Hi All, maaf kan saya pabila baru setelah hari ke-11 berada di dunia peradaban lain ini tanah Monrovia, Liberia melaporkan situasi dan kondisi selama perjalanan menuju negara bau kelek or aku sendiri kayaknya punya istilah yaitu negara dengan super pede dalam hal perpakaian. Tabrakan bho ya…tapi berikut sekilat info catatan perjalanan si Jali-jali ini.
Begini ceritanye (loh kok jadi nya betawi) :
Rabu, 26 Mei 2010 merupakan hari yang aku sendiri masih belum begitu percaya akan terbang menembus angkasa raya menuju tempat yang jauh – Monrovia, Liberia – dari dunia peradaban yang selama ini aku pijak di bumi Indonesia. Dengan barang-barang bagasi segembol yang mau dibawa ke sana kayak lagi mau bedol desa, aku menuju Cengkareng Airport (CGK) untuk memulai catatan perjalanan karir menuju benua Afrika. Counter check-in pada saat itu belum buka karena jam masih menunjukan 10 menit menuju jam 4 sore. Kali ini aku menumpang Emirates Airlines EK357 menuju Accra, Ghana dengan transit di Dubai International Airport. Pesawat akan terbang 17.55 WIB. Setelah proses check-in yang memakan sedikit waktu karena beberapa hal seperti visa di Negara tujuan dllnya, akhirnya bersyukur bahwa ga perlu bayar untuk kelebihan bagasi. FYI totalnya sekitar 43,9 kg.
Bagasi ditandai sampai dengan Monrovia, Liberia. Tentunya atas rekomendasi Kang Luigi dan Pak Donasion, sebelum melakukan check-in aku kontak ke Mas Donny-Ground Staffnya Emirates di CGK Airport untuk mendapatkan informasi penting sebelum check-in. Setelah pamitan dengan keluarga yang mengantar ke airport, aku bergegas mengurus status bebas pajak fiscal dan kemudian menuju antrian panjang di konter imigrasi.
Pada saat itu bersamaan dengan rombongan umroh yang jumlah nya sangat banyak sehingga harus sedikit bersabar di antrian konter imigrasi. Tidak ada pertanyaan berarti setelah giliranku minta cap keluar dari immigration officernya. Menuju ruang tunggu, kembali harus mengantri yang lumayan panjang dengan petugas penjaga pintu yang ga mau senyum sedikitpun. Kali lagi sikat ehh, sakit gigi.
Hehehehehe Disaat menunggu antrian, aku melakukan beberapa telepon ke teman-teman dan juga sms-an sambil sesekali melihat tingkah orang-orang yang lalu lalang dan juga para pramugari(a) Emirates Airways yang kayaknya (bukan kayaknya kali) berasal dari beberapa Negara dengan bangga melenggang kangkung melewati antrian panjang. Hanya berselang 15 menit di dalam ruang tunggu petugas mengumumkan pesawat sudah akan diberangkatkan. Hmhmhm Cukup rapi juga sih, penumpang tertib berdasarkan warna kartu yang sudah dibagian sebelumnya.
Duduk bersebelahan dengan salah satu pahlawan devisa buat Negara Indonesia yang mengejar gaji U$300 per bulan di Saudi Arabia, tepatnya di Riyadh.
Cukup tersentuh juga sih mendengar begitu beratnya perjuangannya menghidupi keluarga yang ditinggalkan di Indonesia. Ini adalah kali berikutnya dia berangkat. Bisa diartikan bahwa dia menikmati pekerjaannya dengan baik. Di ujung bangku sebelahnya duduk pria Arab yang kayaknya sibuk dengan dirinya sendiri, dengan i-pod yang ga bisa dikecilin itu, lagunya pun entah apa pun judulnya secara aku sendiri ga tahu apa itu. Penerbangan lebih dari 7 jam menuju Dubai International Airport cukup menyenangkan, dengan entertainment yang cukup bisa membuat lengah terhadap jauhnya perjalanan dan juga makanan dan minuman yang disediakan, boleh lah.
Sesampai di DXB aku langsung menuju ruang transit airport yang besar memanjang dan menunggu sampai jam 7.30 pagi untuk kembali terbang menuju Accra-Ghana dengan EK787.
Ini juga kali pertama dalam sejarah tidur di airport dan juga mandi di airport pokoke bisa segar lagi untuk penerbangan berikutnya hahahaha Emang kalo dilihat beda jauuuuuhhhh banget ama CGK airport, DXB dengan kelengkapan fasilitas airportnya. Kapan ya bisa dibikin seperti itu di bumiku tercinta. Ini dia beberapa foto yang berhasil diambil saat transit di Dubai:
Dulu aku pikir Changi Airport – Singapura & Shuvarnabumi Airport – Bangkok yang paling bagus, maklumlah terbangnya hanya menembus area Asia Tenggara dan Australia. berikut adalah beberapa jepretan dari Bandara Changi dan Suvarnabhumi:
Bandara Suvarnabhumi, Bangkok:
Setelah segar, aku menuju ruang tunggu bernomor 222 untuk melanjutkan terbang ke Accra-Ghana. Sedikit terlambat dari jadwal yang ditetapkan, yang membuat agak deg-degan juga karena menurut informasi dari Pak Donasion bahwa aku harus ambil barang untuk keluar dari ruang kedatangan untuk check-in di terminal keberangkatan. Sebelumnya di DXB aku sudah minta dirubah untuk mendapatkan tempat duduk di depan pintu keluar supaya bisa lari dan memulai proses selanjutnya.
Penerbangan yang cukup menyenangkan sambil berpikir bagaimana ini dan itu sesampainya di Accra. Perjalanan 7 jam lebih aku habiskan dengan nonton DVD dengan di temani minuman ringan yang ditawari oleh pramugaranya disamping makanan utama. Beberapa penumpang menghabiskan waktunya dengan membaca, dengerin music atau tidur. Tidak terasa perjalanan sudah hampir habis dan waktunya mendarat in Accra, Ghana.
Pada waktu itu waktu sudah menunjukkan jam 12 siang waktu setempat berarti 1,5 jam lagi untuk penerbangan lanjutan. Penumpang kelas bisnis dipersilakan untuk keluar lebih dahulu, dan setelah kelas ekonomi di persilakan, aku langsung ngabur ke shuttle bus yang mengantar ke gerbang kedatangan. Ketika mobil berhenti aku langsung berlari mengingat (awalnya) harus keluar dulu dan check-in lagi.
Bermodalkan mulut-bawel, aku tanya di penjaga pertama yang aku temui, ternyata namaku sudah ditulis di dalam catatannya untuk ditunggu karena akan ada penerbangan lanjutan bersama 1 staf UN ke Monrovia dan 2 orang lain menuju Freetown. Setelah berkumpul semua kami digiring langsung oleh si petugas ini. Oiya, sebelumnya Kang Luigi ada kirim email ke Cudjo untuk bantuin pada saat transit di Accra.
Thanks Bang Cudjo hehehehehe Kami langsung bergegas menuju check-in counter dan barang diurus oleh petugas bandara lainnya. Wow beruntung sekali. Jadi barang dipindahkan langsung dari pesawat ke pesawat dengan sebelumnya kami informasikan nomor registrasi bagasi. Syukurlah aku ga perlu bayar kelebihan bagasi 13,9kg nya, karena di itinerary hanya diterima max 39 kg.
Di dalam perjalanan menuju terminal keberangkatan, si item petugas bandara yang lain ini berbicara masalah harga coca-cola, yang aku sudah tahu arahnya ke mana. Tanpa pikir panjang lagi aku keluarkan uang U$5 paling tidak sebagai rasa terima kasih untuk bantuannya. Ga tau gimana jadinya kalo ga ada mereka. Thanks Kang Luigi Pralangga dan Pak Donasion. Tidak ada kesulitan berarti, proses check-in berlangsung cepat dan langsung menuju ruang tunggu. Setelah melewati metal detector, aku dipanggil si petugas ireng cewek, dia minta aku bukain isi tasku.
Sambil buka tasku , doi ngomong begini dong: “Give me your small money”… Maksud loe?? Untungnya aku masih punya persediaan uang kecil, ya aku selipkan lah uang US$2 dan itu sudah membuat dia menyuruh aku untuk menutup tas dan lainnya.
Perjalanan menuju Monrovia membuatku sangat excited dan bertanya-tanya siapa yang akan menjemput. Begitu memasuki pesawat, perasaan kumuh sekali hehehehehe mungkin inilah awal dari Negara bau kelek kali yeee…trus pramugari(a) seperti ga mandi langsung ke tugas dengan rambut diikat pake jempitan 10ribuan kali kalo di Tanah Abang. Duduk di bangku agak dibelakang membuat bisa memantau isi pesawat tersebut beserta tingkah laku penumpangnya yang mungkin 85% berwarna gelap kalo ga dibilang item.
Ada yang pake singlet, pake kaca mata yang kegedean dan so pasti baju dengan warna tabrakan. Berusaha untuk menikmati perjalanan, walau disamping dekat jendela ada si India yang rewel banget dan berisik. Begitu mendarat, anehnya ditepuk tangan oleh hampir semua penumpang, what happen aya naon gitu… Keluar dari pesawat langsung menuju ruang kedatangan dan kemudian mengisi arrival form and antri di barisan.
Karena aku sudah dikirimkan surat untuk airport visa, maka aku bisa langsung masuk untuk mengambil barang-barang keperluan selama bertugas di Monrovia, Liberia. Sebelum meninggalkan ruangan kembali ada pemeriksaan, eeee minta lagi si ibu-ibu item ini padahal udah dibuka semua barang, untunglah ada uang kecil jadi untuk mempersingkat waktu ya aku kasih aja.
Begitu diluar aku belum dijemput, belum terlihat mobil EQUIP dimana aku akan bekerja. Baru setelah beberapa saat aku melihat mobil EQUIP Liberia memasuki areal airport yang mana Country Director nya langsung yang menjemput dan berakhirlah perjalananku menuju Monrovia, Liberia. Country Director membawa aku ke kantor untuk dikenalkan , kemudian menuju guest house dan mempersiapkan baju-baju untuk dibawa besoknya langsung field trip ke Ganta dan Nimba di mana proyek besar EQUIP Liberia.
Catatan penting buat kawan-kawan yang akan kesana, siapkan uang receh, pastikan tiket sudah terbooking dengan baik, komunikasi dengan pengundang dan nikmati perjalanan. Sampai cerita selanjutnya.
















• wow!! im so excited to read this posted!!
ahahahaha jd kebayang bayang nih kondisi di liberia kaya apa?
dari mulai cara mereka bersikap ke “new comer”, trus cara berpakaian mereka dg corak tabrakan (perhaps designer dianne von furstenberg terinspirasi dr mereka kali yaa-motif) hehehe :p
but, overall! aku suka ceritanya, seperti ikutan berada disana. dan yg jelas aku jg ikut bs ngerasain betapa nervous+ribetnya (seru) mengalami proses perjalanan yg panjang menuju liberia.
goodluck and god bless you:)
Dear Dedy,
Kira-kira seperti itulah kurang lebih yagn dulu saya rasakan saat tahun 2004 bulan April mendarat di Liberia.. namun kondisinya masih jauh lebih “meriah” —> Baca: Gawat Darurat dimana pasukan ECOMOG (Peacekeepers Nigeria) baru saja diternjukan 6 bulan sebelumnya guna membuka jalan/jalur aman bagi depolyment misi UNMIL ini :D
Insyallah situasi sekarang aman terkendali dan dirimu bisa nyaman bertugas disini dan menjadikan Liberia menjadi penugasan misi yang menyenangkan dan tetap ‘rewarding’ tanpa huru-hara. Ditunggu cerita berikutnya ya..
Seru juga catatan perjalanannya. Jadi ingat pas mo berangkat ke Congo. Excited, stress plus bingung liat tingkah laku penumpang yg pake acara tepuk tangan juga pas mendarat di Ndjili. Kalo masalah pakaian tabrak lari, kayaknya di seluruh Africa juga sama. Disini malah ada yang pake tuksedo, tulisan HUGO BOSS gede, yg biasanya ada di balik kerah baju malah terpampang jelas di lengan baju. alias merknya dipindahin dari kerah dan dijahit di lengan baju..
Welcome to Africa Mas Dedy.. :-)
Hai kak,senangnya mendpt berita kakak disana baik2 saja dan pastinya kakded.bisa beradaptasi dgn suasana lingk. Disana.yach memang pastinya jauh berbeda dgn tmp 2 yg pernah dilaluin.kita kel.disini tak henti2nya selalu mendoakan supaya kakded.disana selalu dbri kesehatan dan setiap aktivitas selalu dibri jalan serta lancar2 saja,dan satu semoga betah disanaa. Andri dan caca h sabtu berangkat kekalteng,caca yg tdk henti2nya menceritakan kalau pas kalteng, pasti mamanya,papanya dan omnya dicuekin caca yg selalu ingat dan tak lupa berdoa utk kel. Disana dan lupa utuk om kesayangannya juga didoain. Sukses yah kak.
Dedy masih beruntung di kasih lewat Dubai. Saya dulu sama Vonny di suruh lewat Bangkok, Kenya, Accra, Monrovia.
Tapi karna kami berdua, ya gak pusing sekali, malahan bisa ikut Safari di Nairobi karena harus nginap di Nairobi.
Saya juga deg degan dengan begitu mepet nya waktu transit untuk Dedy di Accra, syukurlah Emirates nya gak delay.
Semoga betah ya Dedy.
To Bang Fauzi, Kang Luigi, Mba Nurul dan Lenny, makasih untuk komentarnya….ini adalah salah satu kegiatan pengusir rasa rindu ke tanah air…sambil berbagi cerita….
@Mba Nurul, jadi pengen tau gimana rasanya di Congo,hmhmhm kita liat aja tahun depan ya…semoga aku bisa join UN…selama ini baru bisa join INGO doang…..wish me luck ya…
Buat Kang Luigi, terima kasih untuk selalu menyemangati untuk menulis….you are the best bro…..
Toke Undrue,
ternyata yaa diam-diam selama ini udah latihan nulis diary selama di Aceh. Menyenangkan sekali membaca pengalamannya, semoga yang menjalani (tentunya toke undrue) senang menjalaninya, dan makin kaya saja hidupnya :)
ditunggu cerita berikutnya.
kayanya tim aceh harus segera menyusul kesana ya, biar tambah meriah :)
nina
kalimat pertama yg bisa kukatakan. “WOW”. nampakkan kalo awak gak pernah ke luar negeri. hehehehe…
bangga jg ama abgku ini, gak nyangka pernah jadi teman sekamar di CITOS apartment. ehhh sekarang jauh amat, padahal si amat gak jauh-jauh. Tapi yang gak kusangka gaya nulisnya. simple, tp fantasiku jauh dari simple membacanya. Sukses my brother. Dinantikan Ekspedisi selanjutnya. hahahah….
Salam brother dari keluarga abg di medan ne….
Boy
unDrueeee….. maap baru seMpat Baca seKarang..
gmana maKIn kerasan aja kaYanya yah?
miTa suka tuLisannya
deTaiL dan riNgan jadi ngebaYangin deh fasHion cRime diMana2 :)hohohoohho
haRusnya TraveL seLama tugas di “acEh” duLu udah muLai di tuLIs juga oM dedY… pasTi Nama ta noNGoL bebeRapa Kali…. *eleeeeH narsissss ckckckckk :P
kan gK kaLah seRu tuh… caio…
cheers,
miTa
Mas Dedy, Salam kenal sebelumnya nih..
BTW, kondisi saat ini di Monrovia kayak apa ya ?
apakah cukup kondusif untuk bekerja ?
Karena saya kebetulan mendapat tawaran dari Ghufranuddin Wasiq, Comms Assistant at United Nations yang katanya saat ini sedang membangun jaringan HFC Pay TV di Monrovia.
Mohon bantuan informasinya sebagai penambah inspirasi serta penambah keyakinan untuk menerima tawaran tersebut.
Regards,
— Dahniar Wisnu Paramita —
dahniar.paramita@gmail.com
Wah Ded, top banget ceritanya….ngomong2 sudah nyobain Great Wall restaurant di 10th street?
waduh mas saya baca dari awal enak sekali karna saya mau berangkat ke accra tgl.5 aprl 11 .tapi kendala saya pembuatan visanya…????????????? kasih saya petunjuk mas proses pembuatan visa step by step sbb kedutaan accra tdk ada di indonesia……untuk semoga sukse untuk kedepannya………….
ta’ tunggu balasannya massssssssssss