Fakfak merupakan salah satu kabupaten yang berada di Propinsi Papua Barat yang memiliki luas wilayah 14.320 km² dengan jumlah penduduk hampir sekitar 77.930 jiwa. Wilayah ini dibagi menjadi 9 distrik.
Dalam upaya pencapaian MDGs di Propinsi Papua Barat, UNDP melalui Program PcDP (People- centered Development Programme) melaksakan berbagai program di Kabupaten Fakfak sejak tahun 2007 dengan mengambil 2 distrik percontohan yaitu distrik Fakfak Tengah & Kokas. Tahun 2009, UNDP melakukan penambahan 2 distrik yaitu Distrik Fakfak dan Distrik Teluk Patipi untuk mendukung kegiatan Telecenter.
Adapun dukungan layanan yang diberikan UNDP antara lain: pemberian hibah ringan/kecil untuk kesehatan, pendidikan, pengembangan ekonomi lokal, mendirikan pusat sumber daya, dan pengembangan kapasitas untuk pendampingan berkelanjutan di tingkat distrik serta dokumentasi dan publikasi dari pengalaman-pengalaman yang berhasil. Untuk melaksanakan layanan pendampingan program PcDP – UNDP di tingkat distrik di Kabupaten Fakfak, maka ditempatkanlah 4 orang N-UNV.
Fakfak dan Pala
Kota Fakfak dijuluki sebagai Kota Pala karena pala menjadi sektor unggulan bagi Kabupaten Fakfak disamping hasil kelautannya. Karena hampir sebagian besar hutan ditumbuhi oleh tanaman pala, kehidupan ekonomi dan aktifitas sebagian dari masyarakat berkaitan dengan tanaman pala. Adapun nilai ekonomis dari buah pala sendiri terletak pada biji pala dan fuli (mace) yang dapat dijadikan minyak pala. Daging buah pala yang merupakan bagian terbesar dari hasil panen buah pala merupakan suatu potensi bahan baku yang sangat besar untuk dapat dimanfaatkan, dalam pembuatan manisan pala, sirop, selai dsb.
Pada awalnya daging buah pala di kota Fakfak tidak ada yang memanfaatkan sehingga terbuang begitu saja. Namun sejak tahun 1980, salah seorang warga kampung Sekban Distrik (Kecamatan) Fakfak yang bernama Ibu Wa Jamiya (alm) beserta keluarganya mencoba memulai bisnis pembuatan manisan pala dan ternyata diminati oleh warga di Fakfak. Maka sejak saat itu, usaha pembuatan manisan pala di kota Fakfak trus berkembang hingga saat ini. Kini, lebih kurang sekitar 80 orang ibu-ibu (yang hingga sekarang menjadi kelompok dampingan UNV program PcDP-UNDP) warga Kampung Sekban dan warga Kampung Dulan pokpok Distrik Fakfak mempunyai usaha mengolah daging buah pala menjadi manisan, permen, sirop, asinan, kecap dan selai dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
Manisan pala yang diproduksi oleh ibu-ibu dari Fakfak ini mempunyai rasa yang berbeda dengan manisan pala yang diproduksi dari daerah lain seperti dari : Banda, Manado (Sulawesi Utara) maupun dari Bogor. Hal ini disebabkan karena pohon pala yang berasal dari Fakfak (biasa disebut dengan pala papua) berbeda dengan pohon pala yang tumbuh di Banda maupun Bogor. Bentuk buah pala dari Fakfak agak lonjong dan lebih besar, rasa buah asam dan kurang sepat/sengar jika dibandingkan dengan pala Banda dan Bogor yang bentuknya bulat dan kecil rasanyapun lebih sepat/sengar.
Proses pengolahan produksi manisan pala maupun olahan lainnya umumnya masih dilakukan secara tradisional, tanpa bahan pengawet, dan mengandalkan panas matahari untuk penjemurannya. Walaupun manisan pala hasil produksi ibu-ibu tersebut pemasarannya masih berkisar di dalam kota Fakfak namun sebenarnya sudah banyak dinikmati oleh masyarakat di luar kota Fakfak. Hal ini dikarenakan banyaknya para tamu maupun warga Fakfak sendiri yang membeli manisan dan olahan daging pala lainnya untuk dijadikan sebagai oleh-oleh dari kota Fakfak
Pada awalnya, permasalahan yang dihadapi oleh ibu-ibu yang memiliki usaha industri manisan pala tersebut antara lain: belum memiliki nomor ijin Produksi Pangan (P-IRT) dari Dinas Kesehatan, masalah pengemasan yang belum memenuhi standart Kesehatan serta masalah pemasaran. Kini, permasalahan tersebut sudah mulai terjawab dengan pelaksanaan kegiatan “Pelatihan Keamanan Pangan Bagi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Dalam Rangka Sertifikasi Produksi Pangan” atas bantuan dana dari program PcDP – UNDP.
Pelatihan Pertanian Tingkatkan Produktivitas Petani
Selain melakukan kegiatan pendampingan pada ibu-ibu yang memiliki usaha manisan pala yang mayoritas dikerjakan oleh para pendatang dari suku Buton (Sulawesi Tenggara), Tim N-UNV juga melakukan pendampingan kepada kelompok tani Kahriangge (kahriangge adalah bahasa suku Iha yang artinya berbuah). Kelompok tersebut memiliki 22 orang anggota penduduk asli Fakfak yang terdiri dari 18 orang perempuan dan 4 orang laki-laki.
Kegiatan dengan Kelompok tani Kahriangge yang dimulai dari bulan November 2009 ini diawali dengan melakukan kegiatan pelatihan teknik menanam tanaman jagung manis dan sayur-sayuran. Persiapan yang dilakukan peserta sebelum hari pelatihan adalah dengan bekerja keras selama 9 hari untuk membuka lahan sekitar 1000m2 dan menyiapkan lahan semai sekitar 4m2. Ide untuk melakukan kegiatan pelatihan ini muncul setelah melihat kurangnya ketersediaan sayur-sayuran di kota Fakfak karena pasokan sayur-sayuran di Fakfak sebagian besar masih didatangkan dari luar Kabupaten Fakfak. Sebagai akibatnya, harga sayuran menjadi sangat mahal dan ketersediaannya tidak menentu terutama bila tidak ada Kapal Pelni yang singgah ke Pelabuhan Fakfak. Dengan adanya kegiatan pelatihan ini. para Petani di Kabupaten Fakfak diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan sayur-sayuran bagi masyarakat di Kabupaten Fakfak sendiri maupun untuk memenuhi permintaan dari perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Kabupaten Fakfak .
Lokasi lahan/kebun peserta pelatihan pun sangat menarik. Lahan tersebut terletak di daerah perbukitan, persis di depan Bandar Udara Torea Fakfak. Maka, kesibukan bandara dapat dinikmati dengan leluasa. Secara alamiah, lokasinya memang indah karena berlatar belakang laut Fakfak dan Pulau Panjang yang biru bening pada semua hari-hari yang cerah. Bagi tim dan petani, pelatihan makin menarik karena mereka harus mendaki bukti terlebih dulu sebelum mencapai lokasi.
Panen Jagung Manis di Fakfak
Setelah lebih kurang dua setengah bulan kelompok tani Kahriangge memelihara tanaman jagung manis, maka tibalah saat panen yang sangat mereka tunggu. Sekda Kabupaten Fakfak yang hadir dalam pelatihan menanam kembali diminta hadir dalam penen tersebut. Kegiatan pertanian ini sendiri sangat sesuai dengan program yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Daerah Fakfak sehingga pemda menyambutnya dengan antusias. Di lain pihak, kesempatan inipun dimanfaatkan untuk sekaligus mencari dana untuk uang kas kelompok tani yang dilakukan dengan membuat acara bazaar hasil kebun.
Pada acara bazaar ini kelompok tani menjual hasil kebun seperti pisang, keladi, ubi jalar, termasuk juga jagung manis dsb. Selain itu mereka juga menjual masakan khas mereka yaitu sayur-sayuran yang dimasak di dalam bambu, juga keladi & ubi jalar yang dimasak dalam bambu kemudian dibakar, sayur tagas-tagas (terbuat dari daun singkong, ubi jalar, daun pepaya dan bunga pepaya yang ditumis), dan ikan kakap merah dibumbu saus asam manis. Bazar pun sukses menambah uang kas sekaligus meringankan petani karena hasil panen mereka dibeli oleh para pejabat yang hadir, termasuk Bupati. Bahkan Bupati akhirnya menginstruksikan kepada para Kepala SKPD/ Kepala Dinas untuk mengutus beberapa stafnya melakukan kerja bakti membantu kelompok tani Kahriangge dalam memperluas lahan untuk menanam, sekaligus membantu kelompok memberikan bantuan peralatan pertanian berupa cangkul, skop, parang dsb.
Dari kegiatan ini, para anggota kelompok tani merasakan bagaimana menanam dalam jumlah yang besar, sesuatu yang amat jarang mereka lakukan. Selama ini, para petani peramu ini hanya terbiasa dengan mengambil hasil bumi yang tersedia di alam atau mengandalkan hasil pala atau durian dsb sehingga mereka hanya akan menerima hasil pada saat musim/bulan tertentu saja. Dengan cara yang baru ini, mereka diharapkan akan mampu meningkatkan pendapatan kelompok maupun pendapatan keluarga.




Dear Mbak Listi,
Terima kasih sudah berbagi cerita tentang programnya di Fakfak, Papua – peacekeeping memang bukan hanya melulu urusan menjaga dengan senjata dan personil berseragam saja, namun juga dengan program-program pemberdayaan masyarakat seperti yang saat ini dilakukan disana.. saya salut dengan dedikasinya. Salam hangat untuk Paitua dan keluarga dirumah ya.. dari kita-kita di afrika barat..
huaaa nice post. hebat juga ya ibu alm. Wa Jamiya punya ide menjadikannya sebagai manisan. Mungkin ada ide baru untuk menjadikan pala ga sekedar manisan?
Dear Listi,
NIice story,…Saya senang Listi bisa share tentang PcDP Papua disini. Berarti Listi sudah berbagi pengalaman tentang apa yg Listi Lakukan di Fak-fak. Semoga teman-teman dari UNV bisa menbaca disini dan salaing berbagi pengalaman gak hanya dari West Papua tetapi juga dari Papua sendiri.
Salam dari Papua Jayapura
Nina NIngrum, PcDP papua Team
terima kasih infonya…….
menarik,,,, smoga masyarakat di fakfak tercinta dapat memanfaatkan potensi alam yg luar biasa,,,, “kitorang butuh pendorong dan penyadar bahwa kitorang punya potensi besar”
salam dari the timar kid