursus yang telah memenuhi kualifikasi yang ditentukan.
Bertempat di halaman depan Municipality (kantor pemerintah lokal) Deir Sirriane Lebanon Selatan, sebanyak 25 orang anak dan remaja yang telah mengenyam kursus komputer dengan materi MS Office Word dan MS Office Excel mengikuti acara penyerahan sertifikat tersebut, bersama dengan sekitar 120-an tamu undangan yang sebagian besar merupakan orang tua maupun kerabat serta warga di mana anak-anak itu berdomisili. Selain itu, hadir juga Perwira Staf Cimic (Civil Military Cooperation) Komando Sektor Timur UNIFIL Mayor Ferera dan Kapten Aguado dari Spanyol serta pengurus lembaga Pusat Rehabilitasi “_Khiam_”.
Lagu Kebangsaan ke-3 negara yaitu Lebanon, Spanyol dan Indonesia berkumandang sebagai penanda dimulainya acara ini. Selanjutnya pemberian sambutan dari Dansatgas Yon Mekanis TNI Konga XXIII B Letkol Inf A M Putranto, S.Sos selaku Pemrakarsa dan Penanggung jawab pelaksanaan kegiatan Kursus Komputer tersebut. Sambutan berikutnya diberikan oleh Mohammad Shifa yang merupakan Sekretaris Jenderal Pusat Rehabilitasi “_Khiam_”. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa lembaganya merupakan salah satu cabang dari International NGO yang bergerak dalam bidang pemulihan atau rehabilitasi bagi korban kekerasan perang.
Oleh karena itu, Ia berterima kasih atas upaya dan bantuan dari Kontingen Indonesia yang telah menyelenggarakan Kursus Komputer karena hal ini sedikit banyak akan menolong masyarakat Lebanon, khususnya anak-anak dan remaja agar dapat melupakan kekerasan perang yang pernah dialaminya di masa silam. Ia juga memuji ketulusan prajurit Indonesia yang dengan ringan tangan memberikan bantuan kemanusiaan berupa pelayanan kesehatan dan latihan P3K bagi masyarakat Deir Sirriane.
Seusai pemberian sambutan, prajurit-prajurit Garuda XXIII B dari Kompi Mekanis “C” menampilkan hiburan berupa tarian tradisional Indonesia yaitu Tari Saman dari Aceh. Gerakan-gerakan yang kompak, serempak, bersemangat dan dinamis dari para prajurit ini tak alang mengundang applaus meriah dari para hadirin. Mereka tidak menyangka, para prajurit Indonesia yang setiap harinya bergelut dengan senjata dan kendaraan tempur ternyata mampu membawakan suatu tarian tradisional dengan begitu apik.


Acara dilanjutkan pada acara pokok yaitu penyerahan sertifikat bagi peserta kursus yang telah lulus dan memenuhi kualifikasi. Namun sebelumnya, 2 orang perwakilan peserta kursus didaulat oleh panitia untuk melakukan unjuk keterampilan sebagai bukti bahwa mereka memang benar-benar layak dan mampu mengoperasikan komputer. Kali ini yang terpilih tampil ialah Ridho (11 tahun) dan Fatima (17 tahun).

Dua orang anak ini diberikan persoalan yang berbeda dan harus menyelesaikannya dalam waktu maksimal 5 menit. Kontan, suasana pun menjadi riuh rendah karena teriakan dan tepuk tangan dukungan dari anak-anak dan remaja yang hadir. Mereka begitu antusias menyemangati Ridho dan Fatima agar mampu menyelesaikan persoalan tersebut secepat-cepatnya. Tak sia-sia, rupanya dukungan itu mampu memotivasi Ridho sehingga mampu menyelesaikannya dalam waktu 3 menit saja sedangkan Fatima, karena sedikit gugup, menyelesaikan persoalannya dalam waktu 5 menit lebih sedikit.
Pada acara pokok, satu per satu peserta Kursus Komputer dipanggil ke depan seperti layaknya pembagian ijazah di sekolah. Dari raut wajah mereka, terpancar keceriaan, kegembiraan dan kebanggaan saat menerima sertifikat yang diberikan Dansatgas Konga XXIII B yang didampingi oleh Mayor Ferera dan Mohammad Shafa. Tak henti-hentinya mereka memandangi sertifikat yang baru saja mereka terima. Tak urung, kejadian ini mengundang rasa haru dari Tim Pengajar yaitu Kapten (Tituler) Deny Lesmana S.S, M.Si, Lettu Inf Risa Setyawan dan Lettu (Mar) Suherman. Seusai acara pembagian sertifikat, mereka pun berfoto bersama sambil menunjukkan sertifikat masing-masing.

Saat dimintai komentarnya terhadap acara ini, dengan ceria Ridho berujar, “Nahnu athfāl Deir Sirriane nasy’uru bissurūr bi hādzihil haflah li taqdimi ssyahādah. Nasy’kuru Indobatt ‘alā ta’līm komputer lanā…” (Anak-anak di Deir Sirriane senang dengan acara pemberian ijazah ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Indobatt yang telah mengajarkan komputer kepada kami…).
Acara penyerahan Sertifikat ini diprakarsai dan dilaksanakan sepenuhnya oleh prajurit Kontingen Garuda XXIII-B, khususnya dari Kompi Mekanis “C” di bawah kendali Mayor Inf Fauzi (Kepala Seksi Cimic/ Civil Military Cooperation) dibantu oleh Lettu Inf Risa Wahyu (Pasi Cimic) dan Kapten (Mar) Fredy Ardiansyah (Danki Mekanis “C”). Rangkaian acara ditutup dengan makan siang bersama dilanjutkan dengan penyerahan Tali Kasih kepada para asisten Tim Pengajar yaitu Ali Karim (16 tahun), Sarah Karim (17 tahun), Fatima Sa’ad (17 tahun) dan Nur (18 tahun) berupa kamera saku digital oleh Dansatgas Konga XXIII-B.

Dimana bumi dipijak disitulah langit di junjung, pembinaan teritorial memang tidak hanya perlu diterapkan di tanah air saja, namun juga pada mission area of responsibillity INDOBATT.
Semoga ‘beneficiaries’ setempat senantiasa menjaga keberadaan INDOBATT agar mulus lancar menjalankan mandat-nya.
Boleh dong, dicoba kelas ‘belajar Bahasa Indonesia’ buat masyarakat setempat itu.
Waaaaaah.. Ternyata para prajurit juga bisa menarikan tarian ini..
Salut euy :)
Brother Sandy, selamat ya atas liputannya yang bagus ini….
memang metode teritorial bisa diterapkan diseluruh belahan dunia, dari memanen gandum, pertunjukan debus, masak memasak… dan lain – lain…
Saluuut , sepertinya kami (indonesian FPU) harus banyak belajar nih masalah ini…
PS: emailnya sudah bisa masuk brother ?
Pertama pas lihat foto tentara menari, yg terbertik dalam benak saya, “Ihhh, hebat euy, tentara bisa nari, walaupun gerakannya kebanyakan hanya tepuk2 dada dan paha ajah…”
Ehhh, tapi ada yg lucu juga, itu saku kok gak kompakan sich, hahaha, tentara bisa juga gak kompak gitu yah gerakannya…
hajar anak ini karna kurang ajar ngeledek2in tentara
yg kedua pas liat yg dikasih sertivikat, lahhh, kok kulitnya putih, gak item gosong seperti biasanya tiap mampir kesini, selalu /kebanyakan ttg kehidupan anak2 kulit hitam… Jangan2 ini anaknya para peacekeeper… lahhh, kluar kantong kanan masuk kantong kiri dong namanya itu (hajar lagi anak ini, berani ngata2in tentara)….
Makin kebawah baca, lahhh… kok semua yg dapat sertifikat putih2 semua… Curang nihhh… Wait, ini dimana sih, bukan aftika yach??
Pas baca lagi dengan seksama, masyaolohhhh, ternyata di Lebanon tohhh… hahahahahaha… silly!!! :D
SELAMAT BUAT KONTINGEN GARUDA XXIII B, semoga makin kreatif dalam berkarya membantu anak2 diwilayah konfik ini.
Salam Takzim from Indonesia,
Silly
Bagus … !!
Selain sebagai upaya untuk menghapus trauma dari para remaja ini juga mereka mendapatkan ilmu terutama tentang komputer. Suatu usaha yang sangat kita hargai terutama untuk KONGA XXIII B.
Tapi gak nyangka juga … ternyata para prajurit juga bisa menari yaaaa …
Peace !!
Buat Fiena, Silly dan Dee…
Prajurit2 kita memang mempersiapkan diri dari sejak msh di tanah air dgn berbagai macam kesenian daerah khas Indonesia. Setiap Kompi menyiapkan 2 macam kesenian, sedangkan kita punya 5 Kompi jadi total yg kita punya ada 10 kesenian. Ini masih ditambah dgn Atraksi Debus, Sulap, dan Bela diri (Karate, Taekwondo dan Silat). Hebatnya, semua ini berasal dari inisiatip para Komandan Kompi masing2, jadi bukan disiapkan atau dibiayai oleh Dinas alias dari Kocek Komandan masing2.
Oya, foto yg sedang tari Saman bukannya ga kompak, tp waktu dijepret emang pas posisi begitu (formasi ombak,bergantian duduk-berlutut).
Pada bulan desember tahun lalu, bbrp kesenian itu sdh kita tampilkan. Kalau saya tampilkan di sini, kuatirnya sdh basi. Nanti aja deh kalo ada momentum lain…
Utk Bang Rere, e-mailnya sdh nyampe…Sukses di Sudan sana, Bang!
Warm regard from Lebanon,
Captain Sandy – Indobatt PIO (Public Information Officer)
+961 70930734
« Sekolah kehidupan untuk anak Liberia Pekan Baru: Merindu yang sudah membiru »